Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun (SKRIPSI)


BAB I


PERNYATAAN

Dengan ini peneliti menyatakan bahwa karya tulis yang berjudul “Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun” beserta isinya adalah benar-benar karya sendiri dan peneliti tidak melakukan tindakan plagiat dan/atau melakukan tindakan yang melanggar etika ilmiah yang dapat dikenakan sanksi secara hukum.
Atas pernyataan ini, peneliti siap menanggung resiko berupa sanksi yang dijatuhkan kepada peneliti apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan dalam karya ilmiah ini.


                                                                                      Denpasar, 12 Maret 2015
                                                                                      Yang Membuat Pernyataan,
                                                                                        Peneliti



                                                                                              Kadek Sudiana
                                                                                               NIM. 11.1.3.4.1.38
                                                                                   

MOTTO
Kamu seharusnya mewaspadai dirimu sendiri, selain hal lain di luar dirimu.

(Kadek Sudiana)


KATA PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan untuk:
1.                  Yang saya sayangi kedua orang tua; I Made Sarga dan Ni Ketut Sukawati yang telah bekerja keras dan selalu memberikan semangat seraya menebarkan senyum kedamaian.
2.                  Kakak tercinta; Ni Luh Sukiasih yang selalu memberikan semangat dan motivasi baik berupa materi maupun berupa dukungan moril.
3.                  Adik tercinta; Komang Budiarsana yang juga sekaligus menjadi rekan seperjuangan di Jurusan Filsafat Timur, Fakultas Brahma Widya Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar atas saran, arahan, serta semangatnya yang tidak pernah pudar saat bersama-sama menempuh pendidikan di IHDN Denpasar.
4.                  Semua sahabat-sahabatku di Jurusan Filsafat Timur angkatan 2011 yang  tidak dapat saya sebutkan satu-persatu, sebagai inspirasi untuk menjadikan saya pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik.
5.                  Yang saya hormati; Bapak I Ketut Marma, S. Ag., sebagai sahabat, guru, dan juga sekaligus sebagai orang yang saya kagumi karena selalu memberikan nasehat-nasehat yang menjadikan saya pribadi yang lebih baik.


KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur peneliti panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya skripsi yang berjudul “Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun dapat terselesaikan.
Selain usaha yang gigih dari peneliti sendiri, tersusunnya karya tulis ini juga berkat dukungan dari berbagai pihak, maka melalui kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada:
1.                  Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si., Rektor Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar atas segala fasilitas yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan di IHDN Denpasar.
2.                  Dr. Drs. I Wayan Mandra, M.Hum., Dekan Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar atas dukungan serta kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan di IHDN Denpasar.
3.                  Dra. Ni Wayan Sumertini, M.Ag., Ketua Jurusan Filsafat Timur yang telah memberikan pelayanan akademik dan arahan kepada penulis dalam menyusun penelitian ini.
4.                  I Ketut Wisarja, S.Ag., M.Hum., Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, arahan, dan dengan teliti memberikan masukan serta penajaman dalam penelitian ini.
5.                  Anak Agung Raka Asmariani, S.Ag., M.Fil.H., Pembimbing II yang dengan sabar dan selalu bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan motivasi selama proses penelitian ini.
6.                  I Gusti Made Widya Sena, S.Ag., M.Fil.H., Penguji I yang telah memberikan masukan, saran, serta penajaman dalam penelitian ini.
7.                  I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H., Penguji II yang telah memberikan tuntunan serta arahan yang positif sehingga hasil penelitian ini menjadi lebih baik.
8.                  Para Dosen di lingkungan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu memberikan arahan dalam menyelesaikan penelitian ini.
9.                  Bapak/Ibu pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang telah memberikan pelayanan dengan baik kepada penulis sejak mulai menempuh pendidikan hingga menyelesaikan studi di IHDN Denpasar.
10.              Bapak/Ibu staf pegawai di lingkungan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar yang telah memberikan fasilitas berupa pinjaman buku selama penelitian berlangsung.
11.              Bapak/Ibu Informan dan semua pihak yang telah membantu peneliti dalam usaha mengumpulkan data sehingga penelitian ini dapat diselesaikan.
Hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki, sehingga penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran untuk hasil penelitian yang lebih baik. Akhir kata semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan anugerah-Nya untuk kita semua.
Om Santi, Santi, Santi, Om

                                                                                    Denpasar, 12 Maret 2015

                                                                                                   Peneliti


ABSTRAK

Perkembangan karya sastra Jawa Kuno pada masa lampau merupakan bukti nyata bahwa kesusastraan Jawa Kuno sangat diminati oleh masyarakat pada waktu itu karena melalui karya sastra para pengawi mampu menuangkan ajaran kitab suci Weda dalam bentuk lontar-lontar yang sarat dengan nilai-nilai ajaran agama Hindu sebagai penuntun umatnya dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
Lontar tutur Kanda Sangalukun merupakan karya sastra Jawa Kuno yang mengungkap ajaran Pengider Bhuana yang dihubungkan dengan padewasan, Dharma Pewayangan, ajaran Kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa dari badan, dan juga menguraikan hubungan Pengider Bhuana dengan Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrolosmos). Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana struktur teks tutur Kanda Sangalukun?, (2) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun?, dan (3) Nilai-nilai filosofis apa yang terkandung dalam ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun?.
Teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan dalam penelitian ini yaitu: (1) teori Struktural; adalah teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan yang pertama, (2) teori Persepsi; adalah teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan yang kedua, dan (3) teori Nilai; adalah teori yang digunakan untuk membedah rumusan masalah yang ketiga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: teknik pengumpulan data yang terdiri dari: studi kepustakaan, studi dokumen, dan wawancara. Dalam menganalisis data digunakan metode deskriptif, sedangkan teknik penyajian hasil analisis data menggunakan metode deskriptif, metode formal, dan informal.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Dilihat dari aspek struktur, lontar tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a) Naskah yang dipakai sebagai sumber analisis, dan (b) Sinopsis teks tutur Kanda Sangalukun. (2) Persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a) Konsep Padewasan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, (b) Konsep Dharma Pewayangan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, (c) Konsep Kelepasan dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, (d) Konsep tentang hakikat jiwa dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, dan (e) Konsep tentang hakikat Bhuana Agung-Bhuana Alit dalam Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun. (3) Nilai-nilai filosofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: (a) Nilai Kebenaran, (b) Nilai Estetika, (c) Nilai Etika, dan (d) Nilai Religius.

Kata Kunci: Nilai Filosofis, Pengider Bhuana, Tutur Kanda Sangalukun


GLOSARIUM

acara                                       : pelaksanaan ritual agama Hindu
adharma                                  : kejahatan
aguron-guron                          : masa menuntut ilmu dalam sistem pendididikan
  Hindu
ahamkara                                : sifat ego dalam diri
anadi ananta                           : kitab suci weda yang sifatnya kekal abadi
anggara                                   : hari selasa
antarjyotih                               : bersinar, tidak ada yang menyinari
asta prakerti                            : delapan unsur penyusun alam semesta
ātman                                      : jiwa, roh
atutur                                       : sebuah nasehat
awig-awig                               : peraturan/perundang-undangan yang disepakati
                                                  oleh masyarakat tertentu

babad                                      : kesusastraan yang berisi tentang silsilah suatu
  keluarga atau Klen
bang                                        : warna merah
bangkiang                               : pinggang
bhuana agung                         : alam semesta, jagat raya, makrokosmos
bhuana alit                              : alam kecil/tubuh manusia, mikrokosmos
bhuta kala                               : makhluk halus dengan ciri-ciri menyeramkan
bhuta yadnya                           : korban suci untuk para bhuta kala
daršana                                   : pandangan tentang kebenaran, aliran filsafat Hindu
dauh                                        : waktu
desa, kala, patra                      : tempat, ruang, dan waktu/kondisi/keadaan
dewa yadnya                           : persembahan suci untuk para Dewa/Ida Sanghyang
  Widhi Wasa
dewasa ayu                             : hari baik
dewata nawasanga                 : sembilan dewata penguasa seluruh penjuru arah
  mata angin, dewa-dewa yang dimaksud adalah:
  pada arah Utara; Dewa Wisnu, pada arah Timur
  Laut; Dewa Sambu, pada arah Timur; Dewa
  Iswara, pada arah Tenggara; Dewa Mahisora, pada
  Arah Selatan; Dewa Brahma, pada arah Barat
  Daya; Dewa Rudra, pada arah Barat; Dewa
  Mahadewa, pada arah Barat Laut; Dewa Sangkara
  dan pada arah Tengah; Dewa Siwa

dharma pewayangan              : aturan-aturan yang harus ditaati sebagai seorang
  Dalang
dharma                                    : kebajikan, kebaikan, dan hukum
dharmasastra                          : kitab yang berisi peraturan atau memuat tentang
  hukum Hindu

eka wara                                 : istilah yang terdapat dalam wariga/sistem
  penanggalan Bali

estetis                                       : keindahan
gni                                           : api
genta                                       : alat yang digunakan untuk mengiringi lantunan
  mantra

gugon tuwon                           : pemahaman yang sifatnya awam dan berlangsung
  secara turun temurun
gulem                                      : awan
guna                                        : sifat yang melekat pada manusia
intrinsik                                   : unsur dalam yang menyusun karya sastra
ireng                                        : hitam
jagat                                        : alam semesta
jejaringan                                : lemak pembungkus usus
jiwātman                                 : ātman yang menghidupi tubuh manusia
judgements                              : keputusan
kahyangan                               : tempat berstana para Dewa
kaja kangin                              : Tenggara
kaja kauh                                 : Barat daya
kaja                                         : Selatan
kala                                         : waktu
kalepasan                                : pengertiannya hampir sama dengan kamoksan
  yaitu tercapainya kebahagiaan yang kekal

kalpasastra                              : ajaran yang berisi tentang upacara keagamaan
kamoksan                                : kebahagiaan yang kekal
kanda                                      : kisah, cerita
kangin                                     : Timur
karma phala                            : hasil dari segala perbuatan
karma wasana                         : perbuatan manusia selama hidup
karmasanyasa                         : tapa bratha melalui pelaksanaan tindakan-tindakan,
  sehingga meyakini Tuhan dengan menitikberatkan
  pada perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan
  yadnya yang didasari dengan pengabdian dan
  ketulusan
kauh                                        : arah Barat
kekawin                                   : karangan yang disusun menurut maat India kuno
kelepasan                                : menyatunya ātman yang menjiwai badan manusia
  dengan Brahman/Tuhan Yang Maha Esa
kelod kangin                            : arah Timur Laut
kelod kauh                               : Barat Laut
kelod                                        : Utara
keropak                                   : kotak tempat penyimpanan lontar yang terbuat
  dari kayu
kerug                                       : petir, geledek
library research                       : penelitian teks
lontar                                       : tulisan dengan huruf Bali menggunakan Bahasa
  Sanskerta atau Jawa Kuno pada daun lontar                                   
luan                                         : hulu
madya                                     : sedang, netral, seimbang
manusa yadnya                       : persembahan suci untuk manusia
mebasan                                  : kegiatan mengapresiasi karya sastra
meru                                        : tempat suci Agama Hindu berbentuk seperti limas
  atapnya terbuat dari ijuk
metatah                                   : upacara potong gigi
methodos                                 : metode, cara
mlaspasin                                : mensucikan
ngwayang                                : memainkan wayang
nista                                         : rendah, bawah
niti                                           : ajaran yang berisikan tentang hukum maupun
  perundang-undangan yang dipergunakan pada
  zaman kerajaan
nyastra                                    : mempelajari karya sastra
padewasan                              : hal-hal yang berhubungan dengan baik-buruknya
  waktu
pakraman                                : masyarakat desa dalam suatu wilayah adat
palakerta                                 : ajaran yang berisi peraturan seperti dharmasastra
  dan awig-awig
palemahan                              : hubungan manusia dengan alam
paramātman                            : sumber ātman yang tertinggi
parwa                                      : karangan yang disusun dalam bentuk prosa
pemerajan                               : tempat suci dalam lingkup keluarga kecil
pemesuan                                : pintu pekarangan
penengen                                 : kanan
pengider bhuana                     : sembilan penjuru arah mata angin beserta para
  Dewa yang bersemayam lengkap dengan atribut
  seperti; senjata suci, warna, sthana, dan lain
  sebagainya
pengider-ider                           : arah mata angin beserta Dewa-dewa yang berstana
pengiwa                                   : kiri
pepusuh                                   : pusar
personal                                  : hal-hal yang sifatnya pribadi
philosophy                               : filsafat
pitra yadnya                            : persembahan suci untuk para leluhur
prakrti                                     : unsur hidup bagi benda-benda duniawi
purusa                                     : Tuhan Yang Maha Esa
rahasyam                                : ajaran yang sifatnya rahasia dan gaib
redite                                       : hari Minggu
religius                                    : segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan
  keagamaan

rsi yadnya                                : persembahan suci untuk para Rsi atau para
  orang suci
rupa                                         : bentuk, wujud
rwa-bhineda                            : dualitas yang sifatnya berlawanan dan saling
  bertentangan

sad daršana                             : enam aliran filsafat Hindu terdiri dari: Nyaya
                                                  Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa, dan
                                                  Wedanta

sad ripu                                   : enam macam kegelapan dalam ajaran
  Agama Hindu terdiri dari: Kama (keinginan),
  Lobha (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk),
  Matsarya (iri hati), dan Moha (bingung)
sakti                                         : wujud kekuatan dari para Dewa
sanggah                                   : tempat suci dalam lingkup keluarga yang paling
  kecil
sanghyang                               : gelar penghormatan untuk para Dewa
sasih                                        : bulan
sattwam                                   : sifat kedewataan yang mempengaruhi manusia
satya                                        : kejujuran
sesana                                     : ajaran yang berisi petunjuk tentang kesucian moral
siwa dwara                              : ubun-ubun
siwaistis                                   : paham yang meyakini Siwa sebagai Dewa
  tertinggi
siwātman                                 : jiwa yang bersumber dari Tuhan
sloka                                        : bentuk puisi sanskerta terdiri dari empat baris yang
  dinyanyikan
smrti                                        : seluruh kumpulan tradisi suci yang diingat
sraddha                                   : kepercayaan, keyakinan
sruti                                         : wahyu yang didengarkan secara langsung oleh
  Maha Rsi
sthana                                      : tempat
subhakarma                            : perbuatan baik
susila                                       : perbuatan yang baik dan sesuai dengan ajaran
  agama
swadharma                             : kewajiban
tampak dara                            : sebuah lambang menyerupai bentuk palang
tatit                                          : petir
tattwa                                      : filsafat, kebenaran
teben                                        : hilir
tinutur                                     : memberikan nasehat
toya                                          : air
tri guna                                    : tiga sifat yang dimiliki oleh setiap manusia
tutur                                         : nasehat
ulap-ulap                                 : aksara suci berupa huruf Bali yang disebut
  rerajahan
upacara                                   : pelaksanaan ritual yadnya
upakara                                   : sesajen/banten
urip                                          : angka suci
usada                                       : lontar yang memuat tentang pengobatan
utama                                      : tinggi
valuation                                 : hal-hal yang berkaitan dengan nilai
value                                        : nilai
veda                                         : kitab suci Agama Hindu
waja                                        : besi baja
wariga                                     : sistem penanggalan Bali
wiku                                         : orang suci penekun spiritual
wraspati                                  : hari kamis
wuku                                        : istilah yang terdapat dalam wariga/sistem
  penanggalan Bali
wungsilan                                : ginjal
yadnya                                     : persembahan suci secara tulus ikhlas
yeh nyom                                 : air ketuban
yogasanyasa                            : melakukan tapa bratha/pemusatan pikiran



BAB I
PENDAHULUAN 
1.1              Latar Belakang Masalah
Agama Hindu bersumber pada kitab Suci Veda. Dilihat dari sistematika kitab Suci Veda itu sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu Sruti dan Smrti, kata Sruti berasal dari kata Sroten yang berarti mendengar sehingga kitab Sruti merupakan sebuah kitab suci yang ditulis oleh para Rsi penerima Wahyu berdasarkan pendengaran beliau. Jadi beliau para Rsi menulis kembali kitab suci tersebut berdasarkan pendengaran beliau yang merupakan wahyu dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kitab Smrti merupakan kitab suci yang ditulis oleh para Rsi penerima wahyu berdasarkan ingatan dan analisis serta kesimpulan dari kitab Sruti.
Selain dari Veda merupakan sumber utama dari ajaran Agama Hindu ada juga sumber-sumber lain yang merupakan sumber ajaran Agama Hindu itu sendiri yaitu tafsir-tafsir yang berkembang yang juga dijadikan sebagai sumber ajaran Agama Hindu. Salah satunya yang dijadikan sebagai sumber ajaran Agama Hindu dalam kehidupan masyarakat adalah lontar-lontar yang terdapat di Bali.

Lontar-lontar yang ada di Bali dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok Tattwa, kelompok Susila, kelompok Upacara, kelompok Wariga, dan kelompok Babad (Dunia, 2009: v-vi). Kelompok Tattwa meliputi Bhuwana Kośa, Tattwa Jñana, Wrhaspatitattwa, Pametelu Bhatara, Ganapati Tattwa, Tattwa Sangkaning dadi janma,Sanghyang Mahajñana, Brahmokta Widhisastra, Purwaka Bhumi, Purwa Bhumi Kamulan, Bhuwana Sangksepa, Tattwa Dhangdhang Bang Bungalan, Tutur Śiwa Banda Sakoti, Tutur Budha Sawenang dan lain-lain. Kelompok Susila meliputi Sila Kramaning Aguron-guron dan lain-lain. Kelompok Upacara meliputi Sri Jaya Kasunu, Janma Prawerti, Śiwa Tattwa Purana, Putru Pasaji, Yama Purwana Tattwa dan lain-lain. Kelompok wariga meliputi Sanghyang Swamandala dan lain-lain. Kelompok Babad meliputi Babad Dalem Sawangan Paminggir dan lain sebagainya.

Lontar-lontar tersebut berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Namun, di Bali sudah banyak lontar-lontar tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tujuan agar mempermudah pembaca yang kurang mampu memahami bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno dalam memahami ajaran yang disampaikan dalam lontar bersangkutan.
Pada dasarnya semua lontar-lontar tersebut tidaklah secara mentah menyerap ajaran Veda, namun telah mengalami suatu seleksi dan penyaringan yang bijaksana disesuaikan dengan alam pikiran dan desa, kala, patra setempat. Karena luas daerah dan panjangnya waktu yang dilaluinya maka wajahnya dapat berubah, sesuai dengan ruang dan waktu yang dilaluinya, namun esensinya tetap sama. Hal ini memungkinkan untuk lebih mudah memahami dan mempelajarinya, karena memahami dan mempraktikkan ajaran Veda yang memuat ajaran yang bersifat rahasyam terasa sangat sulit. Hal itu juga disebabkan karena Veda bersifat anadi ananta (kekal abadi), sehingga dalam memahaminya diperlukan tafsir-tafsir yang menguraikan hakikat didalamnya, yaitu melalui tattwa. Pada hakikatnya ajaran Veda mengisyaratkan agar manusia mampu menyadari kemahakuasaan Tuhan, sehingga manusia selalu yakin bahwa segala yang ada di dunia ini adalah berkat kemahakuasaan Tuhan yang perlu dimaknai sebagai sebuah anugerah. Dengan demikian umat manusia senantiasa akan selalu bertindak dan berbuat pada jalan Tuhan dan sesuai dengan ajaran Agama Hindu.
Dari sekian banyak naskah yang menafsirkan mengenai hakikat ajaran Veda, salah satunya adalah teks tutur Kanda Sangalukun sehingga teks yang dipilih untuk dikaji dalam penelitian ini adalah teks tutur Kanda Sangalukun. Namun belum ada sumber yang mengungkapkan mengenai kapan kemunculan teks ini. Teks tutur Kanda Sangalukun dipilih dalam penelitian ini karena teks tutur Kanda Sangalukun merupakan sebuah naskah yang sangat unik yakni dalam naskah tutur Kanda Sangalukun tidak hanya mengungkap ajaran Pengider Bhuana seperti pemahaman masyarakat secara umum, ajaran Pengider Bhuana dalam naskah ini berkaitan erat dengan konsep Padewasan, naskah tutur Kanda Sangalukun juga berisi konsep Dewata Nawasanga yaitu sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa sebagai penguasa atau yang bersethana pada sembilan penjuru arah mata angin, dalam naskah tutur Kanda Sangalukun juga diungkap ajaran Dharma Pewayangan, ajaran tentang kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa yang ada pada badan kasar manusia, dan hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang kesemuanya itu dituangkan kedalam ajaran Pengider Bhuana sehingga penting untuk dikupas nilai-nilai filosofis dan persepsi masyarakat berkaitan dengan ajaran Pengider Bhuana agar dipahami oleh masyarakat luas. Seseorang tidak akan memahami kiblat atau arah mata angin dalam keyakinan Umat Hindu dengan benar, jika tidak mampu memahami tattwa tentang Pengider Bhuana, seseorang tidak akan mengetahui sebab kelahiran, hidup, dan mati, jika tidak mampu memahami tattwa tentang kehidupan, asal mula kehidupan, dan tujuan kehidupannya di dunia ini. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperluas pandangan dan pemahaman mengenai ajaran Agama Hindu dan juga dapat bermanfaat untuk menghilangkan persepsi masyarakat yang gugon tuwon, serta yang selama ini menganggap Pengider Bhuana tersebut sebagai suatu yang dogmatis dan tidak bermanfaat untuk kehidupan manusia di zaman sekarang. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji mengenai nilai filosofis  Pengider Bhuana dalam teks  tutur Kanda Sangalukun.
Rumusan Masalah
            Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan dicari jawabannya pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana struktur teks tutur Kanda Sangalukun?
2.      Bagaimana persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun?
3.      Nilai-nilai filosofis apa yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun?
Tujuan Penelitian
Dalam setiap penelitian ilmiah sudah pasti setiap penelitan yang dilakukan memiliki tujuan yang ingin dicapai. Sebuah tujuan dalam setiap penelitan yang dilakukan merupakan bagian yang paling penting karena tujuan penelitian yang ingin dicapai merupakan sebuah tujuan utama dalam sebuah penelitian. Adapun tujuan dari penelitan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai dari penelitian yang meneliti “Nilai-nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam teks tutur Kanda Sangalukun ini adalah sebagai usaha untuk mengembangkan, dan jika dianggap perlu melakukan reinterpretasi dan menyelaraskan dengan konteks zaman yang relevan terhadap nilai-nilai filosofis Pengider Bhuana, sehingga nilai-nilai filosofis yang luhur yang terkandung di dalamnya semakin dipahami, dijadikan pedoman, dan mampu diamalkan oleh masyarakat luas dalam menjalankan roda kehidupan sosial-religius sehari-hari. 
Tujuan Khusus
Selain tujuan umum seperti yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini juga memiliki tujuan khusus. Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, guna meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang “Konsep Pengider Bhuana Dalam teks tutur Kanda Sangalukunmaka tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mendeskripsikan struktur Teks tutur Kanda Sangalukun.
2.      Untuk memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
3.      Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Manfaat Penelitian
Setiap penelitian ilmiah terlebih lagi penelitian kualitatif kajian teks (library research) berorientasi kepada data-data yang didapatkan melalui kegiatan menelaah teks yang diteliti secara mendalam dan studi eksploratif terhadap data-data kepustakaan yang mendukung penelitian, sehingga memperoleh hasil penelitian yang bermanfaat baik secara teoretis maupun secara praktis yang nantinya dapat dijadikan bahan penelitian, pertimbangan, dan bahan referensi oleh peneliti berikutnya.
Manfaat teoretis penelitian ini adalah memberikan pemahaman filsafat yang lebih mendalam dan wawasan baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep ajaran Hindu yang bersumber dari Veda yang masih terpendam dalam berbagai karya sastra tradisional Bali, salah satunya konsep Pengider Bhuana Dalam Teks tutur Kanda Sangalukun.
Penelitian ini juga dapat dijadikan bahan perbandingan oleh peneliti selanjutnya dalam penelitian yang berkaitan dengan kajian teks terutama yang menyangkut karya sastra tradisional Bali, seperti kajian filosofis terhadap keberadaan lontar-lontar di Bali yang masih banyak dan belum terjamah oleh masyarakat umum.
Manfaat Praktis
Manfaat paktis adalah manfaat dari hasil penelitian yang dapat digunakan dalam tindakan-tindakan nyata di masyarakat. Adapun manfaat praktis dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi masyarakat/Umat Hindu di Bali, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang nilai-nilai dan makna filosofis Hindu meliputi tattwa, susila, dan acara yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga nilai-nilai dan makna filosofis Hindu yang tertuang dalam konsep tersebut dapat dijadikan pedoman berupa tattwa, susila, dan acara dalam melaksanakan yadnya, sehingga pelaksanaan yadnya pada Umat Hindu di Bali tidak menyimpang dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu.
2.      Bagi lembaga Umat Hindu (PHDI), hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan dalam memberikan pemahaman yang benar serta berusaha untuk menyamakan persepsi Umat Hindu berkaitan dengan konsep Pengider Bhuana yang erat kaitannya dengan pelaksanaan yadnya bagi Umat Hindu sehingga umat betul-betul memahami konsep Pengider Bhuana tersebut baik dari segi filsafat (tattwa), etika (susila), maupun dari segi ritual (upakara) nya.
3.      Bagi Pemerintah, penelitian ini dapat memberikan manfaat praktis yaitu dengan adanya hasil penelitian tentang konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun akan sangat membantu pemerintah baik itu pemerintah dalam lingkup desa pakraman, pemerintah kecamatan, maupun pemerintah di lingkup kabupaten dalam memberikan penyuluhan tentang konsep Pengider Bhuana yang benar sesuai dengan ajaran Agama Hindu yang bersumber dari Weda seperti yang tertuang dalam teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga Umat Hindu dalam melaksanakan ritual yang berhubungan dengan penggunaan konsep Pengider Bhuana pada setiap pelaksanaan yadnya seperti penggunaan ulap-ulap, pengider-ider, dan lain sebagainya selalu dilandasi dengan pemahaman tattwa (filsafat) yang benar sehingga terhindar dari pola pikir gugon tuwon.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL
PENELITIAN


Kajian Pustaka
Panya (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Makna Ajaran Kelepasan Ditinjau dari teks tutur Angkus Prana”. Diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : teks tutur Angkus Prana merupakan teks dengan inti pokok ajarannya mengenai kelepasan. Sistem ajaran yang  dikembangkan mirip dengan sistem pembelajaran Upanisad yaitu sifat ajarannya yang sangat rahasia.
Pada penelitian teks sangat penting untuk membahas struktur teks yang diteliti, hal ini dikarenakan dengan mengetahui struktur teks yang diteliti akan mempermudah dalam memahami makna, nilai-nilai dan tujuan diciptakannya karya sastra tersebut. Pada penelitian Panya belum diungkap secara detail mengenai hal-hal yang berhubungan dengan struktur teks tutur Angkus Prana. Struktur teks yang dimaksud adalah mulai dari penokohan, alur cerita, konflik, plot, latar dan pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui isi teks tutur Angkus Prana tersebut.
9
Panya memfokuskan penelitiannya pada konsep ajaran kelepasan, fungsi teks tutur Angkus Prana, dan makna ajaran kelepasan pada teks tutur Angkus Prana, sedangkan dalam penelitian ini mengkaji tentang struktur teks tutur Kanda Sangalukun, nilai-nilai filosofis, dan persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.

