Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun (SKRIPSI)
PERNYATAAN
Dengan ini peneliti
menyatakan bahwa karya tulis yang berjudul “Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun” beserta isinya
adalah benar-benar karya sendiri dan peneliti tidak melakukan tindakan plagiat
dan/atau melakukan tindakan yang melanggar etika ilmiah yang dapat dikenakan
sanksi secara hukum.
Atas pernyataan ini,
peneliti siap menanggung resiko berupa sanksi yang dijatuhkan kepada peneliti
apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan dalam
karya ilmiah ini.
Denpasar, 12 Maret 2015
Yang
Membuat Pernyataan,
Peneliti
Kadek Sudiana
NIM. 11.1.3.4.1.38
MOTTO
Kamu seharusnya mewaspadai
dirimu sendiri, selain hal lain di luar dirimu.
(Kadek Sudiana)
KATA
PERSEMBAHAN
Skripsi ini dipersembahkan untuk:
1.
Yang saya sayangi kedua orang tua; I
Made Sarga dan Ni Ketut Sukawati yang telah bekerja keras dan selalu memberikan
semangat seraya menebarkan senyum kedamaian.
2.
Kakak tercinta; Ni Luh Sukiasih yang
selalu memberikan semangat dan motivasi baik berupa materi maupun berupa
dukungan moril.
3.
Adik tercinta; Komang Budiarsana yang
juga sekaligus menjadi rekan seperjuangan di Jurusan Filsafat Timur, Fakultas
Brahma Widya Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar atas saran, arahan,
serta semangatnya yang tidak pernah pudar saat bersama-sama menempuh pendidikan
di IHDN Denpasar.
4.
Semua sahabat-sahabatku di Jurusan
Filsafat Timur angkatan 2011 yang tidak
dapat saya sebutkan satu-persatu, sebagai inspirasi untuk menjadikan saya
pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik.
5.
Yang saya hormati; Bapak I Ketut Marma,
S. Ag., sebagai sahabat, guru, dan juga sekaligus sebagai orang yang saya
kagumi karena selalu memberikan nasehat-nasehat yang menjadikan saya pribadi
yang lebih baik.
KATA
PENGANTAR
Om
Swastyastu
Puji syukur peneliti
panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya skripsi
yang berjudul “Nilai Filosofis Pengider
Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda
Sangalukun dapat terselesaikan.
Selain usaha yang gigih
dari peneliti sendiri, tersusunnya karya tulis ini juga berkat dukungan dari
berbagai pihak, maka melalui kesempatan ini perkenankanlah peneliti
menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada:
1.
Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si., Rektor
Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar atas segala fasilitas yang
diberikan selama penulis menempuh pendidikan di IHDN Denpasar.
2.
Dr. Drs. I Wayan Mandra, M.Hum., Dekan
Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar atas dukungan serta kesempatan yang
diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan di IHDN Denpasar.
3.
Dra. Ni Wayan Sumertini, M.Ag., Ketua Jurusan
Filsafat Timur yang telah memberikan pelayanan akademik dan arahan kepada
penulis dalam menyusun penelitian ini.
4.
I Ketut Wisarja, S.Ag., M.Hum., Pembimbing
I yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, arahan, dan dengan teliti
memberikan masukan serta penajaman dalam penelitian ini.
5.
Anak Agung Raka Asmariani, S.Ag.,
M.Fil.H., Pembimbing II yang dengan sabar dan selalu bersedia meluangkan
waktunya untuk memberikan arahan dan motivasi selama proses penelitian ini.
6.
I Gusti Made Widya Sena, S.Ag.,
M.Fil.H., Penguji I yang telah memberikan masukan, saran, serta penajaman dalam
penelitian ini.
7.
I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag.,
M.Fil.H., Penguji II yang telah memberikan tuntunan serta arahan yang positif
sehingga hasil penelitian ini menjadi lebih baik.
8.
Para Dosen di lingkungan Institut Hindu
Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang
telah membantu memberikan arahan dalam menyelesaikan penelitian ini.
9.
Bapak/Ibu pejabat struktural dan
fungsional di lingkungan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang
telah memberikan pelayanan dengan baik kepada penulis sejak mulai menempuh
pendidikan hingga menyelesaikan studi di IHDN Denpasar.
10.
Bapak/Ibu staf pegawai di lingkungan
Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang telah memberikan fasilitas
berupa pinjaman buku selama penelitian berlangsung.
11.
Bapak/Ibu Informan dan semua pihak yang
telah membantu peneliti dalam usaha mengumpulkan data sehingga penelitian ini
dapat diselesaikan.
Hasil
penelitian ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang penulis miliki, sehingga penulis dengan senang hati menerima
kritik dan saran untuk hasil penelitian yang lebih baik. Akhir kata semoga Ida
Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan anugerah-Nya untuk
kita semua.
Om
Santi, Santi, Santi, Om
Denpasar,
12 Maret 2015
Peneliti
ABSTRAK
Perkembangan
karya sastra Jawa Kuno pada masa lampau merupakan bukti nyata bahwa
kesusastraan Jawa Kuno sangat diminati oleh masyarakat pada waktu itu karena
melalui karya sastra para pengawi mampu
menuangkan ajaran kitab suci Weda dalam bentuk lontar-lontar yang sarat dengan nilai-nilai ajaran agama Hindu
sebagai penuntun umatnya dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
Lontar tutur Kanda Sangalukun merupakan karya sastra
Jawa Kuno yang mengungkap ajaran Pengider
Bhuana yang dihubungkan dengan padewasan,
Dharma Pewayangan, ajaran Kelepasan,
ajaran tentang hakikat jiwa dari badan, dan juga menguraikan hubungan Pengider Bhuana dengan Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrolosmos). Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana struktur teks tutur Kanda Sangalukun?, (2) Bagaimana
persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun?, dan (3) Nilai-nilai filosofis apa yang terkandung dalam ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun?.
Teori yang
digunakan untuk mengupas permasalahan dalam penelitian ini yaitu: (1) teori
Struktural; adalah teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan yang
pertama, (2) teori Persepsi; adalah teori yang digunakan untuk mengupas
permasalahan yang kedua, dan (3) teori Nilai; adalah teori yang digunakan untuk
membedah rumusan masalah yang ketiga. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini meliputi: teknik pengumpulan data yang terdiri dari: studi kepustakaan,
studi dokumen, dan wawancara. Dalam menganalisis data digunakan metode
deskriptif, sedangkan teknik penyajian hasil analisis data menggunakan metode
deskriptif, metode formal, dan informal.
Hasil yang
diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Dilihat dari aspek
struktur, lontar tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a) Naskah yang dipakai
sebagai sumber analisis, dan (b) Sinopsis teks tutur Kanda Sangalukun. (2) Persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a)
Konsep Padewasan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, (b) Konsep Dharma Pewayangan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, (c) Konsep Kelepasan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur
Kanda Sangalukun, (d) Konsep tentang hakikat jiwa dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, dan (e) Konsep
tentang hakikat Bhuana Agung-Bhuana Alit dalam
Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun. (3) Nilai-nilai
filosofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a)
Nilai Kebenaran, (b) Nilai Estetika, (c)
Nilai Etika, dan (d) Nilai Religius.
Kata
Kunci: Nilai Filosofis, Pengider Bhuana,
Tutur Kanda Sangalukun
GLOSARIUM
acara : pelaksanaan ritual agama Hindu
adharma : kejahatan
aguron-guron : masa menuntut ilmu dalam sistem pendididikan
Hindu
ahamkara : sifat ego dalam diri
anadi ananta : kitab suci weda yang sifatnya kekal abadi
anggara : hari selasa
antarjyotih : bersinar, tidak ada yang menyinari
asta prakerti : delapan unsur penyusun alam semesta
ātman : jiwa, roh
atutur : sebuah nasehat
awig-awig : peraturan/perundang-undangan yang disepakati
oleh masyarakat tertentu
babad : kesusastraan
yang berisi tentang silsilah suatu
keluarga atau Klen
bang : warna merah
bangkiang : pinggang
bhuana
agung :
alam semesta, jagat raya, makrokosmos
bhuana alit : alam kecil/tubuh manusia, mikrokosmos
bhuta kala : makhluk halus dengan ciri-ciri menyeramkan
bhuta
yadnya :
korban suci untuk para bhuta kala
daršana : pandangan tentang kebenaran, aliran filsafat
Hindu
dauh : waktu
desa, kala, patra : tempat, ruang, dan waktu/kondisi/keadaan
dewa
yadnya : persembahan
suci untuk para Dewa/Ida Sanghyang
Widhi
Wasa
dewasa ayu : hari baik
dewata nawasanga : sembilan dewata penguasa
seluruh penjuru arah
mata angin, dewa-dewa yang
dimaksud adalah:
pada arah Utara; Dewa
Wisnu, pada arah Timur
Laut; Dewa Sambu, pada arah
Timur; Dewa
Iswara, pada arah Tenggara;
Dewa Mahisora, pada
Arah Selatan; Dewa Brahma,
pada arah Barat
Daya; Dewa Rudra, pada arah
Barat; Dewa
Mahadewa, pada arah Barat
Laut; Dewa Sangkara
dan
pada arah Tengah; Dewa Siwa
dharma pewayangan : aturan-aturan yang harus
ditaati sebagai seorang
Dalang
dharma : kebajikan, kebaikan, dan hukum
dharmasastra : kitab yang berisi peraturan atau memuat tentang
hukum
Hindu
eka wara : istilah yang terdapat dalam wariga/sistem
penanggalan Bali
estetis : keindahan
gni : api
genta : alat yang digunakan untuk mengiringi lantunan
mantra
gugon tuwon : pemahaman yang sifatnya awam dan berlangsung
secara
turun temurun
gulem : awan
guna :
sifat yang melekat pada manusia
intrinsik : unsur dalam yang menyusun karya sastra
ireng : hitam
jagat : alam semesta
jejaringan : lemak pembungkus usus
jiwātman : ātman
yang menghidupi tubuh manusia
judgements : keputusan
kahyangan : tempat berstana para Dewa
kaja kangin : Tenggara
kaja kauh : Barat daya
kaja : Selatan
kala : waktu
kalepasan : pengertiannya hampir sama dengan kamoksan
yaitu tercapainya
kebahagiaan yang kekal
kalpasastra : ajaran yang berisi tentang upacara keagamaan
kamoksan : kebahagiaan yang kekal
kanda : kisah, cerita
kangin : Timur
karma phala : hasil dari segala perbuatan
karma wasana : perbuatan manusia selama hidup
karmasanyasa : tapa bratha melalui pelaksanaan tindakan-tindakan,
sehingga meyakini Tuhan dengan menitikberatkan
pada perbuatan-perbuatan
atau tindakan-tindakan
yadnya yang
didasari dengan pengabdian dan
ketulusan
kauh : arah Barat
kekawin : karangan yang disusun menurut maat India kuno
kelepasan : menyatunya ātman yang menjiwai badan manusia
dengan Brahman/Tuhan
Yang Maha Esa
kelod kangin : arah Timur Laut
kelod kauh : Barat Laut
kelod : Utara
keropak : kotak tempat penyimpanan lontar
yang terbuat
dari kayu
kerug : petir, geledek
library research : penelitian teks
lontar : tulisan dengan huruf Bali menggunakan Bahasa
Sanskerta
atau Jawa Kuno pada daun lontar
luan : hulu
madya : sedang, netral, seimbang
manusa
yadnya :
persembahan suci untuk manusia
mebasan : kegiatan mengapresiasi karya sastra
meru : tempat suci Agama Hindu berbentuk seperti limas
atapnya terbuat dari ijuk
metatah : upacara potong gigi
methodos : metode, cara
mlaspasin : mensucikan
ngwayang : memainkan wayang
nista : rendah, bawah
niti : ajaran yang berisikan tentang hukum maupun
perundang-undangan yang
dipergunakan pada
zaman kerajaan
nyastra : mempelajari karya sastra
padewasan : hal-hal yang berhubungan dengan baik-buruknya
waktu
pakraman : masyarakat desa dalam suatu wilayah adat
palakerta : ajaran yang berisi peraturan seperti dharmasastra
dan awig-awig
palemahan : hubungan manusia dengan alam
paramātman : sumber ātman
yang tertinggi
parwa : karangan yang disusun dalam bentuk prosa
pemerajan : tempat suci dalam lingkup keluarga kecil
pemesuan : pintu pekarangan
penengen : kanan
pengider bhuana : sembilan penjuru arah mata angin beserta para
Dewa yang bersemayam
lengkap dengan atribut
seperti; senjata suci,
warna, sthana, dan lain
sebagainya
pengider-ider : arah mata angin beserta Dewa-dewa yang berstana
pengiwa : kiri
pepusuh : pusar
personal : hal-hal yang sifatnya pribadi
philosophy : filsafat
pitra
yadnya :
persembahan suci untuk para leluhur
prakrti : unsur hidup bagi benda-benda duniawi
purusa : Tuhan Yang Maha Esa
rahasyam : ajaran yang sifatnya rahasia dan gaib
redite : hari Minggu
religius : segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan
keagamaan
rsi
yadnya : persembahan
suci untuk para Rsi atau para
orang suci
rupa : bentuk, wujud
rwa-bhineda : dualitas yang sifatnya berlawanan dan saling
bertentangan
sad daršana : enam aliran filsafat Hindu terdiri dari: Nyaya
Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa, dan
Wedanta
sad
ripu : enam macam
kegelapan dalam ajaran
Agama Hindu terdiri dari: Kama (keinginan),
Lobha (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk),
Matsarya (iri hati), dan Moha (bingung)
sakti : wujud kekuatan dari para Dewa
sanggah : tempat suci dalam lingkup keluarga yang paling
kecil
sanghyang : gelar penghormatan untuk para Dewa
sasih : bulan
sattwam :
sifat kedewataan yang mempengaruhi manusia
satya : kejujuran
sesana : ajaran yang berisi petunjuk tentang kesucian
moral
siwa dwara : ubun-ubun
siwaistis : paham yang meyakini Siwa sebagai Dewa
tertinggi
siwātman : jiwa yang bersumber dari Tuhan
sloka : bentuk puisi sanskerta terdiri dari empat baris yang
dinyanyikan
smrti :
seluruh kumpulan tradisi suci yang diingat
sraddha : kepercayaan, keyakinan
sruti : wahyu yang
didengarkan secara langsung oleh
Maha Rsi
sthana : tempat
subhakarma : perbuatan baik
susila : perbuatan yang baik dan sesuai
dengan ajaran
agama
swadharma : kewajiban
tampak dara : sebuah lambang menyerupai bentuk palang
tatit : petir
tattwa :
filsafat, kebenaran
teben : hilir
tinutur : memberikan nasehat
toya : air
tri guna : tiga sifat yang dimiliki oleh setiap manusia
tutur : nasehat
ulap-ulap : aksara suci berupa huruf Bali yang disebut
rerajahan
upacara :
pelaksanaan ritual yadnya
upakara : sesajen/banten
urip : angka suci
usada : lontar yang
memuat tentang pengobatan
utama : tinggi
valuation : hal-hal yang berkaitan dengan nilai
value : nilai
veda :
kitab suci Agama Hindu
waja : besi baja
wariga : sistem penanggalan Bali
wiku : orang suci penekun spiritual
wraspati : hari kamis
wuku : istilah yang terdapat dalam wariga/sistem
penanggalan Bali
wungsilan : ginjal
yadnya : persembahan suci secara tulus ikhlas
yeh nyom : air ketuban
yogasanyasa : melakukan tapa
bratha/pemusatan pikiran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Agama Hindu bersumber pada kitab Suci Veda. Dilihat dari sistematika kitab
Suci Veda itu sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu Sruti dan Smrti, kata Sruti berasal dari kata Sroten yang
berarti mendengar sehingga kitab Sruti merupakan
sebuah kitab suci yang ditulis oleh para Rsi penerima Wahyu berdasarkan
pendengaran beliau. Jadi beliau para Rsi menulis kembali kitab suci tersebut
berdasarkan pendengaran beliau yang merupakan wahyu dari Tuhan/Ida Sang Hyang
Widhi Wasa. Kitab Smrti merupakan
kitab suci yang ditulis oleh para Rsi penerima wahyu berdasarkan ingatan dan
analisis serta kesimpulan dari kitab Sruti.
Selain dari Veda
merupakan sumber utama dari ajaran Agama Hindu ada juga sumber-sumber lain yang
merupakan sumber ajaran Agama Hindu itu sendiri yaitu tafsir-tafsir yang
berkembang yang juga dijadikan sebagai sumber ajaran Agama Hindu. Salah satunya
yang dijadikan sebagai sumber ajaran Agama Hindu dalam kehidupan masyarakat
adalah lontar-lontar yang terdapat di Bali.
Lontar-lontar yang ada di Bali dapat diklasifikasikan
menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok Tattwa,
kelompok Susila, kelompok Upacara, kelompok Wariga, dan kelompok Babad (Dunia,
2009: v-vi). Kelompok Tattwa meliputi
Bhuwana Kośa, Tattwa Jñana,
Wrhaspatitattwa, Pametelu Bhatara, Ganapati Tattwa, Tattwa
Sangkaning dadi janma,Sanghyang Mahajñana,
Brahmokta Widhisastra, Purwaka Bhumi, Purwa Bhumi Kamulan, Bhuwana Sangksepa,
Tattwa Dhangdhang Bang Bungalan, Tutur Śiwa Banda Sakoti, Tutur Budha Sawenang
dan
lain-lain. Kelompok Susila meliputi Sila Kramaning Aguron-guron dan
lain-lain. Kelompok Upacara meliputi Sri Jaya Kasunu, Janma Prawerti, Śiwa
Tattwa Purana, Putru Pasaji, Yama Purwana Tattwa dan lain-lain. Kelompok wariga meliputi Sanghyang Swamandala dan lain-lain. Kelompok Babad meliputi Babad Dalem
Sawangan Paminggir dan lain sebagainya.
Lontar-lontar tersebut berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno.
Namun, di Bali sudah banyak lontar-lontar tersebut diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan tujuan agar mempermudah pembaca yang kurang mampu
memahami bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno dalam memahami ajaran yang disampaikan dalam lontar
bersangkutan.
Pada dasarnya
semua lontar-lontar tersebut tidaklah secara mentah
menyerap ajaran Veda, namun
telah mengalami suatu seleksi dan penyaringan yang bijaksana disesuaikan dengan
alam pikiran dan desa, kala, patra setempat. Karena luas daerah dan panjangnya waktu yang
dilaluinya maka wajahnya dapat berubah, sesuai dengan ruang dan waktu yang dilaluinya,
namun esensinya tetap sama. Hal ini memungkinkan untuk lebih mudah memahami dan
mempelajarinya, karena memahami dan
mempraktikkan ajaran Veda
yang memuat ajaran yang bersifat rahasyam
terasa sangat sulit. Hal itu juga disebabkan karena Veda bersifat anadi ananta
(kekal abadi), sehingga dalam memahaminya diperlukan tafsir-tafsir yang
menguraikan hakikat didalamnya,
yaitu melalui tattwa. Pada hakikatnya
ajaran Veda mengisyaratkan agar
manusia mampu menyadari kemahakuasaan Tuhan, sehingga manusia selalu
yakin bahwa segala yang ada di dunia ini adalah berkat kemahakuasaan Tuhan yang
perlu dimaknai sebagai sebuah anugerah. Dengan demikian umat manusia senantiasa
akan selalu bertindak dan berbuat pada jalan Tuhan dan sesuai dengan ajaran Agama
Hindu.
Dari sekian banyak naskah
yang menafsirkan mengenai hakikat ajaran Veda,
salah
satunya adalah teks tutur Kanda
Sangalukun sehingga teks yang dipilih
untuk dikaji dalam penelitian ini adalah teks tutur Kanda
Sangalukun. Namun belum ada sumber yang mengungkapkan mengenai kapan
kemunculan teks ini. Teks tutur Kanda Sangalukun dipilih dalam penelitian ini karena teks tutur Kanda Sangalukun merupakan sebuah naskah yang sangat
unik yakni dalam naskah tutur Kanda
Sangalukun tidak hanya mengungkap ajaran Pengider Bhuana seperti
pemahaman masyarakat secara umum, ajaran Pengider
Bhuana dalam naskah ini berkaitan erat dengan konsep Padewasan, naskah tutur Kanda
Sangalukun juga berisi konsep Dewata
Nawasanga yaitu sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa sebagai
penguasa atau yang bersethana pada sembilan penjuru arah mata angin, dalam naskah tutur Kanda Sangalukun juga diungkap ajaran Dharma Pewayangan, ajaran tentang kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa yang ada pada badan kasar manusia,
dan hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang kesemuanya itu
dituangkan kedalam ajaran Pengider Bhuana
sehingga penting untuk dikupas nilai-nilai filosofis dan persepsi
masyarakat berkaitan dengan ajaran Pengider
Bhuana agar dipahami oleh masyarakat luas. Seseorang tidak akan memahami kiblat atau arah mata
angin dalam keyakinan Umat Hindu dengan benar, jika tidak mampu memahami
tattwa tentang Pengider Bhuana, seseorang tidak akan mengetahui sebab
kelahiran, hidup, dan mati, jika tidak mampu memahami
tattwa tentang kehidupan, asal mula
kehidupan, dan tujuan kehidupannya di dunia ini. Dari penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi dalam memperluas pandangan dan
pemahaman mengenai ajaran Agama
Hindu dan juga dapat bermanfaat untuk menghilangkan persepsi masyarakat yang gugon tuwon, serta yang selama ini
menganggap Pengider Bhuana tersebut sebagai suatu yang dogmatis
dan tidak bermanfaat untuk
kehidupan manusia di zaman sekarang. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji mengenai nilai
filosofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di
atas, maka permasalahan yang akan dicari jawabannya pada penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana
struktur teks tutur Kanda Sangalukun?
2. Bagaimana
persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun?
3. Nilai-nilai
filosofis apa yang terkandung dalam konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun?
Tujuan
Penelitian
Dalam
setiap penelitian ilmiah sudah pasti setiap penelitan yang dilakukan memiliki tujuan
yang ingin dicapai. Sebuah tujuan dalam setiap penelitan yang dilakukan
merupakan bagian yang paling penting karena tujuan penelitian yang ingin dicapai
merupakan sebuah tujuan utama dalam sebuah penelitian. Adapun tujuan dari
penelitan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan
Umum
Tujuan
umum yang ingin dicapai dari penelitian yang meneliti “Nilai-nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam teks tutur Kanda Sangalukun ini adalah
sebagai usaha untuk mengembangkan, dan jika dianggap perlu melakukan
reinterpretasi dan menyelaraskan dengan konteks zaman yang relevan terhadap
nilai-nilai filosofis Pengider Bhuana,
sehingga nilai-nilai filosofis yang luhur yang terkandung di dalamnya semakin
dipahami, dijadikan pedoman, dan mampu diamalkan oleh masyarakat luas dalam
menjalankan roda kehidupan sosial-religius sehari-hari.
Tujuan Khusus
Selain tujuan umum seperti yang telah dipaparkan di
atas, penelitian ini juga memiliki tujuan khusus. Sesuai dengan rumusan masalah
yang ada, guna meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang “Konsep Pengider Bhuana Dalam teks tutur Kanda Sangalukun” maka tujuan khusus yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mendeskripsikan struktur Teks tutur Kanda
Sangalukun.
2. Untuk
memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
3. Untuk
mengetahui persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks
tutur Kanda Sangalukun.
Manfaat
Penelitian
Setiap penelitian ilmiah terlebih
lagi penelitian kualitatif kajian teks (library
research) berorientasi kepada
data-data yang didapatkan melalui kegiatan menelaah teks yang diteliti secara
mendalam dan studi eksploratif terhadap data-data kepustakaan yang mendukung
penelitian, sehingga memperoleh hasil penelitian yang bermanfaat baik secara
teoretis maupun secara praktis yang nantinya dapat dijadikan bahan penelitian,
pertimbangan, dan bahan referensi oleh peneliti berikutnya.
Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan
pemahaman filsafat yang lebih mendalam dan wawasan baru bagi perkembangan ilmu
pengetahuan terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep ajaran Hindu yang
bersumber dari Veda yang masih
terpendam dalam berbagai karya sastra tradisional Bali, salah satunya konsep Pengider Bhuana Dalam Teks tutur Kanda Sangalukun.
Penelitian ini juga dapat dijadikan bahan
perbandingan oleh peneliti selanjutnya dalam penelitian yang berkaitan dengan
kajian teks terutama yang menyangkut karya sastra tradisional Bali, seperti
kajian filosofis terhadap keberadaan lontar-lontar
di Bali yang masih banyak dan belum terjamah oleh masyarakat umum.
Manfaat
Praktis
Manfaat
paktis adalah manfaat dari hasil penelitian yang dapat digunakan dalam
tindakan-tindakan nyata di masyarakat. Adapun manfaat praktis dari hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi
masyarakat/Umat Hindu di Bali, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pemahaman lebih mendalam tentang nilai-nilai dan makna filosofis Hindu meliputi
tattwa, susila, dan acara yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga nilai-nilai dan makna
filosofis Hindu yang tertuang dalam konsep tersebut dapat dijadikan pedoman
berupa tattwa, susila, dan acara dalam melaksanakan yadnya, sehingga pelaksanaan yadnya pada Umat Hindu di Bali tidak
menyimpang dari Tri Kerangka Dasar Agama
Hindu.
2. Bagi
lembaga Umat Hindu (PHDI), hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
landasan dalam memberikan pemahaman yang benar serta berusaha untuk menyamakan
persepsi Umat Hindu berkaitan dengan konsep Pengider
Bhuana yang erat kaitannya dengan pelaksanaan yadnya bagi Umat Hindu
sehingga umat betul-betul memahami konsep Pengider
Bhuana tersebut baik dari segi filsafat (tattwa), etika (susila),
maupun dari segi ritual (upakara) nya.
3. Bagi
Pemerintah, penelitian ini dapat memberikan manfaat praktis yaitu dengan adanya
hasil penelitian tentang konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun akan sangat membantu pemerintah baik itu pemerintah dalam lingkup
desa pakraman, pemerintah kecamatan,
maupun pemerintah di lingkup kabupaten dalam memberikan penyuluhan tentang
konsep Pengider Bhuana yang benar
sesuai dengan ajaran Agama Hindu yang bersumber dari Weda seperti yang tertuang dalam teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga Umat Hindu dalam melaksanakan
ritual yang berhubungan dengan penggunaan konsep Pengider Bhuana pada setiap pelaksanaan yadnya seperti penggunaan ulap-ulap,
pengider-ider, dan lain sebagainya selalu dilandasi dengan pemahaman tattwa (filsafat) yang benar sehingga terhindar
dari pola pikir gugon tuwon.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL
PENELITIAN
Kajian Pustaka
Panya (2007) dalam penelitiannya yang
berjudul “Makna Ajaran Kelepasan Ditinjau
dari teks tutur Angkus Prana”.
Diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : teks tutur Angkus Prana merupakan teks dengan inti pokok ajarannya
mengenai kelepasan. Sistem ajaran
yang dikembangkan mirip dengan sistem
pembelajaran Upanisad yaitu sifat ajarannya yang sangat rahasia.
Pada penelitian teks sangat penting
untuk membahas struktur teks yang diteliti, hal ini dikarenakan dengan
mengetahui struktur teks yang diteliti akan mempermudah dalam memahami makna,
nilai-nilai dan tujuan diciptakannya karya sastra tersebut. Pada penelitian
Panya belum diungkap secara detail mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
struktur teks tutur Angkus Prana. Struktur
teks yang dimaksud adalah mulai dari penokohan, alur cerita, konflik, plot,
latar dan pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui isi teks tutur Angkus Prana tersebut.
|
9
|
Panya
memfokuskan penelitiannya pada konsep ajaran kelepasan, fungsi teks tutur
Angkus Prana, dan makna ajaran kelepasan
pada teks tutur Angkus Prana,
sedangkan dalam penelitian ini mengkaji tentang struktur teks tutur Kanda Sangalukun, nilai-nilai
filosofis, dan persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks
tutur Kanda Sangalukun.
Adapun kontribusi penelitian Panya
terhadap penelitian ini adalah sebagai
bahan pembanding dalam menentukan metode penelitian yang meliputi: metode
pengumpulan data dan metode analisis data, mengingat kedua penelitian ini adalah
merupakan penelitian kualitatif.
Suweta (2012) dalam penelitiannya
yang berjudul “Nilai Filosofis teks tutur
Watugunung” memaparkan hasil penelitiannya bahwa teks tutur Watugunung memeiliki nilai-nilai filosofis yakni: nilai filosofis
terkait dengan tattwa, nilai filosofis terkait dengan etika, dan nilai filosofis
terkait dengan satya.
Dalam penelitian Suweta telah
dijelaskan aspek-aspek nilai filosofis yang adiluhung
yang terkandung dalam teks tutur
Watugunung. Nilai-nilai filosofis tersebut sangat berguna dijadikan pedoman
bagi masyarakat ataupun bagi pembaca jika dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari khususnya bagi Umat Hindu. Dalam mengungkap nilai-nilai filosofis
dan makna filosofis yang terkandung dalam suatu teks sastra khususnya teks-teks
sastra kuno sangat penting memperhatikan struktur teks-teks kuno tersebut.