Adapun kontribusi penelitian Panya terhadap penelitian ini  adalah sebagai bahan pembanding dalam menentukan metode penelitian yang meliputi: metode pengumpulan data dan metode analisis data, mengingat kedua penelitian ini adalah merupakan penelitian kualitatif.
Suweta (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Nilai Filosofis teks tutur Watugunung” memaparkan hasil penelitiannya bahwa teks tutur Watugunung memeiliki nilai-nilai filosofis yakni: nilai filosofis terkait dengan tattwa, nilai filosofis terkait dengan etika, dan nilai filosofis terkait dengan satya.
Dalam penelitian Suweta telah dijelaskan aspek-aspek nilai filosofis yang adiluhung yang terkandung dalam teks tutur Watugunung. Nilai-nilai filosofis tersebut sangat berguna dijadikan pedoman bagi masyarakat ataupun bagi pembaca jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari khususnya bagi Umat Hindu. Dalam mengungkap nilai-nilai filosofis dan makna filosofis yang terkandung dalam suatu teks sastra khususnya teks-teks sastra kuno sangat penting memperhatikan struktur teks-teks kuno tersebut. Dalam penelitian Suweta telah dijelaskan mengenai sinopsis cerita tutur watugunung, namun kiranya perlu mengungkap lebih dalam mengenai struktur teks tutur watugunung sehingga kajian-kajian selanjutnya baik yang menyangkut nilai-nilai filosofis maupun kajian yang menyangkut makna filosofis dapat dipaparkan lebih lengkap dan dapat langsung mempengaruhi perilaku masyarakat karena antara struktur teks sangat bertalian dan sangat berkaitan dengan nilai-nilai filosofis dan makna filosofis yang terkandung dalam sebuah teks-teks sastra kuno.
Suweta memfokuskan penelitiannya dalam mengkaji nilai-nilai filosofis yang menyangkut nilai tattwa, nilai etika, dan nilai satya dalam teks tutur Watugunung, sedangkan dalam penelitian ini, selain mengungkap nilai-nilai filosofis dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun juga mengupas masalah struktur teks dan persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Kontribusi penelitian Suweta terhadap penelitian ini adalah sebagai bahan pembanding dalam menentukan langkah-langkah mendeskripsikan dan mensinkronkan dengan sumber-sumber yang relevan untuk mengungkap  nilai-nilai filosofis konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Suweta (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Kajian Ringkas Nilai Filsafat Hindu Dalam lontar utur Siwagama memaparkan hasil penelitiannya mulai dari gambaran umum teks lontar Siwagama, struktur luar, struktur dalam hingga sampai pada nilai filsafat Hindu dalam teks lontar Siwagama yang meliputi: nilai sraddha, nilai karmasanyasa, nilai yogasanyasa, nilai kosmologis dan nilai kelepasan.
Lontar sebagai salah satu kesusastraan lokal di Bali memiliki ajaran serta konsep-konsep yang bersumber dari kitab smrti yang didalamnya banyak tekandung ajaran Agama Hindu sebagai pedoman kehidupan bagi Umat Hindu yang mampu memahami serta mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kesusastraan yang berupa lontar-lontar tersebut. Demikian pula seperti dalam penelitian Suweta yang mengkaji nilai-nilai filsafat Hindu dalam lontar tutur Siwagama sesungguhnya sangat bermanfaat bagi Umat Hindu dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai filsafat Hindu yang tertuang di dalamnya. Namun, dalam penelitian Suweta belum diungkap sejauh mana pemahaman dan persepsi masyarakat khususnya Umat Hindu terhadap nilai-nilai filsafat Hindu yang terkandung dalam lontar tutur Siwagama.
Dalam penelitian Suweta memfokuskan penelitiannya pada analisis struktur teks dan nilai-nilai filsafat Hindu dalam lontar Siwagama, sedangkan dalam penelitian ini, disamping menganalisis struktur teks dan nilai-nilai filosofis konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun juga mengkaji tentang persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun. Mengingat lapisan-lapisan masyarakat terdiri dari beberapa golongan, diantaranya: golongan penekun spiritual, golongan sastrawan dan akademisi, serta golongan masyarakat umum, maka dalam penelitian ini dianggap perlu untuk mencoba mengungkap persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Kontribusi penelitian Suweta terhadap penelitian ini adalah sebagai landasan pemahaman bagi peneliti dalam memaparkan struktur teks tutur Kanda Sangalukun.
Ariwidayani (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Kajian Filosofis Lontar Tattwa Kala” menyebutkan bahwa ajaran etika yang terkandung dalam Lontar Tattwa Kala meliputi a) jika manusia melanggar hal-hal yang bertentangan  dengan etika akan mendapat penderitaan yang disimboliskan oleh Sanghyang Kala, b) jika manusia mengikuti aturan-aturan tersebut maka manusia akan dibantu oleh Sanghyang Kala, pada umumnya manusia yang baik adalah bersahabat dengan Sanghyang Kala, c) etika yang terkandung dalam Lontar Tattwa Kala ialah hukum karma phala yang terbagi atas sifat hukum karma, tiga macam hukum karma, hukum karma dengan unsur tri guna, hukum karma berdasarkan kesucian, hukum karma dari sudut kebenaran, dan hukum karma berdasarkan tri sarira. Konsep upacara yang terkandung dalam Lontar Tattwa Kala adalah konsep yadnya yang terbagi menjadi: dewa yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan bhuta yadnya. Dalam Lontar Tattwa Kala disebutkan upacara metatah/mesangih/mepandes memiliki makna filosofis untuk mengendalikan sad ripu dalam diri manusia untuk menuju ke arah guna sattwam dan dharma.
Persamaan antara penelitian Ariwidayani dengan penelitian ini adalah sama-sama memfokuskan arah penelitian pada kajian filosofis dan makna filosofis yang terkandung dalam sebuah teks lontar. Sedangkan perbedaan antara penelitian Ariwidayani dengan penelitian ini adalah pada penelitian Ariwidayani ditemukan konsep upacara dalam Lontar Tattwa Kala, sedangkan dalam penelitian ini akan mengkaji secara lebih mendalam tentang struktur teks tutur Kanda Sangalukun, nilai-nilai filosofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun dan persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun. Selain itu, perbedaan lainnya juga terletak pada jenis teks lontar yang diteliti sangat berbeda. Teks Lontar Tattwa Kala bercorak siwaistis dan secara spesifik menjelaskan asal-usul kelahiran Sanghyang Kala, sedangkan teks lontar tutur Kanda Sangalukun bercorak lontar jenis tutur yang berisi ajaran Pengider Bhuana.
Tim-Penyusun (2003) dengan editor Jiwa Atmaja dalam bukunya yang berjudul “Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali” pada bagian sub judulnya yaitu “Makna Orientasi Arah di Bali” menjelaskan bahwa dalam alam pikiran orang Bali terdapat cara untuk mengkelasifikasikan arah mata angin di alam semesta ini, yang pada mulanya bersifat dualistik dalam istilah lokalnya disebut rwa-bhineda.
Di Bali, arah yang dipandang memiliki nilai utama/tinggi adalah arah kaja dan kangin (timur). Masing-masing arah ini memiliki oposisi pasangan, sehingga menunjukkan arah yang berlawanan, antara lain: kaja dipertentangkan dengan kelod, dan kangin (timur) dipertentangkan dengan kauh (barat). Arah kelod dan arah kauh dipandang memiliki nilai nista/rendah. Arah kangin (timur) yang dipertentangkan dengan kauh ini bersifat universal, karena kangin selalu menunjukkan arah timur dan kauh menunjukkan arah barat. Akan tetapi, arah kaja yang dimaksudkan tidak selalu menuju arah ke utara, demikian pula kelod tidak selalu menunjuk ke arah selatan, karena yang menjadi pedoman sebagai pusat orientasi adalah letak gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Perpaduan antara arah yang dianggap memiliki nilai utama itu (kaja dan kangin), akhirnya memunculkan satu arah lagi yang dianggap suci pula dan dikeramatkan, yakni arah kaja-kangin. Pada arah kaja kangin ini pada umumnya dimanfaatkan untuk tempat persembahyangan, misalnya, di lingkungan pekarangan rumah dibangun sanggah atau pemerajan.
Pasangan-pasangan arah, yaitu kaja yang dipertentangkan dengan kelod dan kangin dipertentangkan dengan kauh menunjukkan konsep rwa-bhineda, dalam hal ini hubungan itu bersifat relatif. Selanjutnya, kelasifikasi dua berkembang menjadi kelasifikasi tiga yang mengimplikasikan nilai utama (tinggi) - madya (sedang) - nista (rendah). Perkembangan ini menandakan bahwa adanya suatu kekuatan untuk mengimbangi kekuatan yang mempunyai nilai berlawanan itu, maka terbentuklah posisi yang ketiga disebut sebagai pusat/sentral/tengah yang mengimplikasikan nilai madya. Dari sini muncullah posisi tengah sebagai pusat di tengah-tengah dari masing-masing kategori pasangan arah yang dipandang pokok di Bali, sehingga arah mata angin yang dipandang pokok menjadi berjumlah lima, dengan posisi sebagai berikut: kaja-tengah-kelod dan kangin-tengah-kauh.
Hasil penggabungan arah mata angin ini menggambarkan bentuk kelasifikasi lima yaitu berbentuk seperti palang (tampak dara). Palang (tampak dara) ini menjadi kerangka dasar pembentukkan suastika sebagai simbol atau lambang Agama Hindu. Selanjutnya, dengan menggabungkan dua arah yang berdekatan, maka akan memunculkan komposisi pasangan arah sebagai berikut: kaja kangin-tengah-kelod kauh, dan kelod kangin-tengah-kelod kauh sehingga secara keseluruhannya jumlah arah di Bali menjadi sembilan.
Persamaan antara buku karya Tim-Penyusun (2003) yang berjudul “Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali” dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji arah mata angin dalam keyakinan masyarakat Bali. dalam penelitian ini arah mata angin yang dimaksud adalah konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun. Konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun menjelaskan sembilan arah mata angin yang ditempati oleh Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru mata angin (Dewata Nawasangga) seperti juga kelasifikasi sembilan arah mata angin yang dijelaskan dalam buku ini juga ditempati oleh Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru mata angin.
Perbedaaan antara buku karya Tim-Penyusun dengan penelitian ini adalah dalam buku karya Tim-Penyusun ini mengkaji secara keseluruhan sistem kelasifikasi arah di Bali mulai dari kelasifikasi dua hingga berkembang menjadi kelasifikasi sembilan pada orientasi arah di Bali dari perspektif kelasifikasi dua dan kelasifikasi tiga, sedangkan dalam penelitian ini memfokuskan arah penelitian pada konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun sebagai perkembangan terakhir sistem kelasifikasi arah di Bali yaitu kelasifikasi sembilan yang dikaji dari perspektif filosofis khususnya filsafat Hindu. Dengan melihat perbedaan perspektif tersebut, maka hasil penelitian yang diperoleh pun akan sangat berbeda, sehingga penelitian ini bukanlah duplikasi ataupun pengulangan  dari penelitian terdahulu, melainkan pengembangan dari penelitian terdahulu dengan perspektif yang berbeda.
Adapun kontribusi buku karya Tim-Penyusun terhadap penelitian ini adalah sebagai sumber informasi yang valid bagi peneliti dalam mendalami konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun secara lebih mendalam berlandaskan kajian perspektif filsafat Hindu.
Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pengertian  konsep adalah rancangan, ide atau pengertian yang diabstraksikan dari peristiwa kongkrit, atau gambaran mental dari obyek, proses atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. (Tim-Penyusun, 1991 :520). Konsep merupakan uraian abstraksi dan sintesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi, selain untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian konsep memberikan batasan dan peristilahan dalam suatu penelitian.
Konsep berarti suatu makna yang berada di alam pikiran atau di dunia kepahaman yang dinyatakan kembali dengan sarana lambang perkataan atau kata-kata. Dengan demikian konsep bukan obyek gejala itu sendiri, melainkan hasil pemaknaan didalam itelektual manusia yang merujuk ke gejala nyata di alam empiris (Suprayoga dan Tabroni, 2001 :149).
Nilai Filosofis
Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan, aksiologi yang pada hakikatnya merupakan sistem nilai berkaitan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valuatuion.
a.             Nilai, digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik, dan bagus, sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian. Penggunaan nilai yang lebih luas, merupakan kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan kontra, sebagai lawan dari suatu yang lain dan berbeda dengan fakta. Teori nilai atau aksiologi adalah bagian dari etika. Lewis menyebutkan sebagai alat untuk mencapai beberapa tujuan, sebagai nilai instrumental atau menjadi baik atau seuatu menjadi menarik, sebagai nilai inheren atau kebaikan sperti estetis dari sebuah karya seni, sebagai nilai intrinsik atau menjadi baik dalam dirinya sendiri, sebagai nilai kontributor atau nilai yang merupakan pengalaman yang memberikan kontibusi.
b.      Nilai sebagi kata benda konkrit. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, seringkali digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai. Seperti nilainya, nilai dia, dan sistem nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan apa-apa yang tidak dianggap baik atau bernilai.
c.       Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai. Menilai umumnya sinonim dengan evaluasi ketika hal tersebut secara aktif digunakan untuk menilai perbuatan. Dewey membedakan dua hal tentang menilai, bisa berarti menghargai dan mengevaluasi (Bakhtiar, 2012: 164).
Dari beberapa pendapat diatas, dapat diananlisa secara garis besar bahwa teori tentang nilai (aksiologi) dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan, tingkah laku, atau yang lainnya.
Nilai itu bersifat objektif, tetapi kadang kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaraan yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya bukan pada subjeknya yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai bersifat subjektif apabila subjek berperan dalam memberi penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang (Bakhtiar, 2012: 165).
Filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang terdiri dari dua suku kata yaitu philos dan Sophia. Philos berarti cinta dan Sophia berarti kebijaksanaan. Oleh sebab itu, secara etimologi filosofis berarti ”love of wisdom”. Dalam bahasa Arab, filsafat disebut dengan kata falsafah yang saat ini menjadi kata dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, filsafat disebut dengan kata philosophy. Filsafat pada hakikatnya berkaitan dengan cara mencari kebenaran yang menjadi pemicu manusia berpikir, melakukan pengamatan dan berbagai penelitian. Berfilsafat dapat diartikan melakukan kegiatan berpikir secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif (Suriasumantri dalam Rachmat, dkk, 2011:104). Filsafat merupakan aspek rasional dari agama. Filsafat juga merupakan pencarian kebenaran melalui logika atau kekuatan akal. Hindu tidak memusuhi filsafat, tetapi sebaliknya dalam Agama Hindu filsafat merupakan bagian integral dari ajaran Agama Hindu. Filsafat merupakan sarana atau alat pembantu untuk mengupas inti ajaran Agama Hindu (Donder, 2006: 27-28).
Menurut Maswinara (1999) dalam bukunya yang berjudul “Sistem Filsafat Hindu” menyatakan bahwa dalam filsafat India terdapat enam sistem filsafat yang disebut sad darsana. Masing-masing sistem tersebut memiliki seorang sutrakara yaitu penyusun doktrin-doktrin. Doktrin-doktrin tersebut dirumuskan dalam ungkapan-ungkapan pendek yang dikenal dengan sutra. Pada dasarnya sad darsana merupakan enam cara pembuktian-pembuktian kebenaran atau enam sarana pengajaran yang benar. Filsafat Hindu (darsana) merupakan penyeimbang Agama Hindu itu sendiri, karena Agama Hindu yang ajarannya diturunkan melalui kitab suci Weda akan selalu dikaji dan dimaknai melalui kebenaran filsafat, sehingga menghasilkan hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara agama sebagi sumber praktis ritual dan darsana sebagai sumber filsafat.
Jadi dalam penelitian ini, konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun dikaji berdasarkan sudut pandang filosfis yang tidak terlepas dari struktur teks, nilai-nilai filosofis, dan persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, sehinnga diperoleh kesimpulan dan hasil penelitian berupa pemaknaan-pemaknaan yang komprehensif terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Pengider Bhuana
Istilah Pengider Bhuana terdiri dari dua buah kata yaitu “Pengider” dan “Bhuana”. Istilah “Pengider” berasal dari kata dasar “ider” yang selanjutnya dalam kamus Bali-Indonesia karangan Sutjaja (2005) yang berjudul “Kamus Pelajar Dasar Menengah: Bali-Indonesia terbitan Lotus Widya Sari, kata “ider” memiliki arti ”edar”. Dalam bahasa Indonesia, kata “edar” dapat pula ditemukan pada kata yang berawalan “ber” misalnya pada kata “beredar” yang artinya berputar, berkeliling, dan memutar. Begitu pula pada kata “ider” dalam bahasa Bali mendapat awalan “pe” menjadi “Pengider” yang berarti berputar atau subjek yang menjadikan sesuatu berputar atau berkeliling dan dalam penelitian ini yang dimaksud berputar atau berkeliling adalah konsep Pengider Bhuana yang dalam masyarakat Bali juga dikenal dengan istilah Dewata Nawasanga atau sembilan arah mata angin, sedangkan  yang dimaksud subjek yang menjadikan konsep Pengider Bhuana ini berfungsi atau berputar tiada lain adalah Ida Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa sembilan arah mata angin melalui manifestasinya yang berwujud sembilan Dewa.
Istilah Bhuana dalam Bahasa Jawa Kuno berarti bumi, dunia atau alam semesta. Jadi, berdasarkan penjelasan di atas istilah Pengider Bhuana berarti perputaran arah mata angin yang erat kaitannya dengan pemutaran gunung Mandara Giri dalam konsep Dewata Nawasangga. Pemutaran gunung Mandara Giri bertujuan untuk memperoleh tirta amerta guna menghindarkan umat manusia dari malapetaka dan bencana, begitu pula perputaran arah mata angin dalam konsep Pengider Bhuana berfungsi sebagai pelindung dan penyeimbang alam semesta agar terhindar dari marabahaya, kekacauan, dan malapetaka.
Teks Tutur Kanda Sangalukun
Menurut Agastia dalam Suweta (2013: 9) menyatakan bahwa teks pada umumnya dikaitkan dengan hal yang bersifat tertulis dan ada media yang mewadahinya, walaupun sesungguhnya teks tidak semata tertulis, bisa saja bersifat lisan yang dikenal dengan sebutan teks wacana lisan. Dalam konteks tulisan ini, teks dikaitkan dengan hal yang bersifat tertulis, yakni teks yang berkenaan dengan hal sebagai hasil karya tradisional Indonesia yang memiliki pengertian sangat luas.
Secara leksikal tutur berasal dari Bahasa Jawa Kuno, yang artinya; ingatan, kenang-kenangan, kesadaran, lubuk jiwa mahluk yang paling dalam, “ budi yang dalam” (tempat persatuan yang muhtlak); tradisi suci, smrti (sebagai lawan sruti), teks berisi dokrin religi, dokrin religi (Zoetmulder dalam Suweta, 2012:7). Selanjutnya Zoetmulder dalam Suweta (2012:7), atutur berarti; mengingat, mengenang kembali, menyadari sepenuhnya, terus-menerus mengingat.
Anatur, tinutur yang berarti; mengingat, mengenang kembali, menyadari. Tuturen reh in laku pacidra; mengingatkan agar tidak bertingkah laku tercela. Dengan demikian memperhatikan pemaparan di atas, tutur berarti mengingatkan kembali tentang kebenaran agar dilaksanakan, sehingga tidak menyimpang dari dharma, dalam hal ini tentang kebenaran Tuhan (Suweta, 2012: 7).
Teks tutur Kanda Sangalukun yang menjadi objek penelitian ini merupakan teks atau wacana yang terdapat pada naskah salinan dari lontar tutur Kanda Sangalukun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teks tutur Kanda Sangalukun merupakan pesan-pesan atau isi dari naskah lontar tutur Kanda Sangalukun yang dapat dipahami melalui penafsiran-penafsiran menggunakan Teori Struktural, Teori Nilai, dan Teori Persepsi sehingga akan diperoleh pemahaman yang jelas, objektif dan komprehensif mengenai struktur teks, nilai-nilai filosofis serta persepsi masyarakat terhadap ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sang
Landasan Teori
Menurut Riduwan (2004:19) dalam bukunya “Metode dan Teknik Penyusunan Tesis” menyatakan bahwa teori merupakan asumsi, konsep, definisi, dan proposisi untuk menerangkan variabel yang akan dibedah, melalui proses dan landasan inilah jawaban sementara mengenai rumusan masalah yang diajukan dalam suatu penelitian akan diperoleh, sehingga teori dikatakan sebagai landasan dasar dalam penelitian.
Teori yang digunakan dalam suatu penelitian  harus berkaitan dan berhubungan dengan permasalahan atau rumusan masalah di dalam suatu penelitian. Sehingga hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tujuan lain dari sebuah landasan teori adalah untuk mempermudah peneliti dalam memilih metodelogi yang sekaligus memberikan interpretasi keberhasilan penelitian yang dilaksanakan. Adapun teori yang peneliti gunakan dalam membedah permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Teori Struktural
Menurut Jan Van Luxemburg dkk, mengatakan pengertian struktur pada pokoknya berarti, sebuah karya atau peristiwa-peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena adanya relasi timbal balik antara bagian-bagianya dan antara bagian dan keseluruhan. Hubungan ini bisa bersifat positif, seperti kemiripan dan keselarasan, bisa juga bersifat negatif, seperti pertentangan dan konflik. Kesatuan struktural mencakup setiap bagian menunjukkan kepada keseluruhan (Luxemburg dalam Suweta, 2012: 49).
Pendapat yang lebih sederhana disajikan oleh Damono dalam Suweta (2012: 49) yang mengatakan, bahwa dasar telaah strukturalisme adalah jaringan hubungan yang ada antara bagian-bagian yang menyatukan menjadi totalitas. Hanya dari hubunngan-hubungan yang ada antara bagian-bagian itulah totalitas dan bagian-bagian suatu karya sastra dapat dijelaskan dengan sebaik-baiknya.
Strukturalisme atau kajian struktur, keseluruhan atau keutuhan karya sastra itulah yang pada dasarnya dinomorsatukan. Dalam keseluruhan itu bagian-bagian atau unsur-unsur tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibedakan antara satu dengan yang lain. Jadi penghargaan atau penilaian terhadap satu bagian atau satu unsur saja dari cerita itu sama sekali tidak tepat, tiap bagian atau unsur harus disoroti dalam konteks cerita itu, sedang cerita itu sendiri sebagai keseluruhan harus ditempatkan dalam keseluruhan kode dan konvensi sastra budaya masyarakat bersangkutan, tanpa mempersoalkan sejauh mana kode dan konvensi tersebut dapat didekati dengan sarana di luar bidang sastra. Lewat jalan ini sebuah karya sastra dihadapi dan dinilai pada tempatnya (Sutrisno dalam Suweta, 2012: 49).
Teeuw dalam Suweta (2012: 49) menegaskan, bahwa pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam dan mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.
Berdasarkan kelima pendapat di atas, struktur adalah keseluruhan elemen-elemen yang membangun karya sastra yang menjadi satu-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pada kajain ini teori Struktural yang digunakan sebagai landasan kerja adalah teori yang dikemukakan oleh Teeuw yaitu untuk mengupas rumusan masalah yang pertama yakni berkaitan dengan struktur teks tutur Kanda Sangalukun, sedangkan teori Struktural menurut pendapat tokoh yang lain digunakan sebagai bahan penunjang dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Teori Struktural dari Teeuw dipandang paling tepat digunakan dalam mengupas rumusan masalah yang pertama penelitian ini, karena dalam penelitian ini diperlukan sebuah analisis untuk memaparkan secermat mungkin dan mengungkap keterjalinan semua anasir aspek-aspek karya sastra yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga menghasilkan makna yang menyeluruh.

 Teori Persepsi
Menurut Sarwono (2003: 242-244) dalam bukunya yang berjudul “Teori-Teori Psikologi Sosial” menyatakan bahwa ada 4 macam teori persepsi yaitu: 1) Teori Heider, 2) Teori Jone dan Davis, 3) Teori Kelley, 4) Teori Festinger. Dari keempat teori telah cukup memenuhi kriteria formal. Keempat teori tersebut adalah molecular, karena unit analisisnya adalah keputusan (judgements), atribusi dan persepsi tentang diri sendiri dan orang lain oleh seseorang.
Teori Festinger merupakan suatu teori yang membicarakan proses yang digunakan oleh seorang individu untuk menilai keampuhan pendapatnya sendiri dan kekuatan dari kemampuan-kemampuan orang lain yang ada dalam hubungan sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi antara seseorang adalah pengalaman, kebutuhan, dan motif-motif. Menurut pendapat Sarwono mengatakan bahwa proses pengalaman atau sosialisasi akan memberikan bentuk persepsi seseorang menjadi lebih akurat dalam mempersepsikan suatu objek. Selain itu kebutuhan-kebutuhan sesaat atau menetap pada diri individu akan mempengaruhi persepsinya tentang suatu objek. Dengan demikian kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi.
Teori persepsi Festinger dianggap paling relevan digunakan untuk mengupas rumusan masalah yang kedua dalam penelitian ini, yaitu untuk membedakan bagaimana persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
 Teori Nilai
Menurut Scheler dalam Siswanto (1998: 111) menjelaskan bahwa secara hierarkis, nilai dibagi dalam empat kelompok. Pertama, nilai kesenangan dan ketidaksenangan. Nilai ini terdapat dalam objek-objek yang berpadanan dengan makhluk-makhluk yang memiliki indera. Karena perbedaan indera, kesenangan dan ketidaksenangan berbeda dalam jenis-jenis individu, tetapi nilai-nilai tetap sama dalam dirinya. Kedua, nilai vital, antara lain dicontohkan: “ yang halus” (edel) dan “yang biasa atau vulgar” (gemein), yang digambarkan pada keturunan-keturunan yang lebih tinggi dan lebih rendah dari tumbuh-tumbuhan atau binatang dan terekspresi dalam vitalitas yang tertinggi dan terendah, kesehatan, kemudahan, dan lain-lain. Ketiga, nilai spirit atau rohani. Nilai ini tidak tergantung secara timbal balik dengan organisme lingkungan. Nilai rohani dibedakan ke dalam: nilai estetik keindahan dan kejelekan, nilai-nilai benar dan salah, dan nilai pengetahuan murni. Keempat, nilai yang kudus nilai “yang kudus” dan “tidak kudus”. Nilai-nilai ini menyangkut soal “objek-objek absolut”, terdapat dalam bidang religius.
Menurut Notonegoro, nilai dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) Nilai Material; adalah segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia, (2) Nilai Vital; adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas, (3) Nilai Kerohanian; adalah segala sesuatau yang berguna bagi rohani manusia. Nilai Kerohanian meliputi: (a) Nilai Kebenaran; yakni nilai yang bersumber pada akal (rasio, budi, dan cipta) manusia, (b) Nilai Keindahan atau Nilai Estetis; yakni nilai yang bersumber pada unsur perasaan manusia, (c) Nilai Kebaikan atau Nilai Moral; yakni nilai yang bersumber pada unsur kehendak (karsa) manusia, dan (d) Nilai Religius; yakni nilai kerohanian tertinggi dan mutlak bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia (blogdeee.blogspot.com/2011/03/macam-macam-nilai-menurut-prof.html, Tanggal Akses: 23/04/2015: 16.40 Wita).
Berdasarkan pemaparan kedua tokoh di atas menyangkut pandangannya tentang teori nilai, maka dapat dipahami bahwa diantara dua teori nilai tersebut memiliki beberapa kesamaan dan juga perbedaan. Kesamaan tentang pandangannya terhadap nilai yaitu bahwa kedua tokoh di atas menyebutkan adanya nilai vital dan nilai rohani, sedangkan pandangan yang berbeda terhadap teori nilai dari kedua tokoh di atas yaitu bahwa menurut Scheler nilai kerohanian bersifat umum dan tidak dapat dibagi menjadi nilai-nilai yang lebih spesifik, sedangkan menurut Notonegoro nilai kerohanian masih dapat dibedakan menjadi beberapa nilai yang lebih spesifik yaitu: nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, dan nilai religius.
Jika dikaitkan dengan penelitian ini, teori nilai menurut Notonegoro dipandang relevan digunakan untuk mengupas rumusan masalah yang ketiga yakni mengupas nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun, mengingat teks tutur Kanda Sangalukun menguraikan tentang konsep Pengider Bhuana yang merupakan bagian dari ajaran Agama Hindu yang sifatnya spiritualistis dan religius, sehingga dalam ajaran Pengider Bhuana tidak terlepas dari nilai kebenaran, nilai keindahan (estetika), nilai kebaikan (etika), dan nilai religius yang semuanya merupakan bagian dari nilai kerohanian.
Model Penelitian
Model penelitian adalah suatu gambaran penelitian yang di buat oleh peneliti dalam bentuk bagan yang menunjukkan hubungan pengaruh langsung hubungan pengaruh tidak langsung, dan hubungan timbal balik antara satu kosep dengan konsep yang lainnya yang terdapat dalam objek penelitian, sehingga mempermudah peneliti dalam menyusun kerangka berpikir yang sistematis guna menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun model penelitian yang disusun dalam bentuk bagan dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan Model
Ajaran Agama Hindu tertuang dalam kitab suci Veda sebagai kitab tertinggi yang memuat kebenaran sejati dan di Indonesia khususnya di Bali, Penyebarluasan ajaran Veda sangat populer melalui kesusastraan lokal tradisional Bali.
Teks lontar tutur Kanda Sangalukun adalah salah satu dari sekian banyak hasil kesusastraan Hindu yang berbahasa jawa kuno yang berada di Bali.
Konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun dapat disepadankan dengan Konsep Dewata Nawasanga yaitu sembilan penjuru arah mata angin yang dikuasai oleh sembilan Dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk memahami makna konsep Pengider Bhuana secara menyeluruh diperlukan analisis struktural yakni membongkar dan memaparkan dengan cermat dan teliti setiap aspek dan anasir yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun.
Untuk memperoleh kesimpulan dan pemaknaan yang menyeluruh berkaitan dengan konsep Pengider Bhuana dalam perspektif filosofis juga diperlukan fakta-fakta berupa persepsi dari berbagai kelompok masyarakat yang memberikan persepsinya terhadap konsep Pengider Bhuana.
 Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun merupakan suatu pedoman dan tuntunan dalam meningkatkan kualitas spiritual Umat Hindu di Bali. Penelitian yang difokuskan pada struktur, persepsi masyarakat, dan nilai filosofis konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun ini pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan spiritualitas dan memupuk Sraddha dan Bhakti Umat Hindu baik kepada leluhur maupun kepada  Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.
 BAB III
METODE PENELITIAN 
Bakker dalam Surajiyo (2008:9) menyatakan bahwa kata metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan kata depan meta (ialah menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (ialah jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu.
Suriasumantri dalam Surajiyo (2008:91) membedakan metode dengan metodelogi, bahwa metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Adapun metodelogi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.