Dalam penelitian Suweta telah dijelaskan mengenai sinopsis cerita tutur watugunung, namun kiranya perlu
mengungkap lebih dalam mengenai struktur teks tutur watugunung sehingga kajian-kajian selanjutnya baik yang
menyangkut nilai-nilai filosofis maupun kajian yang menyangkut makna filosofis
dapat dipaparkan lebih lengkap dan dapat langsung mempengaruhi perilaku
masyarakat karena antara struktur teks sangat bertalian dan sangat berkaitan
dengan nilai-nilai filosofis dan makna filosofis yang terkandung dalam sebuah teks-teks
sastra kuno.
Suweta memfokuskan penelitiannya
dalam mengkaji nilai-nilai filosofis yang menyangkut nilai tattwa, nilai etika, dan nilai satya
dalam teks tutur Watugunung, sedangkan
dalam penelitian ini, selain mengungkap nilai-nilai filosofis dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun juga mengupas masalah struktur teks dan
persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun.
Kontribusi penelitian Suweta
terhadap penelitian ini adalah sebagai bahan pembanding dalam menentukan
langkah-langkah mendeskripsikan dan mensinkronkan dengan sumber-sumber yang
relevan untuk mengungkap nilai-nilai
filosofis konsep Pengider Bhuana pada
teks tutur Kanda Sangalukun.
Suweta (2012) dalam penelitiannya
yang berjudul “Kajian Ringkas Nilai Filsafat Hindu Dalam lontar utur Siwagama” memaparkan
hasil penelitiannya mulai dari gambaran umum teks lontar Siwagama, struktur luar, struktur dalam hingga sampai pada
nilai filsafat Hindu dalam teks lontar
Siwagama yang meliputi: nilai sraddha,
nilai karmasanyasa, nilai yogasanyasa, nilai kosmologis dan nilai kelepasan.
Lontar
sebagai
salah satu kesusastraan lokal di Bali memiliki ajaran serta konsep-konsep yang
bersumber dari kitab smrti yang
didalamnya banyak tekandung ajaran Agama Hindu sebagai pedoman kehidupan bagi Umat
Hindu yang mampu memahami serta mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam kesusastraan yang berupa lontar-lontar
tersebut. Demikian pula seperti
dalam penelitian Suweta yang mengkaji nilai-nilai filsafat Hindu dalam lontar tutur Siwagama sesungguhnya
sangat bermanfaat bagi Umat Hindu dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai
filsafat Hindu yang tertuang di dalamnya. Namun, dalam penelitian Suweta belum
diungkap sejauh mana pemahaman dan persepsi masyarakat khususnya Umat Hindu
terhadap nilai-nilai filsafat Hindu yang terkandung dalam lontar tutur Siwagama.
Dalam penelitian Suweta memfokuskan
penelitiannya pada analisis struktur teks dan nilai-nilai filsafat Hindu dalam lontar Siwagama, sedangkan dalam
penelitian ini, disamping menganalisis struktur teks dan nilai-nilai filosofis
konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun juga mengkaji tentang persepsi
masyarakat terhadap konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun. Mengingat lapisan-lapisan masyarakat terdiri dari beberapa
golongan, diantaranya: golongan penekun spiritual, golongan sastrawan dan
akademisi, serta golongan masyarakat umum, maka dalam penelitian ini dianggap
perlu untuk mencoba mengungkap persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Kontribusi penelitian Suweta
terhadap penelitian ini adalah sebagai landasan pemahaman bagi peneliti dalam
memaparkan struktur teks tutur Kanda
Sangalukun.
Ariwidayani (2013) dalam
penelitiannya yang berjudul “Kajian Filosofis Lontar Tattwa Kala” menyebutkan bahwa ajaran etika yang terkandung
dalam Lontar Tattwa Kala meliputi a)
jika manusia melanggar hal-hal yang bertentangan dengan etika akan mendapat penderitaan yang
disimboliskan oleh Sanghyang Kala, b)
jika manusia mengikuti aturan-aturan tersebut maka manusia akan dibantu oleh Sanghyang Kala, pada umumnya manusia
yang baik adalah bersahabat dengan Sanghyang
Kala, c) etika yang terkandung dalam Lontar
Tattwa Kala ialah hukum karma phala yang
terbagi atas sifat hukum karma, tiga macam hukum karma, hukum karma dengan
unsur tri guna, hukum karma
berdasarkan kesucian, hukum karma dari sudut kebenaran, dan hukum karma
berdasarkan tri sarira. Konsep
upacara yang terkandung dalam Lontar
Tattwa Kala adalah konsep yadnya yang
terbagi menjadi: dewa yadnya, rsi yadnya,
pitra yadnya, manusa yadnya, dan bhuta
yadnya. Dalam Lontar Tattwa Kala disebutkan
upacara metatah/mesangih/mepandes memiliki
makna filosofis untuk mengendalikan sad
ripu dalam diri manusia untuk menuju ke arah guna sattwam dan dharma.
Persamaan antara penelitian
Ariwidayani dengan penelitian ini adalah sama-sama memfokuskan arah penelitian
pada kajian filosofis dan makna filosofis yang terkandung dalam sebuah teks lontar. Sedangkan perbedaan antara
penelitian Ariwidayani dengan penelitian ini adalah pada penelitian Ariwidayani
ditemukan konsep upacara dalam Lontar
Tattwa Kala, sedangkan dalam penelitian ini akan mengkaji secara lebih
mendalam tentang struktur teks tutur Kanda
Sangalukun, nilai-nilai filosofis Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun dan persepsi masyarakat
terhadap ajaran Pengider Bhuana dalam
teks tutur Kanda Sangalukun. Selain
itu, perbedaan lainnya juga terletak pada jenis teks lontar yang diteliti sangat berbeda. Teks Lontar Tattwa Kala bercorak siwaistis
dan secara spesifik menjelaskan asal-usul kelahiran Sanghyang Kala, sedangkan teks lontar
tutur Kanda Sangalukun bercorak lontar jenis tutur yang berisi ajaran Pengider
Bhuana.
Tim-Penyusun (2003) dengan editor
Jiwa Atmaja dalam bukunya yang
berjudul “Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu
Masyarakat Bali” pada bagian sub judulnya yaitu “Makna Orientasi Arah di Bali”
menjelaskan bahwa dalam alam pikiran orang Bali terdapat cara untuk
mengkelasifikasikan arah mata angin di alam semesta ini, yang pada mulanya
bersifat dualistik dalam istilah lokalnya disebut rwa-bhineda.
Di Bali, arah yang dipandang
memiliki nilai utama/tinggi adalah
arah kaja dan kangin (timur). Masing-masing arah ini memiliki oposisi pasangan,
sehingga menunjukkan arah yang berlawanan, antara lain: kaja dipertentangkan dengan kelod,
dan kangin (timur)
dipertentangkan dengan kauh (barat).
Arah kelod dan arah kauh dipandang memiliki nilai nista/rendah. Arah kangin (timur) yang dipertentangkan dengan kauh ini bersifat universal, karena kangin selalu menunjukkan arah timur dan kauh menunjukkan arah barat. Akan tetapi, arah kaja yang dimaksudkan tidak selalu menuju arah ke utara, demikian
pula kelod tidak selalu menunjuk ke
arah selatan, karena yang menjadi pedoman sebagai pusat orientasi adalah letak
gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Perpaduan
antara arah yang dianggap memiliki nilai utama
itu (kaja dan kangin), akhirnya memunculkan satu arah
lagi yang dianggap suci pula dan dikeramatkan, yakni arah kaja-kangin. Pada arah kaja
kangin ini pada umumnya dimanfaatkan untuk tempat persembahyangan,
misalnya, di lingkungan pekarangan rumah dibangun sanggah atau pemerajan.
Pasangan-pasangan arah, yaitu kaja yang dipertentangkan dengan kelod dan kangin dipertentangkan dengan kauh
menunjukkan konsep rwa-bhineda, dalam
hal ini hubungan itu bersifat relatif. Selanjutnya, kelasifikasi dua berkembang
menjadi kelasifikasi tiga yang mengimplikasikan nilai utama (tinggi) - madya (sedang) - nista (rendah). Perkembangan ini menandakan bahwa adanya suatu
kekuatan untuk mengimbangi kekuatan yang mempunyai nilai berlawanan itu, maka
terbentuklah posisi yang ketiga disebut sebagai pusat/sentral/tengah yang
mengimplikasikan nilai madya. Dari
sini muncullah posisi tengah sebagai pusat di tengah-tengah dari masing-masing
kategori pasangan arah yang dipandang pokok di Bali, sehingga arah mata angin
yang dipandang pokok menjadi berjumlah lima, dengan posisi sebagai berikut: kaja-tengah-kelod dan kangin-tengah-kauh.
Hasil penggabungan arah mata angin
ini menggambarkan bentuk kelasifikasi lima yaitu berbentuk seperti palang (tampak dara). Palang (tampak dara) ini menjadi kerangka dasar
pembentukkan suastika sebagai simbol atau lambang Agama Hindu. Selanjutnya, dengan menggabungkan dua
arah yang berdekatan, maka akan memunculkan komposisi pasangan arah sebagai
berikut: kaja kangin-tengah-kelod kauh, dan
kelod kangin-tengah-kelod kauh sehingga
secara keseluruhannya jumlah arah di Bali menjadi sembilan.
Persamaan antara buku karya Tim-Penyusun
(2003) yang berjudul “Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan
Waktu Masyarakat Bali” dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji arah
mata angin dalam keyakinan masyarakat Bali. dalam penelitian ini arah mata
angin yang dimaksud adalah konsep Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun. Konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun menjelaskan sembilan arah mata angin
yang ditempati oleh Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru mata angin (Dewata Nawasangga) seperti juga
kelasifikasi sembilan arah mata angin yang dijelaskan dalam buku ini juga
ditempati oleh Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru mata angin.
Perbedaaan antara buku karya Tim-Penyusun
dengan penelitian ini adalah dalam buku karya Tim-Penyusun ini mengkaji secara
keseluruhan sistem kelasifikasi arah di Bali mulai dari kelasifikasi dua hingga
berkembang menjadi kelasifikasi sembilan pada orientasi arah di Bali dari
perspektif kelasifikasi dua dan kelasifikasi tiga, sedangkan dalam penelitian
ini memfokuskan arah penelitian pada konsep Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun sebagai perkembangan
terakhir sistem kelasifikasi arah di Bali yaitu kelasifikasi sembilan yang
dikaji dari perspektif filosofis khususnya filsafat Hindu. Dengan melihat
perbedaan perspektif tersebut, maka hasil penelitian yang diperoleh pun akan
sangat berbeda, sehingga penelitian ini bukanlah duplikasi ataupun
pengulangan dari penelitian terdahulu,
melainkan pengembangan dari penelitian terdahulu dengan perspektif yang berbeda.
Adapun kontribusi buku karya Tim-Penyusun
terhadap penelitian ini adalah sebagai sumber informasi yang valid bagi
peneliti dalam mendalami konsep Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun secara lebih mendalam berlandaskan
kajian perspektif filsafat Hindu.
Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pengertian konsep adalah rancangan, ide atau pengertian yang diabstraksikan
dari peristiwa kongkrit, atau gambaran mental dari obyek, proses atau apapun
yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal
lain. (Tim-Penyusun, 1991 :520). Konsep merupakan uraian
abstraksi dan sintesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang
dihadapi, selain untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian konsep
memberikan batasan dan peristilahan dalam suatu penelitian.
Konsep berarti suatu makna yang
berada di alam pikiran atau di dunia kepahaman yang dinyatakan kembali dengan
sarana lambang perkataan atau kata-kata. Dengan demikian konsep bukan obyek
gejala itu sendiri, melainkan hasil pemaknaan didalam itelektual manusia yang merujuk ke gejala
nyata di alam empiris (Suprayoga dan Tabroni, 2001 :149).
Nilai Filosofis
Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan,
aksiologi yang pada hakikatnya merupakan sistem nilai berkaitan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value
and Valuatuion.
a.
Nilai, digunakan sebagai kata benda
abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik, dan bagus, sedangkan
dalam pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala bentuk
kewajiban, kebenaran, dan kesucian. Penggunaan nilai yang lebih luas, merupakan
kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan kontra,
sebagai lawan dari suatu yang lain dan berbeda dengan fakta. Teori nilai atau
aksiologi adalah bagian dari etika. Lewis menyebutkan sebagai alat untuk
mencapai beberapa tujuan, sebagai nilai instrumental atau menjadi baik atau seuatu
menjadi menarik, sebagai nilai inheren
atau kebaikan sperti estetis dari
sebuah karya seni, sebagai nilai intrinsik
atau menjadi baik dalam dirinya sendiri, sebagai nilai kontributor atau nilai
yang merupakan pengalaman yang memberikan kontibusi.
b.
Nilai sebagi kata benda konkrit.
Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, seringkali
digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai. Seperti nilainya, nilai
dia, dan sistem nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai
atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan apa-apa yang tidak dianggap baik
atau bernilai.
c.
Nilai juga digunakan sebagai kata kerja
dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai. Menilai umumnya sinonim
dengan evaluasi ketika hal tersebut secara aktif digunakan untuk menilai
perbuatan. Dewey membedakan dua hal tentang menilai, bisa berarti menghargai
dan mengevaluasi (Bakhtiar, 2012: 164).
Dari beberapa pendapat diatas, dapat
diananlisa secara garis besar bahwa teori tentang nilai (aksiologi) dalam
filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika makna etika memiliki dua
arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap
perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan,
tingkah laku, atau yang lainnya.
Nilai itu bersifat objektif, tetapi kadang
kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung
pada subjek atau kesadaraan yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada
objeknya bukan pada subjeknya yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak
tergantung pada kebenaran pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta.
Sebaliknya, nilai bersifat subjektif apabila subjek berperan dalam memberi
penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian
nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi
manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka,
senang atau tidak senang (Bakhtiar, 2012: 165).
Filosofis atau filsafat berasal
dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang
terdiri dari dua suku kata yaitu philos dan
Sophia. Philos berarti cinta dan Sophia berarti kebijaksanaan. Oleh sebab
itu, secara etimologi filosofis berarti ”love
of wisdom”. Dalam bahasa Arab, filsafat disebut dengan kata falsafah yang
saat ini menjadi kata dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, filsafat
disebut dengan kata philosophy. Filsafat
pada hakikatnya berkaitan dengan cara mencari kebenaran yang menjadi pemicu
manusia berpikir, melakukan pengamatan dan berbagai penelitian. Berfilsafat
dapat diartikan melakukan kegiatan berpikir secara menyeluruh, mendasar, dan
spekulatif (Suriasumantri dalam Rachmat, dkk, 2011:104). Filsafat merupakan
aspek rasional dari agama. Filsafat juga merupakan pencarian kebenaran melalui
logika atau kekuatan akal. Hindu tidak memusuhi filsafat, tetapi sebaliknya
dalam Agama Hindu filsafat merupakan bagian integral dari ajaran Agama Hindu.
Filsafat merupakan sarana atau alat pembantu untuk mengupas inti ajaran Agama
Hindu (Donder, 2006: 27-28).
Menurut Maswinara (1999) dalam
bukunya yang berjudul “Sistem Filsafat Hindu” menyatakan bahwa dalam filsafat
India terdapat enam sistem filsafat yang disebut sad darsana. Masing-masing sistem tersebut memiliki seorang sutrakara yaitu penyusun
doktrin-doktrin. Doktrin-doktrin tersebut dirumuskan dalam ungkapan-ungkapan
pendek yang dikenal dengan sutra.
Pada dasarnya sad darsana merupakan
enam cara pembuktian-pembuktian kebenaran atau enam sarana pengajaran yang
benar. Filsafat Hindu (darsana)
merupakan penyeimbang Agama Hindu itu sendiri, karena Agama Hindu yang
ajarannya diturunkan melalui kitab suci Weda akan selalu dikaji dan dimaknai
melalui kebenaran filsafat, sehingga menghasilkan hubungan yang tidak dapat
dipisahkan antara agama sebagi sumber praktis ritual dan darsana sebagai sumber filsafat.
Jadi dalam penelitian ini, konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun dikaji berdasarkan sudut pandang
filosfis yang tidak terlepas dari struktur teks, nilai-nilai filosofis, dan
persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun, sehinnga diperoleh
kesimpulan dan hasil penelitian berupa pemaknaan-pemaknaan yang komprehensif
terhadap konsep Pengider Bhuana pada
teks tutur Kanda Sangalukun.
Pengider Bhuana
Istilah Pengider Bhuana terdiri dari dua buah kata yaitu “Pengider” dan “Bhuana”. Istilah “Pengider”
berasal dari kata dasar “ider” yang
selanjutnya dalam kamus Bali-Indonesia karangan Sutjaja (2005) yang berjudul “Kamus Pelajar Dasar Menengah: Bali-Indonesia” terbitan Lotus Widya Sari, kata “ider” memiliki arti ”edar”. Dalam bahasa
Indonesia, kata “edar” dapat pula ditemukan pada kata yang berawalan “ber”
misalnya pada kata “beredar” yang artinya berputar, berkeliling, dan memutar.
Begitu pula pada kata “ider” dalam
bahasa Bali mendapat awalan “pe” menjadi “Pengider”
yang berarti berputar atau subjek yang menjadikan sesuatu berputar atau
berkeliling dan dalam penelitian ini yang dimaksud berputar atau berkeliling
adalah konsep Pengider Bhuana yang
dalam masyarakat Bali juga dikenal dengan istilah Dewata Nawasanga atau sembilan arah mata angin, sedangkan yang dimaksud subjek yang menjadikan konsep Pengider Bhuana ini berfungsi atau
berputar tiada lain adalah Ida Sanghyang
Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa sembilan arah mata angin
melalui manifestasinya yang berwujud sembilan Dewa.
Istilah Bhuana dalam Bahasa Jawa Kuno berarti bumi, dunia atau alam
semesta. Jadi, berdasarkan penjelasan di atas istilah Pengider Bhuana berarti perputaran arah
mata angin yang erat kaitannya dengan pemutaran gunung Mandara Giri dalam
konsep Dewata Nawasangga. Pemutaran
gunung Mandara Giri bertujuan untuk memperoleh tirta amerta guna menghindarkan umat manusia dari malapetaka dan
bencana, begitu pula perputaran arah mata angin dalam konsep Pengider Bhuana berfungsi sebagai
pelindung dan penyeimbang alam semesta agar terhindar dari marabahaya,
kekacauan, dan malapetaka.
Teks Tutur Kanda Sangalukun
Menurut Agastia dalam Suweta (2013:
9) menyatakan bahwa teks pada umumnya dikaitkan dengan hal yang bersifat
tertulis dan ada media yang mewadahinya, walaupun sesungguhnya teks tidak
semata tertulis, bisa saja bersifat lisan yang dikenal dengan sebutan teks
wacana lisan. Dalam konteks tulisan ini, teks dikaitkan dengan hal yang
bersifat tertulis, yakni teks yang berkenaan dengan hal sebagai hasil karya
tradisional Indonesia yang memiliki pengertian sangat luas.
Secara leksikal tutur berasal dari Bahasa
Jawa Kuno, yang artinya; ingatan, kenang-kenangan, kesadaran, lubuk jiwa mahluk
yang paling dalam, “ budi yang dalam” (tempat persatuan yang muhtlak); tradisi
suci, smrti (sebagai lawan sruti), teks berisi dokrin religi,
dokrin religi (Zoetmulder dalam Suweta, 2012:7). Selanjutnya Zoetmulder dalam
Suweta (2012:7), atutur berarti;
mengingat, mengenang kembali, menyadari sepenuhnya, terus-menerus mengingat.
Anatur,
tinutur yang berarti; mengingat, mengenang kembali,
menyadari. Tuturen reh in laku pacidra;
mengingatkan agar tidak bertingkah laku tercela. Dengan demikian memperhatikan
pemaparan di atas, tutur berarti
mengingatkan kembali tentang kebenaran agar dilaksanakan, sehingga tidak
menyimpang dari dharma, dalam hal ini tentang kebenaran Tuhan (Suweta, 2012:
7).
Teks tutur Kanda Sangalukun yang
menjadi objek penelitian ini merupakan teks atau wacana yang terdapat pada
naskah salinan dari lontar tutur Kanda
Sangalukun. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa teks tutur Kanda
Sangalukun merupakan pesan-pesan atau
isi dari naskah lontar tutur Kanda
Sangalukun yang dapat dipahami
melalui penafsiran-penafsiran menggunakan Teori Struktural, Teori Nilai, dan Teori
Persepsi sehingga akan diperoleh pemahaman yang jelas, objektif dan
komprehensif mengenai struktur teks, nilai-nilai filosofis serta persepsi
masyarakat terhadap ajaran Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda Sang
Landasan
Teori
Menurut Riduwan (2004:19) dalam bukunya
“Metode dan Teknik Penyusunan Tesis” menyatakan bahwa teori merupakan asumsi,
konsep, definisi, dan proposisi untuk menerangkan variabel yang akan dibedah,
melalui proses dan landasan inilah jawaban sementara mengenai rumusan masalah
yang diajukan dalam suatu penelitian akan diperoleh, sehingga teori dikatakan
sebagai landasan dasar dalam penelitian.
Teori yang digunakan dalam suatu penelitian harus berkaitan dan berhubungan dengan
permasalahan atau rumusan masalah di dalam suatu penelitian. Sehingga hasil
penelitian yang diperoleh oleh peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah. Tujuan lain dari sebuah landasan teori adalah untuk mempermudah
peneliti dalam memilih metodelogi yang sekaligus memberikan interpretasi
keberhasilan penelitian yang dilaksanakan. Adapun teori yang peneliti gunakan
dalam membedah permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Teori
Struktural
Menurut Jan Van Luxemburg dkk, mengatakan
pengertian struktur pada pokoknya berarti, sebuah karya atau
peristiwa-peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena adanya
relasi timbal balik antara bagian-bagianya dan antara bagian dan keseluruhan.
Hubungan ini bisa bersifat positif, seperti kemiripan dan keselarasan, bisa
juga bersifat negatif, seperti pertentangan dan konflik. Kesatuan struktural
mencakup setiap bagian menunjukkan kepada keseluruhan (Luxemburg dalam Suweta,
2012: 49).
Pendapat yang lebih sederhana
disajikan oleh Damono dalam Suweta (2012: 49) yang mengatakan, bahwa dasar telaah
strukturalisme adalah jaringan hubungan yang ada antara bagian-bagian yang
menyatukan menjadi totalitas. Hanya dari hubunngan-hubungan yang ada antara
bagian-bagian itulah totalitas dan bagian-bagian suatu karya sastra dapat dijelaskan
dengan sebaik-baiknya.
Strukturalisme atau kajian
struktur, keseluruhan atau keutuhan karya sastra itulah yang pada dasarnya
dinomorsatukan. Dalam keseluruhan itu bagian-bagian atau unsur-unsur tidak
dapat dipisah-pisahkan atau dibedakan antara satu dengan yang lain. Jadi
penghargaan atau penilaian terhadap satu bagian atau satu unsur saja dari
cerita itu sama sekali tidak tepat, tiap bagian atau unsur harus disoroti dalam
konteks cerita itu, sedang cerita itu sendiri sebagai keseluruhan harus
ditempatkan dalam keseluruhan kode dan konvensi sastra budaya masyarakat
bersangkutan, tanpa mempersoalkan sejauh mana kode dan konvensi tersebut dapat
didekati dengan sarana di luar bidang sastra. Lewat jalan ini sebuah karya
sastra dihadapi dan dinilai pada tempatnya (Sutrisno dalam Suweta, 2012: 49).
Teeuw dalam Suweta (2012: 49) menegaskan,
bahwa pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan
memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam dan mungkin keterkaitan
dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra bersama-sama menghasilkan
makna menyeluruh.
Berdasarkan kelima pendapat di
atas, struktur adalah keseluruhan elemen-elemen yang membangun karya sastra
yang menjadi satu-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pada kajain ini
teori Struktural yang digunakan sebagai landasan kerja adalah teori yang
dikemukakan oleh Teeuw yaitu untuk mengupas rumusan masalah yang pertama yakni
berkaitan dengan struktur teks tutur Kanda
Sangalukun, sedangkan teori Struktural menurut pendapat tokoh yang lain digunakan
sebagai bahan penunjang dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Teori Struktural dari Teeuw
dipandang paling tepat digunakan dalam mengupas rumusan masalah yang pertama
penelitian ini, karena dalam penelitian ini diperlukan sebuah analisis untuk
memaparkan secermat mungkin dan mengungkap keterjalinan semua anasir
aspek-aspek karya sastra yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga menghasilkan makna yang
menyeluruh.
Teori
Nilai
Menurut
Scheler dalam Siswanto (1998: 111) menjelaskan bahwa secara hierarkis, nilai
dibagi dalam empat kelompok. Pertama, nilai
kesenangan dan ketidaksenangan. Nilai ini terdapat dalam objek-objek yang
berpadanan dengan makhluk-makhluk yang memiliki indera. Karena perbedaan
indera, kesenangan dan ketidaksenangan berbeda dalam jenis-jenis individu,
tetapi nilai-nilai tetap sama dalam dirinya. Kedua, nilai vital, antara lain dicontohkan: “ yang halus” (edel) dan “yang biasa atau vulgar” (gemein), yang digambarkan pada
keturunan-keturunan yang lebih tinggi dan lebih rendah dari tumbuh-tumbuhan
atau binatang dan terekspresi dalam vitalitas yang tertinggi dan terendah,
kesehatan, kemudahan, dan lain-lain. Ketiga,
nilai spirit atau rohani. Nilai ini tidak tergantung secara timbal balik
dengan organisme lingkungan. Nilai rohani dibedakan ke dalam: nilai estetik
keindahan dan kejelekan, nilai-nilai benar dan salah, dan nilai pengetahuan
murni. Keempat, nilai yang kudus
nilai “yang kudus” dan “tidak kudus”. Nilai-nilai ini menyangkut soal
“objek-objek absolut”, terdapat dalam bidang religius.
Menurut
Notonegoro, nilai dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) Nilai
Material; adalah segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau
kebutuhan ragawi manusia, (2) Nilai Vital; adalah segala sesuatu yang berguna
bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas, (3) Nilai
Kerohanian; adalah segala sesuatau yang berguna bagi rohani manusia. Nilai
Kerohanian meliputi: (a) Nilai Kebenaran; yakni nilai yang bersumber pada akal
(rasio, budi, dan cipta) manusia, (b) Nilai Keindahan atau Nilai Estetis; yakni
nilai yang bersumber pada unsur perasaan manusia, (c) Nilai Kebaikan atau Nilai
Moral; yakni nilai yang bersumber pada unsur kehendak (karsa) manusia, dan (d)
Nilai Religius; yakni nilai kerohanian tertinggi dan mutlak bersumber pada
kepercayaan atau keyakinan manusia
(blogdeee.blogspot.com/2011/03/macam-macam-nilai-menurut-prof.html, Tanggal
Akses: 23/04/2015: 16.40 Wita).
Berdasarkan
pemaparan kedua tokoh di atas menyangkut pandangannya tentang teori nilai, maka
dapat dipahami bahwa diantara dua teori nilai tersebut memiliki beberapa
kesamaan dan juga perbedaan. Kesamaan tentang pandangannya terhadap nilai yaitu
bahwa kedua tokoh di atas menyebutkan adanya nilai vital dan nilai rohani,
sedangkan pandangan yang berbeda terhadap teori nilai dari kedua tokoh di atas
yaitu bahwa menurut Scheler nilai kerohanian bersifat umum dan tidak dapat
dibagi menjadi nilai-nilai yang lebih spesifik, sedangkan menurut Notonegoro
nilai kerohanian masih dapat dibedakan menjadi beberapa nilai yang lebih
spesifik yaitu: nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, dan nilai
religius.
Jika
dikaitkan dengan penelitian ini, teori nilai menurut Notonegoro dipandang
relevan digunakan untuk mengupas rumusan masalah yang ketiga yakni mengupas
nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks
tutur Kanda Sangalukun, mengingat
teks tutur Kanda Sangalukun menguraikan tentang konsep Pengider Bhuana yang merupakan bagian dari ajaran Agama Hindu yang sifatnya
spiritualistis dan religius, sehingga dalam ajaran Pengider Bhuana tidak terlepas dari nilai kebenaran, nilai
keindahan (estetika), nilai kebaikan (etika), dan nilai religius yang semuanya
merupakan bagian dari nilai kerohanian.
Model
Penelitian
Model penelitian adalah suatu gambaran
penelitian yang di buat oleh peneliti dalam bentuk bagan yang menunjukkan
hubungan pengaruh langsung hubungan pengaruh tidak langsung, dan hubungan
timbal balik antara satu kosep dengan konsep yang lainnya yang terdapat dalam
objek penelitian, sehingga mempermudah peneliti dalam menyusun kerangka
berpikir yang sistematis guna menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.
Adapun model penelitian yang disusun dalam bentuk bagan dapat digambarkan
sebagai berikut:
Keterangan Model
Ajaran Agama Hindu tertuang dalam kitab suci Veda sebagai kitab tertinggi yang memuat
kebenaran sejati dan di Indonesia khususnya di Bali, Penyebarluasan ajaran Veda sangat populer melalui kesusastraan
lokal tradisional Bali.
Teks lontar tutur
Kanda Sangalukun adalah salah
satu dari sekian banyak hasil kesusastraan Hindu yang berbahasa jawa kuno yang
berada di Bali.
Konsep Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun dapat disepadankan dengan Konsep Dewata
Nawasanga yaitu sembilan penjuru arah mata angin yang dikuasai oleh
sembilan Dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk memahami makna konsep Pengider Bhuana secara menyeluruh diperlukan analisis struktural
yakni membongkar dan memaparkan dengan cermat dan teliti setiap aspek dan
anasir yang terdapat dalam teks tutur Kanda
Sangalukun.