Jenis Penelitian
Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan makna data (Creswell, 2010: 5).

Oleh karena penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif, maka jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif merupakan suatu keterangan atau bahan nyata yang berupa kata-kata atau non-statistik yang dapat dijadikan sebagai suatu dasar kajian. Data kualitatif berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik, berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata (Riduwan, 2004: 106). 

Sumber Data
Sumber data merupakan suatu jalan yang harus ditempuh dalam melakukan suatu penelitian guna memperoleh data yang akurat serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya oleh peneliti. Sumber data adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya (Suharsini-Arikunto, 2006: 160). Sumber data dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
Data adalah semacam informasi atau keterangan tentang kejadian-kejadian yang sifatnya khusus (fakta) berupa hasil pengukuran baik secara kuantitatif (berupa angka) maupun kualitatif (yang menyatakan mutu) dalam artian yang lebih luas istilah tersebut dapat pula digunakan untuk menyatakan segala bukti atau fakta yang diperoleh dari suatu penelitian tertentu (Atmaja dalam Ariwidayani, 2013: 29).
Lebih lanjut Iqbal (2002: 82) menjelaskan bahwa data dapat berupa sesuatu yang diketahui berupa fakta-fakta yang digambarkan dengan kode, simbol, dan angka-angka.
Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa data memiliki peranan penting dalam suatu penelitian. Karena data merupakan informasi, keterangan, dan pengetahuan awal yang masih belum tertata dan belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, oleh karena itu perlu dianalisis dan disusun secara sistematis melalui metode analisis data yang ilmiah sehingga akhirnya dapat disampaikan kepada masyarakat umum sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, perlu dilakukan pengumpulan dan analisis data dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, bersifat rasional, dan sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Data dalam penelitian kualitatif khususnya penelitian kajian teks ini bersifat langsung karena peneliti melakukan pengamatan langsung tanpa perantara pihak lain dalam mengkaji dan menggali makna dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun. Adapun sumber data yang digunakan dalam kegiatan penelitian yaitu:
Data Primer
Data primer disebut juga data asli adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya (Iqbal, 2002:82).
Data primer yang peneliti maksudkan dalam penelitian ini adalah salinan teks tutur Kanda Sangalukun yang peneliti peroleh dari Gedong Kirtya Singaraja. Peneliti dapat menjamin keaslian dari teks lontar ini melalui langkah-langkah pendekatan dengan penelusuran yang mendalam dan memerlukan waktu berhari-hari dengan bantuan dan arahan dari petugas di Gedong Kirtya Singaraja untuk mendapatkan teks tutur Kanda Sangalukun yang bersumber dari lontar kuno yang betul-betul terjamin keasliannya. Sehingga pada akhirnya peneliti memutuskan untuk meneliti teks tutur Kanda Sangalukun sebagai objek penelitian.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang telah ada, data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari hasil laporan para peneliti terdahulu (Hasan, 2002:167). Data skunder adalah data yang pengumpulannya tidak diperoleh langsung dari lapangan. Data sekunder adalah data yang dalam pengumpulannya tidak didapatkan secara langsung dari lapangan (Moleong, 2004: 32). Apabila penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kepustakaan, maka yang termasuk sumber data sekunder adalah buku-buku serta kepustakaan yang berkaitan dengan objek material, akan tetapi tidak secara langsung merupakan karya tokoh agama atau filsuf agama tertentu yang menjadi objek penelitian (Kaelan, 2005: 144). Buku-buku, naskah atau teks ini biasanya berupa kajian, komentar atau pembahasan terhadap karya tokoh agama atau filsuf agama yang menjadi objek penelitian.
Mengacu dari penjelasan mengenai sumber data sekunder tersebut, maka yang termasuk dalam sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, naskah atau teks yang memiliki keterkaitan dengan objek material penelitian, yaitu mengenai ajaran Pengider Bhuana.
Dalam penelitian ini data sekunder yang dimaksud adalah hasil-hasil penelitian yang telah dimuat dalam bentuk buku yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini. Salah satu data sekunder dalam penelitian ini adalah Buku karya Tim-Penyusun (2003) dengan editor Jiwa Atmaja yang berjudul “Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali” pada bagian sub judulnya yaitu “Makna Orientasi Arah di Bali” (Perspektif Teori Kelasifikasi Dua dan Kelasifikasi Tiga). Peneliti menggunakan buku ini sebagai data skunder, sebab buku ini merupakan penelitian yang berkaitan dengan arah mata angin dalam kepercayaan Umat Hindu di Bali yang juga akan dikupas pada penelitian ini dalam perspektif filosofis.
Teknik Pengumpulan Data
Data yang bersifat masih mentah merupakan bahan-bahan penelitian yang keberadaannya masih sangat kacau dan belum tersusun secara sistematis. Sebelum data dikumpulkan, peneliti perlu mengetahui dan memahami teknik pengumpulan data dengan baik, agar mempermudah peneliti dalam mengolah data yang masih mentah tersebut.
Menurut Suharsini-Arikunto (2006:134) menyatakan bahwa metode pengumpulan data yaitu cara yang digunakan untuk memperoleh data yang dijadikan dasar kajian. Metode pengumpulan data adalah suatu metode yang dipakai untuk mengumpulkan data yang ada pada masyarakat maupun literatur yang relevan. Metode pengumpulan data juga merupakan metode yang secara khusus dipergunakan mencari atau memperoleh data.
Berikut akan diuraikan beberapa teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini, yakni: Studi Kepustakaan dan Dokumentasi.

Studi Kepustakaan
Mukajir dalam Martini (2013: 34) mengungkapkan bahwa metode kepustakaan merupakan suatu usaha atau cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan penelitian kepustakaan seperti melalui membaca, menulis, mengutip materi dari kepustakaan yang tersajikan, disebut sebagai metode kepustakaan. Berdasarkan metode kepustakaan, mencari data-data melalui, buku, majalah, surat kabar, maupun lontar-lontar, karena penelitian ini dilaksanakan dalam rangka penyusunan karya ilmiah, maka sumber berupa buku dan lainnya akan dipilih secara selektif yang akan digunakan sebagai sumber penelitian agar sesuai dengan variabel penelitian.
Studi kepustakaan dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti, yakni “Konsep Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun”. Tujuannya adalah untuk mengkombinasikan antara data yang berupa teks tutur Kanda Sangalukun dengan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, dan lain-lain, sehingga antara teori-teori yang tertuang dalam sumber kepustakaan memiliki koherensi dengan data dan fakta yang tertuang dalam teks tutur Kanda Sangalukun.

Studi Dokumen
Secara interpretatif, dokumen dapat diartikan sebagai rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen (Kaelan, 2005: 114). Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan, tetapi dalam penelitian ini berupa teks alih bahasa dan terjemahan lontar tutur Kanda Sangalukun yang diperoleh dari Kantor UPTD. Gedong Kirtya Singaraja, Jl. Veteran No. 20 Singaraja. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain (Sugiyono, 2007: 329). Dengan adanya data yang berupa dokumentasi akan lebih memperkaya pemahaman peneliti dalam memaparkan suatu karya tulis. Selain itu, studi dokumen dalam penelitian ini juga digunakan untuk mengumpulkan data-data yang sehubungan dengan ajaran Pengider Bhuana, baik melalui buku-buku, majalah, ataupun literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini.
Dokumentasi dalam penelitian ini dianggap penting karena dalam mendapatkan teks tutur Kanda Sangalukun diperlukan langkah-langkah mencatat, memfoto, dan memeriksa secara lebih mendetail mengenai letak, nomor lontar, dan nomor keropak (kotak)/tempat lontar yang ada di Gedong Kirtya Singaraja.

Wawancara
Menurut Suharsini-Arikunto (2006: 126-127) menyatakan bahwa wawancara merupakan proses tanya jawab antara peneliti dengan subjek yang diteliti sebagai sumber informasi, yang dapat dilakukan melalui tanya jawab bebas terpimpin, tanya jawab bebas, dan tanya jawab terpimpin. Sedangkan menurut Bungin (2001), metode wawancara atau interview adalah langkah-langkah yang digunakan untuk mendapatkan keterangan penelitian melalui orang yang diwawancarai atau responden.
Sugiyono (2007: 154) menjelaskan bahwa ada dua jenis wawancara yang dapat dilakukan oleh peneliti, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur dan dapat pula dilakukan melalui proses bertemu langsung dengan responden maupun melalui sarana komunikasi seperti melalui telepon.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam wawancara terdapat aspek-aspek yang tidak dapat diabaikan oleh peneliti mengingat daya tangkap atau kemampuan menghafal yang dimiliki peneliti dalam merekam pernyataan-pernyataan yang disampaikan melalui otak masih sangat terbatas, maka perlu dipersiapkan alat bantu yakni: alat bantu yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mempermudah proses wawancara, alat bantu tersebut bisa berupa alat tulis, alat perekam, dan telepon/handphone (untuk wawancara tidak langsung).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pedoman wawancara berstruktur dengan teknik purposive sampling, yakni peneliti menentukan sendiri informan yang dianggap memiliki pengetahuan yang luas tentang teks lontar khususnya teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga kualitas pengetahuan yang dimiliki setiap informan akan sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian yang diperoleh. Pemilihan informan yang tepat sangat penting peneliti lakukan untuk menjaga objektifitas data yang diperoleh. Tujuannya adalah agar data yang diperoleh dapat digunakan sebagai pelengkap yang selanjutnya peneliti padukan dengan data dari sumber-sumber data primer berupa buku-buku ilmiah dan jurnal ilmiah yang relevan dengan objek penelitian. Data dari hasil wawancara dan data dari buku-buku ilmiah dan jurnal ilmiah tersebut akan digunakan untuk mengupas rumusan masalah yang kedua yakni persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data juga sering disebut pengolahan data, memberikan informasi tentang bagaimana cara menganalisis data yang peneliti kumpulkan. Muhajir dalam Duani (2013:29) mengemukakan bahwa teknik analisis data dilakukan setelah pengumpulan data. Analisis data dilaksanakan dengan memilah-milah data atau mengkelasifikasikan data.
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menafsirkan atau menginterpretasi data-data yang telah terkmpul. Mengingat penelitian ini adalah penelitian kajian filosofis teks, maka data-data yang ada dalam teks tutur Kanda Sangalukun perlu ditafsirkan dan diinterpretasikan nilai dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Tujuannya adalah untuk memilah dan mengklasifikasikan data yang dianggap penting untuk mendukung penelitian dan mengesampingkan data-data yang dianggap tidak perlu dalam penelitian ini, sehingga melalui langkah-langkah di atas, maka arah penelitian akan dapat difokuskan pada permasalahan nilai dan makna filosofis yang terkandung dalam teks tutur Kanda Sangalukun.
Penyajian Hasil Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam menyajikan hasil analisis data dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif.  Teknik deskriptif adalah suatu cara atau jalan untuk meneliti suatu objek, baik berupa nilai-nilai budaya, etika, karya seni, maupun peristiwa atau objek kajian lainnya. Menurut Kaelan (2005: 58), tujuan menggunakan teknik deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran ataupun lukisan secara sistematis, maupun objektif mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, ciri-ciri serta hubungan di antara unsur-unsur yang ada atau suatu fenomena tertentu.
Mengacu dari pemaparan tersebut, dalam penelitian ini teknik deskriptif digunakan dengan tujuan agar dapat membuat suatu deskripsi, gambaran ataupun lukisan secara sistematis mengenai apa yang ditemukan dalam naskah atau teks tutur Kanda Sangalukun, baik berupa kutipan-kutipan asli maupun yang didapat dari dokumen-dokumen lainnya dan tidak berbentuk angka. Data yang terkumpul, baik data dari kepustakaan maupun hasil studi dokumen yang terkait dengan ajaran Pengider Bhuana yang terkandung dalam teks tutur Kanda Sangalukun, kemudian data tersebut dapat diklasifikasikan dan disusun secara sistematis sehingga diperoleh suatu kesimpulan.
Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode formal dan informal. Metode formal yang dimaksud adalah menyajikan hasil analisis dengan menggunakan tanda-tanda seperti tanda diakritik, tanda kurung, tabel, bagan dan sebagainya. Selanjutnya metode informal adalah menyajikan hasil analisis data dan hasil penelitian dengan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh pembaca (Ariwidayani, 2013:38).

BAB IV
           PENYAJIAN HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Teks Tutur Kanda Sangalukun
Naskah asli teks tutur Kanda Sangalukun dari segi huruf/aksara menggunakan huruf/akasara Bali, dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuno, sedangkan bahan baku yang digunakan adalah daun rontal yang dikeringkan. Sedangkan pensil (alat penulis) yang dipergunakan adalah pengrupak (menyerupai pisau pengerot yang sangat tajam), sedangkan wadah, tempat lontar tutur Kanda Sangalukun disebut Kropak. Kropak biasanya terbuat dari kayu yang tidak mudah lapuk, sehingga dapat berumur yang sangat tua. Kropak, sebagai tempat lontar berfungsi untuk melindungi lontar yang ada didalamnya. Sehingga tidak mudah rusak, atau laput tergerus angin dan debu. Dengan demikian keutuhan akasaranya dapat terus dijaga serta senantiasa mudah untuk dibaca.
Pada teks lontar tutur Kanda Sangalukun berisi sebuah konsep sembilan penjuru arah mata angin oleh masyarakat Bali dikenal dengan konsep Pengider Bhuana atau sering juga disebut Dewata Nawasangga. Konsep Pengider Bhuana yang dipaparkan dalam teks lontar tutur Kanda Sangalukun sangat jelas tertulis sembilan arah mata angin beserta nama-nama Dewa dan saktinya dan lengkap dengan senjata, urip (angka suci), warna, aksara suci, kendaraan suci Para Dewa, dan atribut-atribut yang lainnya. Di samping bentuk secara fisik, sebagaimana pemaparan tersebut di atas, dari bentuk bahasa, bahasa yang digunakan yaitu Bahasa Jawa Kuno. 
Struktur Teks Tutur Kanda Sangalukun
Untuk mengetahui struktur sebuah karya sastra secara utuh dan menyeluruh, maka perlu dibongkar dan dianalisis aspek-aspek dan anasir-anasir yang menyusun sebuah karya sastra menggunakan analisis struktural. Dalam rangka penelitian ini peneliti menggunakan konsep teori struktural dari Teeuw. Teeuw dalam Suweta (2012: 49) menegaskan, bahwa pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam dan mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.
Berdasarkan konsep Teori Struktural seperti dipaparkan di atas, maka anasir dan aspek-aspek yang menyusun teks tutur Kanda Sangalukun meliputi; naskah tutur Kanda Sangalukun yang dipakai sebagai sumber analisis dan sinopsis teks tutur Kanda Sangalukun.
Naskah Yang Dipakai Sebagai Sumber Analisis
Sebelum peneliti menetapkan naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja sebagai sumber analisis, terlebih dahulu dilakukan penelusuran lontar tutur Kanda Sangalukun di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, JL. Ir. Juanda No. 1 Renon, Denpasar. Dari hasil penelusuran di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ditemukan lontar tutur Kanda Sangalukun dengan keterangan yaitu: ukuran panjang 48 cm dan lebar 3,5 cm, jumlah lembar 7  lembar sebagi lembar isi ditambah 2 lembar lainnya sebagai lembar sampul dan penutup di bagian akhir, sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 9 lembar, dan disalin oleh Si Gede Badra. Lontar asli koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ditemukan menggunakan teknik pencarian dengan kode klasifikasi K/VII yang artinya lontar tutur Kanda Sangalukun ini tergolong dalam lontar jenis “Kanda” disimpan pada keropak nomor VII, sedangkan jumlah lontar berjumlah 9 lembar daun lontar, tiap lembar dibedakan menjadi dua sisi yang dipisahkan oleh sebuah lubang kecil tepat di tengah-tengah lontar, lubang tersebut sebagai tempat mengikat lontar agar tersusun rapi sebelum disimpan. Lembar sampul di bagian depan hanya berisi keterangan “Kanda Sangalukun”, sedangkan lembar paling akhir hanya berupa lembaran kosong. Selain menggunakan daun lontar itu sendiri sebagai sampul, juga menggunakan dua bilah kayu yang dibuat seukuran lontar yang digunakan untuk menjepit atau menutup lontar agar tetap rapi dan tidak mudah sobek. Pada bilah kayu yang diletakan di bagian depan terdapat keterangan berupa tulisan dari huruf Bali beserta tulisan dengan huruf Latin di bawahnya berbunyi “Kanda Sangalukun”.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, peneliti menetapkan teks yang akan digunakan sebagai dasar kajian analisis struktur dan nilai dalam rangka penelitian ini adalah naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja. Naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja dari segi isi naskahnya relatif sama dengan naskah tutur Kanda Sangalukun koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Perbedaannya hanya dari aspek ukuran lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya memiliki panjang 51cm dan lebar 3,5 cm dengan jumlah lontar 9 lembar. Ciri-ciri lain dari lontar ini pada lembar pertama di bagian sisi sebelah kiri berisi keterangan kode lontar yakni IIIB, nomor lontar; 600, nomor keropak; 5, sedangkan pada sisi sebelah kanan tertulis keterangan “Tutur Kānda Sanghālukun, turunan dari lontarnya I Kt. Kadjeng dari Banjar Tegal, Buleleng, diturunkan dijaga olehnya”. Sebagai lembar awal atau sampul maka dibuat dua lembar ditempel menjadi satu, demikian juga di bagian akhir sebagai penutup juga dibuat dua lembar daun lontar ditempel menjadi satu fungsinya adalah untuk menjaga keutuhan isi lontar di dalamnya.
Selain isi naskahnya yang relatif sama, antara lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dengan  lontar tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja terdapat persamaan lain yakni tiap-tiap lembarnya ditulis bolak-balik empat baris kecuali pada lembar-lembar pertama dan lembar terakhir.
Jumlah koleksi lontar di Gedong Kirtya saat ini mencapai 1750 cakep, sedangkan salinan lontar berjumlah 7211 judul, semuanya disusun berdasarkan kelompok (klasifikasi) diantaranya: (1) Kelompok Weda terdiri dari: (a) Weda-weda yang ada di Bali, memakai Bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Bali. (b) Mantra, menurut perkembangannya berasal dari Jawa dan Bali. (c) Kalpasastra, berisi tentang manfaat upacara-upacara keagamaan. (2) Kelompok Agama, terdiri dari: (a) Palakerta, berisikan tentang peraturan seperti: Dharmasasta dan Awig-awig. (b) Sesana, buku petunjuk tentang kesucian moral. (c) Niti, berisikan tentang hukum maupun perundang-undangan yang dipergunakan pada zaman kerajaan. (3) Kelompok Wariga, terdiri dari: (a) Wariga, berisikan pengetahuan tentang Astronomi dan Astrologi. (b) Tutur, berasal dari Upadesa; pengetahuan tentang kosmos yang erat kaitannya dengan keagamaan. (c) Kanda, berisikan ilmu tentang bahasa, bangunan, motologi, dan ilmu pengetahuan khusus. (d) Usada, rontal pengobatan tradisional. (4) Kelompok Itihasa, terdiri dari: (a) Parwa, disusun dalam bentuk Prosa. (b) Kekawin, disusun berdasarkan maat India Kuno (Putu Gede Wiriasa, wawancara 17/02/2015).
Berdasarkan keterangan di atas, teks tutur Kanda Sangalukun termasuk ke dalam kelompok Wariga yang erat kaitannya dengan Padewasan (ajaran tentang baik-buruknya waktu) yang juga diperkuat dengan kutipan teks tutur Kanda Sangalukun sebagai berikut:
“…sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:

            “…semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai mengenai pedewasan (baik-buruknya waktu)…”
                                                                        ( Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Sinopsis Teks Tutur Kanda Sangalukun
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pengertian  sinopsis adalah ringkasan suatu cerita, sinopsis juga dapat berarti inti sari dari sebuah cerita dengan tujuan untuk mempermudah pembaca dalam memahami keseluruhan cerita yang disampaikan (Tim-Penyusun, 1991 :520).
Pada teks tutur Kanda Sangalukun diungkapkan mengenai ajaran tentang Padewasan, ajaran tentang Dharma Pewayangan, ajaran tentang Kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa, ajaran tentang Bhuana Agung-Bhuana Alit, dan munculnya sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa yang bersemayam pada masing-masing penjuru arah mata angin tersebut. Diceritakan bahwa di arah Timur merupakan tempat berstana Sang Hyang Iswara dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 5, sakti-Nya Sang Hyang Rawi. Senjata sucinya Bajra, aksara sucinya; e, u, i, dan ong, tempat sucinya meru tingkat 5, warna putih. Sebagai penguasa pengetahuan Wariga pengetahuan tentang Padewasan adalah Bhagawan Bergu dan Bhagawan Korsika. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala tukaran, kala lungid, kala kuat, merta masa, kala sakti, kala dangu, kala dangastra, kala catur yuga, dan kala katemu, tri wara; kajeng, catur wara; sri dan laba, sad wara; urukung , dasa wara; pandita dan manusa, wukunya; taulu, langkir, matal dan dukut, dauh (waktunya) 5. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui papusuh (jantung) dan keluar melalui mata sebelah kanan, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Agung, sedangkan pengetahuan tentang Bhuana Alit yang diungkapkan; yehnyom (air ketuban) dan lambung pada tubuh manusia.
Pada arah Tenggara merupakan tempat berstana Hyang Mahisora dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 8, sakti-Nya Dewi Kundang Kasih, Senjata sucinya Dupa, aksara sucinya; na, ga, dan nang, tempat sucinya meru waja tingkat 8, warna jingga. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh awu, kala ngruda, dan kala jambungan, sad wara; paniron, sapta wara; wraspati (Hari Kamis) dan Redite (Hari Minggu), sanga wara; jangur, dasa wara; pandita, wukunya; gumbreg, medangsia, dan watugunung, dauh (waktunya) 8. Ajaran tentang Dharma Pewayangan yang diungkap yaitu disebutkan bahwa Bhagawan Bergu memegang gentanya dalang. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk melalui paru paru kemudian keluar melalui mata sebelah kiri, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Panju dan Danau Buyan, sedangkan pengetahuan tentang Bhuana Alit yang diaungkapkan yaitu bagian pusar pada tubuh manusia.
Pada arah Selatan merupakan tempat berstana Dewa Brahma dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 9, sakti-Nya Dewi Saraswati. Senjata sucinya Gada, aksara sucinya; ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang, swaranya (suara sucinya); ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, warnanya merah, tempat sucinya meru tingkat 9, warna merah. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Ngadeg, kala Cakra, Sadana Tiba, Arda, I Selair, I Mrajapati, Jamakala, Kesrawa, kala Geger, kala Mangap, kala Pancasona dan kala Asuajag, catur wara; laba dan jaya, panca waranya; paing, sapta waranya; Saniscara (Hari Sabtu), asta waranya; yama, sanga waranya; gigis, wukunya; wariga, pujut, dan menail, dauh (waktunya) kerta. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke hati dan keluar lewat telinga sebelah kiri.
Pada arah Barat Daya merupakan tempat berstana Sang Hyang Rudra dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 3, sakti-Nya Dewi Durga. Senjata sucinya Moksala, aksara sucinya; ma, da, dan mang, swaranya (suara sucinya); eh, tasa, raba, dan dapa, tempat sucinya meru kuning tingkat 3. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Mina, kala Pati Pata, karna sula, kala durga sthana, Bhuta Jingkrak, I Bhuta Bragenjong, leyak, wil, segala jenis gamang (wong samar), jin, dan Mawata Sasa. Sad waranya; maulu, sapta waranya; Anggara (Hari Selasa), sanga waranya; nohan, wukunya; Warigadean, Pahang, dan Prangbakat, dauh (waktunya) 7, warna oranye. Diceritakan pula bahwa jiwa keluar lewat telinga sebelah kanan.
Pada arah Barat merupakan tempat berstana Sang Hyang Mahadewa dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 7, sakti-Nya Dewi Parwati. Senjata sucinya Nagapasa, aksara sucinya; ta, pa, na, ga, ga, ca, dan ang, suara sucinya; Ung, wala, kanga, ga dan ganga, tempat sucinya meru emas tingkat 7, warnanya kuning. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; Bhutanya Bahu Kakered, I Mekair, I Banaspati, Cikradorakala, kala angin, kala caplokan, kala watu, prawani, kala tapa, adi kala, Bhuta Petak, dwi wara nya; pepet, sad wara; tungleh, sapta wara nya; Hari Kamis dan Rabu, sanga wara nya; ogan, wukunya; Sinta, Julungwangi, Krulut, dan Bala,, dauh (waktunya) 2. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui ungsilan (ginjal) dan keluar melalui hidung kiri, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung yang diungkap yaitu; Gunung Mangu, Pura Taman Ayun dan Danau Beratan.
Pada arah Barat Laut merupakan tempat berstana Sang Hyang Sangkara dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 1, sakti-Nya Dewi Mahadewi. Senjata sucinya Angkus, aksara sucinya; sa, ca, bang, tempat sucinya meru tingkat 1, warna hijau. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala lungid, bebhutaan raksasa, I Ciligendruk, kala atma, kala rebutan, kala dangka, kala rawu, kala jengkang, kala jengking, dan Bhuta Jabung, sanga waranya; erangan, wukunya; Sungsang, Merakih, Landep, dan Ugu, dauh (waktunya) 6. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui limpa keluar ke hidung sebelah kanan, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Samara Geseng, sedangkan pengetahuan tentang Bhuana Alit yang diaungkapkan; di sumsum, dan pada bulu (roma) pada tubuh manusia.
Pada arah Utara merupakan tempat berstana Sang Hyang Wisnu dengan atribut berupa angka suci yang bernilai 4, sakti-Nya Dewi Sri. Senjata sucinya Cakra, aksara sucinya; a, na, a, da, ma, pa, dan ah, swara (suara sucinya); ong, banga, taya, caga, babama, tempat sucinya meru besi tingkat 4, warna hitam. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; I Mekair, I Banaspati Raja, kala Ija Warasa, kala Suda Tiga, kala Cok, kala Ngarad, Mrega Dewa, kala Dasa Bhumi, Banyuwurung, kala Agung, sadripu, Bhuta Menga, dan kala empas, tri waranya; beteng, panca waranya; wage, asta waranya; uma, sanga waranya; urungan, wukunya; ukir, dungulan, wayang, tambir, dauh (waktunya) 6. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke dalam tubuh melalui empedu keluar ke mulut, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Segara.
Pada arah Timur Laut merupakan tempat berstana Sang Hyang Sambu dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 6, sakti-Nya Dewi Suci. Senjata sucinya Trisula, aksara sucinya; wa, nga, wang, swara (suara sucinya); eh, pata, saya, nama, tempat sucinya meru tingkat 6, warna biru. Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Hwas, Sugih Lut, kala Ganti, kala Sapuh, kala Pati Panten, kala Wangke, kala Wigraha, sad waranya; aryang, sapta waranya; Sukra (Hari Jum’at), asta waranya; Sri, sanga waranya; Tulus, wukunya; Kulantir, Kuningan, Medangkungan, Kelawu, dauh (waktunya) 5. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Tuluk Biu.
Pada arah Tengah merupakan tempat berstana Sang Hyang Siwa dengan atribut berupa urip (angka suci) yang bernilai 10, sakti-Nya Dewi Ratih. Senjata sucinya Padma, aksara sucinya; ing, ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya, tapanya, tempat sucinya; meru tingkat 10, warnanya panca warna (lima warna). Ajaran tentang Wariga yang diungkapkan diantaranya: kala (waktu) nya; kala Pepedan, eka waranya; luwang, panca waranya; kliwon, sad waranya; Maulu, sanga waranya; Dadi, dauh (waktunya) 8. Diceritakan pula bahwa jiwa dapat masuk ke untek (catik kerongkongan) keluar ke ubun-ubun (siwa dwara), Sanghyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan, Sada Siwa Karma, khayangan, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung; Gunung Lempuyang dan Pura Bukit, Pangkung Marga luang turun ke Bumi, air danau, tanah, mantaga, api, angin, air di pancuran emas, Bulan, Matahari, Bintang, Galaksi, intisari siang-malam.
Persepsi Masyarakat Terhadap Ajaran Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Secara etimologi, kata “Persepsi” bersumber dari Bahasa Inggris “Perseption” yang selanjutnya memperkaya perbendaharaan kosa kata Bahasa Indonesia menjadi “Persepsi” yang lumrah digunakan dalam Bahasa Indonesia yang telah baku, “Persepsi” bisa berarti: pandangan, cara pandang, pemikiran, mempersepsi berkaitan dengan pemberian makna terhadap suatu hal. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap objek yang dipersepsi, sehingga persepsi seseorang terhadap suatu hal bersifat relatif tergantung pada hal-hal seperti: pengalaman, tingkat pendidikan, dan kebutuhan yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah pasti berbeda-beda.
Istilah Pengider Bhuana terdiri dari dua buah kata yaitu “Pengider” dan “Bhuana”. Istilah “Pengider” berasal dari kata dasar “ider” yang selanjutnya dalam kamus Bali-Indonesia karangan Sutjaja (2005) yang berjudul “Kamus Pelajar Dasar Menengah: Bali-Indonesia terbitan Lotus Widya Sari, kata “ider” memiliki arti ”edar”. Dalam bahasa Indonesia, kata “edar” dapat pula ditemukan pada kata yang berawalan “ber” misalnya pada kata “beredar” yang artinya berputar, berkeliling, dan memutar. Begitu pula pada kata “ider” dalam bahasa Bali mendapat awalan “pe” menjadi “Pengider” yang berarti berputar atau subjek yang menjadikan sesuatu berputar atau berkeliling dan dalam penelitian ini yang dimaksud berputar atau berkeliling adalah konsep Pengider Bhuana yang dalam masyarakat Bali juga dikenal dengan istilah Dewata Nawasanga atau sembilan arah mata angin, sedangkan  yang dimaksud subjek yang menjadikan konsep Pengider Bhuana ini berfungsi atau berputar tiada lain adalah Ida Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa sembilan arah mata angin melalui manifestasinya yang berwujud sembilan Dewa.
Istilah Bhuana dalam Bahasa Jawa Kuno berarti bumi, dunia atau alam semesta. Pengider Bhuana berkaitan dengan arah mata angin yang ditempati oleh para Dewa beserta atribut-atributnya: senjata suci, aksara suci, kendaraan suci, warna suci, dan lain sebagainya yang bekerja mengendalikan alam semesta (Bhuana Agung) agar berjalan dengan harmonis dan seimbang (I Made Sudirawan, wawancara, 17/02/2015).

Berdasarkan penjelasan di atas istilah Pengider Bhuana berarti perputaran arah mata angin yang erat kaitannya dengan pemutaran gunung Mandara Giri dalam konsep Dewata Nawasanga. Pemutaran gunung Mandara Giri bertujuan untuk memperoleh tirta amerta guna menghindarkan umat manusia dari malapetaka dan bencana, begitu pula perputaran arah mata angin dalam konsep Pengider Bhuana berfungsi sebagai pelindung dan penyeimbang alam semesta agar terhindar dari marabahaya, kekacauan, dan malapetaka.
Ajaran Pengider Bhuana yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun dapat ditemukan pada ketipan teks sebagai berikut:
“…Né kangin mata, urip 5, Sang Hyang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang Hyang Rawi…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Terjemahannya:
“…Di Timur: mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara di swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang Rawi (matahari)…”
                                                                         (Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Arah Kangin (Timur) dikategorikan sebagi arah yang memiliki nilai utama. Berdasarkan filosofisnya, arah Kangin (Timur) diidentikkan dengan arah matahari terbit. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, matahari dipandang sebagai Sang Hyang Surya. Sang Hyang Surya adalah sebutan lain dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan kehidupan di dunia. Oleh karena itu, masyarakat Bali memuja Sang Hyang Surya, sehingga memberikan nilai utama pada arah Kangin (Timur) sebagai arah tempat matahari terbit (Atmaja, 2003: 51).
Selanjutnya, masyarakat Bali mengkombinasikan arah Kangin (Timur) dengan arah Kaja (Selatan) yang dipandang utama dan suci, sehingga muncul arah Kaja-Kangin (Tenggara). Arah Kaja-Kangin (Tenggara) dipandang arah yang mempunyai nilai sakral dan dikeramatkan (Atmaja, 2003:52). Adapun kutipan teks tutur Kanda Sangalukun yang berkaitan dengan arah Kaja Kangin (Tenggara) adalah sebagai berikut:
“…Kaja-Kangin urip 8, Sang Manisora, gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi Kundangkasih…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Terjemahannya:
“…Tenggara uripnya 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga, saktinya Dewi Kundang Kasih…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Perpaduan antara arah yang dianggap memiliki nilai utama yakni arah Kaja (Selatan) dan Kangin (Timur), akhirnya memunculkan satu arah lagi yang dianggap suci pula dan dikeramatkan, yakni arah Kaja-Kangin (Tenggara). Pada arah Kaja Kangin (Tenggara) ini pada umumnya dimanfaatkan untuk tempat persembahyangan, misalnya, di lingkungan pekarangan rumah dibangun sanggah atau pemerajan (Atmaja, 2003: 54).
Secara etimologis, kata Kaja (Selatan) dapat dikupas antara lain sebagai berikut. Kata Kaja (Selatan) awal mulanya berasal dari ka-adi-a, yang berarti arah yang adi/tinggi/luhur. Selanjutnya, pengucapannya mengalami penciutan sehingga menjadi Kaja. Sesuai dengan etimologisnya, arah Kaja dapat berarti arah yang tinggi dan luhur (Atmaja, 2003: 50).
Dalam teks tutur Kanda Sangalukun, ajaran Pengider Bhuana yang berkaitan dengan arah Kaja terdapat pada kutipan berikut:
“…Kaja urip 9, kuping Sang Hyang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi Saraswati ring ati, medal ka karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng, sastrania ba, ca, sa/ca/ba/ya, bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga, taja, dadaka, palinggihan méru tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari bang, manuknia gagak, sekar tunjung bang…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 3b)

Terjemahannya:

“…Selatan urip 9, telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi Saraswati, di hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya: ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, sthananya (tempat sucinya):  meru tingkat 9, kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak, bunganya tunjung  merah…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 3b)

Mengingat arah Kaja (Selatan) yang dipandang sebagai arah yang utama dan disucikan, maka diidentikkan dengan arah ke gunung atau ke atas. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, arah gunung merupakan arah yang disakralkan dan dianggap sebagai tempat yang baik dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara logika, pola pikir masyarakat Bali berusaha mengejawantahkan keyakinannya tentang Tuhan melalui kekuatan-kekuatan alam yang sifatnya nyata salah satunya adalah meyakini kekuatan yang terdapat pada gunung sebagai ciptaan Tuhan. Gunung dengan karakternya yang menjulang tinggi melambangkan ajaran-ajaran Tuhan yang maha tinggi yang diturunkan melalui agama kepada semua umat-Nya. Oleh karena itu, keyakinan masyarakat Bali yang meyakini arah gunung sebagai tempat yang utama, suci, dan sakral berdasarkan fakta/kenyataan dan dapat dijelaskan melalui logika.
Dari arah Kaja Kangin (Tenggara) selanjutnya berkembang lagi oposisi kombinasi arah sebagai berikut: Kaja-Kangin (Tenggara) dipertentangkan dengan Kelod-Kauh (Barat Laut) dan Kelod-Kangin (Timur Laut) dipertentangkan dengan Kaja-Kauh (Barat Daya). Arah Kaja-Kauh (Barat Daya) terdapat pada kutipan teks tutur Kanda Sangalukun sebagai berikut:
“…Kaja-Kauh urip 3, Sang Hyang Rudra, gumi Suranadi, medal ka karna tengen marupa brintik rangdi, kuranta, istri Déwi Durga…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Terjemahannya:
“…Barat Daya uripnya 3, Sang Hyang Rudra, buminya suranadi, keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik rangdi, kuning emas, saktinya Dewi Durga…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
Pada kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di atas, dipaparkan tentang keberadaan Dewa dan juga Bhuta Kala sebagai penguasa setiap arah mata angin yang diyakini masyarakat Hindu di Bali. Masyarakat yang berAgama Hindu di Bali juga mengenal konsep Kala Ya Dewa Ya. Konsep ini mengandung makna bahwa kala atau waktu itu terdiri atas waktu (hari) baik dan buruk. Hari baik dihubungkan dengan turunnya para Dewa, sedangkan hari buruk diasosiasikan dengan berkeliaran para Bhuta Kala. Hal ini mencerminkan bahwa pada masing-masing arah mata angin itu bersemayam para Dewa, dan di sembilan arah mata angin itu juga dihuni oleh para Bhuta Kala. Oleh karena itu, di tiap-tiap sembilan arah mata angin di Bali terdapat tempat pemujaan Dewa yang bersangkutan. Para Dewa ini yang mengayomi atau menjaga keselamatan pulau Bali dan masyarakatnya dari segala gangguan atau musibah. Dengan demikian, pulau Bali ini bersifat keramat dan tepat pula mendapat julukan “pulau dewata” atau “pulau seribu pura”.
Sebaliknya, arah Kauh (Barat) yang diidentikkan dengan arah tempat matahari tenggelam, sehingga arah Kauh (Barat) diidentikkan dengan arah turun. Hal ini mencerminkan arah Kauh (Barat) secara implisit dikategorikan mengandung nilai nista/rendah. Dalam oposisi pasangannya, arah Kangin (Timur) dipertentangkan dengan arah Kauh (Barat). Adapun kutipan teks tutur Kanda Sangalukun mengenai arah Kauh (Barat) adalah sebagai berikut:
“…Kauh urip 7, cunguh, Sang Hyang Mahadéwa, gumi suryakarat, marupa kuning jenar, istri Déwi Laksmini ring wungsilan medal ka irung kiwa, sanjata nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta, pa, na/ta/ga/ya, ang, swarania ung, wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas lancung tumpang 7…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 5a)           

Terjemahannya:
“…Barat urip (angka suci) nya 7, di hidung, Sang Hyang Maha Dewa, bumi kuning keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini, dari ungsilan (ginjal) keluar melalui hidung  kiri, sanjatanya naga pasa, penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga, ca, ang swaranya (suara sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya (tempat sucinya) meru emas tingkat 7…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
Uraian di atas menunjukkan bahwa arah Kaja (Selatan) dipandang memiliki nilai relatif sama dengan nilai arah Kangin (Timur), yakni nilai utama/tinggi. Sebaliknya, Kauh (Barat) memiliki nilai relatif sama dengan arah Kelod (Utara) yakni nilai nista/rendah. Arah Kaja (Selatan) dan Kangin (Timur) disebut juga hulu/luan, sebaliknya arah Kauh (Barat) dan Kelod (Utara) disebut juga arah hilir/teben.
Arah Kelod (Utara) dan arah Kauh (Barat) ketika dikombinasikan menjadi arah Kelod Kauh (Barat Laut) yang dipandang memiliki nilai nista/rendah. Arah Kangin (Timur) yang dipertentangkan dengan Kauh ini bersifat universal, karena Kangin selalu menunjukkan arah timur dan Kauh menunjukkan arah barat. Akan tetapi, arah Kaja yang dimaksudkan tidak selalu menuju arah ke Selatan, demikian pula Kelod tidak selalu menunjuk ke arah Utara, karena yang menjadi pedoman sebagai pusat orientasi adalah letak Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Mengenai arah Kelod Kauh (Barat Laut) dapat dilihat dalam kutipan teks tutur Kanda Sangalukun seperti berikut ini:
“…Kelod-Kauh urip 1 jati, Sang Hyang Sangkara, gumi Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:
“…Barat Laut, urip (angka suci) nya 1 merupakan kebenaran, Sang Hyang Sangkara, buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Dalam pengetahuan masyarakat Bali (berAgama Hindu), dijumpai adanya suatu konsep bersifat dualistik, yang dikenal dengan nama rwa-bhineda ini sebagai manifestasi kelasifikasi dua di Bali yang antara lain dapat mengandung nilai utama/tinggi yang dipertentangkan dengan nilai nista/rendah. Nilai utama dan nilai nista dalam kaitannya dengan orientasi arah di Bali termanifestasi pada pasangan orientasi arah, pertama, arah Kaja yang dikatagorikan bernilai utama dipertentangkan dengan arah Kelod yang dikategorikan bernilai nista. Kedua, arah kangin (Timur) yang dikategorikan bernilai utama dipertentangkan dengan arah kauh (Barat) yang mengandung nilai nista. Arah Kelod Kauh (Barat Laut) sebagai hasil kombinasi arah Kauh (Barat) dengan arah Kelod (Utara) juga dikatagorikan bernilai rendah atau nista/teben (Atmaja, 2003: 50).
Sebaliknya, arah Kelod (Utara) diidentikkan dengan arah ke laut. Menurut pandangan masyarakat Hindu Bali, bahwa hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupannya, biasanya akan bermuara di laut. Oleh karena itu, arah Kaja (Selatan) dipertentangkan dengan arah Kelod (Utara) dan arah Kelod dipandang mempunyai derajat yang nista/rendah atau teben. Sehubungan dengan uraian di atas, posisi laut dipertentangkan dengan gunung. Menurut kepercayaan Umat Hindu Bali, gunung adalah tempat bersemayamnya Sang Hyang Siwa (sebutan lain dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa). Mengingat arah Kaja (Selatan) yang dipandang sebagai arah yang utama dan disucikan, maka diidentikkan dengan arah ke gunung atau ke atas. Arah ke gunung atau ke atas dipertentangkan dengan arah Kelod (Utara) yang berarti arah ke laut atau ke bawah. Hal ini membentuk pasangan yang bersifat dualistik: Kaja-Kelod yang diidentikkan dengan posisi arah gunung-laut (Atmaja, 2003: 50).
Selanjutnya arah Kelod (Utara) yang diungkapkan dalam teks tutur Kanda Sangalukun yang dikutip sebagai berikut:
“…Kelod urip 4, bungut, Sang Hyang Mreta, Sang Hyang Wisnu, gumi Nusakambangan, rupa ireng, istriné Déwi Sri…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6b)

Terjemahannya:
“…Kelod (Utara) uripnya 4, di mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan, warnanya hitam, saktinya Dewi Sri…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 6b)
Apabila dua arah mata angin yang berdekatan dikombinasikan maka muncul delapan arah mata angin yang terbagi menjadi empat pasangan: (a) Kaja (Selatan) dipertentangkan dengan Kelod (Utara); (b) Kaja-Kangin (Tenggara) dipertentangkan dengan Kelod-Kauh (Barat Laut); (c) Kangin (Timur) dipertentangkan dengan Kauh (Barat); dan (d) Kelod-Kangin (Timur Laut) dipertentangkan dengan Kaja-Kauh (Barat Daya).
Pada teks tutur Kanda Sangalukun, arah Kelod Kangin (Timur Laut) dapat dilihat pada kutipan berikut:
“…Kelod-Kangin urip 6, Déwi Giriputri, Sang Hyang Sambu, gumi
7a.       awang-awang marupa biru, pelung, istri Déwi Suci…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
Terjemahannya:
7a.                   “…Kelod-Kangin (Timur Laut) urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu, Buminya awing-awing berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
Konsep Rwa-Bhineda di atas mengimplikasikan dua kekuatan yang mempunyai nilai berlawanan. Untuk mengimbangi kekuatan yang mempunyai nilai yang berlawanan itu, maka terbentuklah posisi yang ketiga disebut sebagai pusat/sentral. Dari sini muncul posisi tengah sebagai pusat di tengah-tengah dari masing-masing kategori pasangan arah mata angin yang mempunyai nilai berlawanan itu. Sehubungan dengan nilai ini, arah mata angin yang dipandang pokok di Bali akan mengkombinasikan susunan sebagai berikut: (1) Kaja-Tengah- Kelod; (2) Kangin-Tengah-Kauh. Fenomena ini menampakkan terjadinya pengembangan kelasifikasi dua menjadi kelasifikasi tiga yang di dalamnya mengimplikasikan nilai: utama/tinggi-madya/sedang-nista/rendah. Jadi, Kaja (Selatan) dan Kangin (Timur) dipandang mempunyai nilai utama/tinggi, dan posisi tengah dipandang mempunyai nilai madya/sedang, sedangkan Kelod (Utara) dan Kauh (Barat) mengandung nilai nista/rendah. Apabila arah mata angin yang pokok ini digabungkan maka akan muncul kelasifikasi lima di mana posisi tengah sebagai sentral/pusat (Atmaja, 2003: 51-53).
Arah tengah sebagai sentral/pusat arah mata angin juga diungkapkan dalam teks tutur Kanda Sangalukun seprti kutipan berikut:
“…Iki ring tengah urip 10, unteng Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna, anggrék istri Déwi Hyang Ratih…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Terjemahannya:
“…Yang di tengah urip 10, sebagai inti, Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, Bumi patimah, rupanya lima warna, angrek, saktinya Dewi Ratih…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Masyarakat yang berAgama Hindu di Bali percaya, di sembilan arah mata angin itu bersemayam para Dewa yang disebut Dewata Nawa Sangga. Di arah Kelod (Utara) bersemayam Dewa Wisnu, Kelod Kangin (Timur Laut) bersemayam Dewa Sambu, Kangin (Timur) bersemayam Dewa Iswara, Kaja Kangin (Tenggara) bersemayam Dewa Maheswara, Kaja (Selatan) bersemayam Dewa Brahma, Kaja Kauh (Barat Daya) bersemayam Dewa Rudra, Kauh (Barat) bersemayam Dewa Mahadewa; Kelod Kauh (Barat Laut) bersemayam Dewa Sangkara, dan di Tengah sebagai inti atau pusat bersemayam Dewa Siwa.
Tampak adanya hubungan harafiah antara utama dengan kesakralan atau kebaikan, madya berhubungan dengan keseimbangan atau keharmonisan, sedangkan nista berhubungan dengan kerendahan. Di samping itu, untuk hal-hal tertentu, tampak adanya hubungan harafiah antara utama dengan kanan, madya dengan kenetralan, sedangkan nista dengan kiri. Hubungan ini bersumber pada falsafah rwa bhineda (utama-nista), kemudian berkembang menjadi kelasifikasi (utama-madya-nista). Dalam operasionalnya, baik disadari maupun tidak disadari tercermin bahwa pertama, hal-hal yang dikategorikan bernilai utama, pada umumnya secara relatif ditempatkan pada posisi Kaja atau Kangin/Timur (bisa juga menempati posisi atas untuk hal tertentu), mempunyai ciri: utama, baik, atas, tinggi, luhur, dan atau suci. Kedua, hal-hal yang dikategorikan bernilai madya (sedang), pada umumnya secara relatif menempati posisi di tengah adalah mempunyai ciri-ciri: netral, seimbang, dan atau harmonis. Ketiga, hal-hal yang dipandang bernilai nista, pada umumnya secara relatif ditempatkan pada posisi Kelod atau Kauh/Barat (bisa juga menempati posisi bawah untuk hal tertentu) mempunyai ciri-ciri: rendah, dan atau bawah (Atmaja, 2003: 56).
Dalam pola pikir orang Bali, adanya kecenderungan untuk tidak memihak atau memilih hal-hal yang memiliki nilai utama/tinggi atau nilai nista/rendah. Jadi, untuk mengimbangi kekuatan yang mempunyai nilai berlawanan itu, maka kelasifikasi dua dikembangkan menjadi kelasifikasi tiga, sehingga terbentuklah posisi yang ketiga yang disebut pusat/sentral. Orang Bali memandang sesuatu yang bernilai utama/tinggi maupun bernilai nista/rendah adalah merupakan bagian dari keseluruhannya. Oleh karena itu, tidak akan ada yang bernilai utama/tinggi, kalau tidak ada yang bernilai nista/rendah. Dalam hubungan ini, kehidupan orang Bali dituntut untuk mempertahankan keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan itu sehingga tidak ada salah satu mencapai nilai lebih tinggi atau sebaliknya yaitu lebih rendah. Jadi, kelasifikasi tiga ini memiliki sifat tri-tunggal. Hal ini berarti, walaupun dibagi menjadi tiga level, yakni utama/tinggi- madya/sedang-nista/rendah, pada hakikatnya menjadi satu kesatuan. Kelasifikasi tiga yang mengandung nilai utama/tinggi-madya/sedang-nista/rendah ini mendasari pola pikir, perasaan, prilaku atau tindakan orang Bali yang tercermin pula pada orientasi arah di Bali (Atmaja, 2003: 47).
Pada teks tutur Kanda Sangalukun selain mengungkap ajaran Pengider Bhuana juga mengungkap aspek-aspek lain yang erat sangkut pautnya dengan ajaran Pengider Bhuana. Aspek-aspek lain yang dimaksud berupa ajaran-ajaran tentang konsep Padewasan (baik-buruknya waktu), ajaran tentang Dharma Pewayangan (aturan-aturan menjadi seorang dalang/orang yang mementaskan/memainkan/menarikan wayang), ajaran tentang hakikat kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa yang ada pada badan, dan ajaran tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Keseluruhan ajaran-ajaran tersebut diungkapkan menjadi satu kesatuan tak terpisahkan yang diungkapkan dalam tutur Kanda Sangalukun. Seperti kutipan teks tutur Kanda Sangalukun pada bagian pemahbah (pendahuluan) sebagai berikut:
Ong awignam astu nama sidi.
                        Iki tutur kanda sangalukun nga, sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa palinggih Batara Nawasanga, darma pawayangan, sastra panten, muang pasuk wetunia, buwana alit, muang buwana agung, nga. Gumi muah gunung, telas sapretékania.
                                                            (Teks Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
Semoga tiada mendapat halangan,
Inilah Tutur Kanda Sangalukun namanya. Semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai mengenai pedewasan, sthana Dewata nawa sanga, dharma pawayangan, ilmu tentang hakikat kehidupan dan kematian, beserta keluar masuknya jiwa di badan ini, beserta bhuana agung namanya, bumi serta pegunungan, beserta semua geraknya.
                                                (Teks Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Berdasarkan kutipan tersebut ajaran Pengider Bhuana yang berisi tentang sembilan penjuru arah mata angin sebagai tempat bersemayamnya Dewa-dewa yang disebut Dewata Nawasanga. Di sembilan penjuru arah mata angin tidak hanya bersemayam para Dewa, akan tetapi juga dikuasai oleh para Bhuta Kala. Hal tersebut sesuai dengan keyakinan Umat Hindu di Bali yang mengenal konsep Dewa Ya Bhuta Ya. Sehingga ajaran Pengider Bhuana sangat erat kaitannya dengan Padewasan (baik-buruknya waktu), pada hari yang tergolong hari baik (dewasa ayu) sebagai hari turunnya para Dewa untuk memberikan anugerah-Nya kepada seluruh isi alam semesta, sedangkan pada hari-hari yang tidak tergolong ke dalam hari baik adalah saat berkeliarannya Bhuta Kala yang menyebarkan adanya kekacauan, penyakit, dan juga bencana.
Pada prinsipnya, aspek-aspek Bhuta Kala memang sudah tertanam di dalam diri setiap manusia berupa Ahamkara (ego). Apabila seseorang tidak mampu mengendalikan Ahamkaranya saat itulah sifat Bhuta Kala nya muncul yakni berupa sifat-sifat iri hati, dengki, pendendam, bengis, pemarah, dan sifat-sifat buruk (adharma) yang lainnya. Sebaliknya apabila Ahamkara pada diri seseorang telah mampu dikendalikan, sesungguhnya Ahamkara (ego) tersebut justru akan mampu diarahkan ke hal-hal atau perilaku-perilaku yang baik (dharma) sesuai dengan ajaran Agama Hindu.
Sesuai dengan isi teks tutur Kanda Sangalukun, maka pembahasan selanjutnya adalah analisis beberapa ajaran sebagai bagian dari ajaran Pengider Bhuana yakni terdiri dari: ajaran Padewasan, ajaran Dharma Pewayangan, ajaran tentang hakikat kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa, dan ajaran tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang akan dikupas berdasarkan persepsi dari masyarakat.
Konsep Padewasan Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Dewasa dan Wariga adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh Umat Hindu khususnya di Bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan Jyotisa Sastra sebagai salah satu Wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu Weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para Pendeta dalam memberikan petunjuk baik-buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistem sraddha Hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu (I Ketut Marma, wawancara 17/02/2015).
Dewasa atau diwasa (Sanskerta) berarti saat, waktu, jam, tanggal/pangelong, hari. Padewasan berarti ilmu yang menguraikan tentang cara memilih atau menetapkan baik-buruknya hari (ala-ayuning dewasa) berdasarkan sifat-sifat atau watak suatu hari seperti yang termuat di dalam Wariga (Ni Made Sukeranis, wawancara 17/03/2015).
Dalam kehidupan sehari-hari, padewasan itu penting untuk memilih dan menetapkan kapan saat/hari yang baik (dewasa ayu) untuk melaksanakan suatu kegiatan seperti yadnya, pertanian, pembangunan dan usaha-usaha atau pekerjaan-pekerjaan penting lainnya supaya berlangsung dengan selamat/rahayu dan berhasil dengan baik (sidha kārya). Demikian pula padewasan penting untuk mengetahui saat/hari yang tidak baik (dewasa ala) agar dalam melaksanakan kegiatan seperti yadnya dan lain-lain tidak mendapat halangan atau masalah atau gagal/tan sidha kārya (Gede Yunarta, wawancara 17/02/2015).
Berdasarkan persepsi dari ketiga informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa intisari dari ajaran Padewasan yang ada pada konsep Pengider Bhuana adalah keberadaan Dewa-dewa dalam konsep Dewata Nawasanga sangat erat kaitannya dengan ala-ayuning dewasa (baik-buruknya waktu). Hari baik merupakan hari turunnya para Dewa memberikan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan pada seluruh penjuru arah alam semesta, begitupun sebaliknya hari hari kurang baik yang disebut dewasa ala merupakan waktu turunnya segala hal yang sifatnya jahat, bringas, dengki, pemarah, dan lain sebagainya yang sesungguhnya merupakan cobaan dan batu sandungan bagi kematangan tingkat keimanan dan tingkat pengendalian diri manusia, sehingga menurut keyakinan Umat Hindu arah teben (arah bawah) merupakan tempat bagi para Bhutakala.
Padewasan adalah bagian dari ilmu Wariga, sehingga berbicara tentang padewasan perlu memahami pengertian Wariga. Ilmu Wariga menurut lontar Keputusan Sunari mengatakan bahwa kata Wariga berasal dari dua kata, yaituwara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasannya dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. Dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke ‘terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari, sedangkan menurut lontar Wariga Gemet diungkapkan pengertian Wariga dalam kutipan seperti berikut:
“ika pawaking sang wiku, wruning wariga gemet, wa, ng, aphadang, ri, nga, tungtung. ga, nga, carira. Ika carira, tanpa carira, nga. Tan padwe budhi, hala hayu, Wwang ring kasaman tasak ring padhartta, dhiksita, blahaning hango budhi”.
  Terjemahannya:
Itu bagaikan badan sang pandita, yang mengetahui tentang wariga gemet. Wa adalah terang. Ri adalah ujung/puncak. Ga adalah badan. Itu adalah badan yang tidak berwujud, namanya. Tidak mempunyai budhi, buruk baik. Orang yang demikian adalah matang dalam kebijaksanaan.
Jadi arti kata Wariga adalah ujung atau/puncak badan terang. Maksudnya adalah dapat mencapai sinar suci dalam diri sendiri yaitu Sang Hyang Widhi Wasa, selain itu ada pula yang mengatakan Wariga berasal dari kata “wara” yang berarti hari, dina, raina dan kata “iga” yang berarti itu, jadi Wariga diartikan sebagai suatu ilmu yang menguraikan tentang hari-hari yang baik dan hari-hari yang buruk untuk melaksanakan suatu yadnya, upacara atau suatu pekerjaan. Ilmu Wariga berfungsi untuk menuntun Umat Hindu untuk mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Hampir seluruh kegiatan dipengaruhi oleh waktu. Semua kegiatan pekerjaan, upacara, yadnya tiada lepas dari Wariga Padewasan, waktu atau dauh.
Adapun kutipan ajaran tentang Padewasan yang diungkapkan dalam teks tutur Kanda Sangalukun adalah sebagai berikut:
“…sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
            “…Semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai mengenai padewasan (baik-buruknya waktu)…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
“…Bagawan Parasu, Korsika, Bagawan Bregu ngisi sastra uriga, sundari bungkah, sundari terus…
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Terjemahannya:
            “…Bhagawan Parasu, Bhagawan Bergu, Bhagawan Korsika yang menguasai pengetahuan Wariga, Sundari Bungkah, Sundari Terus…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 2a)
Ketentuan atau dasar hukum ilmu wariga termuat dalam lontar Wariga Gemet sebagai berikut: Wewaran halah dening Wuku, Wuku halah dening tanggal/Panglong, Penanggal/Panglong halah dening Sasih, Sasih halah dening Dawuh, Dawuh halah dening Hning. Wetunya Sanghyang Tridasa Saksi.
Maksud dari ketentuan diatas bahwa akhirnya semua dapat diatasi dengan 13 kekuatan atau manifestasi Tuhan (kesucian bhatin yang merupakan perwujudan Tridasasakti yang disebut juga Sanghyang Trayodasha Sakti : Aditya (matahari), Candra (bulan), Anila, Agni (api), Apah (cair), Akasa (ruang/langit), Pretiwi (padat/bumi), Atma, Yama (sabdha), Ahas (siang), Ratri (malam), Sandhya (senja), Dwaya (pagi). Sehingga dapat disebutkan bahwa, yang berperan dalam Wariga adalah: Pertama; manah (pikiran) yang hening, kedua; dalam wariga adalah dawuh (waktu), ketiga; adalah Sasih, keempat; adalah tanggal/panglong, kelima; adalah perhitungan Wuku, keenam;  adalah Wewaran. Dari ilmu Wariga dapat ditentukan dauh ayu (hari baik) atau Padewasan, yang  dapat dibedakan menjadi : Untuk kepentingan sehari-hari; cukup dengan perhitungan hari dan pawukon saja, untuk kepentingan jangka lama/berkala; seperti di atas ditambah perhitungan baik buruknya tanggal/panglong, sasih bahkan dawuh, untuk padewasan berkala sebaiknya mohon pada Sulinggih (orang suci) atau yang bekompeten untuk itu. Untuk susksesnya suatu pekerjaan sangat tergantung dari kesepakatan dari Sang Tri Manggalaning Yadnya yaitu: Sang Yajamana; orang yang beryadnya, Sang Widya; penyelenggara (tukang/Serati), Sang Sadaka; Sang Sulinggih (orang suci) yang akan menyelesaikan (muput) jalannya suatu upacara (Ardhana, 2006: 18-19).
Hal-hal yang dipelajari dalam ilmu Wariga diantaranya; Wewaran, Wuku, Tanggal dan Pengelong, Sasih, dan Dauh/dedauhan.
Yang dimaksud dengan Wewaran adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai urip/neptu, tempat, dan Dewata yang dominan. Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dan seterusnya. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya.  Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasan (baik-buruknya dewasa). Siklus ini dikenal misalnya dalam sistem kalender Hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut: (1) Eka Wara; luang (tunggal), (2) Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup), (3) Tri wara; pasah, beteng, kajeng, (4) Catur Wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah), (5) Panca Wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur), (6) Sad Wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak), (7) Sapta Wara; redite (minggu), soma (senin), anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), taru (kayu), sato (binatang), patra (tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung), (8) Asta Wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara), (9) Sanga Wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi), (10) Dasa Wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), raja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras). Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentukan ukuran baik-buruknya suatu hari. Nilai itu disebut urip atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan (Ardhana, 2006: 19).
Disamping perhitungan hari berdasarkan wara sistem kalender yang dipergunakan dalam Wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memiliki umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite). Setiap wuku juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan Dewa yang dominan, juga kesemuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasan. 1 Tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 Tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari. Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut: Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Taulu, Gumbreg, Wariga, Warigadean, Julungwangi, Sungsang, Dunggulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut dan Watugunung (Ardhana, 2006: 19).
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan Pangelong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari tilem (bulan mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh). Padewasan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu: (1) Padewasan menurut catur laba (empat akibat: baik-buruk-berhasil-gagal), (2) Padewasan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda, (3) Padewasan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita, (4) Padewasan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong misalnya: Amerta Dewa, yaitu Sukra (hari jumat) penanggal ping roras, baik untuk semua upacara.
Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 Maret. Padewasan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan (pernikahan), yadnya, dan lain sebagainya. Adapun pembagian sasih tersebut adalah; (1) Kedasa = Mesa = Maret – April, (2) Jiyestha = Wresaba = April – Mei, (3) Sadha = Mintuna = Mei – Juni, (4) Kasa = Rekata = Juni – Juli, (5) Karo = Singa = Juli – Agustus, (6) Ketiga = Kania = Agustus – September, (7) Kapat = Tula = September – Oktober, (8) Kelima = Mercika = Oktober – November, (9) Kenem = Danuh = November – Desember, (10) Kepitu = Mekara = Desember – Januari, (11) Kewulu = Kumba = Januari – Februari, dan (12) Kesanga = Mina = Februari – Maret (Ardhana, 2006: 20-21).
Dauh/dedauhan Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauhan ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara Hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WITA). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain; (1) Redite = siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00, (2) Soma = siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06, (3) Anggara = siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00, (4) Buda = siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06, (5) Wraspati = siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30, (6) Sukra = siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30, dan (7) Saniscara = siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30. Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu: (1) Dawuh Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ pangelong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh), (2) Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh), (3) Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh), (4) Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong), (5) Dawuh Inti yaitu waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca Dawuh dengan Astha dawuh (Ardhana, 2006: 21).
Yang dimaksud dengan kodrat adalah kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan manah (pikiran) hening suci nirmala. Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu. Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dan lain sebagainya, maka Padewasan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…” Pelaksanaan padewasan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu: (1) padewasan sadina artinya sehari-hari, dan (2) padewasan masa artinya berkala. Padewasan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut Sadulur adalah padewasan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon. Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung (Ardhana, 2006: 21).
Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara 14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, dan Ugu. Di samping itu ada juga dewasa yang tidak baik untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang bukan Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di gni saja masih dibolehkan (Ardhana, 2006: 26).
Semua kehidupan di Dunia ini tidak terlepas dari pengaruh waktu dan keadaan alam. Begitu pula dengan aktifitas keseharian orang Bali yang selalu berpedoman pada dewasa. Dan khusus untuk waktu (dewasa) kelahiran akan berpengaruh terhadap perwatakan seseorang, terutama saat pemotongan tali pusarnya. Saat kelahiran terjadi, merupakan awal masuknya unsur-unsur zat yang terkandung di Bhuwana Agung ke dalam Bhuwana Alit, dan sekaligus menandai berakhirnya seluruh suplai sari-sari makanan dari sang ibu kepada si jabang bayi melalui tali pusar. Itulah pertanda awal sang bayi menghirup udara langsung dari alam semesta.
Sejatinya, tidak ada yang kekal dalam alam fana ini kecuali perubahan. Setiap detik terjadi perubahan pada jiwa dan raga manusia secara kodrati. Maksudnya, kodrat hidup sebagai manusia selalu berubah dan ada batasannya, yakni saat terlahir adalah ringan belum mengerti tentang kehidupan. Kemudian bertumbuh menjadi anak remaja, dewasa, bertambah berat mulai mengerti tentang kehidupan, dijejali dengan kenikmatan duniawi. Selanjutnya, akan kembali menjadi ringan, pada batas akhir kehidupan di dunia, menjauhi kenikmatan dunia terhadap ragawi, serta melepas keterikatan sanak keluarga yang membebani pikiran.
Oleh sebab itu, hidup di Dunia hanya sebagai suatu proses pemurnian bagi sang jiwa dengan adanya suatu proses tersebut, maka tidak bisa lepas dari hakikat sang waktu. Segalanya akan tunduk pada sang waktu, hanya dengan menyadari akan hal ini hendaknya kehidupan ini dipergunakan untuk berbuat baik sesuai dengan ajaran Agama Hindu sehingga dalam proses pendakian spiritual yang panjang bahkan melewati siklus reinkarnasi/punarbhawa berkali-kali akan membawa sang jiwa pada titik kemurniannya dan menyatu dengan sumbernya yang maha tunggal yaitu Brahman/Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep Dharma Pewayangan Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Dharma Pewayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing para dalang dalam melaksanakan swadharma/kewajiban sebagai dalang. Disamping itu secara tidak langsung juga merupakan rambu-rambu yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran agama dan etika. Memang sampai saat ini belum ditemukan adanya buku petunjuk semacam Dharma Pewayangan pada teater lain (misalnya dengan nama Dharma Palegongan, Dharma Paarjan, Dharma Pewayang-wongan, dan lain sebagainya). Belakangan ini ada ditemukan Dharma Pewayangan Gambuh, diduga penulisnya adalah I Ketut Rinda (Alm), seorang sastrawan, seniman tari, dan dalang, berasal dari Blabatuh (Gianyar). Buku tersebut isinya mengenai petunjuk yang membimbing para dalang mementaskan Wayang Gambuh, tidak menyinggung dramatari Gambuh walaupun mempergunakan repertoar yang sama yaitu cerita Malat (Nyoman Sukadana, wawancara 17/02/2015).
Dharma Pewayangan adalah kewajiban dan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh seorang  dalang sebagai penunjuk jalan bagi sang dalang yang berfungsi sebagai pengendalian diri agar menjadi seorang dalang yang memiliki taksu/karisma di dalam dirinya (Ni Made Sukeranis, wawancara 17/02/2015).
Dharma Pewayangan berkaitan dengan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang dalang, termasuk melangkahkan kaki pada saat akan mementaskan wayang diikat oleh aturan-aturan tertentu, seorang dalang juga harus betul-betul memahami arah mata angin sesuai keyakinan Umat Hindu sehingga seorang dalang tidak salah melangkah dalam menjalani kehidupannya (Nyoman Maker, wawancara 17/02/2015).
Berdasarkan ketiga persepsi di atas dapat disimpulkan bahwa Dharma Pewayangan adalah sistem peraturan yang sifatnya mengikat bagi seorang dalang sebagai langkah yang sifatnya mendasar dalam hal pengendalian diri untuk mencapai kebahagiaan baik bagi sang dalang maupun bagi orang lain yang menikmati pertunjukan wayang.
Kata ‘dharma’ dalam kamus Jawa Kuno-Indonesia karangan L. Mardiwarsito berarti pokok ajaran, doktrin, hukum, undang-undang. Kemudian dharma dapat pula berarti Ketuhanan, kebatinan, kewajiban suci, setia jujur adil, kebenaran, kebajikan, agama, dan sabar. Dalam kaitan tersebut di atas, dharma lebih cenderung diartikan sebagai pokok ajaran dan kebajikan, sehingga dengan demikian Dharma Pewayangan dapat diartikan hal-hal yang baik yang patut diketahui tentang seluk-beluk (pertunjukkan) wayang, atau pokok ajaran atau kebajikan tentang segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan pertunjukkan wayang. Hooykaas sendiri menafsirkan arti Dharma Pewayangan itu sebagai rumus-rumus atau aturan pertunjukkan wayang kulit, Ia menyebutnya sebagai the formulas of the shadow play.
Naskah Dharma Pewayangan, tidak hanya merupakan tuntunan bagi para dalang dalam mempelajari keterampilan ngwayang, akan tetapi mencakup keterampilan dalam menghayati dan melaksanakan unsur-unsur mistik dari pertunjukkan wayang. Pernyataan tersebut akan semakin jelas kalau dihubungkan  dengan kalimat awal salah satu lontar Dharma Pewayangan sebagai berikut …”Nihan tutur purwa wacana ngaranya Dharma Pewayangan, wenang ingangge de Sang Amangku Dalang, ring wong tumaki-taki mangwayang…”, terjemahannya adalah: “inilah wacana sebagai pembuka kata, yang bernama Dharma Pewayangan, patut dipakai sebagai tuntunan oleh Sang Mangku Dalang, demikian juga kepada mereka yang bersiap-siap akan melaksanakan pertunjukkan wayang (Wicaksana, 2007: 96-100). Dalam garis besarnya, struktur isi naskah Dharma Pewayangan dapat digolongkan menjadi 10 bagian antara lain:
1)      Bagian Pendahuluan, yang mengandung hal-hal yang bersifat metafisik, seperti: (a) merupakan suatu kewajiban setiap dalang agar mempelajari dan melaksanakan isi lontar Dharma Pewayangan; (b) Sang Amangku Dalang (dapat) bertindak sebagai bumi, bhuta, dan Dewa (‘…mwak gumi, mwak bhuta, mwak Dewa); (c) hendaknya Sang Amangku Dalang maklum akan adanya yang disebut Dalang Catur Loka Pala (empat macam dalang) antara lain: Dalang Samirana, Dalang Anteban, Dalang Sampurna, dan Dalang Jaruman; (d) tempat para tokoh wayang dalam badan manusia, seperti wayang kiri (pangiwa) bertempat di hati, dan wayang kanan (panengen) bertempat di nyali; (e). demikian juga pandasar/panasar (pana-kawan): Delem (baca: Délem) bertempat di penggantungan jantungan hati, Mredah bertempat di penggantungan ginjal, dan Sangut di nyali, dan seterusnya.
2)      Bagian yang menggambarkan perbuatan dan mantra-mantra yang dianggap penting bagi sang dalang, antara lain: (a) apa yang harus diperbuat di pemesuan (pintu pekarangan) kalau berangkat ngwayang; (b) apa yang diperbuat atau dilakukan pada waktu sampai di rumah orang yang menanggap wayang; (c) mantra untuk pasepan (dupa); (d) mantra pada waktu nebah kropak ping tiga (mengetuk gedog/kotak tiga kali); (e) mantra pada waktu mengambil wayang; (f) mantra pada waktu akan memainkan kekayonan; (g) hal-hal yang harus dilakukan pada waktu mulai duduk ngwayang, dan mantra yang diucapkan: “…pangembak swara ning kropak, cepala, mwang swara ning amuwus” (meningkatkan volume suara gedog/kotak, cepala, dan dalang); (h) mantra pada waktu membuat Pengeger (menarik perhatian penonton): Pengulap swara (suara besar dan panjang), Pangraksa jiwa (jiwa sang dalang bisa aman), Pangurip wayang (wayang terasa hidup), nyimpen wayang (menyimpan wayang), penyimpenana pandasar (menyimpan wayang panakawan), dan lain-lainnya.
3)      Bagian yang menggambarkan Sang Amangku Dalang, dan mantra-mantra yang berfungsi sebagai panglukatan/panyudamalan (penyucian), antara lain panyudamalan untuk orang yang masih hidup, untuk orang mati dan masih ada mayatnya (wong pejah mawatang), untuk orang mati yang tidak wajar dan mayatnya tidak ada lagi (wong salah pati tan pawatang), dan lain sebagainya.
4)      Bagian yang memuat mantra-mantra yang diucapkan oleh dalang dalam rangkaian upacara orang meninggal, antara lain mantra pada waktu sang dalang akan akakawin/amanjang (melagukan tembang gede), pada Wadah (menara usungan mayat) yang diusung ke kuburan, mantra pada waktu air suci (toya) pada mayat, mantra angeseng sawa (pembakaran mayat), dan lain-lainnya.
5)      Kegiatan dan mantra pada waktu oton (kelahiran) wayang.
6)      Mantra untuk membuat air suci (toya) yang dipercikkan kepada wayang-wayang dan sarana yang lainnya.
7)      Aktivitas yang dilakukan sang dalang pada waktu ngetisin toya wayang (memercikkan air suci untuk wayang), dan untuk yang lainnya.
8)      Mantra-mantra yang didasarkan (diucapkan) pada waktu membuat wayang, pada waktu mewarnai wayang, dan pada waktu mlaspasin (mensucikan) wayang.
9)      Pantangan-pantangan bagi Sang Amangku Dalang, antara lain pantangan kalau diberikan makan oleh penanggap wayang, jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan, apa yang harus dilakukan pada waktu makan nasi dan minum air, mantra yang harus didasarkan untuk membasmi hal-hal yang membahayakan, dan lain-lainnya.
10)        Pahala yang diterima Sang Amangku Dalang yang taat melaksanakan isi lontar Dharma Pewayangan, antara lain ia boleh mengambil upah (nunas sesari), boleh melaksanakan pertunjukkan wayang panyudamalan, ia dapat dikatagorikan sebagai “dalang utama”, ia akan mendapat keselamatan lahir dan bathin, dan lain-lainnya (Wicaksana, 2007: 96-100).
Konsep Kelepasan Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Secara keseluruhan karya sastra klasik sebagian besar memuat pedoman dan pandangan yang tajam terhadap ajaran spiritual. Secara umum prinsip semacam ini dapat memberikan konsep yang riil terhadap fungsi banyaknya umum terhadap sikap yang abstrak. Maka dengan demikian konsepsi ajaran yang memuat prinsip kelepasan harus dapat dipercaya dengan penuh keyakinan. Melalui konsep yang demikianlah lepasnya ātma dari tubuh manusia untuk dapat bersatu dengan Tuhan memberikan dasar keyakinan batiniah di hati manusia. Berbicara masalah konsepsi ajaran kelepasan yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun adalah ajaran yang sangat tinggi yang memuat ajaran tentang rahasia Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (alam kecil atau tubuh manusia).
Secara prinsip ajaran kelepasan merupakan ajaran yang rahasia. Maka dengan demikian metode pengajarannya pun bersifat rahasia jnanam yang berarti seseorang tidak sembarangan bisa memahami ajaran kelepasan tersebut. Pada umumnya bentuk ajaran kelepasan merupakan ajaran yang sudah tua yang sudah diajarkan pada masa kerajaan Majapahit. Pada waktu itulah seorang pujangga besar menyadur lontar-lontar yang berbahasa Jawa Kuno maupun berbahasa Sanskerta untuk memudahkan kalangan masyarakat memahaminya. Konsepsi ajaran kelepasan yang bersifat original benar-benar sangat dirahasiakan karena ajaran semacam ini hanya bisa berlaku di lingkungan tertentu (Gede Yunarta, wawancara 17/02/2015).
Di dalam lontar tutur Kanda Sangalukun disebutkan ajaran kelepasan/kamoksan. Walaupun pemaparannya tidak secara mendetail, namun di dalamnya tersirat makna kelepasan yang sangat rahasyam tidak sembarang orang dapat memahami dan mengalaminya. Adapun kutipan ajaran kelepasan/kamoksan yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun adalah sebagai berikut:
“…Sang Hyang Taya ngisi kamoksan…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Terjemahannya:

            “…Sang Hyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8a)
Berdasarkan kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di atas disebutkan bahwa Sang Hyang Taya adalah sebutan lain untuk Tuhan itu sendiri. Tuhan Yang Maha Esa memiliki banyak sebutan yang sering dijumpai pada lontar-lontar yang ada di Bali diantaranya; Sang Hyang Taya, Sang Hyang Licin, Hyang Nirbana, Hyang Tunggal, dan masih banyak sebutan yang lainnya. Pada prinsipnya, kelepasan atau kamoksan adalah kondisi menyatunya ātman dengan Brahman.
Adanya Pengider Bhuana menunjukkan bahwa Siwa yang menguasai arah Tengah sebagai pusat dari segala arah, maka sesuai dengan paham Siwa Siddhanta yang berkembang di Bali semakin memperkuat keyakinan Umat Hindu bahwa Siwa adalah pusat atau sumber dari setiap ciptaan-Nya, maka Siwa adalah Brahman itu sendiri dan merupakan tujuan akhir dari kehidupan ini yang disebut dengan kelepasan atau moksa.
Kelepasan/kamoksan adalah menyatunya ātman dengan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai sumber penyebab segala kehidupan di Dunia, yang merupakan esensi tertinggi yang kekal abadi, secara umum, moksa merupakan tujuan akhir hidup manusia, lebih-lebih bagi penekun spiritual, demikian pula wiku, merupakan hakikat hidup yang sejatinya sangat patut diusahakan agar mampu dicapai. Kelepasan/kamoksan tidak lagi mendatangkan esensi dunia maya yang penuh dengan belenggu yang menyebabkan manusia berputar-putar pada lingkaran reinkarnasi. Dengan demikian, kelepasan/kamoksan adalah kedamaian abadi yang kekal, yang tidak terlahirkan kembali. Maka dari itu memang benar adanya bahwa tujuan tertinggi Agama Hindu adalah untuk mencapai moksa/kebahagiaan abadi (mokshatam jagaditha ya ca iti dharma) baik semasih hidup di Dunia maupun setelah kematian manusia.
Konsep Tentang Hakikat Jiwa Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Agama Hindu meyakini bahwa jiwa disepadankan dengan ātman, ātman yang menghidupi badan disebut jiwātman. Esensi ātman adalah entitas yang menghidupi setiap badan pada makhluk hidup. Keyakinan terhadap adanya ātman merupakan Sraddha yang kedua dalam Panca Sraddha. Analogi sederhana yang perlu dipaparkan guna mempermudah pemahaman mengenai ātman yaitu bahwa ātman merupakan mesin yang dapat menghidupi dan memfungsikan tubuh manusia sesuai dengan tugasnya masing-masing, seperti halnya panca indriya yang bertugas sesuai dengan fungsinya karena berkat adanya ātman. Semua makhluk dapat hidup sesungguhnya ātmanlah sebagai penyebabnya, sedangkan ātman adalah percikan kecil dari Paramātman. Bila ātman meninggalkan badan maka makhluk itu mati. Bila ātman sudah tidak ada dalam tubuh maka unsur-unsur pembentuk tubuh pun hancur kembali pada asalnya (Ketut Agus Nova, wawancara 17/02/2015).
Badan adalah prakrti dan jiwa adalah purusha, dua unsur yang menyebabkan terjadinya kehidupan. ātman adalah jiwa atau roh. Dalam kitab suci Weda dinyatakan bahwa ātman adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa. Sloka yang berbunyi “Brahman Ātman Aikyam” terdapat dalam kitab Upanisad yang artinya Brahman dan ātman adalah tunggal. ātman diumpamakan sebagai seberkas cahaya matahari yang terpancar ke seluruh alam semesta yang berasal dari satu bersumber tunggal yaitu matahari itu sendiri. Seperti itulah adanya ātman yang sesungguhnya berasal dari Brahman, kemudian merasuki serta memberi penyebab hidup pada badan jasmani dari setiap makhluk. Nama lain dari ātman adalah Siwātman atau Jiwātman, yakni jiwa yang berasal dari Tuhan dalam fungsi memberi energi kehidupan bagi semua makhluk hidup, serta memberikan kekuatan hidup bagi alam semesta sebagai tempat hidup setiap makhluk. Oleh karena itu, berbicara ātman tidak terlepas dari pembahasan tentang Tuhan, maka ātman pun sama seperti sifat-sifat Tuhan yakni bersifat gaib, tidak mengenal kelahiran, kematian, kekal abadi, seperti yang diungkapkan dalam Bhagavad Gitā II, Hal. 30-31:
na jayate va Radacinnayam bhutva
bhvita van a bhuyah, ajo nityah sasawatoyam
purano na hanyate hanyamane sarira
(Suweta, 2013: 14)
Terjemahannya:
Roh tidak pernah dilahirkan dan juga tidak pernah binasa, ataupun tidak pernah ada karena dilahirkan. Ia adalah kekal dan tetap ada serta tidak pernah terbunuh meskipun badan jasmani terbunuh atau hancur.