Untuk memperoleh kesimpulan dan pemaknaan yang
menyeluruh berkaitan dengan konsep Pengider
Bhuana dalam perspektif filosofis juga diperlukan fakta-fakta berupa
persepsi dari berbagai kelompok masyarakat yang memberikan persepsinya terhadap
konsep Pengider Bhuana.
Nilai-nilai
filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun merupakan suatu pedoman
dan tuntunan dalam meningkatkan kualitas spiritual Umat Hindu di Bali. Penelitian
yang difokuskan pada struktur, persepsi masyarakat, dan nilai filosofis konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun ini pada akhirnya diharapkan dapat
meningkatkan spiritualitas dan memupuk Sraddha
dan Bhakti Umat Hindu baik kepada
leluhur maupun kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang
Maha Esa.
METODE PENELITIAN
Bakker dalam Surajiyo (2008:9) menyatakan
bahwa kata metode berasal dari kata Yunani methodos,
sambungan kata depan meta (ialah
menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (ialah jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti penelitian,
metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak
menurut sistem aturan tertentu.
Suriasumantri dalam Surajiyo
(2008:91) membedakan metode dengan metodelogi, bahwa metode adalah suatu
prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah
sistematis. Adapun metodelogi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari
peraturan-peraturan dalam metode tersebut.
Jenis Penelitian
Penelitian kualitatif merupakan
metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah
individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau
kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting,
seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan
data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif
mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan makna data
(Creswell, 2010: 5).
Oleh
karena penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif, maka jenis data
dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif merupakan suatu
keterangan atau bahan nyata yang berupa kata-kata atau non-statistik yang dapat
dijadikan sebagai suatu dasar kajian. Data kualitatif berhubungan dengan
kategorisasi, karakteristik, berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata
(Riduwan, 2004: 106).
Sumber Data
Sumber
data merupakan suatu jalan yang harus ditempuh dalam melakukan suatu penelitian
guna memperoleh data yang akurat serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya
oleh peneliti. Sumber data adalah cara yang digunakan peneliti dalam
mengumpulkan data penelitiannya (Suharsini-Arikunto,
2006: 160). Sumber data dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam, yaitu
sumber data primer dan sumber data sekunder.
Data
adalah semacam informasi atau keterangan tentang kejadian-kejadian yang
sifatnya khusus (fakta) berupa hasil pengukuran baik secara kuantitatif (berupa
angka) maupun kualitatif (yang menyatakan mutu) dalam artian yang lebih luas
istilah tersebut dapat pula digunakan untuk menyatakan segala bukti atau fakta
yang diperoleh dari suatu penelitian tertentu (Atmaja dalam Ariwidayani, 2013:
29).
Lebih
lanjut Iqbal (2002: 82) menjelaskan bahwa data dapat berupa sesuatu yang
diketahui berupa fakta-fakta yang digambarkan dengan kode, simbol, dan
angka-angka.
Dari kedua pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa data memiliki peranan penting dalam suatu penelitian. Karena
data merupakan informasi, keterangan, dan pengetahuan awal yang masih belum
tertata dan belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, oleh karena itu perlu
dianalisis dan disusun secara sistematis melalui metode analisis data yang
ilmiah sehingga akhirnya dapat disampaikan kepada masyarakat umum sebagai suatu
ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Untuk mendapatkan hasil penelitian
yang maksimal, perlu dilakukan pengumpulan dan analisis data dari sumber-sumber
yang dapat dipercaya, bersifat rasional, dan sesuai dengan kenyataan yang ada
di lapangan. Data dalam penelitian kualitatif khususnya penelitian kajian teks ini
bersifat langsung karena peneliti melakukan pengamatan langsung tanpa perantara
pihak lain dalam mengkaji dan menggali makna dan nilai-nilai filosofis yang
terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada
teks tutur Kanda Sangalukun. Adapun sumber data yang digunakan dalam
kegiatan penelitian yaitu:
Data Primer
Data
primer disebut juga data asli adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang
bersangkutan yang memerlukannya (Iqbal, 2002:82).
Data
primer yang peneliti maksudkan dalam penelitian ini adalah salinan teks tutur Kanda Sangalukun yang peneliti peroleh dari Gedong
Kirtya Singaraja. Peneliti dapat menjamin keaslian dari teks lontar ini melalui langkah-langkah
pendekatan dengan penelusuran yang mendalam dan memerlukan waktu berhari-hari
dengan bantuan dan arahan dari petugas di Gedong Kirtya Singaraja untuk
mendapatkan teks tutur Kanda
Sangalukun yang bersumber dari lontar kuno yang betul-betul terjamin
keasliannya. Sehingga pada akhirnya peneliti memutuskan untuk meneliti teks tutur Kanda Sangalukun sebagai objek penelitian.
Data Sekunder
Data
sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang telah ada, data ini
biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari hasil laporan para peneliti
terdahulu (Hasan, 2002:167). Data skunder adalah data yang pengumpulannya tidak
diperoleh langsung dari lapangan. Data sekunder adalah data
yang dalam pengumpulannya tidak didapatkan secara langsung dari lapangan
(Moleong, 2004: 32). Apabila penelitian yang dilakukan merupakan penelitian
kepustakaan, maka yang termasuk sumber data sekunder adalah buku-buku serta
kepustakaan yang berkaitan dengan objek material, akan tetapi tidak secara
langsung merupakan karya tokoh agama atau filsuf agama tertentu yang menjadi
objek penelitian (Kaelan, 2005: 144). Buku-buku, naskah atau teks ini biasanya
berupa kajian, komentar atau pembahasan terhadap karya tokoh agama atau filsuf
agama yang menjadi objek penelitian.
Mengacu
dari penjelasan mengenai sumber data sekunder tersebut, maka yang termasuk
dalam sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, naskah atau
teks yang memiliki keterkaitan dengan objek material penelitian, yaitu mengenai
ajaran Pengider Bhuana.
Dalam
penelitian ini data sekunder yang dimaksud adalah hasil-hasil penelitian yang
telah dimuat dalam bentuk buku yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.
Salah satu data sekunder dalam penelitian ini adalah Buku karya Tim-Penyusun
(2003) dengan editor Jiwa Atmaja yang berjudul
“Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali”
pada bagian sub judulnya yaitu “Makna Orientasi Arah di Bali” (Perspektif Teori
Kelasifikasi Dua dan Kelasifikasi Tiga). Peneliti menggunakan buku ini sebagai
data skunder, sebab buku ini merupakan penelitian yang berkaitan dengan arah
mata angin dalam kepercayaan Umat Hindu di Bali yang juga akan dikupas pada
penelitian ini dalam perspektif filosofis.
Teknik Pengumpulan Data
Data
yang bersifat masih mentah merupakan bahan-bahan penelitian yang keberadaannya
masih sangat kacau dan belum tersusun secara sistematis. Sebelum data
dikumpulkan, peneliti perlu mengetahui dan memahami teknik pengumpulan data
dengan baik, agar mempermudah peneliti dalam mengolah data yang masih mentah
tersebut.
Menurut
Suharsini-Arikunto (2006:134) menyatakan bahwa metode pengumpulan data yaitu
cara yang digunakan untuk memperoleh data yang dijadikan dasar kajian. Metode
pengumpulan data adalah suatu metode yang dipakai untuk mengumpulkan data yang
ada pada masyarakat maupun literatur yang relevan. Metode pengumpulan data juga
merupakan metode yang secara khusus dipergunakan mencari atau memperoleh data.
Berikut
akan diuraikan beberapa teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam
penelitian ini, yakni: Studi Kepustakaan dan Dokumentasi.
Studi Kepustakaan
Mukajir
dalam Martini (2013: 34) mengungkapkan bahwa metode kepustakaan merupakan suatu
usaha atau cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan penelitian
kepustakaan seperti melalui membaca, menulis, mengutip materi dari kepustakaan
yang tersajikan, disebut sebagai metode kepustakaan. Berdasarkan metode kepustakaan,
mencari data-data melalui, buku, majalah, surat kabar, maupun lontar-lontar,
karena penelitian ini dilaksanakan dalam rangka penyusunan karya ilmiah, maka
sumber berupa buku dan lainnya akan dipilih secara selektif yang akan digunakan
sebagai sumber penelitian agar sesuai dengan variabel penelitian.
Studi
kepustakaan dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh sumber-sumber
tertulis yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti, yakni “Konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun”. Tujuannya
adalah untuk mengkombinasikan antara data yang berupa teks tutur Kanda Sangalukun dengan
sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, jurnal ilmiah, laporan hasil
penelitian, dan lain-lain, sehingga antara teori-teori yang tertuang dalam
sumber kepustakaan memiliki koherensi dengan data dan fakta yang tertuang dalam
teks tutur Kanda Sangalukun.
Studi Dokumen
Secara
interpretatif, dokumen dapat diartikan sebagai rekaman kejadian masa lalu yang
ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan anekdotal, surat, buku harian dan
dokumen-dokumen (Kaelan, 2005: 114). Dokumen merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya
monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan
harian, sejarah kehidupan (life
histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan, tetapi dalam penelitian
ini berupa teks alih bahasa dan terjemahan lontar tutur Kanda
Sangalukun yang diperoleh dari Kantor UPTD. Gedong Kirtya Singaraja, Jl.
Veteran No. 20 Singaraja. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar
hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,
yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain (Sugiyono, 2007: 329).
Dengan adanya data yang berupa dokumentasi akan lebih memperkaya pemahaman
peneliti dalam memaparkan suatu karya tulis. Selain itu, studi dokumen dalam
penelitian ini juga digunakan untuk mengumpulkan data-data yang sehubungan
dengan ajaran Pengider Bhuana, baik
melalui buku-buku, majalah, ataupun literatur-literatur yang berkaitan dengan
penelitian ini.
Dokumentasi
dalam penelitian ini dianggap penting karena dalam mendapatkan teks tutur Kanda Sangalukun diperlukan
langkah-langkah mencatat, memfoto, dan memeriksa secara lebih mendetail
mengenai letak, nomor lontar, dan
nomor keropak (kotak)/tempat lontar yang ada di Gedong Kirtya
Singaraja.
Wawancara
Menurut
Suharsini-Arikunto (2006: 126-127) menyatakan bahwa wawancara merupakan proses
tanya jawab antara peneliti dengan subjek yang diteliti sebagai sumber
informasi, yang dapat dilakukan melalui tanya jawab bebas terpimpin, tanya
jawab bebas, dan tanya jawab terpimpin. Sedangkan menurut Bungin (2001), metode
wawancara atau interview adalah langkah-langkah yang digunakan untuk
mendapatkan keterangan penelitian melalui orang yang diwawancarai atau
responden.
Sugiyono
(2007: 154) menjelaskan bahwa ada dua jenis wawancara yang dapat dilakukan oleh
peneliti, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur dan dapat
pula dilakukan melalui proses bertemu langsung dengan responden maupun melalui
sarana komunikasi seperti melalui telepon.
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa dalam wawancara terdapat aspek-aspek yang tidak dapat
diabaikan oleh peneliti mengingat daya tangkap atau kemampuan menghafal yang
dimiliki peneliti dalam merekam pernyataan-pernyataan yang disampaikan melalui
otak masih sangat terbatas, maka perlu dipersiapkan alat bantu yakni: alat
bantu yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mempermudah proses wawancara,
alat bantu tersebut bisa berupa alat tulis, alat perekam, dan telepon/handphone (untuk wawancara tidak
langsung).
Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan pedoman wawancara berstruktur dengan
teknik purposive sampling, yakni peneliti
menentukan sendiri informan yang dianggap memiliki pengetahuan yang luas
tentang teks lontar khususnya teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga
kualitas pengetahuan yang dimiliki setiap informan akan sangat berpengaruh
terhadap hasil penelitian yang diperoleh. Pemilihan informan yang tepat sangat
penting peneliti lakukan untuk menjaga objektifitas data yang diperoleh. Tujuannya
adalah agar data yang diperoleh dapat digunakan sebagai pelengkap yang
selanjutnya peneliti padukan dengan data dari sumber-sumber data primer berupa
buku-buku ilmiah dan jurnal ilmiah yang relevan dengan objek penelitian. Data
dari hasil wawancara dan data dari buku-buku ilmiah dan jurnal ilmiah tersebut
akan digunakan untuk mengupas rumusan masalah yang kedua yakni persepsi
masyarakat terhadap konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun.
Teknik Analisis Data
Teknik
analisis data juga sering disebut pengolahan data, memberikan informasi tentang
bagaimana cara menganalisis data yang peneliti kumpulkan. Muhajir dalam Duani (2013:29)
mengemukakan bahwa teknik analisis data dilakukan setelah pengumpulan data.
Analisis data dilaksanakan dengan memilah-milah data atau mengkelasifikasikan
data.
Teknik
analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menafsirkan atau
menginterpretasi data-data yang telah terkmpul. Mengingat penelitian ini adalah
penelitian kajian filosofis teks, maka data-data yang ada dalam teks tutur Kanda Sangalukun perlu ditafsirkan dan diinterpretasikan
nilai dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Tujuannya adalah untuk
memilah dan mengklasifikasikan data yang dianggap penting untuk mendukung
penelitian dan mengesampingkan data-data yang dianggap tidak perlu dalam
penelitian ini, sehingga melalui langkah-langkah di atas, maka arah penelitian
akan dapat difokuskan pada permasalahan nilai dan makna filosofis yang
terkandung dalam teks tutur Kanda
Sangalukun.
Penyajian Hasil Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam menyajikan hasil
analisis data dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif. Teknik deskriptif adalah suatu cara atau jalan
untuk meneliti suatu objek, baik berupa nilai-nilai budaya, etika, karya seni,
maupun peristiwa atau objek kajian lainnya. Menurut Kaelan (2005: 58), tujuan
menggunakan teknik deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran ataupun
lukisan secara sistematis, maupun objektif mengenai fakta-fakta, sifat-sifat,
ciri-ciri serta hubungan di antara unsur-unsur yang ada atau suatu fenomena
tertentu.
Mengacu dari
pemaparan tersebut, dalam penelitian ini teknik deskriptif digunakan dengan
tujuan agar dapat membuat suatu deskripsi, gambaran ataupun lukisan secara
sistematis mengenai apa yang ditemukan dalam naskah atau teks tutur Kanda Sangalukun, baik berupa kutipan-kutipan asli
maupun yang didapat dari dokumen-dokumen lainnya dan tidak berbentuk angka. Data yang terkumpul, baik data dari
kepustakaan maupun hasil studi dokumen yang terkait dengan ajaran Pengider Bhuana yang terkandung dalam teks tutur Kanda Sangalukun, kemudian
data tersebut dapat diklasifikasikan dan disusun secara sistematis sehingga
diperoleh suatu kesimpulan.
Dalam penyajian hasil analisis data
digunakan metode formal dan informal. Metode formal yang dimaksud adalah
menyajikan hasil analisis dengan menggunakan tanda-tanda seperti tanda
diakritik, tanda kurung, tabel, bagan dan sebagainya. Selanjutnya metode
informal adalah menyajikan hasil analisis data dan hasil penelitian dengan
menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh pembaca (Ariwidayani,
2013:38).
BAB IV
PENYAJIAN
HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Teks Tutur Kanda Sangalukun
Naskah
asli teks tutur Kanda Sangalukun dari segi huruf/aksara menggunakan
huruf/akasara Bali, dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuno, sedangkan bahan baku
yang digunakan adalah daun rontal yang dikeringkan. Sedangkan pensil (alat
penulis) yang dipergunakan adalah pengrupak (menyerupai pisau pengerot yang
sangat tajam), sedangkan wadah, tempat lontar tutur Kanda Sangalukun disebut Kropak. Kropak biasanya terbuat dari kayu yang tidak mudah lapuk, sehingga dapat
berumur yang sangat tua. Kropak, sebagai tempat lontar berfungsi untuk melindungi lontar yang ada didalamnya.
Sehingga tidak mudah rusak, atau laput tergerus angin dan debu. Dengan demikian
keutuhan akasaranya dapat terus dijaga serta senantiasa mudah untuk dibaca.
Pada
teks lontar tutur Kanda Sangalukun
berisi sebuah konsep sembilan penjuru arah mata angin oleh masyarakat Bali
dikenal dengan konsep Pengider Bhuana atau
sering juga disebut Dewata Nawasangga. Konsep
Pengider Bhuana yang dipaparkan dalam
teks lontar tutur Kanda Sangalukun sangat jelas tertulis sembilan arah
mata angin beserta nama-nama Dewa dan saktinya
dan lengkap dengan senjata, urip (angka
suci), warna, aksara suci, kendaraan suci Para Dewa, dan atribut-atribut yang
lainnya. Di samping bentuk secara fisik, sebagaimana pemaparan tersebut di atas,
dari bentuk bahasa, bahasa yang digunakan yaitu Bahasa Jawa Kuno.
Struktur Teks Tutur Kanda Sangalukun
Untuk mengetahui struktur sebuah karya sastra secara
utuh dan menyeluruh, maka perlu dibongkar dan dianalisis aspek-aspek dan
anasir-anasir yang menyusun sebuah karya sastra menggunakan analisis
struktural. Dalam rangka penelitian ini peneliti menggunakan konsep teori
struktural dari Teeuw. Teeuw dalam Suweta (2012: 49) menegaskan, bahwa pada
prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan
secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam dan mungkin keterkaitan dan
keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra bersama-sama menghasilkan
makna menyeluruh.
Berdasarkan konsep Teori Struktural seperti
dipaparkan di atas, maka anasir dan aspek-aspek yang menyusun teks tutur Kanda Sangalukun meliputi; naskah tutur Kanda Sangalukun yang dipakai
sebagai sumber analisis dan sinopsis teks tutur
Kanda Sangalukun.
Naskah Yang Dipakai Sebagai Sumber Analisis
Sebelum peneliti menetapkan naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong
Kirtya Singaraja sebagai sumber analisis, terlebih dahulu dilakukan penelusuran
lontar tutur Kanda Sangalukun di
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, JL. Ir. Juanda No. 1 Renon, Denpasar. Dari
hasil penelusuran di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ditemukan lontar tutur Kanda Sangalukun dengan
keterangan yaitu: ukuran panjang 48 cm dan lebar 3,5 cm, jumlah lembar 7 lembar sebagi lembar isi ditambah 2 lembar
lainnya sebagai lembar sampul dan penutup di bagian akhir, sehingga jumlah
keseluruhannya menjadi 9 lembar, dan disalin oleh Si Gede Badra. Lontar asli koleksi Dinas Kebudayaan
Provinsi Bali ditemukan menggunakan teknik pencarian dengan kode klasifikasi
K/VII yang artinya lontar tutur Kanda
Sangalukun ini tergolong dalam lontar jenis
“Kanda” disimpan pada keropak nomor VII, sedangkan jumlah lontar berjumlah 9 lembar daun lontar,
tiap lembar dibedakan menjadi dua sisi yang dipisahkan oleh sebuah lubang kecil
tepat di tengah-tengah lontar, lubang
tersebut sebagai tempat mengikat lontar agar
tersusun rapi sebelum disimpan. Lembar sampul di bagian depan hanya berisi
keterangan “Kanda Sangalukun”, sedangkan lembar paling akhir hanya berupa
lembaran kosong. Selain menggunakan daun lontar
itu sendiri sebagai sampul, juga menggunakan dua bilah kayu yang dibuat
seukuran lontar yang digunakan untuk
menjepit atau menutup lontar agar tetap rapi dan tidak mudah sobek. Pada
bilah kayu yang diletakan di bagian depan terdapat keterangan berupa tulisan
dari huruf Bali beserta tulisan dengan huruf Latin di bawahnya berbunyi “Kanda
Sangalukun”.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan,
peneliti menetapkan teks yang akan digunakan sebagai dasar kajian analisis
struktur dan nilai dalam rangka penelitian ini adalah naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong
Kirtya Singaraja. Naskah tutur Kanda
Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja dari segi isi naskahnya relatif sama
dengan naskah tutur Kanda Sangalukun
koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Perbedaannya hanya dari aspek ukuran lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi
Gedong Kirtya memiliki panjang 51cm dan lebar 3,5 cm dengan jumlah lontar 9 lembar.
Ciri-ciri lain dari lontar ini pada
lembar pertama di bagian sisi sebelah kiri berisi keterangan kode lontar yakni IIIB, nomor lontar; 600, nomor keropak; 5, sedangkan
pada sisi sebelah kanan tertulis keterangan “Tutur Kānda Sanghālukun, turunan
dari lontarnya I Kt. Kadjeng dari
Banjar Tegal, Buleleng, diturunkan dijaga olehnya”. Sebagai lembar awal atau
sampul maka dibuat dua lembar ditempel menjadi satu, demikian juga di bagian
akhir sebagai penutup juga dibuat dua lembar daun lontar ditempel menjadi satu fungsinya adalah untuk menjaga
keutuhan isi lontar di dalamnya.
Selain isi naskahnya yang relatif sama, antara lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dengan lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi
Gedong Kirtya Singaraja terdapat persamaan lain yakni tiap-tiap lembarnya ditulis
bolak-balik empat baris kecuali pada lembar-lembar pertama dan lembar terakhir.
Jumlah koleksi lontar
di Gedong Kirtya saat ini mencapai 1750 cakep, sedangkan salinan lontar berjumlah 7211 judul, semuanya
disusun berdasarkan kelompok (klasifikasi) diantaranya: (1) Kelompok Weda terdiri dari: (a) Weda-weda yang ada di Bali, memakai
Bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Bali. (b) Mantra, menurut perkembangannya
berasal dari Jawa dan Bali. (c) Kalpasastra,
berisi tentang manfaat upacara-upacara keagamaan. (2) Kelompok Agama, terdiri
dari: (a) Palakerta, berisikan
tentang peraturan seperti: Dharmasasta dan
Awig-awig. (b) Sesana, buku petunjuk tentang kesucian moral. (c) Niti, berisikan
tentang hukum maupun perundang-undangan yang dipergunakan pada zaman kerajaan.
(3) Kelompok Wariga, terdiri dari:
(a) Wariga, berisikan pengetahuan
tentang Astronomi dan Astrologi. (b) Tutur,
berasal dari Upadesa; pengetahuan tentang kosmos yang erat kaitannya dengan
keagamaan. (c) Kanda, berisikan ilmu
tentang bahasa, bangunan, motologi, dan ilmu pengetahuan khusus. (d) Usada, rontal pengobatan tradisional.
(4) Kelompok Itihasa, terdiri dari:
(a) Parwa, disusun dalam bentuk
Prosa. (b) Kekawin, disusun
berdasarkan maat India Kuno (Putu Gede Wiriasa, wawancara 17/02/2015).
Berdasarkan keterangan di atas, teks tutur Kanda Sangalukun termasuk ke dalam
kelompok Wariga yang erat kaitannya
dengan Padewasan (ajaran tentang
baik-buruknya waktu) yang juga diperkuat dengan kutipan teks tutur Kanda Sangalukun sebagai berikut:
“…sami
mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…semuanya diungkapkan dalam tutur
ini, sampai mengenai pedewasan (baik-buruknya waktu)…”
(
Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Sinopsis Teks Tutur Kanda
Sangalukun
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pengertian sinopsis adalah ringkasan suatu cerita, sinopsis juga dapat berarti inti
sari dari sebuah cerita dengan tujuan untuk mempermudah pembaca dalam memahami
keseluruhan cerita yang disampaikan (Tim-Penyusun, 1991 :520).
Pada teks tutur Kanda Sangalukun diungkapkan mengenai ajaran tentang Padewasan, ajaran tentang Dharma Pewayangan, ajaran tentang Kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa,
ajaran tentang Bhuana Agung-Bhuana Alit, dan
munculnya sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa yang bersemayam
pada masing-masing penjuru arah mata angin tersebut. Diceritakan bahwa di arah
Timur merupakan tempat berstana Sang Hyang Iswara dengan atribut berupa angka
suci yang bernilai 5, sakti-Nya Sang
Hyang Rawi. Senjata sucinya Bajra, aksara sucinya; e, u, i, dan ong, tempat
sucinya meru tingkat 5, warna putih. Sebagai
penguasa pengetahuan Wariga pengetahuan
tentang Padewasan adalah Bhagawan
Bergu dan Bhagawan Korsika. Ajaran tentang Wariga
yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu)
nya; kala tukaran, kala lungid, kala kuat, merta masa, kala sakti, kala dangu,
kala dangastra, kala catur yuga, dan kala katemu, tri wara; kajeng, catur
wara; sri dan laba, sad wara; urukung , dasa wara; pandita dan manusa, wukunya; taulu, langkir, matal dan
dukut, dauh (waktunya) 5. Diceritakan
pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui papusuh (jantung) dan keluar melalui mata sebelah kanan, ajaran
tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung
Agung, sedangkan pengetahuan tentang Bhuana Alit yang diungkapkan; yehnyom (air ketuban) dan lambung pada
tubuh manusia.
Pada arah Tenggara merupakan tempat
berstana Hyang Mahisora dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 8, sakti-Nya Dewi Kundang Kasih, Senjata
sucinya Dupa, aksara sucinya; na, ga, dan nang, tempat sucinya meru waja tingkat 8, warna jingga. Ajaran
tentang Wariga yang diungkapkan
diantaranya: kala (waktu) nya; kala
keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh awu, kala ngruda, dan kala jambungan, sad wara; paniron, sapta wara; wraspati (Hari Kamis) dan Redite (Hari Minggu), sanga wara; jangur, dasa wara; pandita, wukunya;
gumbreg, medangsia, dan watugunung, dauh (waktunya)
8. Ajaran tentang Dharma Pewayangan yang
diungkap yaitu disebutkan bahwa Bhagawan Bergu memegang gentanya dalang. Diceritakan
pula bahwa jiwa dapat masuk melalui paru paru kemudian keluar melalui mata
sebelah kiri, ajaran tentang hakikat Bhuana
Agung; Gunung Panju dan Danau Buyan, sedangkan pengetahuan tentang Bhuana
Alit yang diaungkapkan yaitu bagian pusar pada tubuh manusia.
Pada arah Selatan merupakan tempat
berstana Dewa Brahma dengan atribut berupa urip
(angka suci) yang bernilai 9, sakti-Nya
Dewi Saraswati. Senjata sucinya Gada, aksara sucinya; ba, ca, sa/ca, ba, ja,
bang, swaranya (suara sucinya); ang,
ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, warnanya merah, tempat sucinya meru tingkat 9, warna merah. Ajaran
tentang Wariga yang diungkapkan
diantaranya: kala (waktu) nya; kala Ngadeg, kala Cakra, Sadana Tiba, Arda,
I Selair, I Mrajapati, Jamakala, Kesrawa, kala Geger, kala Mangap, kala Pancasona dan
kala Asuajag, catur wara; laba dan jaya,
panca waranya; paing, sapta waranya; Saniscara (Hari Sabtu), asta waranya; yama, sanga
waranya; gigis, wukunya; wariga, pujut, dan menail, dauh (waktunya) kerta. Diceritakan
pula bahwa jiwa dapat masuk ke hati dan keluar lewat telinga sebelah kiri.
Pada arah Barat Daya merupakan
tempat berstana Sang Hyang Rudra dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 3, sakti-Nya Dewi Durga. Senjata sucinya Moksala, aksara sucinya; ma,
da, dan mang, swaranya (suara
sucinya); eh, tasa, raba, dan dapa, tempat sucinya meru kuning tingkat 3. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Mina,
kala Pati Pata, karna sula, kala durga sthana, Bhuta Jingkrak, I Bhuta
Bragenjong, leyak, wil, segala jenis gamang (wong samar), jin, dan Mawata Sasa.
Sad waranya; maulu, sapta waranya; Anggara
(Hari Selasa), sanga waranya; nohan, wukunya; Warigadean, Pahang, dan Prangbakat, dauh (waktunya) 7, warna oranye. Diceritakan pula bahwa jiwa keluar
lewat telinga sebelah kanan.
Pada arah Barat merupakan tempat
berstana Sang Hyang Mahadewa dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 7, sakti-Nya Dewi Parwati. Senjata sucinya
Nagapasa, aksara sucinya; ta, pa, na, ga, ga, ca, dan ang, suara sucinya; Ung,
wala, kanga, ga dan ganga, tempat sucinya meru
emas tingkat 7, warnanya kuning. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; Bhutanya Bahu Kakered, I Mekair, I Banaspati,
Cikradorakala, kala angin, kala
caplokan, kala watu, prawani, kala tapa, adi kala, Bhuta Petak, dwi wara nya; pepet, sad wara; tungleh, sapta
wara nya; Hari Kamis dan Rabu, sanga
wara nya; ogan, wukunya; Sinta, Julungwangi, Krulut, dan Bala,, dauh (waktunya) 2. Diceritakan pula
bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui ungsilan (ginjal) dan keluar melalui hidung kiri, ajaran tentang
hakikat Bhuana Agung yang diungkap
yaitu; Gunung Mangu, Pura Taman Ayun
dan Danau Beratan.
Pada arah Barat Laut merupakan
tempat berstana Sang Hyang Sangkara dengan atribut berupa angka suci yang
bernilai 1, sakti-Nya Dewi Mahadewi.