Sloka di atas dengan sangat jelas mengungkap sebuah hukum kebenaran  bahwa ātma atau jiwa tidak pernah mati oleh karena itu ātma tidak dapat dibunuh dan juga bukan pembunuh. Ātman juga luput dari siklus kehidupan dan kematian karena ātman tidak pernah dilahirkan. ātman bersifat abadi atau kekal, walaupun badan hancur ātman yang menjiwainya tetap ada. Ketika badan yang ditempatinya telah hancur maka ātman akan menempati atau menjiwai badan yang lain melalui kelahiran badan-badan pada generasi berikutnya. Ini adalah hukum kebenaran tentang keadaan jiwa yang sejati, badan yang telah hancur akan ditinggalkan oleh jiwātma dan memasuki badan yang baru, seperti yang diuraikan dalam kutipan Bhagavad Gitā di bawah ini:
Vasamsi jirnani yatha vihaya
Navani grhnati naro parani
Tatha sarirani vihaya jirnany
Anyani samyati navani dehi
                                                (Suweta, 2013: 15)                             
Terjemahannya:
Sebagaimana seseorang melemparkan bajunya yang sudah sobek dan memakai yang baru lainnya demikian juga keadaan jiwa yang sejati, jiwātma membuang badan yang telah hancur dan mengambil yang lainnya.
Dalam Kitab Brahma Sútra juga disebutkan tentang perpindahan sang jiwa dari badan kasar pada saat kematian, dalam kitab ini diungkap sebuah kebenaran bahwa pada saat lepas dari badan, roh dibungkus oleh partikel halus dari unsur kasar. Seperti uraian sloka Brahma Sútra sebagai berikut:
“ tadantarapratipattau ramhati samparisvaktah prasnanirupanabhyam. 1.”
                                                                        (Viresvarananda, 2002: 307)
Terjemahannya:

            “ sang roh pergi meninggalkan badan dengan bagian halus dari unsur-unsur, demikianlah dia diketahui dalam kitab suci”
                                                                        (Viresvarananda, 2002: 307).
Sútra ini membahas dalam perpindahannya sang roh membawa serta bagian halus dari unsur kasar sebagai benih sebagaimana adanya untuk badan yang akan datang, kenyataan ini sejalan dengan pandangan tentang hakikat roh menurut Bhagavad Gitā yang juga mengungkapkan bahwa roh akan berpindah dari badan yang rusak atau mati menuju badan baru, sehingga benarlah ungkapan bahwa sang jiwa atau roh bersifat kekal.
Sesungguhnya pikiran dan semua aspek panca indriya manusia tak akan sanggup memberikan definisi yang sempurna untuk hakikat ātman yang sejati, atau dengan bahasa lainnya segala bentuk pemaknaan terhadap ātman berada di luar batas pikiran dan panca indriya manusia, sejatinya pemberian nama, ciri-ciri, serta sifat terhadap hakikat ātman semata-mata hanya untuk mempermudah alam pikiran dan panca indriya untuk memahaminya sesuai dengan sifat alam pikiran manusia dan panca indriya yang serba terbatas, maka menyadari akan hal itu ada benarnya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa suatu keyakinan menyangkut sebuah rasa. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda pada setiap orang akan memberikan sebuah rasa yang memperkuat keyakinannya dalam beragama yang tak dapat diukur dan tak dapat dinilai dengan apapun. Begitu pun dengan keyakinan terhadap adanya ātman sebagai bagian dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa dapat dirasakan dan diyakini melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda pada setiap orang.
Demikian gaibnya ātman itu, ātman yang berasal dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa mempunyai sifat “Antarjyotih” (bersinar tidak ada yang menyinari, tanpa awal dan tanpa akhir, dan sempurna). Sloka Bhagavad Gitā II.23-25 di bawah ini menguaraikan secara mendetail mengenai keagungan Ātman.
Nai’nam chidanti sastrani
Nai’nam dahati pavakah
Na cai nam kledayanty apo (23)
                                                (Suweta, 2013: 15)
Terjemahannya:
Senjata tidak dapat memotong jiwātma, api tidak dapat membakarnya dan air tidak dapat membasahinya, pun angin tidak dapat mengeringkannya.
                                                                                                          
Acchedyo yam adanyo yam
Akledyososya eva ca
Nityah sarvagatah sthanur
Acalo’yam sanatanah (24)
                                                (Suweta, 2013: 15)
Terjemahannya:
Ia tidak dapat dipotong, ia tidak dapat dibakar,
Ia tidak dapat dibasahi, maupun dikeringkan,
Ia adalah abadi, berada dimana-mana, tidak berubah dan bergerak, ia adalah selalu sama.

Avyato’yam acintyo’yam
Avikaryo’yam ucyate
Tasmad evam viditvai ‘nam
Na ‘nusocitum arhasi (25)
                                                (Suweta, 2013: 15)
Terjemahannya:
Ia dikatakan tidak berwujud, tidak terpikirkan, tidak berubah. Oleh karena itu, mengetahui ia demikian engkau seharusnya tidak bersedih hati.

Jadi sumber yang menjadikan setiap makhluk dapat hidup adalah ātman, sedangkan ātman sebagai sumber hidup memerlukan alat yang akan dihidupi yakni alam pikiran dan badan wadagnya. Oleh karena itu, ātman memiliki peranan yang amat penting karena ātman itu yang bersifat abadi tidak mengalami kematian dan terus ada, sedangkan badan itu yang tidak kekal sewaktu-waktu dapat hancur maka ātmanlah yang menerima akibat dari kehidupan jasmani maupun rokhani dari pada makhluk tersebut dan bertanggungjawab terhadap akibat kehidupan jasmani itu.
Adapun naskah tutur Kanda Sangalukun yang mengungkapkan tentang keberadaan ātman dapat dipahami dari kutipan naskah tutur Kanda Sangalukun (1b- 8b) berikut ini:
“…ring papusuh, medal ka nétra tengen…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)

Terjemahannya:

“…di jantung keluar di mata kanan…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)

“…ring paparu medal ka nétra kiwa…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)

Terjemahannya:

            “…dari paru-paru keluar dari mata kiri…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)

                       
“…ring ati, medal ka karna kiwa…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 3a)
Terjemahannya:

            “…di hati, keluar lewat telinga kiri…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 3a)

“…ring usus medal ka karna tengen…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 4a)

Terjemahannya:

            “…di usus keluar lewat telinga kanan…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
                                       

“…ring wungsilan medal ka irung kiwa…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 4b)

Terjemahannya:

            “…dari wungsilan (ginjal) keluar melalui hidung  kiri…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 4b)

“…ring limpa medal ka irung tengen…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 5b)

Terjemahannya:

            “…di limpa keluar ke hidung kanan…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 5b)


“…ring nyali medal ka cangkem…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:

            “…dari empedu keluar ke  mulut…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6a)

“…ring jajaringan medal ka silit…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7a)

Terjemahannya:

            “…dari jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat..”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7a)
“…ring untek mijil ka siwadwara…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7b)

Terjemahannya:

            “…di untek (catik kerongkongan) keluar  ke ubun-ubun (siwa dwara)…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7b)


“…ring tumpuking ati, seleng medal ka purus baga…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Terjemahannya:

            “…di susunan hati, kemudian keluar melalui kemaluan laki dan perempuan (lingga-yoni)…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8b)


“…ring tumpuking papusuh dadu, medal ka slaning lalata…”
                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Terjemahannya:

            “…di tumpukan dua papusuh, keluar di dahi…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 8b)
Menyadari sifat ātman yang amat sempurna, maka manusia hidup ke dunia bertujuan untuk melepaskan ātman dari kekangan dan ikatan duniawi berupa siklus kelahiran berulang-ulang akibat kegelapan dan kebodohan (awidhya) yang mengelabui kesadaran sejati yang dimiliki oleh ātman. Kegelapan dan kebodohan inilah yang menyisakan hasil perbuatan manusia selama hidup yang disebut karma wasana. Dengan berbuat baik (subha karma) sebagai salah satu sifat Brahman akan lebih mendekatkan ātman kepada kesadaran Brahman, dengan berbuat baik atas dasar ketekunan, keuletan, dan pengabdian maka ātman berada pada kesadaran aslinya yaitu sempurna dan kekal abadi sama seperti Brahman sehingga ātman dapat terbebas dari ikatan duniawi dan kembali menyatu dengan Brahman/Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep Tentang Hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit Dalam Pengider Bhuana Pada Teks Tutur Kanda Sangalukun
Alam semesta (Bhuana Agung) seperti ini adanya tentu hal ini berkat kemahakuasaan Tuhan dalam menciptakannya. Sloka suci Bhagavad Gitā dengan sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa asal mula segala yang ada bersumber dari Tuhan, sebagaimana sloka berikut:
Aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate,
Iti matvā bhajante mām budhā bhāva samanvitāh
(Bhagavad Gitā. X.8)

Segala sesuatu yang ada Tuhanlah sebagai asal mulanya, pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa baik makhluk yang bernyawa maupun tidak sejatinya berasal dari Tuhan. Sesungguhnya baik makhluk yang bernyawa maupun tidak sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Kenyataan ini sesuai dengan isi salah satu sloka Bhagavad Gitā yang menyatakan bahwa “dari Aku lahirnya segala sesuatu”, apabila berbicara tentang kelahiran, maka sebuah makna kehidupan terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, segala sesuatu baik makhluk yang bernyawa maupun tidak, keduanya sama-sama tidak terlepas dari makna kehidupan, sehingga benarlah ungkapan yang menyatakan bahwa roh sebagai hakikat kehidupan bersemayam dalam segala sesuatu baik itu makhluk yang bernyawa maupun tidak.
Adapun uraian yang mengungkap ajaran Bhuana Agung dan Bhuana Alit dalam teks tutur Kanda Sangalukun secara keseluruhan terdapat dalam kutipan 1b-8b sebagai berikut:
“…gunung Agung, swa, surya, tatit, kijapan, pertiwi, kulit padang, bulu, danu Tamblingan…”
“…yéh nyom…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:

            “…Gunung Agung, swa, matahari, kilat, kilatan, bumi, kulit padang bulu, danau Tamblingan…”
            “…air ketuban…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)

            “…danu Buyan né di tegalé nga…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:

            “…danaunya Danau Buyan, yang ada di tegalan itulah namanya…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)

      “…gunung Batukau…”
“…gulem bang metu ring api…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 3b)

Terjemahannya:

            “…Gunung Batukaru…”
            “…awan merah keluar dari api…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 3b)

      “…gunung Mangu…”
“…danu Bratan, né di anginé nga…”
“…pura Taman Ayun…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 5a)

Terjemahannya:

            “…Gunung Mangu…”
            “…yang di angin Danau Beratan namanya…”
            “…Pura Taman Ayun…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 5a)
      “…gunung Batur…”
“…tulang, kayu, krug…”
“…danu Batur, né di yéhé…”
“…pura Sagara…”
“…gulem ireng, metu yéh kagisi ring I Amad…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 6a-6b)

  Terjemahannya:

            “…Gunung Batur…”
            “…tulang, kayu, dan petir…”
            “…Danau Batur sebagai penguasa air…”
            “…Pura Segara…”
            “…awan hitam keluar dari air dikuasai oleh Si Amad…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6a-6b)

      “…awang-awang marupa pelung…”
“…gunung Tulukbiu…”
“…bagawan Tarulan ngisi kilap kerug…”
“…kerug tatit, kilap, metu ring soané, kagisi ring I Cilimaréka…”
“…bangkiang…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 7a-7b)

Terjemahannya:

            “…angkasa berwarna biru…”
            “…Gunung Tulukbiu…”
            “…Bhagawan Tarulan yang menguasai kilatan petir…”
            “…kilatan petir keluar di muara dikuasai oleh I Cilimaréka…”
            “…pinggang…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 7a-7b)


      “…gunung Lampuyang…”
“…ati putih…”
“…pangkung marga tuun ring pritiwi, yéh danu, pritiwi…”
“…gni angin, toya ring pancoran emas manis madu, surya-candra, bintang,tranggana…”
“…pura Bukit…”
“…gulem, ngéndah metu ring rambut, kagisi ring I Mpu Nagarunting…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b-8b)


Terjemahannya:

            “…Gunung Lempuyang…”
            “…Hati yang berwarna putih…”
            “…lembah sebagai jalan turun ke bumi, air danau, tanah…”
            “…api, angin, air di pancuran emas manis madu, matahari, bulan, dan
bintang Tranggana…”
“…Pura Bukit…”
“…awan muncul dan keluar dari rambut dikuasai oleh Mpu Nagarunting…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 7b-8b)

Dari kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di atas dapat dianalisis bahwa keberadaan gunung-gunung, lembah, danau, dan yang lainnya tiada lain atas kemahakuasaan Tuhan. Manusia sebagai bagian dari alam semesta selain memiliki swadharma (kewajiban) menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia, hendaknya manusia juga harus mampu mengolah, menghargai, dan memberdayakan alam sesuai ajaran palemahan dalam konsep Tri Hita Karana, karena sejatinya manusia tak dapat hidup selayaknya apabila alam lingkungannya sudah tercemar karena ulah manusia itu sendiri, begitupun sebaliknya alam juga tidak bisa lepas dari campur tangan keberadaan manusia. Sekalipun demikian, alam lingkungan tempat manusia hidup tetap memberikan sumber daya yang berlimpah bagi kelangsungan hidup semua makhluk. Sehingga benarlah ungkapan bahwa menjaga hubungan yang baik terhadap alam juga berarti sebuah persembahan kepada Tuhan karena Tuhan yang menciptakan alam semesta serta menjadi benih dari kehidupan ini.
Tuhan adalah penyebab awal dari pada kehidupan ini, tiada penyebab lain selain dari-Nya. Jika alam semesta diibaratkan sebuah pohon beringin yang rindang dan besar pada awalnya berasal dari sebuah benih yaitu benih pohon beringin. Begitupun kehidupan di alam semesta ini Tuhan lah sebagai benih yang menjadikannya ada. Pernyataan tentang Tuhan sebagai benih alam semesta juga diuraikan dalam sloka Bhagavad Gitā sebagai berikut:
Bijam mām sarva bhutānām viddhi pārtha sanātanam,
Buddhir buddhimatām asmi tejas tejasvinām aham.

                                                                     (Bhagavad Gitā.VII.10)
‘Ketahuilah, wahaai Partha, Aku ini adalah benih abadi dari semua mahluk, Aku adalah akal dari kaum intelektual, Aku adalah cemerlangnya sinar cahaya’.
Berbicara tentang “benih” maka lebih tepatnya dapat diartikan bahwa benih itu sifatnya hidup, tumbuh, dan berkembang, sehingga benih merupakan awal mula kehidupan yang dapat menjadikan makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Benih kehidupan dalam keyakinan Hindu menunjuk pada keberadaan ātman. Dengan demikian dapat diartikan bahwa setiap makhluk hidup baik itu manusia, binatang, dan juga tumbuhan dapat hidup diakibatkan oleh adanya unsur hidup yang bersemayam di dalamnya yaitu ātman/roh/jiwa. Adapun sloka Bhagavad Gitā yang mengungkap tentang jiwa sebagai sumber segala makhluk adalah sebagai berikut:
Mahātmānas tu mām pārtha daivim prakrtim asritah,
Bhajanti ananya manaso jnatva bhutādim avyayam.

                                                                     (Bhagavad Gitā. IX.13)
‘Tetapi, yang berjiwa mulia yang memiliki sifat kedevataan, mengetahui Aku, sebagai yang tak termusnahkan, sebagai sumber segala mahluk, wahai Partha, memuja-Ku dengan pikiran terpusat’
Tuhan sebagai sumber yang ada dan sumber segala makhluk tercermin dalam hakikat ātman/jiwa sebagai manifestasi Brahman/Tuhan yang menghidupi segala makhluk. Jadi, Tuhan disebut Yang Maha Ada karena sebagai sumber atas segala yang ada. Tuhan tidak hanya menjadi penyebab segala yang ada, tetapi juga alam semesta menyatu dalam diri Tuhan. Sepert uaraian sloka Bhagavad Gitā sebagai berikut:
Ihaika stham jagat krtsnam pasyadya sa carācaram,
Mama dehe gudākesa yac cānyad drastum icchati.

                                                                     (Bhagavad Gitā. XI.7)
‘Lihatlah seluruh alam semesta ini, yang bergerak dan yang tidak bergerak, apa saja yang ingin engkau lihat, wahai Gudakesa, semuanya menyatu dalam badan-Ku ini’.
Kenyataan hidup manusia telah banyak membuktikan bahwa alam semesta benar-benar menyatu dalam diri Tuhan. Hal tersebut dapat dijumpai pada gejala-gejala alam yang tak dapat diprediksi melalui nalar manusia, gejala-gejala alam semesta tiada lain adalah atas dasar kehendak Tuhan karena alam semesta menyatu dalam diri Tuhan maka alam semesta pun memiliki kehendak-kehendak sebagaimana kehendak Tuhan.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa alam semesta ini merupakan penggabungan dari  lima unsur pembentuk alam materi yang disebut pañca mahabhuta, kelima unsur itu adalah; 1) tanah, (2) air, (3) api, (4) udara, dan (5) ether. Apabila dihubungkan dengan tubuh fisik manusia (Bhuana Alit) maka kelima unsur yang disebut pañca mahabhuta ini juga menjadi unsur pembentuknya. Sumber lain yaitu sloka suci Bhagavad Gitā juga memperkuat sekaligus mengembangkan kelima unsur tersebut menjadi delapan unsur prakrti yang disebut asta prakrti Tuhan, sebagaimana uraian sloka berikut:
Bhumir āpo ‘nalo vayuh kham mano buddhir eva ca,
Ahamkāra itiyam me bhinnā prakrtir astadhā.
                                                                     (Bhagavad Gitā. VII.4)
‘Tanah, air. Api, udara, ether, pikiran, budhi, dan ego, merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah’.
Berdasarkan sloka di atas dapat dianalisis bahwa; (1) pikiran, (2) budhi, dan (3) ego merupakan tiga unsur sebagai bagian dari astaprakrti atau 8 (delapan) kelompok unsur yang memiliki kesetaraan dengan unsur tanah, air, api, udara, dan ether. Kedelapan unsur inilah yang membangun alam semesta. Lebih lanjut diungkapkan dalam lontar Aji Sangkhia yang dituangkan dalam geguritan Sucita yang memperkuat pernyataan tentang unsur-unsur pembentuk alam semesta seperti kutipan berikut ini:
Ada keneh ada jagat,
Jagat saking manah mijil,
Cingak saking Aji Sangkhia,
Pertiwi saking apah mijil,
Apah saking teja mentik,
Teja saking bayu metu,
Bayu ndag saking akasa,
Akasa manah ngawitin,
Manah pukuh,
Sangkan manahe kuasa.
                                                                                 (Donder, 2007: 116)
Terjemahannya:

‘Ada pikiran ada dunia,
Dunia lahir dari pikiran,
Lihat di dalam lontar Aji Sangkhia,
Tanah berasal dari air,
Air berasal dari panas,
Panas berasal dari udara,
Udara berasal dari angkasa (ether),
Ether berasal dari pikiran,
Pikiran itu kuat,
Oleh sebab itu pikiran berkuasa’.
                                                                                 (Donder, 2007: 116)
Selain pikiran yang dikatakan sebagai unsur yang paling kuat dalam menciptakan alam semesta, terdapat kekuatan jiwa sebagai roh yang menjiwai alam semesta. Seperti kutipan sloka berikut ini:
Apareyam itas tv anyām prakrtim viddhi me parām,
Jiva bhutām mahābāho yayedam dhāryate jagat.

                                                                     (Bhagavad Gitā. VII.5)
Terjemahannya:

‘Inilah prakrti-Ku yang lebih rendah, tetapi berbeda dengannya, ketahuilah prakrti-Ku yang lebih tinggi, wahai Arjuna unsur hidup yaitu Jiwa yang mendukung alam semesta’.

Seperti uraian sebelumnya yang menyatakan bahwa alam semesta bersumber dari Tuhan, maka sloka Bhagavad Gitā. VII.5 di atas dapat diartikan bahwa jiwa juga bersemayam tidak hanya dalam makhluk hidup secara spesifik namun juga bersemayam dan memberikan unsur dalam keseluruhan alam semesta. Dengan demikian roh atau jiwa bersemayam dalam segala sesuatu.
Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun
            Membahas tentang aspek filosofis itu artinya tidak terlepas dari pengertian mengenai aspek nilai. Menganalisis terhadap suatu karya sastra, tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya pendahuluan yakni memahami pengertian nilai itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum membahas nilai filofis Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun terlebih dahulu diawali dengan uraian tentang pengertian nilai.
Yudibrata dalam Atmaja (1988: 18) berpendapat bahwa nilai adalah tingkat kebajikan atau kebaikan dan atau kegunaan yang memiliki sesuatu, dalam hal susastra nilai-nilai itu diangggap saling berhubungan secara harmonis. Suatu nilai memungkinkan diturunkan dari persepsi seseorang mengenai sesuatu yang luhur dan manusiawi, yang bermutu dan mulia, nilai itu dapat pula diturunkan dari persepsi seseorang tentang sesuatu atas tingkat kegunaannya yang praktis.
Dari uraian tentang pengertian nilai di atas dapat disimpulkan bahwa karya sastra dan nilai terjalin menjadi suatu kesatuan yang saling berkaitan, karya sastra tanpa nilai tentu tidak ada gunanya bagi kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan karya sastra tradisional tutur Kanda Sangalukun, sebagai sebuah karya sastra, tutur Kanda Sangalukun dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat pembaca. Hal ini dikarenakan tutur Kanda Sangalukun dapat menyampaikan nilai-nilai atau sesuatu yang berharga yang berguna bagi masyarakat pembaca. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam tutur Kanda Sangalukun yang akan dikaji adalah nilai kebenaran, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religius.

Nilai Kebenaran
Kebenaran dalam Agama Hindu dikenal dengan istilah Dharma. Setiap orang mencari kebenaran dalam hidupnya, seorang penjahat pun sesungguhnya memiliki pandangan tentang kebenaran, dalam hal ini adalah kebenaran  terhadap tindak kejahatan yang ia lakukan. Oleh karena itu, kebenaran dalam konteks yang sesungguhnya adalah kebenaran universal yang dapat diterima oleh masyarakat luas.
Menurut Donder (2007:94) menyatakan bahwa kebenaran adalah Tuhan dan Tuhan adalah kebenaran. Pernyataan pendek itu mengandung arti bahwa kebenaran mutlak itu hanyalah milik Tuhan dan hanya diketahui oleh Tuhan sendiri. Karena kebenaran itu adalah Tuhan, maka sesungguhnya ketika manusia berbicara yang benar, maka kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran relatif sesuai dengan perspektif yang digunakan. Hanya esensi dari persfektif itu memiliki nilai kebenaran yang sama.
Nilai kebenaran dalam ajaran Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun sangat erat kaitannya dengan ranah kosmologi. Sebelum lebih lanjut membahas tentang nilai kebenaran yang terdapat dalam ajaran Pengider Bhuana, alangkah baiknya terlebih dahulu perlu dicermati pengertian kosmologi dalam konteks penelitian ini.
Menurut Bakker dalam Suweta (2012: 12) menyatakan bahwa kosmologi merupakan ilmu pengetahuan tentang alam ataupun dunia. Berbicara masalah dunia, nampaknya demikian luas, dengan demikian berbicara masalah kosmologi, tentunya sangat sulit diukur. Kata yang tepat untuk mengartikan kosmologi adalah bermacam-macam, dalam hal ini adalah berhubungan dengan hidup sehari-hari maupun dalam konteks ilmu pengetahuan.
Ketika kosmologi bersentuhan  dengan makna kehidupan dunia, maka kajiannya akan bertalian dengan filsafat. Walaupun sejatinya, kajian dalam konteks kosmologi, anasir-anasir yang berbeda senantiasa bersentuhan satu sama lainnya, namun kemudian menyatu dengan padu, guna mencapai keterpaduan dalam suatu makna (Suweta, 2012: 12).
Seperti pengertian kosmologi di atas jika dikaitkan dengan ajaran Pengider Bhuana maka jika dianalisis dari sudut pandang filsafat terdapat nilai-nilai kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Kosmologi membahas tentang keteraturan alam semesta, tanpa ada pengkosmos atau yang mengatur alam semesta ataupun dunia ini maka tentu dunia akan mengalami ketidakteraturan sebagai pemicu timbulnya kekacauan bahkan kehancuran. Demikian pula dalam ajaran Pengider Bhuana keberadaan Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru arah mata angin adalah sebagai pengatur Bhuana (Bumi) agar terus berada dalam keseimbangan.
Jadi, melalui analisis di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nilai kebenaran yang terdapat dalam ajaran Pengider Bhuana dapat dilihat dari hakikat kosmologi yang terkandung di dalamnya. Menurut keyakinan Hindu, pada setiap penjuru arah mata angin bersthana Dewa-dewa atau Dewata Nawasanga yang menjaga dan mengatur pergerakan alam semesta sehingga tetap berjalan dengan harmonis.
Nilai Estetika
Estetika merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan.  Estetika merupakan ilmu yang membahas bagaimana keindahan itu terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Estetika berasal dari bahasa Yunani dari kata aesthetis yang berarti perasaan atau sensitivitas. Keindahan memang erat sekali hubungannya dengan selera, perasaan dan dalam bahasa Jerman disebut gescemack  dan dalam bahasa Inggris disebut sence yang artinya segala pemikiran filosofis tentang seni. Terkait dengan penelitian ini estetika merupakan segala hal yang menyangkut keindahan yang ada pada pandangan seseorang. Pandangan itu sendiri dapat dianggap sebagai sesuatu yang bersifat relatif dan tidak bisa dipastikan sama. Tetapi didalamnya terdapat dua nilai yang penting yang perlu untuk diketahui nilai tersebut yaitu nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Nilai intrinsik adalah nilai yang terkandung dari dalam suatu keindahan, artinya nilai intrinsik biasanya dapat dirasakan dari dalam hati oleh penikmat atau penerimanya, sendangkan nilai nilai ekstrinsik adalah nilai yang terlihat dari luar yang dapat dinilai secara langsung secara kasat mata.
Dalam teks Tutur Kanda Sangalukun nilai ekstrinsik dapat dilihat dari segi bentuk lontar, tulisan, maupun tempat penyimpanan lontar, sedangkan nilai intrinsik menilai tentang makna yang terkandung dalam macam-macam warna sebagai atribut dari para Dewa yang terdapat dalam ajaran Pengider Bhuana pada Tutur Kanda Sangalukun, seperti warna-warna suci dalam ajaran Pengider Bhuana yang dikutip dari Teks Tutur Kanda Sangalukun yaitu di arah Timur warna sucinya putih, di arah Tenggara warna sucinya jingga, di arah Selatan warna sucinya merah, di arah Barat Daya warna sucinya oranye, di arah Barat warna sucinya kuning, di arah Barat Laut warna sucinya hijau, di arah Utara warna sucinya hitam, di arah Timur Laut warna sucinya biru, dan di arah Tengah warna sucinya lima warna (panca warna).
Ditinjau dari sudut pandang nilai keindahannya secara kasat mata, keberadaan warna-warna dalam ajaran Pengider Bhuana menimbulkan rasa keindahan pada saat mata memandang warna-warna tersebut, sedangkan apabila ditinjau dari sudut pandang nilai keindahan dalam bentuk makna yang dikandungnya maka dapat dianalisis bahwa manusia hidup di dunia penuh dengan warna-warni perbedaan mulai dari perbedaan pemikiran, perbedaan karakter, perbedaan kepentingan, hingga pada perbedaan keyakinan, kesemuanya itu tidak harus selalu dijadikan lahan pertentangan, perdebatan, maupun pertikaian karena sesungguhnya keanekaragaman itu akan memberikan warna-warni yang menjadikan kehidupan semakin indah.

4.4.3        Nilai Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang mempunyai banyak arti seperti watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sementara itu bentuk jamak dari kata “ethos” adalah “la etha” yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”) yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi pengertiannya sama dengan “la etha” atau “ethos” yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang pengertian yang sama seperti itu, maka sudah sejak zaman dahulu istilah etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral (Suhardana, 2006: 1).
Adapun kutipan naskah tutur Kanda Sangalukun yang berhubungan dengan ajaran tentang Dharma Pewayangan adalah sebagai berikut:
“…Bagawan Bregu ngisi gurnita Dalang…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:

    “…Bhagawan Bergu memegang gentanya Dalang…”
                                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Berdasarkan kutipan sloka di atas, tersirat sebuah makna yang sangat dalam dan mengandung ajaran Agama Hindu sebagai pedoman hidup di masyarakat. Disebutkan dalam naskah tutur Kanda Sangalukun Begawan Bregu melambangkan Sang pengatur jalannya kehidupan manusia di Dunia, sedangkan lakon atau cerita pewayangan melambangkan alur kehidupan manusia itu sendiri, sedangkan genta yang disebutkan pada naskah itu melambangkan gema atau gelombang arus kehidupan manusia yang dinamis. Sejatinya kehidupan manusia di Dunia Tuhanlah sebagai yang mengaturnya, tiada yang bisa lepas dari kuasa-Nya, sedangkan pasang surut dan segala sesuatu yang dialami manusia sesungguhnya hasil dari perjalanan karmanya baik itu hasil perbuatannya di masa lampau maupun hasil perbuatannya pada kehidupannya saat ini. Tuhan sebagai pengatur sekaligus sumber kehidupan manusia adalah sebuah keadilan yang abadi, tiada yang tidak adil di bawah kuasa-Nya. Melalui perjalanan karma manusia keadilan itu terwujud dalam kenyataan di Dunia.
Oleh sebab itu, hendaknya manusia selalu mengusahakan berbuat kebaikan (subha karma) yang diajarkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melalui ajaran Agama Hindu. Ajaran Dharma Pewayangan  yang terkandung dalam naskah tutur Kanda Sangalukun memiliki makna yang sangat luhur yang bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada umat manusia agar senantiasa berbhakti dan memuja kebesaran serta kemahakuasaan Tuhan dan selalu menjalankan ajaran-ajaran tentang kebenaran (dharma) untuk kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia maupun untuk mencapai kebahagiaan yang abadi (kelepasan/kamoksan) menyatu dengan Tuhan.

Nilai Religius
Salah satu bentuk kepercayaan masyarakat yang sudah dimulai dari zaman dahulu adalah kepercayaan pada suatu kekuatan yang adi kodrati yang terdapat diluar  kekuatan manusia biasa, dan masih terus berkembang hingga pada zaman sekarang ini. Sebagian besar masyarakat di seluruh dunia hingga sekarang ini masih memegang teguh kepercayaan tentang keberadaan suatu kekuatan yang maha gaib yang bersifat adi kodrati, yang bekerja dengan sangat menakjubkan melampaui kemampuan manusia melalui hukumnya dalam menciptakan, memelihara, dan melakukan peleburan terhadap alam semesta ini. istilah religi atau agama terangkum dalam sebuah kepercayaan tentang adanya kekuatan  yang sifatnya adi kodrati seperti penjelasan di atas.
Menurut Taylor menguraikan bahwa kemunculan keinginan manusia untuk menganut sistem religi terdiri dari beberapa faktor:
1.      Manusia mulai sadar akan adanya konsep ruh;
2.      Manusia mengakui adanya berbagai gejala yang tak dapat dijelaskan dengan akal;
3.         Keinginan manusia untuk menghadapi berbagai krisis yang senantiasa dialami manusia dalam daur hidupnya;
4.      Kejadian-kejadian luar biasa yang dialami manusia di alam sekelilingnya;
5.      Adanya getaran (yaitu emosi) berupa rasa kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia sebagai warga dari masyarakatnya;
6.      Manusia menerima suatu firman dari Tuhan (Taylor dalam Koentjaraningrat, 2005:194-195).
Selain faktor adanya kekuatan di luar batas kemampuan manusia, sistem kepercayaan/religi juga didorong oleh faktor kepercayaan terhadap konsep ruh/roh dan gejala alam yang juga tidak dapat dijelaskan melalui daya nalar manusia, serta adanya getaran rasa simpati dan empati yang dimiliki manusia yang satu dengan yang lainnya sehingga secara emosional mendorong manusia cenderung untuk menganut suatu sistem kepercayaan/religi. Melalui daya nalar yang dimiliki manusia berusaha berpikir, merasakan, dan mencermati terhadap gejala-gejala alam yang terjadi pada lingkungan sekitarnya sehingga pada akhirnya manusia percaya dengan adanya suatu kekuatan yang maha besar yang menjadikan alam semesta ini dapat bekerja seperti adanya. Dan kepercayaan tersebut terwujud dalam bentuk agama yang tidak bisa terlepas dari aktivitas-aktivitas ritual yang mendukung agama tersebut.
Pengalaman-pengalaman tentang gejala-gejala alam yang terjadi merupakan dasar empiris yang memperkuat agama serta sebagai bukti bahwa agama bukan hanya sekedar kepercayaan yang dogmatis, agama adalah perpaduan rasa dan juga rasio; dengan rasa yang dimiliki manusia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya bukanlah apa-apa terhadap kekuasaan dan kebesaran alam semesta ini, demikian juga dengan rasio yang dimiliki manusia akan terus terdorong untuk mempelajari dan mengasah kemampuannya sehingga mampu bersinergi dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan memperkuat kepercayaannya dalam meyakini suatu agama untuk tujuan hidup yang harmonis.
Sebagaimana pendapat Taylor terkait dengan sistem religi seperti yang telah dikutip diatas, salah seorang tokoh sosiologi kelahiran kota Lorraine, Prancis yang bernama Emile Durkheim juga mengemukakan pendapat yang hampir mirip, dinyatakan oleh Durkheim bahwa religi mengandung beberapa unsur seperti:
1.      Emosi keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan;
2.      Sistem kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut dan sebagainya;
3.      Sistem ritus dan upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan tersebut;
4.      Kelompok keagamaan atau keastuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut sistem upacara-upacara keagamaannya;
5.      Alat-alat fisik yang digunakan dalam ritus dan upacara keagamaan (Durkheim dalam Koentjaraningrat, 2005: 201-202).
Seperti pernyataan Emile Durkheim di atas bahwa setidaknya ada lima faktor yang mendorong manusia untuk memeluk suatu agama. Emosi keagamaan, kepercayaan akan alam gaib, adanya sistem upacara dan alat-alat pendukungnya merupakan unsur-unsur yang membangun suatu sistem religi. Jika ditarik benang merahnya, ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun merupakan bagian dari sistem aktivitas religius yang juga tidak terlepas dari emosi keagamaan, sistem ritual, dan kepercayaan akan adanya alam gaib.
Adapun uraian yang berisi ajaran Pengider Bhuana  terdapat dalam kutipan teks tutur Kanda Sangalukun 1b-7b sebagai berikut:
“…Né kangin mata, urip 5, Sang Hyang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang Hyang Rawi ring papusuh, medal ka nétra tengen, sanjata bajra, panganggo sastrania; sa, ra, wa, nga, nya, sang swarania, mang, ah, ana, ha, la, ala, tatana, palinggih méru tumpang lima, palinggihan lembu, kakayonan cempaka putih, manuknia micé, sekar tunjung putih…”

                                                            (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)
Terjemahannya:
“…Di Timur: mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara di swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang Rawi (matahari) di papusuh, keluar di mata kanan, senjatanya bajra, aksaranya sa, ra, wa, nga, nya, sang, suara sucinya: mang, ah, ana, ha, la, ala, demikian susunannya. Sthananya (tempat sucinya) pada meru tumpang 5, menunggang lembu, kayunya cempaka putih, burungnya mice, bunganya tunjung berwarna putih…”

                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 1b)

“…Kaja-Kangin urip (angka suci) 8, Sang Manisora, gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi Kundangkasih, ring paparu medal ka nétra kiwa, sanjata dupa panganggo, cecek, sastrania, na, ga, nang, swarania, ih cara, nama, saja, palinggihan méru waja tumpang 8, palinggihan warak, kakayonan kayu sada, manuk curik, sekar tunjung dadu…”
                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)
Terjemahannya:

                        “…Tenggara urip (angka sucinya) 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga, saktinya Dewi Kundang Kasih, dari paru-paru keluar dari mata kiri, memakai senjata dupa, penganggo aksaranya cecek, aksaranya: na, ga, nang, suara sucinya: ih cara, nama, saja, sthananya (tempat sucinya) meru waja tingkat 8, kendaraannya singa, kayunya kayu sada, burungnya curik, bunganya tunjung berwarna jingga…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 2b)

“…Kaja urip (angka suci) 9, kuping Sang Hyang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi Saraswati ring ati, medal ka karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng, sastrania ba, ca, sa/ca/ba/ya, bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga, taja, dadaka, palinggihan méru tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari bang, manuknia gagak, sekar tunjung bang…”
                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 3a)

Terjemahannya:

                        “…Selatan urip 9, telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi Saraswati, di hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya: ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, sthananya (tempat sucinya):  meru tingkat 9, kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak, bunganya tunjung  merah…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 3a)

                        “…Kaja Kauh urip (angka suci) 3, Sang Hyang Rudra, gumi Suranadi, ring usus medal ka karna tengen marupa brintik rangdi, kuranta, istri Déwi Durga, sanjata moksala, panganggo, surang, sastrania, ma, da, mang, swarania éh, tasa, raba, dapa, palinggih méru kakuningan tumpang 3 palinggihan singa, kakayonan dalima wanta, manuk kapudangan, sekar tunjung kuranta…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 4a)
Terjemahannya:

                        “…Barat Daya angka sucinya 3, Sang Hyang Rudra, buminya suranadi, di usus keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik rangdi, kuning emas, saktinya Dewi Durga, senjatanya moksala, hurupnya  ma, da, mang, swaranya (suara sucinya): eh, tasa, raba, dapa sthananya (tempat sucinya) meru kuning tingkat 3, kendaraannya singa, kayunya kayu delima merah, burungnya kepodang, bunganya tunjung berwarna oranye…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 4a)

“…Kauh urip (angka suci) 7, cunguh, Sang Hyang Mahadéwa, gumi suryakarat, marupa kuning jenar, istri Déwi Laksmini ring wungsilan medal ka irung kiwa, sanjata nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta, pa, na/ta/ga/ya, ang, swarania ung, wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas lancung tumpang 7, palinggihan banyak, kakayonan campaka kuning, manuknia dara, sekar tunjung kuning…”

                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 4b)

Terjemahannya:
“…Barat angka sucinya 7, di hidung, Sang Hyang Maha Dewa, bumi kuning keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini, dari wungsilan (ginjal) keluar melalui hidung  kiri, sanjatanya naga pasa, penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga, ca, ang swaranya (suara sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya (tempat sucinya) meru emas tingkat 7, tunggangannya  singa, kayunya cempaka kuning, burungnya dara, bunganya tunjung kuning…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 4b)
“…Kelod Kauh urip (angka suci) 1 jati, Sang Hyang Sangkara, gumi Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi ring limpa medal ka irung tengen, sanjata angkus, panganggo bisah, sastrania sa, ya, bang, swarania uh, ma, ga, dapa, raba, palinggih méru tumpang 1, palinggihan asti, kakayonan warsi wilis, manuk siung, sekar tunjung ijo…”
                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 5b)
Terjemahannya:
                        “…Barat laut, angka sucinya 1 jati, Sang Hyang Sangkara, buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi, di limpa keluar ke hidung kanan, senjatanya angkus, penganggo aksaranya bisah (h), sastranya sa, ca, bang, swaranya (suara sucinya)  uh, ma, ga, dapa, raba, sthananya (tempat sucinya) meru tumpang 1, kendaraannya lembu, kayunya warsi hijau, burungnya siung, bunganya teratai hijau…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 5b)
                        “…Kelod urip (angka suci) 4, bungut, Sang Hyang Mreta, Sang Hyang Wisnu, gumi Nusakambangan, rupa ireng, istriné Déwi Sri, ring nyali medal ka cangkem, sanjata cakra, panganggo tedong, sastrania: a, na, a/da, ma/pa, ah swarania ung, banga, taja, caga, babama, malinggih méru wesi tumpang 4, palinggihan garuda, kakayonan tangi, manuknia cangak, sekar tunjung ireng…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
Terjemahannya:
                        “…Kelod (Utara) urip (angka sucinya) 4, di mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan, warnanya hitam, saktinya Dewi Sri, dari empedu keluar ke  mulut, senjatanya cakra, penganggo aksaranya adalah tedong (Â), sastranya : a, na, a, da, ma, pa, ah, swaranya (suara sucinya) ong, banga, taya, caga, babama, bersthtana (bertempat) di meru besi, tingkat 4, kendaraannya garuda, kayunya kayu tangi, burungnya cangak, bunganya teratai hitam…”
                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6a)
“…Kelod-Kangin urip (angka suci) 6, Déwi Giriputri, Sang Hyang Sambu, gumi awang-awang marupa biru, pelung, istri Déwi Suci, ring jajaringan medal ka silit, sanjata trisula, panganggo nania, sastrania wa nga. Wang swarania eh, paya, saya, nama, palinggih méru timah matumpang 6, mapalinggihan barung, kakayonan padma biru, manuknia titiran, sekar tunjung biru…”

                                                (Tutur Kanda Sangalukun, 6b-7a)

Terjemahannya:

                        “…Kelod Kangin (Timur Laut) urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu, Buminya awing-awing berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci, dari jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat, sanjatanya trisula, penganggo aksaranya naniya (ya), hurupnya wa, nga, wang swaranya (suara sucinya) eh, pata, saya, nama, sthananya (tempat sucinya) meru tingkat 6, kendaraannya barong, kayunya padma biru, buruungnya titiran (perkutut), bunganya teratai biru…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 6b-7a)

“…Iki ring Tengah urip (angka suci) 10, unteng Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna, anggrék istri Déwi Hyang Ratih, ring untek mijil ka siwadwara, sanjata padma, panganggo, guwung, sastrania ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang éh, janya, wanya, tapanya, palinggih méru tumpang 10, mancawarna, palinggihan séndung wimana, kakayonan mandiraksam, manuknia prakutut, merak…”

                                                                        (Tutur Kanda Sangalukun, 7b)
Terjemahannya:

                        “…Yang di tengah urip 10, sebagai inti, Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, Bumi patimah, rupanya lima warna, angrek, saktinya Dewi Ratih, di untek (catik kerongkongan) keluar  ke ubun-ubun (siwa dwara), senjatanya padma, penganggo aksaranya guwung (ra) hurupnya ing, ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya, tapanya, sthananya (tempat sucinya) meru tingkat 10, mancawarna (lima warna), kendaraannya lembu putih, kayunya mandi raksam, burungnya perkutut, merak…”
(Tutur Kanda Sangalukun, 7b)

Terkait dengan nilai yang dapat digali dari ajaran Pengider Bhuana, nilai religius atau keagamaan adalah salah satu nilai yang dapat diungkap. Sebagai sebuah ajaran yang berisi tentang kemahakuasaan Tuhan sebagai penguasa penjuru arah mata angin, sudah pasti ajaran ini sarat akan kandungan nilai religius. Nilai religius ini dapat digali dengan mengamati fenomena ditengah-tengah kehidupan masyarakat, baik yang dilakoni secara pribadi maupun secara kelompok dalam menjalani suatu hubungan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai yang bernuansa religius tersebut tersirat dari pelaksanaan berbagai macam aktivitas fisik maupun rohaniah seperti melakukan upacara persembahan (panca yajña) dan aktivitas yang bernuansa religius lainnya yang selalu berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap keberadaan Dewa-dewa dalam keyakinan umat Hindu serta atribut-atributnya seperti: senjata suci para Dewa, warna suci, letak/arah sthana-Nya, kendaraan suci-Nya, aksara suci-Nya, dan atribut lainnya yang kesemuanya itu terangkum dalam sebuah ajaran Pengider Bhuana.
Pada prinsipnya, dalam menjaga kelangsungan hidup manusia, antara kebutuhan jasmani dengan kebutuhan rohani harus dipenuhi secara seimbang. Agama merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan rohani manusia, sama seperti manusia memerlukan makan atau minum untuk kebutuhan fisiknya. Melalui berbagai macam bentuk pelaksanaan aktivitas pemujaan berupa ritual yajña yang menekankan pada pemahaman terhadap ajaran Pengider Bhuana sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan yang sifatnya maha gaib, secara sadar atau tidak sadar pada prinsipnya bertujuan untuk memupuk sraddha bhakti umat Hindu.

BAB V
             PENUTUP

5.1              Simpulan
Bertitik tolak dari permasalahan yang dianalisis, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.                  Dilihat dari aspek struktur, lontar tutur Kanda Sangalukun dibangun oleh beberapa unsur penyusun karya sastra yaitu; (a) Huruf yang dipergunakan adalah huruf Bali, (b) Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Jawa Kuno, (c) Dilihat dari aspek naskah yang dipergunakan sebagai sumber analisis, peneliti menggunakan teks tutur Kanda Sangalukun koleksi Gedong Kirtya Singaraja, disamping juga membandingkannya dengan teks tutur Kanda Sangalukun koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, dan (d) Dari aspek sinopsis, teks tutur Kanda Sangalukun mengungkapkan mengenai ajaran tentang Padewasan, ajaran tentang Dharma Pewayangan, ajaran tentang kelepasan, ajaran tentang hakikat Bhuana Agung-Bhuana Alit, dan ajaran Pengider Bhuana yang mengungkap sembilan penjuru arah mata angin beserta para Dewa yang bersemayam pada masing-masing penjuru arah mata angin tersebut. Persepsi masyarakat terhadap konsep Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun mengungkap persepsi tentang beberapa konsep yaitu: (a) Konsep Pengider Bhuana, (b) Konsep tentang konsep Padewasan, (c) Konsep tentang Dharma Pewayangan, (d) Konsep tentang hakikat kelepasan, (e) Konsep tentang hakikat jiwa yang ada pada badan, dan (f) Konsep tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Keseluruhan konsep tersebut diungkapkan menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dan apabila dipahami dengan baik akan memperkuat dan memperteguh sraddha bhakti orang yang mendalaminya terutamanya bagi Umat Hindu.
3.                  Nilai filosofis Pengider Bhuana pada teks tutur Kanda Sangalukun terdiri dari: nilai kebenaran, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religius. (a) Nilai kebenaran yang disebutkan dalam Pengider Bhuana adalah kebenaran yang tidak dapat diragukan. Kenyataan itu dapat dilihat dari hakikat kosmologi yang membahas tentang keteraturan alam semesta, tanpa ada pengkosmos atau yang mengatur alam semesta ataupun dunia ini maka tentu dunia akan mengalami ketidakteraturan sebagai pemicu timbulnya kekacauan bahkan kehancuran. Demikian pula dalam ajaran Pengider Bhuana keberadaan Dewa-dewa penguasa sembilan penjuru arah mata angin adalah sebagai pengatur Bhuana (Bumi) agar terus berada dalam keseimbangan, (b) Ditinjau dari sudut pandang nilai keindahannya secara kasat mata, keberadaan warna-warna dalam ajaran Pengider Bhuana menimbulkan rasa keindahan pada saat mata memandang warna-warna tersebut, sedangkan apabila ditinjau dari sudut pandang nilai keindahan dalam bentuk makna yang dikandungnya maka dapat dianalisis bahwa manusia hidup di dunia penuh dengan warna-warni perbedaan mulai dari perbedaan pemikiran, perbedaan karakter, perbedaan kepentingan, hingga pada perbedaan keyakinan, kesemuanya itu tidak harus selalu dijadikan lahan pertentangan, perdebatan, maupun pertikaian karena sesungguhnya keanekaragaman itu akan memberikan warna-warni yang menjadikan kehidupan semakin indah, (c) Nilai etika yang diungkap dalam Pengider Bhuana bahwa hendaknya manusia selalu mengusahakan berbuat kebaikan (subha karma) yang diajarkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melalui ajaran Agama Hindu. Ajaran Dharma Pewayangan  yang terkandung dalam naskah tutur Kanda Sangalukun memiliki makna yang sangat luhur yang bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada umat manusia agar senantiasa berbhakti dan memuja kebesaran serta kemahakuasaan Tuhan dan selalu menjalankan ajaran-ajaran tentang kebenaran (dharma) untuk kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia maupun untuk mencapai kebahagiaan yang abadi (kelepasan/kamoksan) menyatu dengan Tuhan, dan (d) Nilai religius yang diungkap dalam Pengider Bhuana yaitu melalui berbagai macam bentuk pelaksanaan aktivitas pemujaan berupa ritual yajña yang menekankan pada pemahaman terhadap ajaran Pengider Bhuana sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan yang sifatnya maha gaib, secara sadar atau tidak sadar pada prinsipnya bertujuan untuk memupuk sraddha bhakti Umat Hindu.

Saran
Adapun saran-saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan penelitian “Nilai Filosofis Pengider Bhuana Dalam Teks Tutur Kanda Sangalukun” adalah sebagai berikut:
1.                  Kepada lembaga Umat Hindu yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) untuk terus mendukung dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penyuluhan-penyuluhan, dharma wacana, dharma tula (diskusi keagamaan), dan kegiatan keagamaan lainnya terutama yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman di bidang tattwa kepada Umat Hindu tentang nilai-nilai filosofis dalam Pengider Bhuana, tattwa tentang ajaran Padewasan, tattwa tentang hakikat jiwa, dan ajaran yang lainnya.
2.                  Kepada Pemerintah yang memiliki kewenangan dalam bidang kebudayaan dan keagamaan agar terus melestarikan karya sastra berupa lontar-lontar melalui langkah-langkah nyata diantaranya mengalokasikan dana untuk biaya perawatan lontar-lontar yang ada di beberapa museum lontar di Bali, kemudian kepada Pemerintah yang membidangi urusan keagamaan agar mampu bekerja sama dengan berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, seperti media publik yakni Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk menyebarluaskan ajaran Pengider Bhuana dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya kepada Umat Hindu secara luas melalui program-program yang bernuansa religi.
3.                  Kepada Masyarakat terutama generasi muda Hindu sebagai pionir-pionir Agama Hindu di masa depan agar selalu mencintai, melestarikan, dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Hindu yang tertuang dalam berbagai karya sastra khususnya ajaran Pengider Bhuana dalam teks tutur Kanda Sangalukun, sehingga dapat memupuk dan memperkuat sraddha bhakti Umat Hindu dalam meyakini Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dan meyakini Agama Hindu itu sendiri.
 DAFTAR PUSTAKA
Agastia, IBG., 1987. Segara Giri. Denpasar: Wyasa Sanggraha.
Ardhana, I.B. Suparta, 2006. Pokok-pokok Wariga. Surabaya: Pāramita.
Ariwidayani, Anak Agung, 2013. “Kajian Filosofis Lontar Tattwa Kala”. Denpasar: Skripsi Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Atmaja, I Made Jiwa, 1988. Masyarakat Sastra Indonesia. Denpasar: Himsa.
Atmaja, I Made Jiwa, 2003. Perempatan Agung Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali. Denpasar: CV. Bali Medika Adhikarsa.
Bakhtiar, Amsal, 2012. Filsafat Ilmu Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali Pers.
Creswell, John W., 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Terjemahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Donder, I Ketut, 2006. Brahmavidya: Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Pāramita.
Donder, I Ketut, 2007. Kosmologi Hindu. Surabaya: Pāramita.
Duani, Ni Made, 2013. “Makna Filosofis Yang Terkandung Dalam Geguritan Jambenegara”. Denpasar: Skripsi Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Dunia, I Made. 2009. Klasifikasi Lontar. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Hasan, Cik dan Eva Rufaidah, 2002. Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial Himpunan Rencana Penelitian. Jakarta: Divisi Buku Perguruan.

Kaelan, M.S., 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma.
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. Jakarta: Rineka CiptMartini, Putu Sri, 2013, “Filosofis Tari Dewa Ayu Di Desa Pakraman Pemuteran Kecamatan Grokgak Kabupaten Buleleng”. Denpasar: Skripsi Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Maswinara, I Wayan, 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarwa Darsana Samgraha). Surabaya: Pāramita.

Moleong, Leexi J., 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja.
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi, 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Panya, I Wayan, 2007. “Makna Ajaran Kalepasan Ditinjau Dari Lontar Tutur Angkus Prana”. Denpasar: Skripsi Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Poedjawitjatna, 1980. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT. Pembangunan.
Rachmat, Aceng, dkk, 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Riduwan, 2004. Metode dan Teknik Penyusunan Tesis. Bandung: Alfa Beta.
Sarwono, Sarlito Wirawan, 2003. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Siswanto, Joko, 1998. Sistem-sistem Metafisika Barat: Dari Aristoteles Sampai Derrida. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suhardana, K.M., 2006. Pengantar Etika dan Moralitas Hindu. Surabaya: Pāramita.
Suharsini-Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Suprayoga dan Tabroni, 2001. Metodelogi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Surajiyo, 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sutjaja, I Gusti Made, 2005. Kamus Pelajar Dasar Menengah: Bali-Indonesia. Denpasar: Lotus Widya Sari.
Suweta, I Made, 2012 “Kajian Ringkas Nilai Filsafat Hindu Dalam Lontar Tutur Siwagama”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar: Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Suweta, I Made, 2012. “Nilai Filosofis Teks Lontar Tutur Watugunung”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar: Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Suweta, I Made, 2013. “Studi Sastra Hindu Pada Teks Geguritan Nilacandra (Kajian Singkat Perspektif Nilai Filosofis)”. Sanjiwani Jurnal Filsafat. Denpasar: Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Tim-Penyusun, 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Tim-Penyusun, 2003. Perempatan Agung: Menguak Konsepsi Palemahan Ruang dan Waktu Masyarakat Bali. Ed. Jiwa Atmaja. Denpasar: CV Bali Media Adhikarsa.
Viresvarananda, Svami, 2002. Brahma Sútra. Surabaya: Pāramita.
blogdeee.blogspot.com/2011/03/macam-macam-nilai-menurut-prof.html, Tanggal Akses: 23/04/2015: 16.40 Wita.
ALIH AKSARA LONTAR TUTUR KANDA SANGALUKUN
No: III b. 6000
Verzameld door: Kirtya.
Uit: Br. Tegal (Buleleng).
Ontv: 2 Maret 1931.
Getikt: 29 October 1941.
Door: I Gusti Ayu Sukesi.
Nagekeken Door: Gede Puja.