Senjata sucinya Angkus, aksara sucinya; sa, ca, bang, tempat sucinya meru tingkat 1, warna hijau. Ajaran
tentang Wariga yang diungkapkan
diantaranya: kala (waktu) nya; kala
lungid, bebhutaan raksasa, I Ciligendruk, kala atma, kala rebutan, kala
dangka, kala rawu, kala jengkang, kala jengking, dan Bhuta Jabung, sanga waranya; erangan, wukunya; Sungsang, Merakih, Landep, dan Ugu, dauh (waktunya) 6. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke
dalam tubuh melalui limpa keluar ke hidung sebelah kanan, ajaran tentang
hakikat Bhuana Agung; Gunung Samara
Geseng, sedangkan pengetahuan tentang
Bhuana Alit yang diaungkapkan; di
sumsum, dan pada bulu (roma) pada tubuh manusia.
Pada arah Utara merupakan tempat
berstana Sang Hyang Wisnu dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 4, sakti-Nya Dewi Sri. Senjata sucinya
Cakra, aksara sucinya; a, na, a, da, ma, pa, dan ah, swara (suara sucinya); ong, banga, taya, caga, babama, tempat
sucinya meru besi tingkat 4, warna hitam. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; I Mekair, I Banaspati Raja, kala Ija Warasa, kala Suda Tiga, kala Cok, kala Ngarad, Mrega Dewa,
kala Dasa Bhumi, Banyuwurung, kala Agung,
sadripu, Bhuta Menga, dan kala empas,
tri waranya; beteng, panca waranya; wage, asta waranya; uma, sanga waranya; urungan,
wukunya; ukir, dungulan, wayang, tambir,
dauh (waktunya) 6. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh
melalui empedu keluar ke mulut, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Segara.
Pada arah Timur
Laut merupakan tempat berstana Sang Hyang Sambu dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 6, sakti-Nya Dewi Suci. Senjata sucinya
Trisula, aksara sucinya; wa, nga, wang, swara
(suara sucinya); eh, pata, saya, nama, tempat sucinya meru tingkat 6, warna biru. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Hwas, Sugih Lut, kala Ganti, kala Sapuh,
kala Pati Panten, kala Wangke, kala Wigraha,
sad waranya; aryang, sapta waranya; Sukra (Hari Jum’at), asta waranya;
Sri, sanga waranya; Tulus, wukunya; Kulantir, Kuningan,
Medangkungan, Kelawu, dauh (waktunya)
5. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat, ajaran tentang
hakikat Bhuana Agung; Gunung Tuluk Biu.
Pada arah Tengah merupakan tempat
berstana Sang Hyang Siwa dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 10, sakti-Nya Dewi Ratih. Senjata sucinya Padma, aksara sucinya; ing,
ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya,
tapanya, tempat sucinya; meru tingkat
10, warnanya panca warna (lima warna).
Ajaran tentang Wariga yang
diungkapkan diantaranya: kala (waktu)
nya; kala Pepedan, eka waranya; luwang, panca waranya; kliwon, sad waranya; Maulu, sanga waranya; Dadi, dauh (waktunya)
8. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke untek (catik kerongkongan) keluar ke ubun-ubun (siwa dwara), Sanghyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan, Sada Siwa Karma, khayangan,
ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung
Lempuyang dan Pura Bukit, Pangkung Marga luang turun ke Bumi, air danau, tanah,
mantaga, api, angin, air di pancuran emas, Bulan, Matahari, Bintang, Galaksi,
intisari siang-malam.
Persepsi Masyarakat Terhadap Ajaran Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Secara etimologi, kata “Persepsi”
bersumber dari Bahasa Inggris “Perseption” yang selanjutnya memperkaya
perbendaharaan kosa kata Bahasa Indonesia menjadi “Persepsi” yang lumrah
digunakan dalam Bahasa Indonesia yang telah baku, “Persepsi” bisa berarti: pandangan,
cara pandang, pemikiran, mempersepsi berkaitan dengan pemberian makna terhadap
suatu hal. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap objek yang
dipersepsi, sehingga persepsi seseorang terhadap suatu hal bersifat relatif
tergantung pada hal-hal seperti: pengalaman, tingkat pendidikan, dan kebutuhan
yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah pasti berbeda-beda.
Istilah Pengider Bhuana terdiri dari dua buah kata yaitu “Pengider” dan “Bhuana”. Istilah “Pengider”
berasal dari kata dasar “ider” yang
selanjutnya dalam kamus Bali-Indonesia karangan Sutjaja (2005) yang berjudul “Kamus Pelajar Dasar Menengah: Bali-Indonesia” terbitan Lotus Widya Sari, kata “ider” memiliki arti ”edar”. Dalam bahasa
Indonesia, kata “edar” dapat pula ditemukan pada kata yang berawalan “ber”
misalnya pada kata “beredar” yang artinya berputar, berkeliling, dan memutar.
Begitu pula pada kata “ider” dalam
bahasa Bali mendapat awalan “pe” menjadi “Pengider”
yang berarti berputar atau subjek yang menjadikan sesuatu berputar atau
berkeliling dan dalam penelitian ini yang dimaksud berputar atau berkeliling
adalah konsep Pengider Bhuana yang
dalam masyarakat Bali juga dikenal dengan istilah Dewata Nawasanga atau sembilan arah mata angin, sedangkan yang dimaksud subjek yang menjadikan konsep Pengider Bhuana ini berfungsi atau
berputar tiada lain adalah Ida Sanghyang
Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa sembilan arah mata angin
melalui manifestasinya yang berwujud sembilan Dewa.
Istilah Bhuana dalam Bahasa Jawa Kuno berarti bumi, dunia atau alam
semesta. Pengider Bhuana berkaitan
dengan arah mata angin yang ditempati oleh para Dewa beserta
atribut-atributnya: senjata suci, aksara suci, kendaraan suci, warna suci, dan
lain sebagainya yang bekerja mengendalikan alam semesta (Bhuana Agung) agar berjalan dengan harmonis dan seimbang (I Made
Sudirawan, wawancara, 17/02/2015).
Berdasarkan penjelasan di atas
istilah Pengider Bhuana berarti
perputaran arah mata angin yang erat kaitannya dengan pemutaran gunung Mandara
Giri dalam konsep Dewata Nawasanga.
Pemutaran gunung Mandara Giri bertujuan untuk memperoleh tirta amerta guna menghindarkan umat manusia dari malapetaka dan
bencana, begitu pula perputaran arah mata angin dalam konsep Pengider Bhuana berfungsi sebagai
pelindung dan penyeimbang alam semesta agar terhindar dari marabahaya,
kekacauan, dan malapetaka.
Ajaran Pengider Bhuana yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun dapat ditemukan pada ketipan teks sebagai
berikut:
“…Né kangin
mata, urip 5, Sang Hyang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang Hyang
Rawi…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Terjemahannya:
“…Di Timur:
mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara di
swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang
Rawi (matahari)…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Arah Kangin (Timur) dikategorikan sebagi arah yang memiliki nilai utama.
Berdasarkan filosofisnya, arah Kangin (Timur)
diidentikkan dengan arah matahari terbit. Menurut kepercayaan masyarakat Bali,
matahari dipandang sebagai Sang Hyang
Surya. Sang Hyang Surya adalah sebutan lain dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan
kehidupan di dunia. Oleh karena itu, masyarakat Bali memuja Sang Hyang Surya, sehingga memberikan
nilai utama pada arah Kangin (Timur)
sebagai arah tempat matahari terbit (Atmaja, 2003: 51).
Selanjutnya, masyarakat Bali
mengkombinasikan arah Kangin (Timur)
dengan arah Kaja (Selatan) yang
dipandang utama dan suci, sehingga muncul arah Kaja-Kangin (Tenggara). Arah
Kaja-Kangin (Tenggara) dipandang arah yang mempunyai nilai
sakral dan dikeramatkan (Atmaja, 2003:52). Adapun kutipan teks tutur Kanda Sangalukun yang berkaitan
dengan arah Kaja Kangin (Tenggara)
adalah sebagai berikut:
“…Kaja-Kangin
urip 8, Sang Manisora, gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi Kundangkasih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Terjemahannya:
“…Tenggara
uripnya 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga,
saktinya Dewi Kundang Kasih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Perpaduan antara arah yang dianggap
memiliki nilai utama yakni arah Kaja (Selatan) dan Kangin (Timur),
akhirnya memunculkan satu arah lagi yang dianggap suci pula dan dikeramatkan,
yakni arah Kaja-Kangin (Tenggara). Pada arah Kaja Kangin (Tenggara) ini
pada umumnya dimanfaatkan untuk tempat persembahyangan, misalnya, di lingkungan
pekarangan rumah dibangun sanggah atau
pemerajan (Atmaja, 2003: 54).
Secara etimologis, kata Kaja (Selatan) dapat dikupas antara lain sebagai berikut. Kata Kaja (Selatan) awal mulanya berasal dari ka-adi-a,
yang berarti arah yang adi/tinggi/luhur.
Selanjutnya, pengucapannya mengalami penciutan sehingga menjadi Kaja. Sesuai dengan etimologisnya, arah Kaja dapat berarti arah yang tinggi dan
luhur (Atmaja, 2003: 50).
Dalam teks tutur Kanda Sangalukun, ajaran Pengider
Bhuana yang berkaitan dengan arah Kaja
terdapat pada kutipan berikut:
“…Kaja urip 9,
kuping Sang Hyang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi Saraswati ring
ati, medal ka karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng, sastrania ba, ca,
sa/ca/ba/ya, bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga, taja, dadaka,
palinggihan méru tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari bang, manuknia
gagak, sekar tunjung bang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3b)
Terjemahannya:
“…Selatan urip
9, telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi Saraswati, di
hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya: ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang
swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, sthananya
(tempat sucinya): meru tingkat 9,
kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak, bunganya tunjung merah…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3b)
Mengingat
arah Kaja (Selatan) yang dipandang sebagai arah yang utama dan disucikan, maka diidentikkan
dengan arah ke gunung atau ke atas. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, arah
gunung merupakan arah yang disakralkan dan dianggap sebagai tempat yang baik
dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara logika, pola pikir masyarakat Bali
berusaha mengejawantahkan keyakinannya tentang Tuhan melalui kekuatan-kekuatan
alam yang sifatnya nyata salah satunya adalah meyakini kekuatan yang terdapat
pada gunung sebagai ciptaan Tuhan. Gunung dengan karakternya yang menjulang
tinggi melambangkan ajaran-ajaran Tuhan yang maha tinggi yang diturunkan
melalui agama kepada semua umat-Nya. Oleh karena itu, keyakinan masyarakat Bali
yang meyakini arah gunung sebagai tempat yang utama, suci, dan sakral berdasarkan fakta/kenyataan dan dapat
dijelaskan melalui logika.
Dari
arah Kaja Kangin (Tenggara)
selanjutnya berkembang lagi oposisi kombinasi arah sebagai berikut: Kaja-Kangin (Tenggara) dipertentangkan dengan Kelod-Kauh (Barat Laut) dan Kelod-Kangin
(Timur Laut) dipertentangkan
dengan Kaja-Kauh (Barat Daya). Arah Kaja-Kauh (Barat Daya) terdapat pada
kutipan teks tutur Kanda Sangalukun
sebagai berikut:
“…Kaja-Kauh urip 3, Sang Hyang Rudra, gumi
Suranadi, medal ka karna tengen marupa brintik rangdi, kuranta, istri Déwi
Durga…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Terjemahannya:
“…Barat Daya
uripnya 3, Sang Hyang Rudra, buminya
suranadi, keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik rangdi, kuning
emas, saktinya Dewi Durga…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Pada kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di atas,
dipaparkan tentang keberadaan Dewa dan juga Bhuta
Kala sebagai penguasa setiap arah mata angin yang diyakini masyarakat Hindu
di Bali. Masyarakat yang berAgama Hindu di Bali juga mengenal konsep Kala Ya Dewa Ya. Konsep ini mengandung
makna bahwa kala atau waktu itu
terdiri atas waktu (hari) baik dan buruk. Hari baik dihubungkan dengan turunnya
para Dewa, sedangkan hari buruk
diasosiasikan dengan berkeliaran para Bhuta
Kala. Hal ini mencerminkan bahwa pada masing-masing arah mata angin itu
bersemayam para Dewa, dan di sembilan
arah mata angin itu juga dihuni oleh para Bhuta
Kala. Oleh karena itu, di tiap-tiap sembilan arah mata angin di Bali
terdapat tempat pemujaan Dewa yang
bersangkutan. Para Dewa ini yang
mengayomi atau menjaga keselamatan pulau Bali dan masyarakatnya dari segala
gangguan atau musibah. Dengan demikian, pulau Bali ini bersifat keramat dan
tepat pula mendapat julukan “pulau dewata” atau “pulau seribu pura”.
Sebaliknya, arah Kauh (Barat) yang diidentikkan dengan
arah tempat matahari tenggelam, sehingga arah Kauh (Barat) diidentikkan dengan arah turun. Hal ini mencerminkan
arah Kauh (Barat) secara implisit
dikategorikan mengandung nilai nista/rendah.
Dalam oposisi pasangannya, arah Kangin (Timur)
dipertentangkan dengan arah Kauh (Barat).
Adapun kutipan teks tutur Kanda
Sangalukun mengenai arah Kauh (Barat)
adalah sebagai berikut:
“…Kauh urip 7, cunguh, Sang Hyang Mahadéwa,
gumi suryakarat, marupa kuning jenar, istri Déwi Laksmini ring wungsilan medal
ka irung kiwa, sanjata nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta, pa,
na/ta/ga/ya, ang, swarania ung, wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas
lancung tumpang 7…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
Terjemahannya:
“…Barat urip (angka suci) nya 7, di hidung, Sang
Hyang Maha Dewa, bumi kuning
keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini, dari ungsilan
(ginjal) keluar melalui hidung kiri,
sanjatanya naga pasa, penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga,
ca, ang swaranya (suara sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya (tempat
sucinya) meru emas tingkat 7…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
Uraian di atas menunjukkan bahwa
arah Kaja (Selatan) dipandang memiliki nilai relatif sama
dengan nilai arah Kangin (Timur),
yakni nilai utama/tinggi. Sebaliknya,
Kauh (Barat) memiliki nilai relatif
sama dengan arah Kelod (Utara) yakni
nilai nista/rendah. Arah Kaja (Selatan) dan Kangin (Timur)
disebut juga hulu/luan, sebaliknya
arah Kauh (Barat) dan Kelod (Utara) disebut juga arah hilir/teben.
Arah Kelod (Utara) dan arah Kauh (Barat)
ketika dikombinasikan menjadi arah Kelod
Kauh (Barat Laut) yang dipandang memiliki nilai nista/rendah. Arah Kangin (Timur)
yang dipertentangkan dengan Kauh ini
bersifat universal, karena Kangin selalu
menunjukkan arah timur dan Kauh menunjukkan
arah barat. Akan tetapi, arah Kaja yang
dimaksudkan tidak selalu menuju arah ke Selatan, demikian pula Kelod tidak selalu menunjuk ke arah
Utara, karena yang menjadi pedoman sebagai pusat orientasi adalah letak Gunung
Agung, gunung tertinggi di Bali. Mengenai arah Kelod Kauh (Barat Laut) dapat dilihat dalam kutipan teks tutur Kanda Sangalukun seperti berikut
ini:
“…Kelod-Kauh urip 1 jati, Sang Hyang Sangkara, gumi
Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:
“…Barat Laut,
urip (angka suci) nya 1 merupakan kebenaran, Sang Hyang Sangkara, buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi…”
(Tutur
Kanda Sangalukun, 6a)
Dalam
pengetahuan masyarakat Bali (berAgama Hindu), dijumpai adanya suatu konsep
bersifat dualistik, yang dikenal dengan nama rwa-bhineda ini sebagai manifestasi kelasifikasi dua di Bali yang
antara lain dapat mengandung nilai utama/tinggi
yang dipertentangkan dengan nilai nista/rendah.
Nilai utama dan nilai nista dalam kaitannya dengan orientasi
arah di Bali termanifestasi pada pasangan orientasi arah, pertama, arah Kaja yang dikatagorikan bernilai utama dipertentangkan dengan arah Kelod yang dikategorikan bernilai nista. Kedua, arah kangin (Timur) yang dikategorikan bernilai utama dipertentangkan dengan arah kauh (Barat) yang mengandung nilai nista. Arah Kelod Kauh (Barat
Laut) sebagai hasil kombinasi arah Kauh (Barat)
dengan arah Kelod (Utara) juga
dikatagorikan bernilai rendah atau nista/teben
(Atmaja, 2003: 50).
Sebaliknya,
arah Kelod (Utara) diidentikkan dengan arah ke laut.
Menurut pandangan masyarakat Hindu Bali, bahwa hal-hal yang tidak berguna dalam
kehidupannya, biasanya akan bermuara di laut. Oleh karena itu, arah Kaja (Selatan) dipertentangkan dengan
arah Kelod (Utara) dan arah Kelod dipandang mempunyai derajat yang nista/rendah atau teben.
Sehubungan dengan uraian di atas, posisi laut dipertentangkan dengan gunung.
Menurut kepercayaan Umat Hindu Bali, gunung adalah tempat bersemayamnya Sang Hyang Siwa (sebutan lain dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan
Yang Maha Esa). Mengingat arah Kaja (Selatan) yang dipandang sebagai arah yang utama dan disucikan, maka diidentikkan
dengan arah ke gunung atau ke atas. Arah ke gunung atau ke atas dipertentangkan
dengan arah Kelod (Utara) yang berarti arah ke laut atau ke
bawah. Hal ini membentuk pasangan yang bersifat dualistik: Kaja-Kelod yang diidentikkan dengan posisi arah gunung-laut
(Atmaja, 2003: 50).
Selanjutnya
arah Kelod (Utara) yang diungkapkan
dalam teks tutur Kanda Sangalukun
yang dikutip sebagai berikut:
“…Kelod urip 4,
bungut, Sang Hyang Mreta, Sang Hyang Wisnu, gumi Nusakambangan, rupa ireng,
istriné Déwi Sri…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6b)
Terjemahannya:
“…Kelod (Utara) uripnya 4, di mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan, warnanya hitam, saktinya Dewi
Sri…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6b)
Apabila
dua arah mata angin yang berdekatan dikombinasikan maka muncul delapan arah
mata angin yang terbagi menjadi empat pasangan: (a) Kaja (Selatan) dipertentangkan
dengan Kelod (Utara); (b) Kaja-Kangin (Tenggara) dipertentangkan dengan Kelod-Kauh (Barat Laut); (c)
Kangin (Timur) dipertentangkan dengan
Kauh (Barat); dan (d) Kelod-Kangin (Timur Laut) dipertentangkan dengan Kaja-Kauh (Barat Daya).
Pada
teks tutur Kanda Sangalukun, arah Kelod Kangin (Timur Laut) dapat dilihat
pada kutipan berikut:
“…Kelod-Kangin urip 6, Déwi Giriputri, Sang Hyang
Sambu, gumi
7a. awang-awang marupa biru, pelung, istri Déwi
Suci…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
Terjemahannya:
7a. “…Kelod-Kangin (Timur Laut) urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu, Buminya awing-awing
berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
Konsep Rwa-Bhineda di atas mengimplikasikan dua kekuatan yang mempunyai
nilai berlawanan. Untuk mengimbangi kekuatan yang mempunyai nilai yang
berlawanan itu, maka terbentuklah posisi yang ketiga disebut sebagai
pusat/sentral. Dari sini muncul posisi tengah sebagai pusat di tengah-tengah
dari masing-masing kategori pasangan arah mata angin yang mempunyai nilai
berlawanan itu. Sehubungan dengan nilai ini, arah mata angin yang dipandang
pokok di Bali akan mengkombinasikan susunan sebagai berikut: (1) Kaja-Tengah- Kelod; (2) Kangin-Tengah-Kauh. Fenomena ini
menampakkan terjadinya pengembangan kelasifikasi dua menjadi kelasifikasi tiga
yang di dalamnya mengimplikasikan nilai: utama/tinggi-madya/sedang-nista/rendah. Jadi, Kaja (Selatan) dan Kangin
(Timur) dipandang mempunyai nilai utama/tinggi,
dan posisi tengah dipandang mempunyai nilai madya/sedang,
sedangkan Kelod (Utara) dan Kauh
(Barat) mengandung nilai nista/rendah.
Apabila arah mata angin yang pokok ini digabungkan maka akan muncul
kelasifikasi lima di mana posisi tengah sebagai sentral/pusat (Atmaja, 2003:
51-53).
Arah tengah sebagai sentral/pusat
arah mata angin juga diungkapkan dalam teks tutur
Kanda Sangalukun seprti kutipan berikut:
“…Iki ring
tengah urip 10, unteng Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna,
anggrék istri Déwi Hyang Ratih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Terjemahannya:
“…Yang di tengah
urip 10, sebagai inti, Hyang Darma, Sang
Hyang Siwa, Bumi patimah, rupanya
lima warna, angrek, saktinya Dewi Ratih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Masyarakat yang berAgama Hindu di
Bali percaya, di sembilan arah mata angin itu bersemayam para Dewa yang disebut Dewata Nawa Sangga. Di arah Kelod
(Utara) bersemayam Dewa Wisnu, Kelod Kangin (Timur Laut) bersemayam
Dewa Sambu, Kangin (Timur) bersemayam Dewa Iswara, Kaja Kangin (Tenggara) bersemayam Dewa Maheswara, Kaja (Selatan)
bersemayam Dewa Brahma, Kaja Kauh (Barat
Daya) bersemayam Dewa Rudra, Kauh (Barat) bersemayam Dewa Mahadewa; Kelod Kauh (Barat Laut) bersemayam Dewa Sangkara, dan di Tengah sebagai
inti atau pusat bersemayam Dewa Siwa.
Tampak adanya hubungan harafiah
antara utama dengan kesakralan atau
kebaikan, madya berhubungan dengan
keseimbangan atau keharmonisan, sedangkan nista
berhubungan dengan kerendahan. Di samping itu, untuk hal-hal tertentu,
tampak adanya hubungan harafiah antara utama
dengan kanan, madya dengan
kenetralan, sedangkan nista dengan
kiri. Hubungan ini bersumber pada falsafah rwa
bhineda (utama-nista), kemudian
berkembang menjadi kelasifikasi (utama-madya-nista).
Dalam operasionalnya, baik disadari maupun tidak disadari tercermin bahwa
pertama, hal-hal yang dikategorikan bernilai utama, pada umumnya secara relatif ditempatkan pada posisi Kaja atau Kangin/Timur (bisa juga menempati posisi atas untuk hal tertentu), mempunyai
ciri: utama, baik, atas, tinggi,
luhur, dan atau suci. Kedua, hal-hal yang dikategorikan bernilai madya (sedang), pada umumnya secara
relatif menempati posisi di tengah adalah mempunyai ciri-ciri: netral,
seimbang, dan atau harmonis. Ketiga, hal-hal yang dipandang bernilai nista, pada umumnya secara relatif
ditempatkan pada posisi Kelod atau Kauh/Barat (bisa juga menempati posisi
bawah untuk hal tertentu) mempunyai ciri-ciri: rendah, dan atau bawah (Atmaja,
2003: 56).
Dalam pola pikir orang Bali, adanya
kecenderungan untuk tidak memihak atau memilih hal-hal yang memiliki nilai utama/tinggi atau nilai nista/rendah. Jadi, untuk mengimbangi
kekuatan yang mempunyai nilai berlawanan itu, maka kelasifikasi dua
dikembangkan menjadi kelasifikasi tiga, sehingga terbentuklah posisi yang
ketiga yang disebut pusat/sentral. Orang Bali memandang sesuatu yang bernilai utama/tinggi maupun bernilai nista/rendah adalah merupakan bagian
dari keseluruhannya. Oleh karena itu, tidak akan ada yang bernilai utama/tinggi, kalau tidak ada yang
bernilai nista/rendah. Dalam hubungan
ini, kehidupan orang Bali dituntut untuk mempertahankan keseimbangan antara
kekuatan yang berlawanan itu sehingga tidak ada salah satu mencapai nilai lebih
tinggi atau sebaliknya yaitu lebih rendah. Jadi, kelasifikasi tiga ini memiliki
sifat tri-tunggal. Hal ini berarti,
walaupun dibagi menjadi tiga level, yakni utama/tinggi-
madya/sedang-nista/rendah, pada hakikatnya menjadi satu kesatuan. Kelasifikasi
tiga yang mengandung nilai utama/tinggi-madya/sedang-nista/rendah ini mendasari pola pikir, perasaan, prilaku atau
tindakan orang Bali yang tercermin pula pada orientasi arah di Bali (Atmaja,
2003: 47).
Pada teks tutur Kanda Sangalukun selain mengungkap ajaran Pengider Bhuana juga mengungkap aspek-aspek
lain yang erat sangkut pautnya dengan ajaran Pengider Bhuana. Aspek-aspek lain yang dimaksud berupa
ajaran-ajaran tentang konsep Padewasan (baik-buruknya
waktu), ajaran tentang Dharma Pewayangan (aturan-aturan
menjadi seorang dalang/orang yang mementaskan/memainkan/menarikan wayang), ajaran
tentang hakikat kelepasan, ajaran
tentang hakikat jiwa yang ada pada badan, dan ajaran tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Keseluruhan ajaran-ajaran tersebut diungkapkan menjadi
satu kesatuan tak terpisahkan yang diungkapkan dalam tutur Kanda Sangalukun.
Seperti kutipan teks tutur Kanda
Sangalukun pada bagian pemahbah (pendahuluan)
sebagai berikut:
Ong
awignam astu nama sidi.
Iki tutur kanda
sangalukun nga, sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa palinggih Batara
Nawasanga, darma pawayangan, sastra panten, muang pasuk wetunia, buwana alit,
muang buwana agung, nga. Gumi muah gunung, telas sapretékania.
(Teks
Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
Semoga
tiada mendapat halangan,
Inilah Tutur
Kanda Sangalukun namanya. Semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai mengenai
pedewasan, sthana Dewata nawa sanga, dharma pawayangan, ilmu tentang hakikat
kehidupan dan kematian, beserta keluar masuknya jiwa di badan ini, beserta bhuana
agung namanya, bumi serta pegunungan, beserta semua geraknya.
(Teks
Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Berdasarkan kutipan tersebut ajaran
Pengider Bhuana yang berisi tentang
sembilan penjuru arah mata angin sebagai tempat bersemayamnya Dewa-dewa yang
disebut Dewata Nawasanga. Di sembilan
penjuru arah mata angin tidak hanya bersemayam para Dewa, akan tetapi juga
dikuasai oleh para Bhuta Kala. Hal
tersebut sesuai dengan keyakinan Umat Hindu di Bali yang mengenal konsep Dewa Ya Bhuta Ya. Sehingga ajaran Pengider Bhuana sangat erat kaitannya
dengan Padewasan (baik-buruknya
waktu), pada hari yang tergolong hari baik (dewasa
ayu) sebagai hari turunnya para Dewa untuk memberikan anugerah-Nya kepada
seluruh isi alam semesta, sedangkan pada hari-hari yang tidak tergolong ke
dalam hari baik adalah saat berkeliarannya Bhuta
Kala yang menyebarkan adanya kekacauan, penyakit, dan juga bencana.
Pada prinsipnya, aspek-aspek Bhuta Kala memang sudah tertanam di
dalam diri setiap manusia berupa Ahamkara
(ego). Apabila seseorang tidak mampu mengendalikan Ahamkaranya saat itulah sifat Bhuta
Kala nya muncul yakni berupa sifat-sifat iri hati, dengki, pendendam, bengis,
pemarah, dan sifat-sifat buruk (adharma)
yang lainnya. Sebaliknya apabila Ahamkara
pada diri seseorang telah mampu dikendalikan, sesungguhnya Ahamkara (ego) tersebut justru akan
mampu diarahkan ke hal-hal atau perilaku-perilaku yang baik (dharma) sesuai dengan ajaran Agama Hindu.
Sesuai dengan isi teks tutur Kanda Sangalukun, maka pembahasan
selanjutnya adalah analisis beberapa ajaran sebagai bagian dari ajaran Pengider Bhuana yakni terdiri dari: ajaran
Padewasan, ajaran Dharma Pewayangan, ajaran tentang
hakikat kelepasan, ajaran tentang
hakikat jiwa, dan ajaran tentang hakikat Bhuana
Agung dan Bhuana Alit yang akan
dikupas berdasarkan persepsi dari masyarakat.
Konsep Padewasan Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Dewasa
dan Wariga adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan
oleh Umat Hindu khususnya di Bali bila ingin
mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu
cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan Jyotisa Sastra sebagai salah satu Wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu Weda, namun pendalamannya
tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para Pendeta
dalam memberikan petunjuk baik-buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan
usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistem sraddha Hindu yang dipengaruhi oleh
unsur kekuatan tertentu (I Ketut Marma, wawancara 17/02/2015).
Dewasa atau diwasa (Sanskerta)
berarti saat, waktu, jam, tanggal/pangelong, hari. Padewasan berarti ilmu yang menguraikan tentang cara memilih atau
menetapkan baik-buruknya hari (ala-ayuning
dewasa) berdasarkan sifat-sifat atau watak suatu hari seperti yang termuat
di dalam Wariga (Ni Made Sukeranis, wawancara 17/03/2015).
Dalam kehidupan sehari-hari, padewasan itu penting untuk memilih dan
menetapkan kapan saat/hari yang baik (dewasa
ayu) untuk melaksanakan suatu kegiatan seperti yadnya, pertanian, pembangunan dan usaha-usaha atau
pekerjaan-pekerjaan penting lainnya supaya berlangsung dengan selamat/rahayu dan berhasil dengan baik (sidha kārya). Demikian pula padewasan penting untuk mengetahui
saat/hari yang tidak baik (dewasa ala)
agar dalam melaksanakan kegiatan seperti yadnya
dan lain-lain tidak mendapat halangan atau masalah atau gagal/tan sidha kārya (Gede Yunarta, wawancara
17/02/2015).
Berdasarkan persepsi dari ketiga
informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa intisari dari ajaran Padewasan yang ada pada konsep Pengider Bhuana adalah keberadaan
Dewa-dewa dalam konsep Dewata Nawasanga
sangat erat kaitannya dengan ala-ayuning
dewasa (baik-buruknya waktu). Hari baik merupakan hari turunnya para Dewa
memberikan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan pada seluruh penjuru arah
alam semesta, begitupun sebaliknya hari hari kurang baik yang disebut dewasa ala merupakan waktu turunnya
segala hal yang sifatnya jahat, bringas, dengki, pemarah, dan lain sebagainya
yang sesungguhnya merupakan cobaan dan batu sandungan bagi kematangan tingkat
keimanan dan tingkat pengendalian diri manusia, sehingga menurut keyakinan Umat
Hindu arah teben (arah bawah)
merupakan tempat bagi para Bhutakala.
Padewasan
adalah
bagian dari ilmu Wariga, sehingga berbicara tentang padewasan perlu memahami pengertian Wariga. Ilmu
Wariga menurut lontar Keputusan
Sunari mengatakan
bahwa kata Wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa
dan “ga” yang berarti
terang. Sebagai penjelasannya dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike
tegesing wariga”. Dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan
wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke ‘terang’an dalam usaha untuk mencapai
tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari, sedangkan menurut lontar
Wariga Gemet diungkapkan pengertian Wariga dalam kutipan seperti
berikut:
“ika pawaking sang wiku, wruning
wariga gemet, wa, ng, aphadang, ri, nga, tungtung. ga, nga, carira. Ika carira,
tanpa carira, nga. Tan padwe budhi, hala hayu, Wwang ring kasaman tasak ring
padhartta, dhiksita, blahaning hango budhi”.
Terjemahannya:
Itu bagaikan badan sang pandita,
yang mengetahui tentang wariga gemet. Wa adalah terang. Ri adalah ujung/puncak.
Ga adalah badan. Itu adalah badan yang tidak berwujud, namanya. Tidak mempunyai
budhi, buruk baik. Orang yang demikian adalah matang dalam kebijaksanaan.
Jadi arti
kata Wariga adalah ujung
atau/puncak badan terang. Maksudnya adalah dapat mencapai sinar suci dalam diri
sendiri yaitu Sang Hyang Widhi Wasa, selain
itu ada pula yang mengatakan Wariga berasal dari kata “wara” yang berarti hari,
dina, raina dan kata “iga” yang berarti itu, jadi Wariga diartikan
sebagai suatu ilmu yang menguraikan tentang hari-hari yang baik dan hari-hari
yang buruk untuk melaksanakan suatu yadnya,
upacara atau suatu pekerjaan. Ilmu Wariga berfungsi untuk menuntun Umat Hindu
untuk mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Hampir seluruh kegiatan
dipengaruhi oleh waktu. Semua kegiatan pekerjaan, upacara, yadnya tiada lepas dari Wariga Padewasan, waktu atau dauh.
Adapun
kutipan ajaran tentang Padewasan yang
diungkapkan dalam teks tutur Kanda
Sangalukun adalah sebagai berikut:
“…sami
mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa…”
(Tutur
Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…Semuanya diungkapkan dalam tutur
ini, sampai mengenai padewasan (baik-buruknya
waktu)…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
“…Bagawan Parasu, Korsika, Bagawan Bregu
ngisi sastra uriga, sundari bungkah, sundari terus…
(Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Terjemahannya:
“…Bhagawan Parasu, Bhagawan Bergu,
Bhagawan Korsika yang menguasai pengetahuan Wariga, Sundari Bungkah, Sundari
Terus…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Ketentuan atau dasar hukum ilmu wariga termuat dalam lontar Wariga Gemet sebagai berikut: Wewaran halah dening Wuku, Wuku
halah dening tanggal/Panglong, Penanggal/Panglong halah dening Sasih, Sasih
halah dening Dawuh, Dawuh halah
dening Hning. Wetunya Sanghyang Tridasa Saksi.
Maksud
dari ketentuan diatas bahwa akhirnya semua dapat diatasi dengan 13 kekuatan
atau manifestasi Tuhan (kesucian bhatin yang merupakan perwujudan Tridasasakti
yang disebut juga Sanghyang Trayodasha Sakti : Aditya (matahari), Candra
(bulan), Anila, Agni (api), Apah (cair), Akasa (ruang/langit), Pretiwi
(padat/bumi), Atma, Yama (sabdha), Ahas (siang), Ratri (malam), Sandhya
(senja), Dwaya (pagi). Sehingga dapat
disebutkan bahwa, yang berperan dalam Wariga adalah: Pertama; manah (pikiran) yang hening, kedua;
dalam wariga adalah dawuh (waktu), ketiga;
adalah Sasih, keempat; adalah
tanggal/panglong, kelima; adalah perhitungan Wuku, keenam; adalah Wewaran. Dari ilmu Wariga dapat
ditentukan dauh ayu (hari baik) atau Padewasan, yang dapat dibedakan
menjadi : Untuk kepentingan sehari-hari; cukup dengan perhitungan hari dan pawukon saja, untuk kepentingan jangka
lama/berkala; seperti di atas ditambah perhitungan baik buruknya
tanggal/panglong, sasih bahkan dawuh, untuk padewasan berkala sebaiknya mohon pada Sulinggih (orang suci) atau yang bekompeten untuk itu. Untuk
susksesnya suatu pekerjaan sangat tergantung dari kesepakatan dari Sang Tri Manggalaning Yadnya yaitu: Sang Yajamana; orang yang beryadnya, Sang Widya; penyelenggara (tukang/Serati), Sang Sadaka; Sang Sulinggih
(orang suci) yang akan menyelesaikan (muput) jalannya suatu upacara (Ardhana,
2006: 18-19).
Hal-hal
yang dipelajari dalam ilmu Wariga diantaranya; Wewaran, Wuku, Tanggal dan Pengelong,
Sasih, dan Dauh/dedauhan.
Yang dimaksud dengan Wewaran adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang
masing-masing mempunyai urip/neptu,
tempat, dan Dewata yang dominan. Wewaran
berasal dari kata “wara” yang
dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dan seterusnya. Masa
perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Semua unsur itu
menetapkan sifat-sifat padewasan (baik-buruknya
dewasa). Siklus ini dikenal misalnya
dalam sistem kalender Hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut: (1) Eka Wara; luang
(tunggal), (2) Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup),
(3) Tri wara; pasah, beteng, kajeng, (4) Catur Wara; sri
(makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah), (5) Panca Wara; umanis
(penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon
(pelebur), (6) Sad Wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk),
was (kuat), maulu (membiak), (7) Sapta
Wara; redite (minggu), soma (senin), anggara (selasa), budha
(rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan;
mina (ikan), taru (kayu), sato
(binatang), patra (tumbuhan
menjalar), wong (manusia), paksi
(burung), (8) Asta Wara; sri (makmur), indra (indah), guru
(tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala
(nilai), uma (pemelihara), (9) Sanga Wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis
(sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal),
tulus (langsung/lancar), dadi (jadi), (10) Dasa Wara; pandita (bijaksana), pati
(dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa
(sosial), raja (kepemimpinan), dewa (berbudi
luhur), raksasa (keras).
Disamping
pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh
tiap wewaran dianggap memiliki nilai
yang dipergunakan untuk menentukan ukuran baik-buruknya suatu hari. Nilai itu
disebut urip atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus
dihafalkan (Ardhana, 2006: 19).
Disamping perhitungan hari berdasarkan wara sistem kalender yang dipergunakan
dalam Wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku
memiliki umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite). Setiap wuku
juga mempunyai urip/ neptu, tempat
dan Dewa yang dominan, juga kesemuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasan. 1 Tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 Tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari. Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut: Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Taulu,
Gumbreg, Wariga, Warigadean, Julungwangi, Sungsang, Dunggulan, Kuningan,
Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan,
Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut dan Watugunung
(Ardhana, 2006: 19).
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut
dengan Penanggal dan Pangelong. Masing masing siklusnya
adalah 15 hari. Perhitungan penanggal
dimulai 1 hari setelah (H+1) hari tilem
(bulan mati) dan panglong dimulai 1
hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh). Padewasan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu: (1) Padewasan
menurut catur laba (empat akibat:
baik-buruk-berhasil-gagal), (2) Padewasan
berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari
menikah pada penanggal ping empat
karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda, (3) Padewasan
berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan
berakibat tak putus-putusnya menderita, (4) Padewasan
berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong misalnya: Amerta Dewa,
yaitu Sukra (hari jumat) penanggal ping
roras, baik untuk semua upacara.
Sasih
secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender
internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya
menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366
hari) dimulai dari 21 Maret. Padewasan
menurut sasih dikelompokkan dalam
beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan (pernikahan), yadnya,
dan lain sebagainya. Adapun pembagian sasih
tersebut adalah;
(1) Kedasa
= Mesa = Maret – April, (2) Jiyestha
= Wresaba = April – Mei, (3) Sadha =
Mintuna = Mei – Juni, (4) Kasa =
Rekata = Juni – Juli, (5) Karo =
Singa = Juli – Agustus, (6) Ketiga =
Kania = Agustus – September, (7) Kapat
= Tula = September – Oktober, (8) Kelima
= Mercika = Oktober – November, (9) Kenem
= Danuh = November – Desember, (10) Kepitu
= Mekara = Desember – Januari, (11) Kewulu
= Kumba = Januari – Februari, dan (12) Kesanga
= Mina = Februari – Maret (Ardhana, 2006: 20-21).
Dauh/dedauhan Merupakan pembagian
waktu dalam satu hari. Sehingga dedauhan
ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka
pergantian hari secara Hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WITA). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain; (1) Redite = siang; 7.00 – 7.54
dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00, (2) Soma = siang; 7.54
– 10.18, malam; 24.42 – 3.06, (3) Anggara = siang; 10.00 – 11.30
dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00, (4) Buda = siang; 7.54
– 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06, (5) Wraspati
= siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30, (6) Sukra
= siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30, dan (7) Saniscara
= siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30. Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis,
yaitu: (1) Dawuh
Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara,
dikaitkan dengan penanggal/ pangelong,
selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh), (2) Panca
Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh), (3) Astha
Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh), (4) Dawuh
Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi
lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong),
(5) Dawuh
Inti yaitu waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca Dawuh dengan Astha
dawuh (Ardhana, 2006: 21).
Yang dimaksud dengan kodrat adalah kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa
mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya
yang berdasarkan manah (pikiran) hening suci
nirmala. Dalam pengertian
ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang
sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu. Misalnya jika
tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal
sebagai korban peperangan, huru-hara, dan lain sebagainya, maka Padewasan dapat dikecualikan dengan
upacara maguru piduka, macaru ala dewasa,
mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dan lain sebagainya. Yang
dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan
lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…” Pelaksanaan padewasan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
(1) padewasan
sadina artinya sehari-hari, dan (2) padewasan
masa artinya berkala. Padewasan
sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut Sadulur
adalah padewasan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi
pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas)
beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon. Hari-hari
itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu,
Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat,
Bala, Dukut, dan Watugunung (Ardhana, 2006: 21).
Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip
Pancawara 14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang,
Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu,
Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku:
Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, dan Ugu. Di samping itu ada juga
dewasa yang tidak baik untuk atiwa-tiwa
(Pitra Yadnya/Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan,
Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku
itu ada hari-hari yang bukan Semut
Sadulur atau Kala Gotongan; jika
untuk menanam mayat atau makingsan di
gni saja masih dibolehkan (Ardhana, 2006: 26).
Semua
kehidupan di Dunia ini tidak terlepas dari pengaruh waktu dan keadaan alam.
Begitu pula dengan aktifitas keseharian orang Bali yang selalu berpedoman pada dewasa. Dan khusus untuk waktu (dewasa) kelahiran akan berpengaruh
terhadap perwatakan seseorang, terutama saat pemotongan tali pusarnya. Saat
kelahiran terjadi, merupakan awal masuknya unsur-unsur zat yang terkandung di
Bhuwana Agung ke dalam Bhuwana Alit, dan sekaligus menandai berakhirnya seluruh
suplai sari-sari makanan dari sang ibu kepada si jabang bayi melalui tali
pusar. Itulah pertanda awal sang bayi menghirup udara langsung dari alam
semesta.
Sejatinya,
tidak ada yang kekal dalam alam fana ini kecuali perubahan. Setiap detik
terjadi perubahan pada jiwa dan raga manusia secara kodrati. Maksudnya, kodrat
hidup sebagai manusia selalu berubah dan ada batasannya, yakni saat terlahir
adalah ringan belum mengerti tentang kehidupan. Kemudian bertumbuh menjadi anak
remaja, dewasa, bertambah berat mulai mengerti tentang kehidupan, dijejali
dengan kenikmatan duniawi. Selanjutnya, akan kembali menjadi ringan, pada batas
akhir kehidupan di dunia, menjauhi kenikmatan dunia terhadap ragawi, serta
melepas keterikatan sanak keluarga yang membebani pikiran.
Oleh sebab
itu, hidup di Dunia hanya sebagai suatu proses pemurnian bagi sang jiwa dengan
adanya suatu proses tersebut, maka tidak bisa lepas dari hakikat sang waktu.
Segalanya akan tunduk pada sang waktu, hanya dengan menyadari akan hal ini
hendaknya kehidupan ini dipergunakan untuk berbuat baik sesuai dengan ajaran Agama
Hindu sehingga dalam proses pendakian spiritual yang panjang bahkan melewati
siklus reinkarnasi/punarbhawa berkali-kali
akan membawa sang jiwa pada titik kemurniannya dan menyatu dengan sumbernya
yang maha tunggal yaitu Brahman/Tuhan
Yang Maha Esa.
Konsep Dharma Pewayangan Dalam
Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Dharma
Pewayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk
yang membimbing para dalang dalam melaksanakan swadharma/kewajiban sebagai dalang. Disamping itu secara tidak
langsung juga merupakan rambu-rambu yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang
dari prinsip-prinsip ajaran agama dan etika. Memang sampai saat ini belum
ditemukan adanya buku petunjuk semacam Dharma
Pewayangan pada teater lain (misalnya dengan nama Dharma Palegongan, Dharma Paarjan, Dharma Pewayang-wongan, dan lain
sebagainya). Belakangan ini ada ditemukan Dharma
Pewayangan Gambuh, diduga penulisnya adalah I Ketut Rinda (Alm), seorang
sastrawan, seniman tari, dan dalang, berasal dari Blabatuh (Gianyar). Buku
tersebut isinya mengenai petunjuk yang membimbing para dalang mementaskan Wayang Gambuh, tidak menyinggung
dramatari Gambuh walaupun
mempergunakan repertoar yang sama yaitu cerita Malat (Nyoman Sukadana,
wawancara 17/02/2015).
Dharma
Pewayangan adalah kewajiban dan aturan-aturan yang
harus dilaksanakan oleh seorang dalang
sebagai penunjuk jalan bagi sang dalang yang berfungsi sebagai pengendalian
diri agar menjadi seorang dalang yang memiliki taksu/karisma di dalam dirinya (Ni Made Sukeranis, wawancara
17/02/2015).
Dharma
Pewayangan berkaitan dengan apa yang boleh dan apa
yang tidak boleh dilakukan oleh seorang dalang, termasuk melangkahkan kaki pada
saat akan mementaskan wayang diikat oleh aturan-aturan tertentu, seorang dalang
juga harus betul-betul memahami arah mata angin sesuai keyakinan Umat Hindu sehingga
seorang dalang tidak salah melangkah dalam menjalani kehidupannya (Nyoman
Maker, wawancara 17/02/2015).
Berdasarkan ketiga persepsi di atas
dapat disimpulkan bahwa Dharma Pewayangan
adalah sistem peraturan yang sifatnya mengikat bagi seorang dalang sebagai
langkah yang sifatnya mendasar dalam hal pengendalian diri untuk mencapai
kebahagiaan baik bagi sang dalang maupun bagi orang lain yang menikmati
pertunjukan wayang.
Kata ‘dharma’ dalam kamus Jawa Kuno-Indonesia karangan L. Mardiwarsito
berarti pokok ajaran, doktrin, hukum, undang-undang. Kemudian dharma dapat pula berarti Ketuhanan,
kebatinan, kewajiban suci, setia jujur adil, kebenaran, kebajikan, agama, dan
sabar. Dalam kaitan tersebut di atas, dharma
lebih cenderung diartikan sebagai pokok ajaran dan kebajikan, sehingga
dengan demikian Dharma Pewayangan dapat
diartikan hal-hal yang baik yang patut diketahui tentang seluk-beluk
(pertunjukkan) wayang, atau pokok ajaran atau kebajikan tentang segala sesuatu
yang bersangkut-paut dengan pertunjukkan wayang. Hooykaas sendiri menafsirkan
arti Dharma Pewayangan itu sebagai
rumus-rumus atau aturan pertunjukkan wayang kulit, Ia menyebutnya sebagai the formulas of the shadow play.
Naskah Dharma Pewayangan, tidak hanya merupakan tuntunan bagi para dalang
dalam mempelajari keterampilan ngwayang, akan
tetapi mencakup keterampilan dalam menghayati dan melaksanakan unsur-unsur
mistik dari pertunjukkan wayang. Pernyataan tersebut akan semakin jelas kalau
dihubungkan dengan kalimat awal salah
satu lontar Dharma Pewayangan sebagai
berikut …”Nihan tutur purwa wacana
ngaranya Dharma Pewayangan, wenang ingangge de Sang Amangku Dalang, ring wong
tumaki-taki mangwayang…”, terjemahannya adalah: “inilah wacana sebagai
pembuka kata, yang bernama Dharma
Pewayangan, patut dipakai sebagai tuntunan oleh Sang Mangku Dalang, demikian juga kepada mereka yang bersiap-siap
akan melaksanakan pertunjukkan wayang (Wicaksana, 2007: 96-100). Dalam garis
besarnya, struktur isi naskah Dharma
Pewayangan dapat digolongkan menjadi 10 bagian antara lain:
1) Bagian
Pendahuluan, yang mengandung hal-hal yang bersifat metafisik, seperti: (a)
merupakan suatu kewajiban setiap dalang agar mempelajari dan melaksanakan isi lontar Dharma Pewayangan; (b) Sang Amangku Dalang (dapat) bertindak
sebagai bumi, bhuta, dan Dewa (‘…mwak
gumi, mwak bhuta, mwak Dewa); (c) hendaknya Sang Amangku Dalang maklum akan adanya yang disebut Dalang Catur Loka Pala (empat macam
dalang) antara lain: Dalang Samirana,
Dalang Anteban, Dalang Sampurna, dan Dalang
Jaruman; (d) tempat para tokoh wayang dalam badan manusia, seperti wayang
kiri (pangiwa) bertempat di hati, dan
wayang kanan (panengen) bertempat di
nyali; (e). demikian juga pandasar/panasar (pana-kawan): Delem (baca: Délem) bertempat di penggantungan jantungan hati, Mredah bertempat di penggantungan
ginjal, dan Sangut di nyali, dan
seterusnya.
2) Bagian
yang menggambarkan perbuatan dan mantra-mantra yang dianggap penting bagi sang
dalang, antara lain: (a) apa yang harus diperbuat di pemesuan (pintu pekarangan) kalau berangkat ngwayang; (b) apa yang diperbuat atau dilakukan pada waktu sampai
di rumah orang yang menanggap wayang; (c) mantra untuk pasepan (dupa); (d) mantra pada waktu nebah kropak ping tiga (mengetuk gedog/kotak tiga kali); (e) mantra pada waktu mengambil wayang; (f)
mantra pada waktu akan memainkan kekayonan;
(g) hal-hal yang harus dilakukan pada waktu mulai duduk ngwayang, dan mantra yang diucapkan: “…pangembak swara ning kropak, cepala, mwang swara ning amuwus”
(meningkatkan volume suara gedog/kotak,
cepala, dan dalang); (h) mantra pada
waktu membuat Pengeger (menarik
perhatian penonton): Pengulap swara (suara
besar dan panjang), Pangraksa jiwa (jiwa
sang dalang bisa aman), Pangurip wayang (wayang
terasa hidup), nyimpen wayang (menyimpan
wayang), penyimpenana pandasar
(menyimpan wayang panakawan), dan
lain-lainnya.
3) Bagian
yang menggambarkan Sang Amangku Dalang, dan
mantra-mantra yang berfungsi sebagai panglukatan/panyudamalan
(penyucian), antara lain panyudamalan
untuk orang yang masih hidup, untuk orang mati dan masih ada mayatnya (wong pejah mawatang), untuk orang mati
yang tidak wajar dan mayatnya tidak ada lagi (wong salah pati tan pawatang), dan lain sebagainya.
4) Bagian
yang memuat mantra-mantra yang diucapkan oleh dalang dalam rangkaian upacara
orang meninggal, antara lain mantra pada waktu sang dalang akan akakawin/amanjang (melagukan tembang
gede), pada Wadah (menara usungan
mayat) yang diusung ke kuburan, mantra pada waktu air suci (toya) pada mayat, mantra angeseng sawa (pembakaran mayat), dan lain-lainnya.
5) Kegiatan
dan mantra pada waktu oton
(kelahiran) wayang.
6) Mantra
untuk membuat air suci (toya) yang
dipercikkan kepada wayang-wayang dan sarana yang lainnya.
7) Aktivitas
yang dilakukan sang dalang pada waktu ngetisin
toya wayang (memercikkan air suci untuk wayang), dan untuk yang lainnya.
8) Mantra-mantra
yang didasarkan (diucapkan) pada waktu membuat wayang, pada waktu mewarnai
wayang, dan pada waktu mlaspasin
(mensucikan) wayang.
9) Pantangan-pantangan
bagi Sang Amangku Dalang, antara lain
pantangan kalau diberikan makan oleh penanggap wayang, jenis-jenis makanan yang
tidak boleh dimakan, apa yang harus dilakukan pada waktu makan nasi dan minum
air, mantra yang harus didasarkan untuk membasmi hal-hal yang membahayakan, dan
lain-lainnya.
10)
Pahala yang diterima Sang Amangku Dalang yang taat
melaksanakan isi lontar Dharma Pewayangan, antara lain ia boleh
mengambil upah (nunas sesari), boleh
melaksanakan pertunjukkan wayang panyudamalan,
ia dapat dikatagorikan sebagai “dalang utama”, ia akan mendapat keselamatan
lahir dan bathin, dan lain-lainnya (Wicaksana, 2007: 96-100).
Konsep Kelepasan Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Secara keseluruhan karya sastra
klasik sebagian besar memuat pedoman dan pandangan yang tajam terhadap ajaran
spiritual. Secara umum prinsip semacam ini dapat memberikan konsep yang riil
terhadap fungsi banyaknya umum terhadap sikap yang abstrak. Maka dengan
demikian konsepsi ajaran yang memuat prinsip kelepasan harus dapat dipercaya dengan penuh keyakinan. Melalui
konsep yang demikianlah lepasnya ātma dari
tubuh manusia untuk dapat bersatu dengan Tuhan memberikan dasar keyakinan
batiniah di hati manusia. Berbicara masalah konsepsi ajaran kelepasan yang
terdapat dalam teks tutur Kanda
Sangalukun adalah ajaran yang sangat tinggi yang memuat ajaran tentang rahasia Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana
Alit (alam kecil atau tubuh manusia).
Secara prinsip ajaran kelepasan merupakan ajaran yang rahasia.
Maka dengan demikian metode pengajarannya pun bersifat rahasia jnanam yang berarti seseorang tidak
sembarangan bisa memahami ajaran kelepasan
tersebut. Pada umumnya bentuk ajaran kelepasan
merupakan ajaran yang sudah tua yang sudah diajarkan pada masa kerajaan
Majapahit. Pada waktu itulah seorang pujangga besar menyadur lontar-lontar yang berbahasa Jawa Kuno
maupun berbahasa Sanskerta untuk memudahkan kalangan masyarakat memahaminya.
Konsepsi ajaran kelepasan yang
bersifat original benar-benar sangat dirahasiakan karena ajaran semacam ini
hanya bisa berlaku di lingkungan tertentu (Gede Yunarta, wawancara 17/02/2015).
Di dalam lontar tutur Kanda Sangalukun disebutkan ajaran kelepasan/kamoksan. Walaupun
pemaparannya tidak secara mendetail, namun di dalamnya tersirat makna kelepasan yang sangat rahasyam tidak sembarang orang dapat
memahami dan mengalaminya. Adapun kutipan ajaran kelepasan/kamoksan yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun adalah sebagai berikut:
“…Sang Hyang Taya
ngisi kamoksan…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Terjemahannya:
“…Sang
Hyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Berdasarkan
kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di
atas disebutkan bahwa Sang Hyang Taya adalah sebutan lain untuk Tuhan itu
sendiri. Tuhan Yang Maha Esa memiliki banyak sebutan yang sering dijumpai pada lontar-lontar yang ada di Bali
diantaranya; Sang Hyang Taya, Sang Hyang Licin, Hyang Nirbana, Hyang Tunggal,
dan masih banyak sebutan yang lainnya. Pada prinsipnya, kelepasan atau kamoksan adalah
kondisi menyatunya ātman dengan Brahman.
Adanya
Pengider Bhuana menunjukkan bahwa
Siwa yang menguasai arah Tengah sebagai pusat dari segala arah, maka sesuai
dengan paham Siwa Siddhanta yang
berkembang di Bali semakin memperkuat keyakinan Umat Hindu bahwa Siwa adalah
pusat atau sumber dari setiap ciptaan-Nya, maka Siwa adalah Brahman itu sendiri dan merupakan tujuan
akhir dari kehidupan ini yang disebut dengan kelepasan atau moksa.
Kelepasan/kamoksan
adalah
menyatunya ātman dengan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa)
sebagai sumber penyebab segala kehidupan di Dunia, yang merupakan esensi
tertinggi yang kekal abadi, secara umum, moksa
merupakan tujuan akhir hidup manusia, lebih-lebih bagi penekun spiritual,
demikian pula wiku, merupakan hakikat
hidup yang sejatinya sangat patut diusahakan agar mampu dicapai. Kelepasan/kamoksan tidak lagi
mendatangkan esensi dunia maya yang penuh dengan belenggu yang menyebabkan
manusia berputar-putar pada lingkaran reinkarnasi. Dengan demikian, kelepasan/kamoksan adalah kedamaian abadi
yang kekal, yang tidak terlahirkan kembali. Maka dari itu memang benar adanya
bahwa tujuan tertinggi Agama Hindu adalah untuk mencapai moksa/kebahagiaan abadi
(mokshatam jagaditha ya ca iti dharma)
baik semasih hidup di Dunia maupun setelah kematian manusia.
Konsep Tentang Hakikat Jiwa Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur
Kanda Sangalukun
Agama Hindu meyakini bahwa jiwa
disepadankan dengan ātman, ātman yang
menghidupi badan disebut jiwātman. Esensi
ātman adalah entitas yang menghidupi
setiap badan pada makhluk hidup. Keyakinan terhadap adanya ātman merupakan Sraddha yang
kedua dalam Panca Sraddha. Analogi
sederhana yang perlu dipaparkan guna mempermudah pemahaman mengenai ātman yaitu bahwa ātman merupakan mesin yang dapat menghidupi dan memfungsikan tubuh
manusia sesuai dengan tugasnya masing-masing, seperti halnya panca indriya yang
bertugas sesuai dengan fungsinya karena berkat adanya ātman. Semua makhluk dapat hidup sesungguhnya ātmanlah sebagai penyebabnya, sedangkan ātman adalah percikan kecil dari Paramātman. Bila ātman meninggalkan
badan maka makhluk itu mati. Bila ātman sudah
tidak ada dalam tubuh maka unsur-unsur pembentuk tubuh pun hancur kembali pada
asalnya (Ketut Agus Nova, wawancara 17/02/2015).
Badan adalah prakrti dan jiwa adalah purusha,
dua unsur yang menyebabkan terjadinya kehidupan. ātman adalah jiwa atau roh. Dalam kitab suci Weda dinyatakan bahwa ātman adalah bagian dari Tuhan Yang Maha
Esa. Sloka yang berbunyi “Brahman Ātman Aikyam” terdapat dalam
kitab Upanisad yang artinya Brahman dan ātman adalah tunggal. ātman diumpamakan
sebagai seberkas cahaya matahari yang terpancar ke seluruh alam semesta yang
berasal dari satu bersumber tunggal yaitu matahari itu sendiri. Seperti itulah
adanya ātman yang sesungguhnya
berasal dari Brahman, kemudian
merasuki serta memberi penyebab hidup pada badan jasmani dari setiap makhluk. Nama
lain dari ātman adalah Siwātman atau Jiwātman, yakni jiwa yang berasal dari Tuhan dalam fungsi memberi
energi kehidupan bagi semua makhluk hidup, serta memberikan kekuatan hidup bagi
alam semesta sebagai tempat hidup setiap makhluk. Oleh karena itu, berbicara ātman tidak terlepas dari pembahasan
tentang Tuhan, maka ātman pun sama
seperti sifat-sifat Tuhan yakni bersifat gaib, tidak mengenal kelahiran,
kematian, kekal abadi, seperti yang diungkapkan dalam Bhagavad Gitā II, Hal. 30-31:
“na jayate va Radacinnayam bhutva
bhvita van a bhuyah, ajo nityah sasawatoyam
purano na hanyate hanyamane sarira”
(Suweta, 2013:
14)
Terjemahannya:
Roh tidak pernah dilahirkan dan juga
tidak pernah binasa, ataupun tidak pernah ada karena dilahirkan. Ia adalah
kekal dan tetap ada serta tidak pernah terbunuh meskipun badan jasmani terbunuh
atau hancur.
Sloka
di
atas dengan sangat jelas mengungkap sebuah hukum kebenaran bahwa ātma
atau jiwa tidak pernah mati oleh karena itu ātma tidak dapat dibunuh dan juga bukan pembunuh. Ātman juga luput dari siklus kehidupan
dan kematian karena ātman tidak
pernah dilahirkan. ātman bersifat
abadi atau kekal, walaupun badan hancur ātman
yang menjiwainya tetap ada. Ketika badan yang ditempatinya telah hancur
maka ātman akan menempati atau
menjiwai badan yang lain melalui kelahiran badan-badan pada generasi
berikutnya. Ini adalah hukum kebenaran tentang keadaan jiwa yang sejati, badan
yang telah hancur akan ditinggalkan oleh jiwātma
dan memasuki badan yang baru, seperti yang diuraikan dalam kutipan Bhagavad Gitā di bawah ini:
Vasamsi jirnani yatha vihaya
Navani grhnati naro parani
Tatha sarirani vihaya jirnany
Anyani samyati navani dehi
(Suweta, 2013:
15)
Terjemahannya:
Sebagaimana seseorang melemparkan
bajunya yang sudah sobek dan memakai yang baru lainnya demikian juga keadaan
jiwa yang sejati, jiwātma membuang
badan yang telah hancur dan mengambil yang lainnya.
Dalam
Kitab Brahma Sútra juga disebutkan tentang perpindahan sang jiwa dari badan
kasar pada saat kematian, dalam kitab ini diungkap sebuah kebenaran bahwa pada
saat lepas dari badan, roh dibungkus oleh partikel halus dari unsur kasar.
Seperti uraian sloka Brahma Sútra
sebagai berikut:
“
tadantarapratipattau ramhati samparisvaktah prasnanirupanabhyam. 1.”
(Viresvarananda,
2002: 307)
Terjemahannya:
“ sang roh pergi meninggalkan badan
dengan bagian halus dari unsur-unsur, demikianlah dia diketahui dalam kitab
suci”
(Viresvarananda,
2002: 307).
Sútra
ini membahas dalam perpindahannya sang roh membawa serta bagian halus dari
unsur kasar sebagai benih sebagaimana adanya untuk badan yang akan datang,
kenyataan ini sejalan dengan pandangan tentang hakikat roh menurut Bhagavad Gitā yang juga mengungkapkan
bahwa roh akan berpindah dari badan yang rusak atau mati menuju badan baru,
sehingga benarlah ungkapan bahwa sang jiwa atau roh bersifat kekal.
Sesungguhnya
pikiran dan semua aspek panca indriya manusia tak akan sanggup memberikan
definisi yang sempurna untuk hakikat ātman
yang sejati, atau dengan bahasa
lainnya segala bentuk pemaknaan terhadap ātman
berada di luar batas pikiran dan panca indriya manusia, sejatinya pemberian
nama, ciri-ciri, serta sifat terhadap hakikat ātman semata-mata hanya untuk mempermudah alam pikiran dan panca
indriya untuk memahaminya sesuai dengan sifat alam pikiran manusia dan panca
indriya yang serba terbatas, maka menyadari akan hal itu ada benarnya sebuah
ungkapan yang menyatakan bahwa suatu keyakinan menyangkut sebuah rasa. Oleh
karena itu, pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda pada setiap orang
akan memberikan sebuah rasa yang memperkuat keyakinannya dalam beragama yang
tak dapat diukur dan tak dapat dinilai dengan apapun. Begitu pun dengan
keyakinan terhadap adanya ātman sebagai
bagian dari Brahman/Tuhan Yang Maha
Esa dapat dirasakan dan diyakini melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang
berbeda-beda pada setiap orang.
Demikian
gaibnya ātman itu, ātman yang berasal dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa mempunyai sifat “Antarjyotih” (bersinar tidak ada yang menyinari, tanpa awal dan
tanpa akhir, dan sempurna). Sloka Bhagavad
Gitā II.23-25 di bawah ini menguaraikan secara mendetail mengenai keagungan
Ātman.
Nai’nam chidanti
sastrani
Nai’nam dahati
pavakah
Na cai nam
kledayanty apo (23)
(Suweta,
2013: 15)
Terjemahannya:
Senjata tidak dapat memotong jiwātma, api tidak dapat membakarnya dan
air tidak dapat membasahinya, pun angin tidak dapat mengeringkannya.
Acchedyo yam
adanyo yam
Akledyososya eva
ca
Nityah
sarvagatah sthanur
Acalo’yam
sanatanah (24)
(Suweta,
2013: 15)
Terjemahannya:
Ia tidak dapat dipotong, ia tidak dapat
dibakar,
Ia tidak dapat dibasahi, maupun
dikeringkan,
Ia adalah abadi, berada dimana-mana,
tidak berubah dan bergerak, ia adalah selalu sama.
Avyato’yam
acintyo’yam
Avikaryo’yam ucyate
Tasmad evam
viditvai ‘nam
Na ‘nusocitum
arhasi (25)
(Suweta,
2013: 15)
Terjemahannya:
Ia dikatakan tidak berwujud, tidak
terpikirkan, tidak berubah. Oleh karena itu, mengetahui ia demikian engkau
seharusnya tidak bersedih hati.
Jadi
sumber yang menjadikan setiap makhluk dapat hidup adalah ātman, sedangkan ātman sebagai
sumber hidup memerlukan alat yang akan dihidupi yakni alam pikiran dan badan
wadagnya. Oleh karena itu, ātman memiliki
peranan yang amat penting karena ātman itu yang bersifat abadi tidak
mengalami kematian dan terus ada, sedangkan badan itu yang tidak kekal
sewaktu-waktu dapat hancur maka ātmanlah
yang menerima akibat dari kehidupan jasmani maupun rokhani dari pada makhluk
tersebut dan bertanggungjawab terhadap akibat kehidupan jasmani itu.
Adapun
naskah tutur Kanda Sangalukun yang
mengungkapkan tentang keberadaan ātman dapat
dipahami dari kutipan naskah tutur Kanda
Sangalukun (1b- 8b) berikut ini:
“…ring papusuh, medal ka nétra tengen…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…di jantung keluar di mata kanan…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
“…ring paparu medal ka nétra kiwa…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:
“…dari paru-paru keluar dari mata
kiri…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
“…ring ati, medal ka karna kiwa…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Terjemahannya:
“…di hati, keluar lewat telinga
kiri…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
“…ring usus medal ka karna tengen…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
Terjemahannya:
“…di usus keluar lewat telinga kanan…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
“…ring wungsilan medal ka irung kiwa…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Terjemahannya:
“…dari wungsilan (ginjal) keluar melalui hidung kiri…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
“…ring limpa medal ka irung tengen…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5b)
Terjemahannya:
“…di limpa keluar ke hidung kanan…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5b)
“…ring nyali medal ka cangkem…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:
“…dari empedu keluar ke mulut…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
“…ring jajaringan medal ka silit…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
Terjemahannya:
“…dari jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat..”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
“…ring untek
mijil ka siwadwara…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b)
Terjemahannya:
“…di untek (catik kerongkongan) keluar
ke ubun-ubun (siwa dwara)…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b)
“…ring tumpuking ati, seleng medal ka purus baga…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Terjemahannya:
“…di susunan hati, kemudian keluar
melalui kemaluan laki dan perempuan (lingga-yoni)…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
“…ring tumpuking papusuh dadu, medal ka slaning
lalata…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Terjemahannya:
“…di tumpukan dua papusuh, keluar di
dahi…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Menyadari
sifat ātman yang amat sempurna, maka
manusia hidup ke dunia bertujuan untuk melepaskan ātman dari kekangan dan ikatan duniawi berupa siklus kelahiran
berulang-ulang akibat kegelapan dan kebodohan (awidhya) yang mengelabui kesadaran sejati yang dimiliki oleh ātman. Kegelapan dan kebodohan inilah yang menyisakan hasil perbuatan manusia selama hidup yang disebut karma wasana. Dengan berbuat baik (subha karma) sebagai salah satu sifat Brahman akan lebih mendekatkan ātman kepada kesadaran Brahman, dengan berbuat baik atas dasar
ketekunan, keuletan, dan pengabdian maka ātman
berada pada kesadaran aslinya yaitu sempurna dan kekal abadi sama seperti Brahman sehingga ātman dapat terbebas dari ikatan duniawi dan kembali menyatu dengan
Brahman/Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep Tentang Hakikat Bhuana
Agung dan Bhuana Alit Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Alam
semesta (Bhuana Agung) seperti ini
adanya tentu hal ini berkat kemahakuasaan Tuhan dalam menciptakannya. Sloka suci Bhagavad Gitā dengan sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa asal
mula segala yang ada bersumber dari Tuhan, sebagaimana sloka berikut:
Aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate,
Iti matvā bhajante mām budhā bhāva samanvitāh
(Bhagavad Gitā. X.8)
Segala sesuatu yang ada Tuhanlah
sebagai asal mulanya, pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa baik makhluk
yang bernyawa maupun tidak sejatinya berasal dari Tuhan. Sesungguhnya baik
makhluk yang bernyawa maupun tidak sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Kenyataan
ini sesuai dengan isi salah satu sloka Bhagavad
Gitā yang menyatakan bahwa “dari Aku lahirnya segala sesuatu”, apabila
berbicara tentang kelahiran, maka sebuah makna kehidupan terkandung di dalamnya.
Oleh sebab itu, segala sesuatu baik makhluk yang bernyawa maupun tidak,
keduanya sama-sama tidak terlepas dari makna kehidupan, sehingga benarlah
ungkapan yang menyatakan bahwa roh sebagai hakikat kehidupan bersemayam dalam
segala sesuatu baik itu makhluk yang bernyawa maupun tidak.
Adapun uraian yang mengungkap
ajaran Bhuana Agung dan Bhuana Alit dalam teks tutur Kanda Sangalukun secara
keseluruhan terdapat dalam kutipan 1b-8b sebagai berikut:
“…gunung Agung, swa, surya, tatit,
kijapan, pertiwi, kulit padang, bulu, danu Tamblingan…”
“…yéh nyom…”
(Tutur
Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…Gunung Agung, swa, matahari,
kilat, kilatan, bumi, kulit padang bulu, danau Tamblingan…”
“…air ketuban…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
“…danu Buyan né di tegalé nga…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:
“…danaunya Danau Buyan, yang ada di
tegalan itulah namanya…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
“…gunung Batukau…”
“…gulem bang
metu ring api…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3b)
Terjemahannya:
“…Gunung Batukaru…”
“…awan merah keluar dari api…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3b)
“…gunung
Mangu…”
“…danu Bratan, né
di anginé nga…”
“…pura Taman
Ayun…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
Terjemahannya:
“…Gunung Mangu…”
“…yang di angin Danau Beratan
namanya…”
“…Pura Taman Ayun…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
“…gunung Batur…”
“…tulang, kayu, krug…”
“…danu Batur, né di yéhé…”
“…pura Sagara…”
“…gulem ireng, metu yéh kagisi ring I
Amad…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a-6b)
Terjemahannya:
“…Gunung
Batur…”
“…tulang,
kayu, dan petir…”
“…Danau
Batur sebagai penguasa air…”
“…Pura
Segara…”
“…awan
hitam keluar dari air dikuasai oleh Si Amad…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a-6b)
“…awang-awang
marupa pelung…”
“…gunung
Tulukbiu…”
“…bagawan
Tarulan ngisi kilap kerug…”
“…kerug tatit, kilap, metu ring soané,
kagisi ring I Cilimaréka…”
“…bangkiang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a-7b)
Terjemahannya:
“…angkasa
berwarna biru…”
“…Gunung
Tulukbiu…”
“…Bhagawan
Tarulan yang menguasai kilatan petir…”
“…kilatan
petir keluar di muara dikuasai oleh I Cilimaréka…”
“…pinggang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7a-7b)
“…gunung Lampuyang…”
“…ati putih…”
“…pangkung marga
tuun ring pritiwi, yéh danu, pritiwi…”
“…gni angin,
toya ring pancoran emas manis madu, surya-candra, bintang,tranggana…”
“…pura Bukit…”
“…gulem, ngéndah metu ring rambut,
kagisi ring I Mpu Nagarunting…”
(Tutur
Kanda Sangalukun, 7b-8b)
Terjemahannya:
“…Gunung
Lempuyang…”
“…Hati
yang berwarna putih…”
“…lembah
sebagai jalan turun ke bumi, air danau, tanah…”
“…api,
angin, air di pancuran emas manis madu, matahari, bulan, dan
bintang
Tranggana…”
“…Pura Bukit…”
“…awan muncul dan keluar dari rambut
dikuasai oleh Mpu Nagarunting…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b-8b)
Dari
kutipan teks tutur Kanda Sangalukun
di atas dapat dianalisis bahwa keberadaan gunung-gunung, lembah, danau, dan
yang lainnya tiada lain atas kemahakuasaan Tuhan. Manusia sebagai bagian dari
alam semesta selain memiliki swadharma (kewajiban)
menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia, hendaknya manusia
juga harus mampu mengolah, menghargai, dan memberdayakan alam sesuai ajaran palemahan dalam konsep Tri Hita Karana, karena sejatinya
manusia tak dapat hidup selayaknya apabila alam lingkungannya sudah tercemar
karena ulah manusia itu sendiri, begitupun sebaliknya alam juga tidak bisa
lepas dari campur tangan keberadaan manusia. Sekalipun demikian, alam
lingkungan tempat manusia hidup tetap memberikan sumber daya yang berlimpah
bagi kelangsungan hidup semua makhluk. Sehingga benarlah ungkapan bahwa menjaga
hubungan yang baik terhadap alam juga berarti sebuah persembahan kepada Tuhan
karena Tuhan yang menciptakan alam semesta serta menjadi benih dari kehidupan
ini.
Tuhan
adalah penyebab awal dari pada kehidupan ini, tiada penyebab lain selain
dari-Nya. Jika alam semesta diibaratkan sebuah pohon beringin yang rindang dan
besar pada awalnya berasal dari sebuah benih yaitu benih pohon beringin.
Begitupun kehidupan di alam semesta ini Tuhan lah sebagai benih yang
menjadikannya ada. Pernyataan tentang Tuhan sebagai benih alam semesta juga
diuraikan dalam sloka Bhagavad Gitā sebagai
berikut:
Bijam mām sarva bhutānām viddhi pārtha sanātanam,
Buddhir buddhimatām asmi tejas tejasvinām aham.
(Bhagavad Gitā.VII.10)
‘Ketahuilah,
wahaai Partha, Aku ini adalah benih abadi dari semua mahluk, Aku adalah akal
dari kaum intelektual, Aku adalah cemerlangnya sinar cahaya’.
Berbicara
tentang “benih” maka lebih tepatnya dapat diartikan bahwa benih itu sifatnya
hidup, tumbuh, dan berkembang, sehingga benih merupakan awal mula kehidupan
yang dapat menjadikan makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Benih kehidupan dalam
keyakinan Hindu menunjuk pada keberadaan ātman.
Dengan demikian dapat diartikan bahwa setiap makhluk hidup baik itu
manusia, binatang, dan juga tumbuhan dapat hidup diakibatkan oleh adanya unsur
hidup yang bersemayam di dalamnya yaitu ātman/roh/jiwa.
Adapun sloka Bhagavad Gitā yang
mengungkap tentang jiwa sebagai sumber segala makhluk adalah sebagai berikut:
Mahātmānas tu mām pārtha daivim prakrtim asritah,
Bhajanti ananya manaso jnatva bhutādim avyayam.
(Bhagavad Gitā. IX.13)
‘Tetapi,
yang berjiwa mulia yang memiliki sifat kedevataan, mengetahui Aku, sebagai yang
tak termusnahkan, sebagai sumber segala mahluk, wahai Partha, memuja-Ku dengan
pikiran terpusat’
Tuhan
sebagai sumber yang ada dan sumber segala makhluk tercermin dalam hakikat ātman/jiwa sebagai manifestasi Brahman/Tuhan yang menghidupi segala
makhluk. Jadi, Tuhan disebut Yang Maha Ada karena sebagai sumber atas segala
yang ada. Tuhan tidak hanya menjadi penyebab segala yang ada, tetapi juga alam
semesta menyatu dalam diri Tuhan. Sepert uaraian sloka Bhagavad Gitā sebagai berikut:
Ihaika stham jagat krtsnam pasyadya sa carācaram,
Mama dehe gudākesa yac cānyad drastum icchati.
(Bhagavad Gitā. XI.7)
‘Lihatlah seluruh alam semesta ini,
yang bergerak dan yang tidak bergerak, apa saja yang ingin engkau lihat, wahai
Gudakesa, semuanya menyatu dalam badan-Ku ini’.
Kenyataan hidup
manusia telah banyak membuktikan bahwa alam semesta benar-benar menyatu dalam
diri Tuhan. Hal tersebut dapat dijumpai pada gejala-gejala alam yang tak dapat
diprediksi melalui nalar manusia, gejala-gejala alam semesta tiada lain adalah
atas dasar kehendak Tuhan karena alam semesta menyatu dalam diri Tuhan maka
alam semesta pun memiliki kehendak-kehendak sebagaimana kehendak Tuhan.
Beberapa sumber
menyebutkan bahwa alam semesta ini merupakan penggabungan dari lima unsur pembentuk alam materi yang disebut
pañca mahabhuta, kelima unsur itu
adalah; 1) tanah, (2) air, (3) api, (4) udara, dan (5) ether. Apabila
dihubungkan dengan tubuh fisik manusia (Bhuana
Alit) maka kelima unsur yang disebut pañca
mahabhuta ini juga menjadi unsur pembentuknya. Sumber lain yaitu sloka suci Bhagavad Gitā juga memperkuat sekaligus mengembangkan kelima unsur
tersebut menjadi delapan unsur prakrti yang disebut asta prakrti Tuhan, sebagaimana uraian sloka berikut:
Bhumir āpo ‘nalo vayuh kham mano buddhir eva ca,
Ahamkāra itiyam me bhinnā prakrtir astadhā.
(Bhagavad Gitā. VII.4)
‘Tanah,
air. Api, udara, ether, pikiran, budhi, dan ego, merupakan delapan unsur
alam-Ku yang terpisah’.
Berdasarkan
sloka di atas dapat dianalisis bahwa;
(1) pikiran, (2) budhi, dan (3) ego merupakan tiga unsur sebagai bagian dari astaprakrti atau 8 (delapan) kelompok
unsur yang memiliki kesetaraan dengan unsur tanah, air, api, udara, dan ether.
Kedelapan unsur inilah yang membangun alam semesta. Lebih lanjut diungkapkan
dalam lontar Aji Sangkhia yang dituangkan dalam geguritan Sucita yang memperkuat pernyataan tentang unsur-unsur
pembentuk alam semesta seperti kutipan berikut ini:
Ada keneh ada jagat,
Jagat saking manah mijil,
Cingak saking Aji Sangkhia,
Pertiwi saking apah mijil,
Apah saking teja mentik,
Teja saking bayu metu,
Bayu ndag saking akasa,
Akasa manah ngawitin,
Manah pukuh,
Sangkan manahe kuasa.
(Donder, 2007:
116)
Terjemahannya:
‘Ada pikiran ada
dunia,
Dunia lahir dari
pikiran,
Lihat di dalam lontar Aji Sangkhia,
Tanah berasal
dari air,
Air berasal dari
panas,
Panas berasal
dari udara,
Udara berasal
dari angkasa (ether),
Ether berasal
dari pikiran,
Pikiran itu
kuat,
Oleh sebab itu
pikiran berkuasa’.
(Donder,
2007: 116)
Selain
pikiran yang dikatakan sebagai unsur yang paling kuat dalam menciptakan alam
semesta, terdapat kekuatan jiwa sebagai roh yang menjiwai alam semesta. Seperti
kutipan sloka berikut ini:
Apareyam itas tv anyām prakrtim viddhi me parām,
Jiva bhutām mahābāho yayedam dhāryate jagat.
(Bhagavad Gitā. VII.5)
Terjemahannya:
‘Inilah prakrti-Ku yang lebih rendah, tetapi
berbeda dengannya, ketahuilah prakrti-Ku
yang lebih tinggi, wahai Arjuna unsur hidup yaitu Jiwa yang mendukung alam semesta’.
Seperti uraian
sebelumnya yang menyatakan bahwa alam semesta bersumber dari Tuhan, maka sloka Bhagavad Gitā. VII.5 di atas dapat
diartikan bahwa jiwa juga bersemayam tidak hanya dalam makhluk hidup secara
spesifik namun juga bersemayam dan memberikan unsur dalam keseluruhan alam
semesta. Dengan demikian roh atau jiwa bersemayam dalam segala sesuatu.
Nilai
Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun
Membahas tentang aspek filosofis
itu artinya tidak terlepas dari pengertian mengenai aspek nilai. Menganalisis terhadap
suatu karya sastra, tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya pendahuluan yakni memahami
pengertian nilai itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum membahas nilai filofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun terlebih dahulu
diawali dengan uraian tentang pengertian nilai.
Yudibrata dalam Atmaja (1988: 18) berpendapat
bahwa nilai adalah tingkat kebajikan atau kebaikan dan atau kegunaan yang
memiliki sesuatu, dalam hal susastra nilai-nilai itu diangggap saling
berhubungan secara harmonis. Suatu nilai memungkinkan diturunkan dari persepsi
seseorang mengenai sesuatu yang luhur dan manusiawi, yang bermutu dan mulia,
nilai itu dapat pula diturunkan dari persepsi seseorang tentang sesuatu atas
tingkat kegunaannya yang praktis.
Dari uraian tentang pengertian
nilai di atas dapat disimpulkan bahwa karya sastra dan nilai terjalin menjadi
suatu kesatuan yang saling berkaitan, karya sastra tanpa nilai tentu tidak ada
gunanya bagi kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan karya sastra tradisional
tutur Kanda Sangalukun, sebagai sebuah
karya sastra, tutur Kanda Sangalukun
dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat pembaca. Hal ini dikarenakan tutur Kanda Sangalukun dapat
menyampaikan nilai-nilai atau sesuatu yang berharga yang berguna bagi masyarakat
pembaca. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam tutur Kanda Sangalukun yang akan dikaji adalah nilai kebenaran,
nilai estetika, nilai etika, dan
nilai religius.
Nilai Kebenaran
Kebenaran dalam Agama Hindu dikenal
dengan istilah Dharma. Setiap orang
mencari kebenaran dalam hidupnya, seorang penjahat pun sesungguhnya memiliki
pandangan tentang kebenaran, dalam hal ini adalah kebenaran terhadap tindak kejahatan yang ia lakukan.
Oleh karena itu, kebenaran dalam konteks yang sesungguhnya adalah kebenaran
universal yang dapat diterima oleh masyarakat luas.
Menurut Donder (2007:94) menyatakan
bahwa kebenaran adalah Tuhan dan Tuhan adalah kebenaran. Pernyataan pendek itu
mengandung arti bahwa kebenaran mutlak itu hanyalah milik Tuhan dan hanya diketahui
oleh Tuhan sendiri. Karena kebenaran itu adalah Tuhan, maka sesungguhnya ketika
manusia berbicara yang benar, maka kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran
relatif sesuai dengan perspektif yang digunakan. Hanya esensi dari persfektif
itu memiliki nilai kebenaran yang sama.
Nilai kebenaran dalam ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun sangat erat
kaitannya dengan ranah kosmologi. Sebelum lebih lanjut membahas tentang nilai
kebenaran yang terdapat dalam ajaran Pengider
Bhuana, alangkah baiknya terlebih dahulu perlu dicermati pengertian
kosmologi dalam konteks penelitian ini.
Menurut Bakker dalam Suweta (2012:
12) menyatakan bahwa kosmologi merupakan ilmu pengetahuan tentang alam ataupun
dunia. Berbicara masalah dunia, nampaknya demikian luas, dengan demikian
berbicara masalah kosmologi, tentunya sangat sulit diukur. Kata yang tepat
untuk mengartikan kosmologi adalah bermacam-macam, dalam hal ini adalah
berhubungan dengan hidup sehari-hari maupun dalam konteks ilmu pengetahuan.
Ketika kosmologi bersentuhan dengan makna kehidupan dunia, maka kajiannya
akan bertalian dengan filsafat. Walaupun sejatinya, kajian dalam konteks
kosmologi, anasir-anasir yang berbeda senantiasa bersentuhan satu sama lainnya,
namun kemudian menyatu dengan padu, guna mencapai keterpaduan dalam suatu makna
(Suweta, 2012: 12).
Seperti pengertian kosmologi di
atas jika dikaitkan dengan ajaran Pengider
Bhuana maka jika dianalisis dari sudut pandang filsafat terdapat
nilai-nilai kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Kosmologi membahas
tentang keteraturan alam semesta, tanpa ada pengkosmos atau yang mengatur alam
semesta ataupun dunia ini maka tentu dunia akan mengalami ketidakteraturan
sebagai pemicu timbulnya kekacauan bahkan kehancuran. Demikian pula dalam ajaran
Pengider Bhuana keberadaan Dewa-dewa
penguasa sembilan penjuru arah mata angin adalah sebagai pengatur Bhuana (Bumi) agar terus berada dalam
keseimbangan.
Jadi, melalui analisis di atas
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nilai kebenaran yang terdapat dalam ajaran
Pengider Bhuana dapat dilihat dari
hakikat kosmologi yang terkandung di dalamnya. Menurut keyakinan Hindu, pada
setiap penjuru arah mata angin bersthana Dewa-dewa
atau Dewata Nawasanga yang menjaga
dan mengatur pergerakan alam semesta sehingga tetap berjalan dengan harmonis.
Nilai Estetika
Estetika merupakan salah satu cabang
filsafat yang membahas keindahan.
Estetika merupakan ilmu yang membahas bagaimana keindahan itu terbentuk,
dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Estetika berasal dari bahasa Yunani
dari kata aesthetis yang berarti
perasaan atau sensitivitas. Keindahan memang erat sekali hubungannya dengan
selera, perasaan dan dalam bahasa Jerman disebut gescemack dan dalam bahasa
Inggris disebut sence yang artinya
segala pemikiran filosofis tentang seni. Terkait dengan penelitian ini estetika
merupakan segala hal yang menyangkut keindahan yang ada pada pandangan
seseorang. Pandangan itu sendiri dapat dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
relatif dan tidak bisa dipastikan sama. Tetapi didalamnya terdapat dua nilai
yang penting yang perlu untuk diketahui nilai tersebut yaitu nilai intrinsik
dan nilai ekstrinsik. Nilai intrinsik adalah nilai yang terkandung dari dalam
suatu keindahan, artinya nilai intrinsik biasanya dapat dirasakan dari dalam
hati oleh penikmat atau penerimanya, sendangkan nilai nilai ekstrinsik adalah
nilai yang terlihat dari luar yang dapat dinilai secara langsung secara kasat
mata.
Dalam teks Tutur Kanda Sangalukun nilai ekstrinsik dapat dilihat dari segi
bentuk lontar, tulisan, maupun tempat
penyimpanan lontar, sedangkan nilai
intrinsik menilai tentang makna yang terkandung dalam macam-macam warna sebagai
atribut dari para Dewa yang terdapat dalam ajaran Pengider Bhuana pada Tutur Kanda
Sangalukun, seperti warna-warna suci dalam ajaran Pengider Bhuana yang dikutip dari Teks Tutur Kanda Sangalukun yaitu di arah Timur warna sucinya putih, di
arah Tenggara warna sucinya jingga, di arah Selatan warna sucinya merah, di
arah Barat Daya warna sucinya oranye, di arah Barat warna sucinya kuning, di
arah Barat Laut warna sucinya hijau, di arah Utara warna sucinya hitam, di arah
Timur Laut warna sucinya biru, dan di arah Tengah warna sucinya lima warna
(panca warna).
Ditinjau dari sudut pandang nilai
keindahannya secara kasat mata, keberadaan warna-warna dalam ajaran Pengider Bhuana menimbulkan rasa
keindahan pada saat mata memandang warna-warna tersebut, sedangkan apabila
ditinjau dari sudut pandang nilai keindahan dalam bentuk makna yang dikandungnya
maka dapat dianalisis bahwa manusia hidup di dunia penuh dengan warna-warni
perbedaan mulai dari perbedaan pemikiran, perbedaan karakter, perbedaan
kepentingan, hingga pada perbedaan keyakinan, kesemuanya itu tidak harus selalu
dijadikan lahan pertentangan, perdebatan, maupun pertikaian karena sesungguhnya
keanekaragaman itu akan memberikan warna-warni yang menjadikan kehidupan
semakin indah.
4.4.3 Nilai
Etika
Kata
etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”
yang mempunyai banyak arti seperti watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter,
tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sementara itu
bentuk jamak dari kata “ethos” adalah
“la etha” yang berarti adat
kebiasaan. Sedangkan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian
sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”)
yang berarti kebiasaan atau adat.
Jadi pengertiannya sama dengan “la etha”
atau “ethos” yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang
pengertian yang sama seperti itu, maka sudah sejak zaman dahulu istilah etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika lalu diartikan
sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan
atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral (Suhardana,
2006: 1).
Adapun
kutipan naskah tutur Kanda Sangalukun
yang berhubungan dengan ajaran tentang Dharma
Pewayangan adalah sebagai berikut:
“…Bagawan Bregu
ngisi gurnita Dalang…”
(Tutur
Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:
“…Bhagawan
Bergu memegang gentanya Dalang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Berdasarkan kutipan sloka di atas, tersirat sebuah makna
yang sangat dalam dan mengandung ajaran Agama Hindu sebagai pedoman hidup di
masyarakat. Disebutkan dalam naskah tutur
Kanda Sangalukun Begawan Bregu melambangkan Sang pengatur jalannya
kehidupan manusia di Dunia, sedangkan lakon atau cerita pewayangan melambangkan alur kehidupan manusia itu sendiri,
sedangkan genta yang disebutkan pada
naskah itu melambangkan gema atau gelombang arus kehidupan manusia yang
dinamis. Sejatinya kehidupan manusia di Dunia Tuhanlah sebagai yang
mengaturnya, tiada yang bisa lepas dari kuasa-Nya, sedangkan pasang surut dan
segala sesuatu yang dialami manusia sesungguhnya hasil dari perjalanan karmanya
baik itu hasil perbuatannya di masa lampau maupun hasil perbuatannya pada
kehidupannya saat ini. Tuhan sebagai pengatur sekaligus sumber kehidupan
manusia adalah sebuah keadilan yang abadi, tiada yang tidak adil di bawah
kuasa-Nya. Melalui perjalanan karma manusia keadilan itu terwujud dalam
kenyataan di Dunia.
Oleh sebab itu, hendaknya manusia
selalu mengusahakan berbuat kebaikan (subha
karma) yang diajarkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa
melalui ajaran Agama Hindu. Ajaran Dharma
Pewayangan yang terkandung dalam
naskah tutur Kanda Sangalukun
memiliki makna yang sangat luhur yang bertujuan untuk mengingatkan kembali
kepada umat manusia agar senantiasa berbhakti dan memuja kebesaran serta
kemahakuasaan Tuhan dan selalu menjalankan ajaran-ajaran tentang kebenaran (dharma) untuk kedamaian dan keharmonisan
hidup di dunia maupun untuk mencapai kebahagiaan yang abadi (kelepasan/kamoksan) menyatu dengan
Tuhan.
Nilai Religius
Salah satu bentuk kepercayaan
masyarakat yang sudah dimulai dari zaman dahulu adalah kepercayaan pada suatu
kekuatan yang adi kodrati yang terdapat diluar
kekuatan manusia biasa, dan masih terus berkembang hingga pada zaman
sekarang ini. Sebagian besar masyarakat di seluruh dunia hingga sekarang ini
masih memegang teguh kepercayaan tentang keberadaan suatu kekuatan yang maha
gaib yang bersifat adi kodrati, yang bekerja dengan sangat menakjubkan
melampaui kemampuan manusia melalui hukumnya dalam menciptakan, memelihara, dan
melakukan peleburan terhadap alam semesta ini. istilah religi atau agama
terangkum dalam sebuah kepercayaan tentang adanya kekuatan yang sifatnya adi kodrati seperti penjelasan
di atas.
Menurut Taylor menguraikan bahwa
kemunculan keinginan manusia untuk menganut sistem religi terdiri dari beberapa
faktor:
1. Manusia
mulai sadar akan adanya konsep ruh;
2. Manusia
mengakui adanya berbagai gejala yang tak dapat dijelaskan dengan akal;
3.
Keinginan manusia untuk menghadapi
berbagai krisis yang senantiasa dialami manusia dalam daur hidupnya;
4. Kejadian-kejadian
luar biasa yang dialami manusia di alam sekelilingnya;
5. Adanya
getaran (yaitu emosi) berupa rasa kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia
sebagai warga dari masyarakatnya;
6. Manusia
menerima suatu firman dari Tuhan (Taylor dalam Koentjaraningrat, 2005:194-195).
Selain faktor adanya kekuatan di
luar batas kemampuan manusia, sistem kepercayaan/religi juga didorong oleh
faktor kepercayaan terhadap konsep ruh/roh dan gejala alam yang juga tidak
dapat dijelaskan melalui daya nalar manusia, serta adanya getaran rasa simpati
dan empati yang dimiliki manusia yang satu dengan yang lainnya sehingga secara
emosional mendorong manusia cenderung untuk menganut suatu sistem
kepercayaan/religi. Melalui daya nalar yang dimiliki manusia berusaha berpikir,
merasakan, dan mencermati terhadap gejala-gejala alam yang terjadi pada
lingkungan sekitarnya sehingga pada akhirnya manusia percaya dengan adanya
suatu kekuatan yang maha besar yang menjadikan alam semesta ini dapat bekerja
seperti adanya. Dan kepercayaan tersebut terwujud dalam bentuk agama yang tidak
bisa terlepas dari aktivitas-aktivitas ritual yang mendukung agama tersebut.
Pengalaman-pengalaman tentang
gejala-gejala alam yang terjadi merupakan dasar empiris yang memperkuat agama
serta sebagai bukti bahwa agama bukan hanya sekedar kepercayaan yang dogmatis,
agama adalah perpaduan rasa dan juga rasio; dengan rasa yang dimiliki manusia
menyadari sepenuhnya bahwa dirinya bukanlah apa-apa terhadap kekuasaan dan
kebesaran alam semesta ini, demikian juga dengan rasio yang dimiliki manusia
akan terus terdorong untuk mempelajari dan mengasah kemampuannya sehingga mampu
bersinergi dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan memperkuat
kepercayaannya dalam meyakini suatu agama untuk tujuan hidup yang harmonis.
Sebagaimana pendapat Taylor terkait
dengan sistem religi seperti yang telah dikutip diatas, salah seorang tokoh
sosiologi kelahiran kota Lorraine, Prancis yang bernama Emile Durkheim juga
mengemukakan pendapat yang hampir mirip, dinyatakan oleh Durkheim bahwa religi
mengandung beberapa unsur seperti:
1. Emosi
keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan bahwa manusia didorong untuk
berperilaku keagamaan;
2. Sistem
kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, alam
gaib, hidup, maut dan sebagainya;
3. Sistem
ritus dan upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib
berdasarkan sistem kepercayaan tersebut;
4. Kelompok
keagamaan atau keastuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan
religi berikut sistem upacara-upacara keagamaannya;
5. Alat-alat
fisik yang digunakan dalam ritus dan upacara keagamaan (Durkheim dalam
Koentjaraningrat, 2005: 201-202).
Seperti pernyataan Emile Durkheim
di atas bahwa setidaknya ada lima faktor yang mendorong manusia untuk memeluk
suatu agama. Emosi keagamaan, kepercayaan akan alam gaib, adanya sistem upacara
dan alat-alat pendukungnya merupakan unsur-unsur yang membangun suatu sistem
religi. Jika ditarik benang merahnya, ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur
Kanda Sangalukun merupakan bagian dari sistem aktivitas religius yang juga
tidak terlepas dari emosi keagamaan, sistem ritual, dan kepercayaan akan adanya
alam gaib.
Adapun uraian yang berisi ajaran Pengider Bhuana terdapat dalam kutipan teks tutur Kanda Sangalukun 1b-7b sebagai
berikut:
“…Né kangin
mata, urip 5, Sang Hyang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang Hyang
Rawi ring papusuh, medal ka nétra tengen, sanjata bajra, panganggo sastrania;
sa, ra, wa, nga, nya, sang swarania, mang, ah, ana, ha, la, ala, tatana,
palinggih méru tumpang lima, palinggihan lembu, kakayonan cempaka putih,
manuknia micé, sekar tunjung putih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…Di Timur:
mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara di
swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang
Rawi (matahari) di papusuh, keluar di mata kanan, senjatanya bajra, aksaranya
sa, ra, wa, nga, nya, sang, suara sucinya: mang, ah, ana, ha, la, ala, demikian
susunannya. Sthananya (tempat sucinya) pada meru tumpang 5, menunggang lembu,
kayunya cempaka putih, burungnya mice, bunganya tunjung berwarna putih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
“…Kaja-Kangin urip
(angka suci) 8, Sang Manisora, gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi
Kundangkasih, ring paparu medal ka nétra kiwa, sanjata dupa panganggo, cecek,
sastrania, na, ga, nang, swarania, ih cara, nama, saja, palinggihan méru waja
tumpang 8, palinggihan warak, kakayonan kayu sada, manuk curik, sekar tunjung
dadu…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:
“…Tenggara urip (angka sucinya) 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga,
saktinya Dewi Kundang Kasih, dari paru-paru keluar dari mata kiri, memakai
senjata dupa, penganggo aksaranya cecek,
aksaranya: na, ga, nang, suara sucinya: ih cara, nama, saja, sthananya (tempat
sucinya) meru waja tingkat 8,
kendaraannya singa, kayunya kayu sada, burungnya curik, bunganya tunjung
berwarna jingga…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
“…Kaja urip
(angka suci) 9, kuping Sang Hyang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi
Saraswati ring ati, medal ka karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng,
sastrania ba, ca, sa/ca/ba/ya, bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga,
taja, dadaka, palinggihan méru tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari
bang, manuknia gagak, sekar tunjung bang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Terjemahannya:
“…Selatan urip 9,
telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi Saraswati, di
hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya: ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang
swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, sthananya
(tempat sucinya): meru tingkat 9,
kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak, bunganya tunjung merah…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
“…Kaja Kauh urip (angka
suci) 3, Sang Hyang Rudra, gumi Suranadi, ring usus medal ka karna tengen
marupa brintik rangdi, kuranta, istri Déwi Durga, sanjata moksala, panganggo,
surang, sastrania, ma, da, mang, swarania éh, tasa, raba, dapa, palinggih méru
kakuningan tumpang 3 palinggihan singa, kakayonan dalima wanta, manuk kapudangan,
sekar tunjung kuranta…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
Terjemahannya:
“…Barat Daya angka
sucinya 3, Sang Hyang Rudra, buminya
suranadi, di usus keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik rangdi,
kuning emas, saktinya Dewi Durga, senjatanya moksala, hurupnya ma, da, mang, swaranya (suara sucinya): eh,
tasa, raba, dapa sthananya (tempat sucinya) meru kuning tingkat 3, kendaraannya
singa, kayunya kayu delima merah, burungnya kepodang, bunganya tunjung berwarna
oranye…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
“…Kauh urip
(angka suci) 7, cunguh, Sang Hyang Mahadéwa, gumi suryakarat, marupa kuning
jenar, istri Déwi Laksmini ring wungsilan medal ka irung kiwa, sanjata
nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta, pa, na/ta/ga/ya, ang, swarania ung,
wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas lancung tumpang 7, palinggihan banyak,
kakayonan campaka kuning, manuknia dara, sekar tunjung kuning…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Terjemahannya:
“…Barat angka sucinya 7, di
hidung, Sang Hyang Maha Dewa, bumi
kuning keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini, dari wungsilan (ginjal) keluar melalui
hidung kiri, sanjatanya naga pasa,
penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga, ca, ang swaranya (suara
sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya
(tempat sucinya) meru emas tingkat 7, tunggangannya singa, kayunya cempaka kuning, burungnya
dara, bunganya tunjung kuning…”
(Tutur Kanda
Sangalukun, 4b)
“…Kelod
Kauh
urip (angka suci) 1 jati, Sang Hyang
Sangkara, gumi Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi ring limpa medal ka
irung tengen, sanjata angkus, panganggo bisah, sastrania sa, ya, bang, swarania
uh, ma, ga, dapa, raba, palinggih méru tumpang 1, palinggihan asti, kakayonan
warsi wilis, manuk siung, sekar tunjung ijo…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5b)
Terjemahannya:
“…Barat
laut, angka sucinya 1 jati, Sang Hyang
Sangkara, buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi, di limpa keluar
ke hidung kanan, senjatanya angkus, penganggo aksaranya bisah (h), sastranya
sa, ca, bang, swaranya (suara sucinya)
uh, ma, ga, dapa, raba, sthananya (tempat sucinya) meru tumpang 1,
kendaraannya lembu, kayunya warsi hijau, burungnya siung, bunganya teratai
hijau…”
(Tutur Kanda
Sangalukun, 5b)
“…Kelod urip (angka suci) 4, bungut, Sang Hyang
Mreta, Sang Hyang Wisnu, gumi Nusakambangan, rupa ireng, istriné Déwi Sri, ring
nyali medal ka cangkem, sanjata cakra, panganggo tedong, sastrania: a, na,
a/da, ma/pa, ah swarania ung, banga, taja, caga, babama, malinggih méru wesi
tumpang 4, palinggihan garuda, kakayonan tangi, manuknia cangak, sekar tunjung
ireng…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:
“…Kelod
(Utara) urip (angka sucinya) 4, di
mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan,
warnanya hitam, saktinya Dewi Sri, dari empedu keluar ke mulut, senjatanya cakra, penganggo aksaranya
adalah tedong (Â), sastranya : a, na, a, da, ma, pa, ah, swaranya (suara
sucinya) ong, banga, taya, caga, babama, bersthtana (bertempat) di meru besi,
tingkat 4, kendaraannya garuda, kayunya kayu tangi, burungnya cangak, bunganya
teratai hitam…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
“…Kelod-Kangin urip (angka suci) 6, Déwi Giriputri, Sang Hyang Sambu, gumi awang-awang
marupa biru, pelung, istri Déwi Suci, ring jajaringan medal ka silit, sanjata
trisula, panganggo nania, sastrania wa nga. Wang swarania eh, paya, saya, nama,
palinggih méru timah matumpang 6, mapalinggihan barung, kakayonan padma biru,
manuknia titiran, sekar tunjung biru…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6b-7a)
Terjemahannya:
“…Kelod Kangin (Timur Laut)
urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu,
Buminya awing-awing berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci, dari jajaringan (lemak pembungkus usus)
keluar ke pantat, sanjatanya trisula, penganggo aksaranya naniya (ya), hurupnya
wa, nga, wang swaranya (suara sucinya) eh, pata, saya, nama, sthananya (tempat
sucinya) meru tingkat 6, kendaraannya barong, kayunya padma biru, buruungnya
titiran (perkutut), bunganya teratai biru…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6b-7a)
“…Iki ring Tengah
urip (angka suci) 10, unteng Hyang
Darma, Sang Hyang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna, anggrék istri Déwi Hyang
Ratih, ring untek mijil ka siwadwara, sanjata padma, panganggo, guwung,
sastrania ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang éh,
janya, wanya, tapanya, palinggih méru tumpang 10, mancawarna, palinggihan séndung
wimana, kakayonan mandiraksam, manuknia prakutut, merak…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b)
Terjemahannya:
“…Yang di tengah urip
10, sebagai inti, Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, Bumi patimah, rupanya lima
warna, angrek, saktinya Dewi Ratih, di untek
(catik kerongkongan) keluar ke ubun-ubun
(siwa dwara), senjatanya padma,
penganggo aksaranya guwung (ra) hurupnya ing, ing, yang, ka, la, ang, ung,
mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya, tapanya, sthananya (tempat
sucinya) meru tingkat 10, mancawarna (lima
warna), kendaraannya lembu putih, kayunya mandi raksam, burungnya perkutut,
merak…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b)
Terkait dengan nilai yang dapat
digali dari ajaran Pengider Bhuana,
nilai religius atau keagamaan adalah salah satu nilai yang dapat diungkap.
Sebagai sebuah ajaran yang berisi tentang kemahakuasaan Tuhan sebagai penguasa
penjuru arah mata angin, sudah pasti ajaran ini sarat akan kandungan nilai
religius. Nilai religius ini dapat digali dengan mengamati fenomena
ditengah-tengah kehidupan masyarakat, baik yang dilakoni secara pribadi maupun
secara kelompok dalam menjalani suatu hubungan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai yang bernuansa religius tersebut tersirat dari pelaksanaan berbagai
macam aktivitas fisik maupun rohaniah seperti melakukan upacara persembahan (panca yajña) dan aktivitas yang
bernuansa religius lainnya yang selalu berkaitan erat dengan kepercayaan
terhadap keberadaan Dewa-dewa dalam keyakinan umat Hindu serta
atribut-atributnya seperti: senjata suci para Dewa, warna suci, letak/arah sthana-Nya, kendaraan suci-Nya, aksara
suci-Nya, dan atribut lainnya yang kesemuanya itu terangkum dalam sebuah ajaran
Pengider Bhuana.
Pada prinsipnya, dalam menjaga
kelangsungan hidup manusia, antara kebutuhan jasmani dengan kebutuhan rohani
harus dipenuhi secara seimbang. Agama merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan
rohani manusia, sama seperti manusia memerlukan makan atau minum untuk
kebutuhan fisiknya. Melalui berbagai macam bentuk pelaksanaan aktivitas
pemujaan berupa ritual yajña yang
menekankan pada pemahaman terhadap ajaran Pengider
Bhuana sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan yang sifatnya maha gaib, secara
sadar atau tidak sadar pada prinsipnya bertujuan untuk memupuk sraddha bhakti umat Hindu.
PENUTUP
5.1
Simpulan
Bertitik tolak dari permasalahan
yang dianalisis, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Dilihat dari aspek struktur, lontar tutur Kanda Sangalukun dibangun oleh beberapa unsur penyusun karya
sastra yaitu; (a) Huruf yang dipergunakan adalah huruf Bali, (b) Bahasa yang
dipergunakan adalah Bahasa Jawa Kuno, (c) Dilihat dari aspek naskah yang
dipergunakan sebagai sumber analisis, peneliti menggunakan teks tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong
Kirtya Singaraja, disamping juga membandingkannya dengan teks tutur Kanda Sangalukun koleksi Dinas
Kebudayaan Provinsi Bali, dan (d) Dari aspek sinopsis, teks tutur Kanda Sangalukun mengungkapkan
mengenai ajaran tentang Padewasan, ajaran
tentang Dharma Pewayangan, ajaran
tentang kelepasan, ajaran tentang
hakikat Bhuana Agung-Bhuana Alit, dan
ajaran Pengider Bhuana yang
mengungkap sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa yang bersemayam
pada masing-masing penjuru arah mata angin tersebut. Persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider
Bhuana pada teks tutur Kanda
Sangalukun mengungkap persepsi tentang beberapa konsep yaitu: (a) Konsep Pengider Bhuana, (b) Konsep tentang
konsep Padewasan, (c) Konsep tentang Dharma Pewayangan, (d) Konsep tentang
hakikat kelepasan, (e) Konsep tentang
hakikat jiwa yang ada pada badan, dan (f) Konsep tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Keseluruhan konsep tersebut diungkapkan menjadi satu
kesatuan tak terpisahkan dan apabila dipahami dengan baik akan memperkuat dan
memperteguh sraddha bhakti orang yang
mendalaminya terutamanya bagi Umat Hindu.
3.
Nilai filosofis Pengider Bhuana pada teks tutur
Kanda Sangalukun terdiri dari: nilai kebenaran, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religius. (a) Nilai
kebenaran yang disebutkan dalam Pengider
Bhuana adalah kebenaran yang tidak dapat diragukan. Kenyataan itu dapat
dilihat dari hakikat kosmologi yang membahas tentang keteraturan alam semesta,
tanpa ada pengkosmos atau yang mengatur alam semesta ataupun dunia ini maka
tentu dunia akan mengalami ketidakteraturan sebagai pemicu timbulnya kekacauan
bahkan kehancuran. Demikian pula dalam ajaran Pengider Bhuana keberadaan Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru arah
mata angin adalah sebagai pengatur Bhuana
(Bumi) agar terus berada dalam keseimbangan, (b) Ditinjau
dari sudut pandang nilai keindahannya secara kasat mata, keberadaan warna-warna
dalam ajaran Pengider Bhuana menimbulkan
rasa keindahan pada saat mata memandang warna-warna tersebut, sedangkan apabila
ditinjau dari sudut pandang nilai keindahan dalam bentuk makna yang
dikandungnya maka dapat dianalisis bahwa manusia hidup di dunia penuh dengan
warna-warni perbedaan mulai dari perbedaan pemikiran, perbedaan karakter,
perbedaan kepentingan, hingga pada perbedaan keyakinan, kesemuanya itu tidak
harus selalu dijadikan lahan pertentangan, perdebatan, maupun pertikaian karena
sesungguhnya keanekaragaman itu akan memberikan warna-warni yang menjadikan
kehidupan semakin indah, (c) Nilai etika yang diungkap dalam Pengider Bhuana bahwa hendaknya
manusia selalu mengusahakan berbuat kebaikan (subha karma) yang diajarkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan
Yang Maha Esa melalui ajaran Agama Hindu. Ajaran Dharma Pewayangan yang
terkandung dalam naskah tutur Kanda Sangalukun
memiliki makna yang sangat luhur yang bertujuan untuk mengingatkan kembali
kepada umat manusia agar senantiasa berbhakti dan memuja kebesaran serta
kemahakuasaan Tuhan dan selalu menjalankan ajaran-ajaran tentang kebenaran (dharma) untuk kedamaian dan keharmonisan
hidup di dunia maupun untuk mencapai kebahagiaan yang abadi (kelepasan/kamoksan) menyatu dengan
Tuhan, dan (d) Nilai religius yang diungkap dalam Pengider Bhuana yaitu melalui berbagai macam bentuk pelaksanaan
aktivitas pemujaan berupa ritual yajña yang
menekankan pada pemahaman terhadap ajaran Pengider
Bhuana sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan yang sifatnya maha gaib, secara
sadar atau tidak sadar pada prinsipnya bertujuan untuk memupuk sraddha bhakti Umat Hindu.
Saran
Adapun saran-saran yang dapat
dikemukakan berkaitan dengan penelitian “Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur
Kanda Sangalukun” adalah sebagai berikut:
1.
Kepada lembaga Umat Hindu yaitu Parisada
Hindu Dharma Indonesia (PHDI) untuk terus mendukung dan memfasilitasi
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penyuluhan-penyuluhan, dharma wacana, dharma tula (diskusi keagamaan), dan kegiatan keagamaan lainnya terutama
yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman di bidang tattwa kepada Umat Hindu tentang nilai-nilai filosofis dalam Pengider Bhuana, tattwa tentang ajaran Padewasan, tattwa tentang hakikat jiwa, dan ajaran yang lainnya.
2.
Kepada Pemerintah yang memiliki
kewenangan dalam bidang kebudayaan dan keagamaan agar terus melestarikan karya
sastra berupa lontar-lontar melalui
langkah-langkah nyata diantaranya mengalokasikan dana untuk biaya perawatan lontar-lontar yang ada di beberapa
museum lontar di Bali, kemudian
kepada Pemerintah yang membidangi urusan keagamaan agar mampu bekerja sama
dengan berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, seperti media publik
yakni Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI)
untuk menyebarluaskan ajaran Pengider
Bhuana dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya kepada Umat
Hindu secara luas melalui program-program yang bernuansa religi.
3.
Kepada Masyarakat terutama generasi muda
Hindu sebagai pionir-pionir Agama Hindu di masa depan agar selalu mencintai,
melestarikan, dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Hindu yang tertuang dalam
berbagai karya sastra khususnya ajaran Pengider
Bhuana dalam teks tutur Kanda
Sangalukun, sehingga dapat memupuk dan memperkuat sraddha bhakti Umat Hindu dalam meyakini Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan
Yang Maha Esa dan meyakini Agama Hindu itu sendiri.
Agastia, IBG., 1987. Segara
Giri. Denpasar: Wyasa Sanggraha.
Ardhana, I.B. Suparta, 2006. Pokok-pokok Wariga. Surabaya: Pāramita.
Ariwidayani, Anak Agung, 2013.
“Kajian Filosofis Lontar Tattwa Kala”. Denpasar:
Skripsi Fakultas Brahma Widya IHDN
Denpasar.
Atmaja, I Made
Jiwa, 1988. Masyarakat Sastra Indonesia. Denpasar:
Himsa.
Atmaja, I Made
Jiwa, 2003. Perempatan Agung Menguak
Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali. Denpasar: CV. Bali
Medika Adhikarsa.
Bakhtiar,
Amsal, 2012. Filsafat Ilmu Edisi Revisi.
Jakarta : Rajawali Pers.
Creswell, John W., 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif,
Kuantitatif, dan Mixed. Terjemahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Donder, I Ketut, 2006. Brahmavidya: Teologi Kasih Semesta.
Surabaya: Pāramita.
Donder, I Ketut, 2007. Kosmologi Hindu. Surabaya: Pāramita.
Duani, Ni Made,
2013. “Makna Filosofis Yang Terkandung Dalam
Geguritan Jambenegara”. Denpasar: Skripsi
Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Dunia, I Made.
2009. Klasifikasi Lontar. Denpasar:
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Hasan, Cik dan
Eva Rufaidah, 2002. Model Penelitian
Agama dan Dinamika Sosial Himpunan Rencana Penelitian. Jakarta: Divisi Buku
Perguruan.
Kaelan, M.S.,
2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang
Filsafat. Yogyakarta: Paradigma.
Koentjaraningrat,
2005. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok
Etnografi II. Jakarta: Rineka CiptMartini,
Putu Sri, 2013, “Filosofis Tari Dewa Ayu Di
Desa Pakraman Pemuteran Kecamatan
Grokgak Kabupaten Buleleng”. Denpasar: Skripsi
Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Maswinara, I
Wayan, 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarwa
Darsana Samgraha). Surabaya: Pāramita.
Moleong,
Leexi J., 2004. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT. Remaja.
Narbuko, Cholid
dan Abu Achmadi, 2008. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Panya, I Wayan,
2007. “Makna Ajaran Kalepasan Ditinjau Dari Lontar Tutur Angkus Prana”. Denpasar: Skripsi Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Poedjawitjatna,
1980. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:
PT. Pembangunan.
Rachmat, Aceng,
dkk, 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Riduwan,
2004. Metode dan Teknik Penyusunan Tesis.
Bandung: Alfa Beta.
Sarwono, Sarlito Wirawan, 2003. Teori-Teori
Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Siswanto, Joko,
1998. Sistem-sistem Metafisika Barat:
Dari Aristoteles Sampai Derrida. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Suhardana, K.M.,
2006. Pengantar Etika dan Moralitas
Hindu. Surabaya: Pāramita.
Suharsini-Arikunto,
2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Suprayoga dan
Tabroni, 2001. Metodelogi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Surajiyo, 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di
Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sutjaja, I Gusti
Made, 2005. Kamus Pelajar Dasar Menengah:
Bali-Indonesia. Denpasar: Lotus Widya Sari.
Suweta, I Made,
2012 “Kajian Ringkas Nilai Filsafat Hindu Dalam Lontar Tutur Siwagama”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar: Fakultas Brahma Widya IHDN
Denpasar.
Suweta, I Made,
2012. “Nilai Filosofis Teks Lontar Tutur Watugunung”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar: Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Suweta, I Made,
2013. “Studi Sastra Hindu Pada Teks Geguritan
Nilacandra (Kajian Singkat Perspektif Nilai Filosofis)”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar:
Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Tim-Penyusun, 1991. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Tim-Penyusun,
2003. Perempatan Agung: Menguak Konsepsi
Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali. Ed. Jiwa Atmaja. Denpasar: CV
Bali Media Adhikarsa.
Viresvarananda,
Svami, 2002. Brahma Sútra. Surabaya: Pāramita.
blogdeee.blogspot.com/2011/03/macam-macam-nilai-menurut-prof.html,
Tanggal Akses: 23/04/2015: 16.40 Wita.
ALIH
AKSARA LONTAR TUTUR KANDA SANGALUKUN
No: III b. 6000
Verzameld door:
Kirtya.
Uit: Br. Tegal
(Buleleng).
Ontv: 2 Maret
1931.
Getikt: 29
October 1941.
Door: I Gusti Ayu
Sukesi.
Nagekeken Door:
Gede Puja.
“TUTUR KANDA SANGALUKUN”
1 b. Ong
awignam astu nama sidi.
Iki tutur kanda
sangalukun nga, sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa palinggih Batara
Nawasanga, darma pawayangan, sastra panten, muang pasuk wetunia, buwana alit,
muang buwana agung, nga. Gumi muah gunung, telas sapretékania.
Né
kangin mata, urip 5, Sang Hiang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang
Hiang Rawi ring papusuh, medal ka nétra tengen, sanjata bajra, panganggo
sastrania; sa, ra, wa, nga, nya, sang swarania, mang, ah, ana, ha, la, ala,
tatana, palinggih méru tumpang lima, palinggihan lembu, kakayonan cempaka
putih, manuknia micé, sekar tunjung putih, mang Babu Lembana, I Slahir, I
Anggapati, yéh nyom, I
2a.
Suratmakala, Indradéwa, gunung
Agung, swa, surya, tatit, kijapan, pertiwi, kulit padang, bulu, danu
Tamblingan, di miuné Iblis, Hiang Kumara, kahyangan tengen, Bagawan Parasu,
Korsika, Bagawan Bregu ngisi sastra uriga, sundari bungkah, sundari terus,
janantaka, pura puseh, kamulan, ngisi tulis orténan, saraswati, watek korawa kurupati,
dauh, pa, sakula, déwasa dangu, indram, rasa, aditia, anangga, pradangga,
baskara, banu, radité, menge, raina, rahu, biantara, kajeng manusa, madia, sri
jaya, Sang Hiang Purusa Wisésa, lanang srigati, manis, anggabuta, urukung
taulu, langkir, matal, dukut, gulem putih, metu ring miuné kagamel ring iblis,
kasuna, jaé, Hiang Téja dauh 5, nada, watek pandita, lakuning cuté,
2b.
pagelangan, lambung, baru, roma
Witning nétra: alis, Aryadamar, kala tukaran, kala lungid, kala kuat,
mretamasa, kala sakti, kala dangu, kala dangastra, kala caturyuga, kala katemu,
é, u, i, ong.
Kaja-Kangin
urip (angka suci) 8, Sang Manisora,
gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi Kundangkasih, ring paparu medal ka nétra
kiwa, sanjata dupa panganggo, cecek, sastrania, na, ga, nang, swarania, ih
cara, nama, saja, palinggihan méru waja tumpang 8, palinggihan warak, kakayonan
kayu sada, manuk curik, sekar tunjung dadu, sinwamsari, gang, gunung, panju,
candra muluk, endut, téjar, danu Buyan né di tegalé nga. I Jaljil, Bagawan
Bregu ngisi gurnita dalang, watek ambara déwa, dauh mi, Sang Samba déwasa nga.
jangur, guru,
3a.
ru, sas, sawa, Pandita, Bagawan
Bregu, wregotia, wresning, wrespati paniron, wuku gumbreg, medangsia, ujegiri,
watugunung, orja, téja kakuung, yanglalah, kagisi ring I Jaljil metu ring tegalé,
katik cengkéh, konci, dauh 8, watek déwa, lakuning api pungsed, tangan nani
gigir, Arya Gajah Mada, kala keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh au,
kala ngruda, kala jabungan, Hiang Astabuwana, kala énjér, becada, redité.
Kaja
urip (angka suci) 9, kuping Sang
Hiang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi Saraswati ring ati, medal ka
karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng, sastrania ba, ca, sa/ca/ba/ya,
bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga, taja, dadaka, palinggihan méru
tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari bang, manuknia gagak, sekar
tunjung bang
3b. angrawit ang/Babu Abra, I Slair, I
Mrajapati, getih, Jamakala Kesrawa Kwéradéwa, gunung Batukau, bang, swa, réjéng,
paras gading, né di apiné I Sétan, Bagawan Janaka, Garga, Ambekan, Mrecukunda
ngisi sandining désti leyak, endeh mandé wesi, sastra pura Dalem, waradaya,
Sang Hiang Kawiswara watek lengkara, Rawana, dauh, kréta Arjuna, déwasa, gigis
jama, cita, suri, swabawa, sukétasa, semining saniscara, dora, pasha, kala,
bala, jaya, laba, Sang Hiang Ayu, lanang, paing, kala asu/ajag, amalé buta, was
wariga, pujut, menial, gulem bang metu ring api, kagisi ring I Sétan, kala
ngadeg, kala cakra, sadana 3, arda watek duhka kingkingan,
4a.
lakoning bulan, tawulan papéléngan,
baju, lidah, Arya Bléténg, kala gégér, kala mangap, kala pancasona, nawakanda,
buta wurung, a, da.
Kaja Kauh
urip (angka suci) 3, Sang Hiang
Rudra, gumi Suranadi, ring usus medal ka karna tengen marupa brintik rangdi,
kuranta, istri Déwi Durga, sanjata moksala, panganggo, surang, sastrania, ma,
da, mang, swarania éh, tasa, raba, dapa, palinggih méru kakuningan tumpang 3
palinggihan singa, kakayonan dalima wanta, manuk kapudangan, sekar tunjung
kuranta, nang, gunung layur, mang, swa, né di lebuhé I Buta Bragénjong ngisi
tonya, léyak, wil, watek gamang, jim, dauh Brahma, Citranggada, déwasa nohan,
ludra, sara, kuji, dwipa, sutéja, tikna, atma, manggala,
4b. anggara, maulu, uku warigadian/Pahang,
prangbakat, gelap, damar séla, greha, linuh kagisi ring I Buta Bragénjong, metu
ring lebuh, mica, gamongan, dauh 7, watek pati lakoning aras babokongan, juluk
mata, lambé, dada, Arya Sentong, kala mina, kala pati-pata, karnasula, Sang
Hiang Budabuwana, kala Durgastana, buta Jingkrak, mawata, sasa.
Kauh
urip (angka suci) 7, cunguh, Sang
Hiang Mahadéwa, gumi suryakarat, marupa kuning jenar, istri Déwi Laksmini ring
wungsilan medal ka irung kiwa, sanjata nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta,
pa, na/ta/ga/ya, ang, swarania ung, wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas
lancung tumpang 7, palinggihan banyak, kakayonan campaka kuning, manuknia dara,
sekar
5a.
tunjung kuning, ung, Babu Kakéréd I
Mekir, I Banaspati, pungsed, ari, Cikradorakala, Barunadéwa, gunung Mangu, swa,
sumur, bun, wat, linuh, kakedutan, danu Bratan, né di anginé nga. I Binyal,
pura Taman Ayun, Bagawan Kanua, Métri, Wrehaspati mandé mas, ngisi adigama,
gumi Koma, ring kayangan kiwa Sang Hiang Widi watek Kresna Dwarawati, dauh, su,
sadéwa, déwasa, Brahma, ogan, idep, arsa bodana, kayuni, wudana, antala, Métri,
Buda, pepet, wengi, ketu, laba, mandala, Sang Widikancana wadon, sampi
gumarang, pwan, banas, buta, tungléh, wuku sinta, julungwangi, krulut, bala,
gulem kuning, kagisi ring I Binyal, metu ring angin, bawang, banglé, Hiang
Bruya, dauh 2, Wisnu watek suka, lakoning smara, piyuh
5b.
jariji, pipi, soca, grana, Arya
Waringin, kala angin, kala caplokan, kala watu, Déwa yoga, prawani, kala tapa,
adikala, dagdigrana, buta petak.
Kelod Kauh
urip (angka suci) 1 jati, Sang Hiang
Sangkara, gumi Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi ring limpa medal ka
irung tengen, sanjata angkus, panganggo bisah, sastrania sa, ya, bang, swarania
uh, ma, ga, dapa, raba, palinggih méru tumpang 1, palinggihan asti, kakayonan
warsi wilis, manuk siung, sekar tunjung ijo, sang, gunung Semarageseng, swa, né
di pampatané I Ciligendruk, Bagawan Wiswakaja mangisi sepat siku-siku,
mancaundagi, watek babutan raksasa, dauh 6, Wisnu, Satiaki, érangan, kala,
kayunku lungid, sungsang, mrakih, landep, ugu, genter-pater, ketug-galudug, sukra
wu nga. Metu ring pempatané
6a. kagisi ring I Ciligendruk, séé maswi,
dauh 6, watek raksasa, lakoning angin, jajah, gulu, Arya Belog, kala atma, kala
rebutan, kala dangka, kala rau, Sang Hiang Panukuping Buwana, kala jengkang,
kala jengking, emba, buta jabung, galpa.
Kelod urip
(angka suci) 4, bungut, Sang Hiang Mreta, Sang Hiang Wisnu, gumi Nusakambangan,
rupa ireng, istriné Déwi Sri, ring nyali medal ka cangkem, sanjata cakra,
panganggo tedong, sastrania: a, na, a/da, ma/pa, ah swarania ung, banga, taja,
caga, babama, malinggih méru wesi tumpang 4, palinggihan garuda, kakayonan
tangi, manuknia cangak, sekar tunjung ireng, ung, Bab, I Mekair, I
Banaspatiraja, luhu, I Jogormanik-kala, Bajubajradéwa, gunung Batur, swa, gwa, tulang,
kayu, krug, swara,
6b.
danu Batur, né di yéhé I Amad,
Bagawan Narada, Kurusia, Kasiapa, ngisi darmawisada, usadi, tutur budakacapi
ning ratu, pura Sagara Sang Hiang Ajnyana, watek jediarama, dauh 1, pati I
Bima, déwasa, urungan, uma, karep, Sankara waratia, pitangsia, sukla, candra,
soma, waja, beteng, Dewa ayu utama, Sri Batari Ganggi, luh, wagé, kala empas,
uku ukir, liningir, dungulan, wayang, tambir, gulem ireng, metu yéh kagisi ring
I Amad, sra, cekuh, Hiang Antaboga, candra watek sri, lakoning mreta, angen,
swara, Arya Kapakisan, kala ijawaras, kala sudatiga, kala cok, kala ngarad,
mregadéwa, kala dasabumi, banyuwurung, kala agung, sadripu, buta menge, na, i.
Kelod-Kangin
urip (angka suci) 6, Déwi Giriputri,
Sang Hiang Sambu, gumi
7a. awang-awang marupa biru, pelung, istri Déwi
Suci, ring jajaringan medal ka silit, sanjata trisula, panganggo nania,
sastrania wa nga. Wang swarania eh, paya, saya, nama, palinggih méru timah
matumpang 6, mapalinggihan barung, kakayonan padma biru, manuknia titiran,
sekar tunjung biru, wang, gunung Tulukbiu, swa, né di swané, I Cili Maréka,
gumi Tanana bagawan Tarulan ngisi kilap kerug, watek salah rupa, dauh 5, sri,
Citraséna, déwasa sri, tulus manah, katia, suka, muka, kadga, palani, sukra,
ariang, uku kulantir, kuningan, medangkungan, kulau, kerug tatit, kilap, metu
ring soané, kagisi ring I Cilimaréka, isén, kasuna, jangu, dauh 5, watek dadari
lakoning ayu, suku, kanyepan,
7b.
bangkiang, Arya Binculuk, kala hwas,
sugih lut, kala ganti, kala sapuh, kala patipanten, kala wangké, Sang Hiang
Sadbuana, kala wigraha, Hiang Bayu, pawa.
Iki
ring Tengah urip (angka suci) 10,
unteng Hiang Darma, Sang Hiang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna, anggrék
istri Déwi Hiang Ratih, ring untek mijil ka siwadwara, sanjata padma,
panganggo, guwung, sastrania ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang,
yang, mang, ang éh, janya, wanya, tapanya, palinggih méru tumpang 10,
mancawarna, palinggihan séndung wimana, kakayonan mandiraksam, manuknia
prakutut, merak, yang, dépak putih, maha-jati, Sang Hiang Naga Pramana, i tutur
ménget, gunung Lampuyang, swa, manusa sakti, Déwi Rambutsawi, Empu Ragarunting,
gumi ning tunggungan, Déwa
8a.
ngedép, pusuh patih gumi tudud, Siwa
tunggal, gumi Patimah, ati putih, Siwatiga, pangkung marga luang tuun ring
pritiwi, yéh danu, pritiwi, mantaga, gni angin, toya ring pancoran emas manis
madu, surya-candra, bintang, tranggana, dadara-dadari, i bapa-ibu, sarining
raina-wengi, asta kosala, Siwagotra apasang, ngawé tenung brata, Pratanjala,
rajapéni ngiket pancabrahma, pancawisnu, pancakatirta, patining aksara, déwa
Majapait, Pasek Ibu Siwa, bangun sakti ring Panataran, mata Sang Hiang Taya
ngisi kamoksan, Sadasiwakrama, kayangan, nétra nga. Sanggah, éto éto manerus
kuranta bolong, sundari gading, sundari wungu, sundari putih, telenging jagat,
sundari nang, sundari ireng, pura Bukit, Hiang Nirbananita, Hiang Tunggal,
Hiang
8b. Licin, Gururéka, nguruk gusa yogiswara,
watek Pandawa, dauh 8, kreta, Sanggarma. Sang Kresna, dauh kala, déwasa luang,
dadi kliwon, maulu, budi, keneh, Sang Hiang Tuduh, pepedan, Sang Kutila, kliwa,
mastabuta, gulem, ngéndah metu ring rambut, kagisi ring I Mpu Nagarunting,
anadah nasi warna, uyah, lengis, limo, tingkih, Hiang Manusa, dauh sakti, 9,
10, dadi 11 nga. Di 1, dadi 8, nga. 1 dasabayu nga.
Telas
kaprastékaning ring buwana alit muang buwana agung kanda iki.
Iki
ring sor urip (angka suci) 22, 20,
Sang Hiang Pramasiwa, nga. Batara Guru, gumi Tala, istri Déwi Hiang Uma ring
tumpuking ati, seleng medal ka purus baga, pritiwi patengen, sanjata konta,
sastrania, ang, sagara, weteng, Mpu Kuturan, ring, padang watek bojog, gulem
sing karwan-karwan metu ring padangé, kagisi ring Mpu Kuturan jangér, anadah
nasi sliwah, odel ring wanéni, Arya Bédaulu dadi Danawa, kala sor kala naga,
utu walang nga.
Iki
ring luhur urip (angka suci) 31, 18,
Sang Hiang Sadasiwa, nga. Sang Hiang Widi, gumi Tayawinten, istri Girinata,
ring tumpuking papusuh dadu, medal ka slaning lalata, ngendas ring nétra kalih,
hlar ita, sanggah, sanjata komara, sastrania cecek, gulem rambut, langit,
usuan, watek singgih, Arya Pasunggrigis, dadi Pasunggiri, kala Mumik Krepa nga.
Telas samangkana.
TERJEMAHAN LONTAR TUTUR KANDA SANGALUKUN
No:
III b. 6000
Dihimpun
Oleh: Kirtya.
Asal:
Br. Tegal (Buleleng).
Diterima:
2 Maret 1931.
Disalin:
29 October 1941.
Oleh:
I Gusti Ayu Sukesi.
Diperiksa
Oleh: Gede Puja.
Tutur
Kanda Sangalukun
1b.
Om Awignamastu Nama Sidhi
Inilah
Tutur Kanda Sangalukun namanya. Semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai
mengenai pedewasan (baik-buruknya waktu), sthana Dewata Nawa Sangga, dharma pawayangan, ilmu tentang hakikat
kehidupan dan kematian, beserta keluar masuknya jiwa di badan ini, beserta
bhuana agung namanya, bumi serta pegunungan, beserta semua geraknya.
Di
Timur: mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara
di swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang
Rawi (matahari) di papusuh, keluar di mata kanan, senjatanya bajra, aksaranya
sa, ra, wa, nga, nya, sang, suara sucinya: mang, ah, ana, ha, la, ala, demikian
susunannya. Sthananya (tempat sucinya) pada meru tumpang 5, menunggang lembu,
kayunya cempaka putih, burungnya mice, bunganya tunjung berwarna putih,
aksaranya mang, babu lembana, iselahir, I Angga Pati, yehnyom (air ketuban).
2a. Sang
Hyang Suratma kala, Dewa Indra,
gunung Agung, swa, matahari, kilat, kilatan, bumi, kulit padang bulu, danau Tamblingan seluruh iblis, Sang Hyang Kumara, kahyangan
di kanan, Bhagawan parasu, Bhagawan Bergu, Bhagawan Korsika, yang menguasai pengetahuan wariga, sundari
bungkah, sundari terus, tentang hakikat kematian manusia (janantaka), pura
puseh, kemulan, membuat tulisan dan hiasan Saraswati, wangsa kurawa kurupati,
tentang hakikat waktu, tentang hakikat wariga Dewasa dari dulu, indram, rasa,
aditya, anangga dan pradanangga, bhaskara, banu, redite/minggu, menga, rahina (siang)
rahu, byantara (kajeng), kajeng
manusia, madya, sri, jaya, Sang Hyang Purusa Wisesa, Lanang Srigati, manis,
angga Bhuta, urukung, taulu, langkir, matal, dukut, awan putih,
keluar dari kesunyian dan di kuasai oleh
iblis. Bawang putih, jahe, Hyang Taya
dauhnya (waktunya) 5, nada, wateknya watek pandita, lakunya laku
cyuta,
2b.
pagelangan,
lambung baru dan di dasar mata. Alis,
Arya Damar, kala tukaran, kala lungid, kala kuat, merta masa, kala sakti, kala dangu, kala dangastra,
kala catur yuga, kala katemu, aksara sucinya: e, u, i, ong.
Tenggara
uripnya 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga, saktinya
Dewi Kundang Kasih, dari paru-paru keluar dari mata kiri, memakai senjata dupa,
penganggo aksaranya cecek, aksaranya:
na, ga, nang, suara sucinya: ih cara, nama, saja, sthananya (tempat sucinya) meru waja tingkat 8, kendaraannya singa,
kayunya kayu sada, burungnya curik, bunganya tunjung berwarna jingga, sunari bang,
gunung panju, andra muluk, lumpur, panas, danaunya danau buyan, yang ada di
tegal namanya I Jalil, Bhagawan Bergu memegang gentanya dalang, semua para
Dewa di langit, dawuh (waktu)/waktunya mi, sang samba, nama Dewasanya (hari
baiknya): jangur,
3a. guru,
ru, sas, sawa, pandita, Bhagawan Bergu, wregotia, wresning, hari kamis, paniron,
wuku gumbreg, medangsia, kabut
gunung, watugunung, sinar meteor, pelangi, di kuasai oleh I jalil yang keluar
dari tegalannya, tangkai cengkeh, konci (tanaman umbi umbian), dawuh (waktunya)
8, watek Dewa, laku api di pusar, tangannya nani gigir, arya gajah mada, kala
keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh awu, kala ngruda, kala jambungan,
Hyang Asta Bhuwana, becada, Redite (Hari Minggu).
Selatan
urip 9, telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi
Saraswati, di hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya:
ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada,
jaga, taya, dadaka, sthananya (tempat sucinya):
meru tingkat 9, kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak,
bunganya tunjung merah,
3b.
berasal
dari ang, babu abra, kalanya I
Selair, I Mrajapati, darah, jamakala, kesrawa, Dewa Kwera, gunung batukaru,
warna merah, swa, jurang, paras gading, yang ada pada apinya, I setan, Bhagawan Janaka, garga, ambekan, Hyang Mercukunda yang menguasai segala desti, leyak, tranjana, pande besi (tukang besi), sastranya pura dalem,
waradaja, Sang Hyang Kawiswara Dewanya kalimat, Rahwana, dawuh (waktunya)
kerta, Arjuna, Dewasanya (hari
baiknya) gigis, yama, cita, suri, swabawa, suka tasa, kelahiran saniscara (Hari
Sabtu), dora, pasah, kala, bala, jaya, laba, Sang Hyang Ayu, laki-laki, paing, kala asuajag, segala kekotoran Bhuta,
was wariga, pujut, menail, awan merah keluar dari api, di kuasai oleh I Setan,
kala ngadeg, kala cakra, sadana tiba, arda, wateknya kesedihan dan
kesengsaranya.
4a.
lakunya
laku bulan, tawulan papelengan, baju, lidah, arya bleteng, kala geger, kala
mangap, kala pancasona, Sembilan Kanda, Bhuta wurung, A, Da.
Barat
Daya uripnya 3, Sang Hyang Rudra,
buminya suranadi, di usus keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik
rangdi, kuning emas, saktinya Dewi Durga, senjatanya moksala, hurupnya ma, da, mang, swaranya (suara sucinya): eh,
tasa, raba, dapa sthananya (tempat sucinya) meru kuning tingkat 3, kendaraannya
singa, kayunya kayu delima merah, burungnya kepodang, bunganya tunjung berwarna
oranye, nang, gunung lajur, mang, swa,
di lebuh I Bhuta Bragenjong memegang air, leyak, wil, segala jenis gamang
(wong samar), jin, dauh (waktu)
Brahma, citra anggada, Dewasanya (harinya) nohan, Ludra, sara, kunci, dwipa,
suweca, tikna, atma, manggala,
4.b
Anggara
(Hari Selasa), maulu, wuku
warigadean, pahang, prangbakat, gelap, lampu obor, greha (rumah), gempa, di
pegang oleh I Bhuta Bragenjong, keluar di lebuh, merica, gamongan, (waktunya)
7, wateknya pati, lakunya aras babokongan, pelupuk mata, bibir,
dada, arya sentong, kala mina, kala pati pata, karna sula, Sang Hyang Buda Bhuwana, kala durga sthana,
Bhuta Jingkrak, dan mawata sasa.
Barat
uripnya 7, di hidung, Sang Hyang Maha
Dewa, bumi kuning keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini,
dari wungsilan (ginjal) keluar
melalui hidung kiri, sanjatanya naga
pasa, penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga, ca, ang swaranya
(suara sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya
(tempat sucinya) meru emas tingkat 7, tunggangannya singa, kayunya cempaka kuning, burungnya
dara, bunganya
5a
tunjung kuning, aksara Ung,
Bhutanya Bahu Kakered, I Mekair, I Banaspati, puser (pusar), ari,
cikradorakala, Dewa Baruna, Gunung Mangu, swa, sumur, bun, urat, linuh (gempa)
kakenduta, Danau Beratan, yang di angin namanya I Binjal, pura taman ayun,
Bhagawan Kanwa, Metri, Wrehaspati (Hari Kamis), pande emas, menguasai adhi gama,
Bumi kuma, di kajangan kiri Sang Hyang Widi, watek Kresna
di Dwarawati, dawuh (waktunya)
su, Sa Dewa, Dewasanya ogan, Brahma, idep, arsa bhodana, kayuni, wedana,
antala, metri, Buda (Hari Rabu), pepet, wengi (malam), ketu, laba, mandala,
Sang Hyang Widi kancanam wadon (istri),
sampi gumarang, pwan, banas, Bhuta, tungleh, wukunya sinta, julungwangi, krulut, bala, awan kuning, di kuasai
oleh I Binjal, keluar menjadi angin, bawang, bangle, Hyang Bruja dawuh (waktu)nya dawuh (waktu) 2, Dewa Wisnu, wateknya watek suka, lakunya smara, pijuh jariji,
5b.
pipi, mata, hidung, arya waringin, kala angin, kala
caplokan, kala watu, Dewa Yoga, prawani, kala tapa, adi kala, dagdig krana,
Bhuta Petak.
Barat
laut, uripnya 1 jati, Sang Hyang Sangkara,
buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi, di limpa keluar ke hidung
kanan, senjatanya angkus, penganggo aksaranya bisah (h), sastranya sa, ca,
bang, swaranya (suara sucinya) uh, ma,
ga, dapa, raba, sthananya (tempat sucinya) meru tumpang 1, kendaraannya lembu,
kayunya warsi hijau, burungnya siung, bunganya tunjung hijau, Sang, gunungnya
Samara Geseng, swa, yang berada di perempatan I Ciligendruk, Bhagawan Wiswakaja,
yang memegang semua aturan, panca undagi (tukang), watek babhutaan raksasa,
dawuh (waktu) nya 6, Wisnu, Satyaki, erangan, kala, kayunku lungid, sungsang,
mrakih, landep, ugu, Guntur, ketug galudug, suka wu namanya, keluar di
perempatan.
6a.
di kuasai oleh I Ciligandruk, kayu
maswi, dawuh (waktu) 6 watek,
raksasa, lakunya laku angin, di sumsum, bulu (roma), arya belog, kala atma,
kala rebutan, kala dangka, kala rawu, Sanghyang
Panukuping Bhuwana, kala jengkang,
kala jengking, emba, Bhuta jabung, galpa.
Kelod
(Utara) urip (angka sucinya) 4, di
mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan,
warnanya hitam, saktinya Dewi Sri, dari empedu keluar ke mulut, senjatanya cakra, penganggo aksaranya
adalah tedong (Â), sastranya : a, na, a, da, ma, pa, ah, swaranya (suara
sucinya) ong, banga, taya, caga, babama, bersthtana (bertempat) di meru besi,
tingkat 4, kendaraannya garuda, kayunya kayu tangi, burungnya cangak, bunganya
tunjung hitam, ung, babu ugian, I Mekair, I Banaspati raja, luhu (plasenta), I
Jogormanik kala, pakaiannya Bajra Dewa, gunung batur, swa, gwa, tulang, kayu,
kerug (petir), swara,
6b. danau Batur, yang di dalam air I Amad,
Bhagawan Narada, kurusia, kasiapa, menguasai tentang ilmu pangobatan, usadi,
tutur buda kecapi, kepada beliau di Pura Segara, Sang Hyang Adnyana, wateknya jedi arama, dawuh (waktu) 1, pati, I Bima, Dewasa
urungan, uma, karep, Sangkara, warantia, pitangsia, sukla, candra, soma, waya,
beteng, Dewa Ayu utama, Sri Bhatari ganggi, luh, wage, kala empas, wuku ukir, lininggir, dungulan, wayang,
tambir, gulem hitam, keluar air di pegang oleh I amad, terasi, cekuh, Hyang antaboga,candra, wateknya sri, lakunya
laku mreta, di hati, swara, arya kepakisan, kala ija warasa, kala suda tiga,
kala cok, kala ngarad, mrega Dewa, kala dasa bhumi, banyuwurung, kala agung, sadripu, Bhuta Menga. Na, i
7a.
Kelod Kangin (Timur Laut)
urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu,
Buminya awing-awing berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci, dari jajaringan (lemak pembungkus usus)
keluar ke pantat, sanjatanya trisula, penganggo aksaranya naniya (ya), hurupnya
wa, nga, wang swaranya (suara sucinya) eh, pata, saya, nama, sthananya (tempat
sucinya) meru tingkat 6, kendaraannya barong, kayunya padma biru, buruungnya
titiran (perkutut), bunganya tunjung biru, wang, gunung Tuluk Biu, swa, ne di
swane, I Cilimareka, Bumi tidak ada Bhagawan Tarulan, menguasai kilat, Guntur,
wateknya salah rupa, dauhnya (waktunya) 5, Sri Citra Sena, Dewasanya Sri, Tulus,
manah, katia, suka, muka, kadga, palani,
Sukra (Hari Jum’at), aryang, wuku
kulantir, kuningan, medangkungan, kelawu, kerug tatit (kilat petir), keluar dari swane, di kuasai oleh I Cili Mareka,
isen, kesuna (bawang putih), dawuh (waktu) 5 wateknya dedari (bidadari),
lakunya ayu, suka, kanjepan,
7b.
bangkyang (pinggang), arya benculuk,
kala hwas, sugih lut, kala ganti, kala sapuh, kala pati panten, kala wangke, Sang
Hyang Sad Bhuwaana, kala wigraha, Hyang Bayu, pawa.
Yang
di tengah urip 10, sebagai inti, Hyang
Darma, Sang Hyang Siwa, Bumi patimah,
rupanya lima warna, angrek, saktinya Dewi Ratih, di untek (catik kerongkongan) keluar
ke ubun-ubun (siwa dwara),
senjatanya padma, penganggo aksaranya guwung (ra) hurupnya ing, ing, yang, ka,
la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya, tapanya, sthananya
(tempat sucinya) meru tingkat 10, mancawarna
(lima warna), kendaraannya lembu putih, kayunya mandi raksam, burungnya
perkutut, merak, yang, depak putih, maha jati, Sanghyang Naga Pramana, I Tutur Menget, Gunung Lempuyang, swa,
manusia sakti, Dewi Rambut Sawi, Empu Ragarunting, Bumi tunggungan,
8a.
Dewa ngedep, di papusuh patih, Bumi
tudud, siwa tunggal, Bumi patimah, ati putih, Siwa Tiga, pangkung marga luang
turun ke bumi, air danau, tanah, mantaga, api, angin, air di pancuran emas,
rasa manis madu, bulan matahari, bintang, galaksi, dadara-dadari (para
bidadari), ayah ibu, intisari siang malam, asta
kosala, sepasang siwa gotra, membuat tenung pabratan, pratanjala, raja peni, mengikat panca brahma, panca wisnu,
pancaka tirta, mematikan aksara, Dewa
Majapahit, pasek ibu siwa, bangun sakti di penataran, mata Sanghyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan, sada siwa karma, khayangan, mata namanya. Sanggah atutu
dilanjutkan kuranta bolong (berlubang), sundari gading, sundari wungu, sundari
putih, telenging jagat, sundari nang, sundari ireng (hitam), Pura Bukit, Hyang Nirbana Nita, Hyang
tunggal, Hyang
8b. Licin, guru reka, nguruk gusa yogiswara,
semua pandawa, dauhnya (waktunya) 8, kreta sanggarma, sang Kresna, dawuh
(waktu) kala, Dewasanya luwang, menjadi kliwon, dadi, maulu, budi, keneh, Sang Hyang Tuduh, pepedan, Sang Kutila, kliwa
(banci), masta Bhuta, gulem (awan), bermacam macam keluar melalui rambut, di
kuasai oleh I Mpu Nagarunting, memakan
nasi warna (nasi yang diberi pewarna), garam, minyak, jeruk nipis dan buah
kemiri, manusia yang mulia yang menjaga waktu yang teramat sakti yaitu 9, 10, dan
menjadi 11 artinya, di 1 menjadi 3 namanya, dasa
bayu namanya.
Setelah
selesai di sebutkan dalam Bhuwana alit dan Bhuwana agung, inilah yang dibawah
urip 22, 20, Sanghyang Parama Siwa
namanya, Bhatara Guru, bhumi berlapis, saktinya Dewi Uma, di susunan hati,
kemudian keluar melalui kemaluan laki dan perempuan (lingga-yoni), pertiwi (bumi, tanah) di kanan, sanjatanya konta,
sastranya (hurupnya) ang, sagara, weteng, mpu kuturan di padang watek bojog,
kabut yang tiada disangka keluar dari padang, kemudian dikuasai oleh Mpu Kuturan
Janger, memakan nasi sliwah, pusarnya di waneni, Arya Bedaulu, menjadi raksasa,
kala sor, kala naga, keluar belalang namanya.
Inilah
di atas/ luhur urip 31, 18, Sanghyang Sada Siwa namanya, Sang Hyang Widi, Bumi taya winten, saktinya Dewi
Giri Nata, di tumpukan dua papusuh, keluar di dahi, menyebar ke kedua mata,
menghilangkan sanggah, senjatanya komara, sastranya (hurupnya) cecek, awan,
rambut, langit, usuan (ubun ubun), watek singgih, arya pasung grigis, menjadi
pasung giri, kala mumik krepa namanya. Habislah semuanya.
Comments
Post a Comment