“TUTUR KANDA SANGALUKUN”
1 b.                  Ong awignam astu nama sidi.
                        Iki tutur kanda sangalukun nga, sami mungguh ring tutur iki terusing ka déwasa palinggih Batara Nawasanga, darma pawayangan, sastra panten, muang pasuk wetunia, buwana alit, muang buwana agung, nga. Gumi muah gunung, telas sapretékania.
Né kangin mata, urip 5, Sang Hiang Iswara, gumi swah rupa petak, istri jawi Sang Hiang Rawi ring papusuh, medal ka nétra tengen, sanjata bajra, panganggo sastrania; sa, ra, wa, nga, nya, sang swarania, mang, ah, ana, ha, la, ala, tatana, palinggih méru tumpang lima, palinggihan lembu, kakayonan cempaka putih, manuknia micé, sekar tunjung putih, mang Babu Lembana, I Slahir, I Anggapati, yéh nyom, I
2a.      Suratmakala, Indradéwa, gunung Agung, swa, surya, tatit, kijapan, pertiwi, kulit padang, bulu, danu Tamblingan, di miuné Iblis, Hiang Kumara, kahyangan tengen, Bagawan Parasu, Korsika, Bagawan Bregu ngisi sastra uriga, sundari bungkah, sundari terus, janantaka, pura puseh, kamulan, ngisi tulis orténan, saraswati, watek korawa kurupati, dauh, pa, sakula, déwasa dangu, indram, rasa, aditia, anangga, pradangga, baskara, banu, radité, menge, raina, rahu, biantara, kajeng manusa, madia, sri jaya, Sang Hiang Purusa Wisésa, lanang srigati, manis, anggabuta, urukung taulu, langkir, matal, dukut, gulem putih, metu ring miuné kagamel ring iblis, kasuna, jaé, Hiang Téja dauh 5, nada, watek pandita, lakuning cuté,
2b.       pagelangan, lambung, baru, roma Witning nétra: alis, Aryadamar, kala tukaran, kala lungid, kala kuat, mretamasa, kala sakti, kala dangu, kala dangastra, kala caturyuga, kala katemu, é, u, i, ong.
Kaja-Kangin urip (angka suci) 8, Sang Manisora, gumi muré, rupa dadu jingga, istri Déwi Kundangkasih, ring paparu medal ka nétra kiwa, sanjata dupa panganggo, cecek, sastrania, na, ga, nang, swarania, ih cara, nama, saja, palinggihan méru waja tumpang 8, palinggihan warak, kakayonan kayu sada, manuk curik, sekar tunjung dadu, sinwamsari, gang, gunung, panju, candra muluk, endut, téjar, danu Buyan né di tegalé nga. I Jaljil, Bagawan Bregu ngisi gurnita dalang, watek ambara déwa, dauh mi, Sang Samba déwasa nga. jangur, guru,
3a.       ru, sas, sawa, Pandita, Bagawan Bregu, wregotia, wresning, wrespati paniron, wuku gumbreg, medangsia, ujegiri, watugunung, orja, téja kakuung, yanglalah, kagisi ring I Jaljil metu ring tegalé, katik cengkéh, konci, dauh 8, watek déwa, lakuning api pungsed, tangan nani gigir, Arya Gajah Mada, kala keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh au, kala ngruda, kala jabungan, Hiang Astabuwana, kala énjér, becada, redité.
Kaja urip (angka suci) 9, kuping Sang Hiang Brahma, gumi Emben marupa bang, istri Déwi Saraswati ring ati, medal ka karna kiwa, sanjata danda, panganggo, taléng, sastrania ba, ca, sa/ca/ba/ya, bang, swarania, ang, ing, gang, kada, caga, taja, dadaka, palinggihan méru tumpang 9, palinggihan macan, kakayonan wari bang, manuknia gagak, sekar tunjung bang
3b.       angrawit ang/Babu Abra, I Slair, I Mrajapati, getih, Jamakala Kesrawa Kwéradéwa, gunung Batukau, bang, swa, réjéng, paras gading, né di apiné I Sétan, Bagawan Janaka, Garga, Ambekan, Mrecukunda ngisi sandining désti leyak, endeh mandé wesi, sastra pura Dalem, waradaya, Sang Hiang Kawiswara watek lengkara, Rawana, dauh, kréta Arjuna, déwasa, gigis jama, cita, suri, swabawa, sukétasa, semining saniscara, dora, pasha, kala, bala, jaya, laba, Sang Hiang Ayu, lanang, paing, kala asu/ajag, amalé buta, was wariga, pujut, menial, gulem bang metu ring api, kagisi ring I Sétan, kala ngadeg, kala cakra, sadana 3, arda watek duhka kingkingan,
4a.       lakoning bulan, tawulan papéléngan, baju, lidah, Arya Bléténg, kala gégér, kala mangap, kala pancasona, nawakanda, buta wurung, a, da.
Kaja Kauh urip (angka suci) 3, Sang Hiang Rudra, gumi Suranadi, ring usus medal ka karna tengen marupa brintik rangdi, kuranta, istri Déwi Durga, sanjata moksala, panganggo, surang, sastrania, ma, da, mang, swarania éh, tasa, raba, dapa, palinggih méru kakuningan tumpang 3 palinggihan singa, kakayonan dalima wanta, manuk kapudangan, sekar tunjung kuranta, nang, gunung layur, mang, swa, né di lebuhé I Buta Bragénjong ngisi tonya, léyak, wil, watek gamang, jim, dauh Brahma, Citranggada, déwasa nohan, ludra, sara, kuji, dwipa, sutéja, tikna, atma, manggala,
4b.       anggara, maulu, uku warigadian/Pahang, prangbakat, gelap, damar séla, greha, linuh kagisi ring I Buta Bragénjong, metu ring lebuh, mica, gamongan, dauh 7, watek pati lakoning aras babokongan, juluk mata, lambé, dada, Arya Sentong, kala mina, kala pati-pata, karnasula, Sang Hiang Budabuwana, kala Durgastana, buta Jingkrak, mawata, sasa.
Kauh urip (angka suci) 7, cunguh, Sang Hiang Mahadéwa, gumi suryakarat, marupa kuning jenar, istri Déwi Laksmini ring wungsilan medal ka irung kiwa, sanjata nagapasa, panganggo, suku, sastrania ta, pa, na/ta/ga/ya, ang, swarania ung, wala, kanga, gaganga, palinggih méru mas lancung tumpang 7, palinggihan banyak, kakayonan campaka kuning, manuknia dara, sekar
5a.       tunjung kuning, ung, Babu Kakéréd I Mekir, I Banaspati, pungsed, ari, Cikradorakala, Barunadéwa, gunung Mangu, swa, sumur, bun, wat, linuh, kakedutan, danu Bratan, né di anginé nga. I Binyal, pura Taman Ayun, Bagawan Kanua, Métri, Wrehaspati mandé mas, ngisi adigama, gumi Koma, ring kayangan kiwa Sang Hiang Widi watek Kresna Dwarawati, dauh, su, sadéwa, déwasa, Brahma, ogan, idep, arsa bodana, kayuni, wudana, antala, Métri, Buda, pepet, wengi, ketu, laba, mandala, Sang Widikancana wadon, sampi gumarang, pwan, banas, buta, tungléh, wuku sinta, julungwangi, krulut, bala, gulem kuning, kagisi ring I Binyal, metu ring angin, bawang, banglé, Hiang Bruya, dauh 2, Wisnu watek suka, lakoning smara, piyuh
5b.       jariji, pipi, soca, grana, Arya Waringin, kala angin, kala caplokan, kala watu, Déwa yoga, prawani, kala tapa, adikala, dagdigrana, buta petak.
Kelod Kauh urip (angka suci) 1 jati, Sang Hiang Sangkara, gumi Ndur, rupa gadang wilis, istri Déwi Mahadéwi ring limpa medal ka irung tengen, sanjata angkus, panganggo bisah, sastrania sa, ya, bang, swarania uh, ma, ga, dapa, raba, palinggih méru tumpang 1, palinggihan asti, kakayonan warsi wilis, manuk siung, sekar tunjung ijo, sang, gunung Semarageseng, swa, né di pampatané I Ciligendruk, Bagawan Wiswakaja mangisi sepat siku-siku, mancaundagi, watek babutan raksasa, dauh 6, Wisnu, Satiaki, érangan, kala, kayunku lungid, sungsang, mrakih, landep, ugu, genter-pater, ketug-galudug, sukra wu nga. Metu ring pempatané
6a.       kagisi ring I Ciligendruk, séé maswi, dauh 6, watek raksasa, lakoning angin, jajah, gulu, Arya Belog, kala atma, kala rebutan, kala dangka, kala rau, Sang Hiang Panukuping Buwana, kala jengkang, kala jengking, emba, buta jabung, galpa.
Kelod urip (angka suci) 4, bungut, Sang Hiang Mreta, Sang Hiang Wisnu, gumi Nusakambangan, rupa ireng, istriné Déwi Sri, ring nyali medal ka cangkem, sanjata cakra, panganggo tedong, sastrania: a, na, a/da, ma/pa, ah swarania ung, banga, taja, caga, babama, malinggih méru wesi tumpang 4, palinggihan garuda, kakayonan tangi, manuknia cangak, sekar tunjung ireng, ung, Bab, I Mekair, I Banaspatiraja, luhu, I Jogormanik-kala, Bajubajradéwa, gunung Batur, swa, gwa, tulang, kayu, krug, swara,
6b.       danu Batur, né di yéhé I Amad, Bagawan Narada, Kurusia, Kasiapa, ngisi darmawisada, usadi, tutur budakacapi ning ratu, pura Sagara Sang Hiang Ajnyana, watek jediarama, dauh 1, pati I Bima, déwasa, urungan, uma, karep, Sankara waratia, pitangsia, sukla, candra, soma, waja, beteng, Dewa ayu utama, Sri Batari Ganggi, luh, wagé, kala empas, uku ukir, liningir, dungulan, wayang, tambir, gulem ireng, metu yéh kagisi ring I Amad, sra, cekuh, Hiang Antaboga, candra watek sri, lakoning mreta, angen, swara, Arya Kapakisan, kala ijawaras, kala sudatiga, kala cok, kala ngarad, mregadéwa, kala dasabumi, banyuwurung, kala agung, sadripu, buta menge, na, i.
Kelod-Kangin urip (angka suci) 6, Déwi Giriputri, Sang Hiang Sambu, gumi
7a.       awang-awang marupa biru, pelung, istri Déwi Suci, ring jajaringan medal ka silit, sanjata trisula, panganggo nania, sastrania wa nga. Wang swarania eh, paya, saya, nama, palinggih méru timah matumpang 6, mapalinggihan barung, kakayonan padma biru, manuknia titiran, sekar tunjung biru, wang, gunung Tulukbiu, swa, né di swané, I Cili Maréka, gumi Tanana bagawan Tarulan ngisi kilap kerug, watek salah rupa, dauh 5, sri, Citraséna, déwasa sri, tulus manah, katia, suka, muka, kadga, palani, sukra, ariang, uku kulantir, kuningan, medangkungan, kulau, kerug tatit, kilap, metu ring soané, kagisi ring I Cilimaréka, isén, kasuna, jangu, dauh 5, watek dadari lakoning ayu, suku, kanyepan,
7b.       bangkiang, Arya Binculuk, kala hwas, sugih lut, kala ganti, kala sapuh, kala patipanten, kala wangké, Sang Hiang Sadbuana, kala wigraha, Hiang Bayu, pawa.
Iki ring Tengah urip (angka suci) 10, unteng Hiang Darma, Sang Hiang Siwa, gumi Patimah, rupa mancawarna, anggrék istri Déwi Hiang Ratih, ring untek mijil ka siwadwara, sanjata padma, panganggo, guwung, sastrania ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang éh, janya, wanya, tapanya, palinggih méru tumpang 10, mancawarna, palinggihan séndung wimana, kakayonan mandiraksam, manuknia prakutut, merak, yang, dépak putih, maha-jati, Sang Hiang Naga Pramana, i tutur ménget, gunung Lampuyang, swa, manusa sakti, Déwi Rambutsawi, Empu Ragarunting, gumi ning tunggungan, Déwa
8a.       ngedép, pusuh patih gumi tudud, Siwa tunggal, gumi Patimah, ati putih, Siwatiga, pangkung marga luang tuun ring pritiwi, yéh danu, pritiwi, mantaga, gni angin, toya ring pancoran emas manis madu, surya-candra, bintang, tranggana, dadara-dadari, i bapa-ibu, sarining raina-wengi, asta kosala, Siwagotra apasang, ngawé tenung brata, Pratanjala, rajapéni ngiket pancabrahma, pancawisnu, pancakatirta, patining aksara, déwa Majapait, Pasek Ibu Siwa, bangun sakti ring Panataran, mata Sang Hiang Taya ngisi kamoksan, Sadasiwakrama, kayangan, nétra nga. Sanggah, éto éto manerus kuranta bolong, sundari gading, sundari wungu, sundari putih, telenging jagat, sundari nang, sundari ireng, pura Bukit, Hiang Nirbananita, Hiang Tunggal, Hiang
8b.       Licin, Gururéka, nguruk gusa yogiswara, watek Pandawa, dauh 8, kreta, Sanggarma. Sang Kresna, dauh kala, déwasa luang, dadi kliwon, maulu, budi, keneh, Sang Hiang Tuduh, pepedan, Sang Kutila, kliwa, mastabuta, gulem, ngéndah metu ring rambut, kagisi ring I Mpu Nagarunting, anadah nasi warna, uyah, lengis, limo, tingkih, Hiang Manusa, dauh sakti, 9, 10, dadi 11 nga. Di 1, dadi 8, nga. 1 dasabayu nga.
Telas kaprastékaning ring buwana alit muang buwana agung kanda iki.
Iki ring sor urip (angka suci) 22, 20, Sang Hiang Pramasiwa, nga. Batara Guru, gumi Tala, istri Déwi Hiang Uma ring tumpuking ati, seleng medal ka purus baga, pritiwi patengen, sanjata konta, sastrania, ang, sagara, weteng, Mpu Kuturan, ring, padang watek bojog, gulem sing karwan-karwan metu ring padangé, kagisi ring Mpu Kuturan jangér, anadah nasi sliwah, odel ring wanéni, Arya Bédaulu dadi Danawa, kala sor kala naga, utu walang nga.
Iki ring luhur urip (angka suci) 31, 18, Sang Hiang Sadasiwa, nga. Sang Hiang Widi, gumi Tayawinten, istri Girinata, ring tumpuking papusuh dadu, medal ka slaning lalata, ngendas ring nétra kalih, hlar ita, sanggah, sanjata komara, sastrania cecek, gulem rambut, langit, usuan, watek singgih, Arya Pasunggrigis, dadi Pasunggiri, kala Mumik Krepa nga. Telas samangkana.

TERJEMAHAN LONTAR TUTUR KANDA SANGALUKUN
No: III b. 6000
Dihimpun Oleh: Kirtya.
Asal: Br. Tegal (Buleleng).
Diterima: 2 Maret 1931.
Disalin: 29 October 1941.
Oleh: I Gusti Ayu Sukesi.
Diperiksa Oleh: Gede Puja.

Tutur Kanda Sangalukun
1b.       Om Awignamastu Nama Sidhi
Inilah Tutur Kanda Sangalukun namanya. Semuanya diungkapkan dalam tutur ini, sampai mengenai pedewasan (baik-buruknya waktu), sthana Dewata Nawa Sangga, dharma pawayangan, ilmu tentang hakikat kehidupan dan kematian, beserta keluar masuknya jiwa di badan ini, beserta bhuana agung namanya, bumi serta pegunungan, beserta semua geraknya.
Di Timur: mata, uripnya 5 Sang Hyang Iswara di swah loka warnanya putih, saktinya Sang Hyang Rawi (matahari) di papusuh, keluar di mata kanan, senjatanya bajra, aksaranya sa, ra, wa, nga, nya, sang, suara sucinya: mang, ah, ana, ha, la, ala, demikian susunannya. Sthananya (tempat sucinya) pada meru tumpang 5, menunggang lembu, kayunya cempaka putih, burungnya mice, bunganya tunjung berwarna putih, aksaranya mang, babu lembana, iselahir, I Angga Pati, yehnyom (air ketuban).
2a.       Sang Hyang Suratma kala, Dewa Indra, gunung Agung, swa, matahari, kilat, kilatan, bumi, kulit padang bulu, danau Tamblingan  seluruh iblis, Sang Hyang Kumara, kahyangan di kanan, Bhagawan parasu, Bhagawan Bergu, Bhagawan Korsika,  yang menguasai pengetahuan wariga, sundari bungkah, sundari terus, tentang hakikat kematian manusia (janantaka), pura puseh, kemulan, membuat tulisan dan hiasan Saraswati, wangsa kurawa kurupati, tentang hakikat waktu, tentang hakikat wariga Dewasa dari dulu, indram, rasa, aditya, anangga dan pradanangga, bhaskara, banu, redite/minggu, menga, rahina (siang) rahu, byantara (kajeng), kajeng manusia, madya, sri, jaya, Sang Hyang Purusa Wisesa, Lanang Srigati, manis, angga Bhuta, urukung, taulu, langkir, matal, dukut, awan putih, keluar dari kesunyian  dan di kuasai oleh iblis. Bawang putih, jahe, Hyang Taya dauhnya (waktunya) 5, nada, wateknya watek pandita, lakunya laku cyuta,
2b.      pagelangan, lambung baru  dan di dasar mata. Alis, Arya Damar, kala tukaran, kala lungid, kala kuat, merta masa, kala sakti, kala dangu, kala dangastra, kala catur yuga, kala katemu, aksara sucinya: e, u, i, ong.
Tenggara uripnya 8, Sang Hyang Mahisora, bumi muru rupa, warnanya dadu, jingga, saktinya Dewi Kundang Kasih, dari paru-paru keluar dari mata kiri, memakai senjata dupa, penganggo aksaranya cecek, aksaranya: na, ga, nang, suara sucinya: ih cara, nama, saja, sthananya (tempat sucinya) meru waja tingkat 8, kendaraannya singa, kayunya kayu sada, burungnya curik, bunganya tunjung berwarna jingga, sunari bang, gunung panju, andra muluk, lumpur, panas, danaunya danau buyan, yang ada di tegal namanya I Jalil, Bhagawan Bergu memegang gentanya dalang,  semua para Dewa di langit, dawuh (waktu)/waktunya mi, sang samba, nama Dewasanya (hari baiknya): jangur,
3a.       guru, ru, sas, sawa, pandita, Bhagawan Bergu, wregotia, wresning, hari kamis, paniron, wuku gumbreg, medangsia, kabut gunung, watugunung, sinar meteor, pelangi, di kuasai oleh I jalil yang keluar dari tegalannya, tangkai cengkeh, konci (tanaman umbi umbian), dawuh (waktunya) 8, watek Dewa, laku api di pusar, tangannya nani gigir, arya gajah mada, kala keciran, kala timpang, kala empas, kala sapuh awu, kala ngruda, kala jambungan, Hyang Asta Bhuwana, becada, Redite (Hari Minggu).
Selatan urip 9, telinga Dewa Brahma, bhumi emben berwarna merah, saktinya Dewi Saraswati, di hati, keluar lewat telinga kiri, senjatanya nya Gada, panganggo aksaranya: taleng, hurupnya: ba, ca, sa/ca, ba, ja, bang swaranya (suara sucinya): ang, ing, gang, kada, jaga, taya, dadaka, sthananya (tempat sucinya):  meru tingkat 9, kendaraannya macan, kayunya wari merah, burungnya gagak, bunganya tunjung  merah,
3b.      berasal dari ang, babu abra, kalanya I Selair, I Mrajapati, darah, jamakala, kesrawa, Dewa Kwera, gunung batukaru, warna merah, swa, jurang, paras gading, yang ada pada apinya,  I setan, Bhagawan Janaka, garga, ambekan, Hyang Mercukunda yang menguasai segala desti, leyak, tranjana, pande besi (tukang besi), sastranya pura dalem, waradaja, Sang Hyang Kawiswara  Dewanya kalimat, Rahwana, dawuh (waktunya) kerta, Arjuna, Dewasanya (hari baiknya) gigis, yama, cita, suri, swabawa, suka tasa, kelahiran saniscara (Hari Sabtu), dora, pasah, kala, bala, jaya, laba, Sang Hyang Ayu, laki-laki, paing, kala asuajag, segala kekotoran Bhuta, was wariga, pujut, menail, awan merah keluar dari api, di kuasai oleh I Setan, kala ngadeg, kala cakra, sadana tiba, arda, wateknya kesedihan dan kesengsaranya.
4a.      lakunya laku bulan, tawulan papelengan, baju, lidah, arya bleteng, kala geger, kala mangap, kala pancasona, Sembilan Kanda, Bhuta wurung, A, Da.
Barat Daya uripnya 3, Sang Hyang Rudra, buminya suranadi, di usus keluar lewat telinga kanan, berwujud bintik bintik rangdi, kuning emas, saktinya Dewi Durga, senjatanya moksala, hurupnya  ma, da, mang, swaranya (suara sucinya): eh, tasa, raba, dapa sthananya (tempat sucinya) meru kuning tingkat 3, kendaraannya singa, kayunya kayu delima merah, burungnya kepodang, bunganya tunjung berwarna oranye, nang, gunung  lajur, mang, swa, di lebuh  I Bhuta Bragenjong  memegang air, leyak, wil, segala jenis gamang (wong samar), jin, dauh (waktu) Brahma, citra anggada, Dewasanya (harinya) nohan, Ludra, sara, kunci, dwipa, suweca, tikna, atma, manggala,
4.b       Anggara (Hari Selasa), maulu, wuku warigadean, pahang, prangbakat, gelap, lampu obor, greha (rumah), gempa, di pegang oleh I Bhuta Bragenjong, keluar di lebuh, merica, gamongan, (waktunya) 7, wateknya pati, lakunya aras babokongan, pelupuk mata, bibir, dada, arya sentong, kala mina, kala pati pata, karna sula, Sang Hyang Buda Bhuwana, kala durga sthana, Bhuta Jingkrak,  dan mawata sasa.
Barat uripnya 7, di hidung, Sang Hyang Maha Dewa, bumi kuning keemasan, berwarna kuning keemasan, saktinya Dewi Laksmini, dari wungsilan (ginjal) keluar melalui hidung  kiri, sanjatanya naga pasa, penganggo aksaranya suku, hurufnya ta, pa, na, ga, ga, ca, ang swaranya (suara sucinya) Ung, wala, kanga, ga ganga, sthananya (tempat sucinya) meru emas tingkat 7, tunggangannya  singa, kayunya cempaka kuning, burungnya dara, bunganya
5a        tunjung kuning, aksara Ung, Bhutanya Bahu Kakered, I Mekair, I Banaspati, puser (pusar), ari, cikradorakala, Dewa Baruna, Gunung Mangu, swa, sumur, bun, urat, linuh (gempa) kakenduta, Danau Beratan, yang di angin namanya I Binjal, pura taman ayun, Bhagawan Kanwa, Metri, Wrehaspati (Hari Kamis), pande emas, menguasai adhi gama, Bumi kuma, di kajangan kiri  Sang Hyang Widi,  watek Kresna  di Dwarawati,   dawuh (waktunya) su, Sa Dewa, Dewasanya ogan, Brahma, idep, arsa bhodana, kayuni, wedana, antala, metri, Buda (Hari Rabu), pepet, wengi (malam), ketu, laba, mandala, Sang Hyang Widi kancanam wadon (istri), sampi gumarang, pwan, banas, Bhuta, tungleh, wukunya sinta, julungwangi, krulut, bala, awan kuning, di kuasai oleh I Binjal, keluar menjadi angin, bawang, bangle, Hyang Bruja dawuh (waktu)nya dawuh (waktu) 2, Dewa Wisnu, wateknya  watek suka, lakunya smara, pijuh jariji,
5b.       pipi, mata, hidung, arya waringin, kala angin, kala caplokan, kala watu, Dewa Yoga, prawani, kala tapa, adi kala, dagdig krana, Bhuta Petak.
Barat laut, uripnya 1 jati, Sang Hyang Sangkara, buminya dur, rupanya hijau, saktinya Dewi Maha Dewi, di limpa keluar ke hidung kanan, senjatanya angkus, penganggo aksaranya bisah (h), sastranya sa, ca, bang, swaranya (suara sucinya)  uh, ma, ga, dapa, raba, sthananya (tempat sucinya) meru tumpang 1, kendaraannya lembu, kayunya warsi hijau, burungnya siung, bunganya tunjung hijau, Sang, gunungnya Samara Geseng, swa, yang berada di perempatan I Ciligendruk, Bhagawan Wiswakaja, yang memegang semua aturan, panca undagi (tukang), watek babhutaan raksasa, dawuh (waktu) nya 6, Wisnu, Satyaki, erangan, kala, kayunku lungid, sungsang, mrakih, landep, ugu, Guntur, ketug galudug, suka wu namanya, keluar di perempatan.
6a.     di kuasai oleh I Ciligandruk, kayu maswi, dawuh (waktu) 6 watek, raksasa, lakunya laku angin, di sumsum, bulu (roma), arya belog, kala atma, kala rebutan, kala dangka, kala rawu, Sanghyang Panukuping Bhuwana, kala jengkang, kala jengking, emba, Bhuta jabung, galpa.
Kelod (Utara) urip (angka sucinya) 4, di mulut, Sang Hyang Merta, Sang Hyang Wisnu, Buminya nusa kambangan, warnanya hitam, saktinya Dewi Sri, dari empedu keluar ke  mulut, senjatanya cakra, penganggo aksaranya adalah tedong (Â), sastranya : a, na, a, da, ma, pa, ah, swaranya (suara sucinya) ong, banga, taya, caga, babama, bersthtana (bertempat) di meru besi, tingkat 4, kendaraannya garuda, kayunya kayu tangi, burungnya cangak, bunganya tunjung hitam, ung, babu ugian, I Mekair, I Banaspati raja, luhu (plasenta), I Jogormanik kala, pakaiannya Bajra Dewa, gunung batur, swa, gwa, tulang, kayu, kerug (petir), swara,
6b.       danau Batur, yang di dalam air I Amad, Bhagawan Narada, kurusia, kasiapa, menguasai tentang ilmu pangobatan, usadi, tutur buda kecapi, kepada beliau di Pura Segara, Sang Hyang Adnyana, wateknya jedi arama, dawuh (waktu) 1, pati, I Bima, Dewasa urungan, uma, karep, Sangkara, warantia, pitangsia, sukla, candra, soma, waya, beteng, Dewa Ayu utama, Sri Bhatari ganggi, luh, wage, kala empas, wuku ukir, lininggir, dungulan, wayang, tambir, gulem hitam, keluar air di pegang oleh I amad, terasi, cekuh, Hyang antaboga,candra, wateknya sri, lakunya laku mreta, di hati, swara, arya kepakisan, kala ija warasa, kala suda tiga, kala cok, kala ngarad, mrega Dewa, kala dasa bhumi, banyuwurung, kala agung, sadripu, Bhuta Menga. Na, i
7a.                   Kelod Kangin (Timur Laut) urip 6, Dewi Giri putri, Sang Hyang Sambu, Buminya awing-awing berwarna biru, jingga, saktinya Dewi Suci, dari jajaringan (lemak pembungkus usus) keluar ke pantat, sanjatanya trisula, penganggo aksaranya naniya (ya), hurupnya wa, nga, wang swaranya (suara sucinya) eh, pata, saya, nama, sthananya (tempat sucinya) meru tingkat 6, kendaraannya barong, kayunya padma biru, buruungnya titiran (perkutut), bunganya tunjung biru, wang, gunung Tuluk Biu, swa, ne di swane, I Cilimareka, Bumi tidak ada Bhagawan Tarulan, menguasai kilat, Guntur, wateknya salah rupa, dauhnya (waktunya) 5, Sri Citra Sena, Dewasanya Sri, Tulus, manah, katia, suka, muka, kadga, palani, Sukra (Hari Jum’at), aryang, wuku kulantir, kuningan, medangkungan, kelawu, kerug tatit (kilat petir),  keluar dari swane, di kuasai oleh I Cili Mareka, isen, kesuna (bawang putih), dawuh (waktu) 5 wateknya dedari (bidadari), lakunya ayu, suka,  kanjepan,
7b.       bangkyang (pinggang), arya benculuk, kala hwas, sugih lut, kala ganti, kala sapuh, kala pati panten, kala wangke, Sang Hyang Sad Bhuwaana, kala wigraha, Hyang Bayu, pawa.
Yang di tengah urip 10, sebagai inti, Hyang Darma, Sang Hyang Siwa, Bumi patimah, rupanya lima warna, angrek, saktinya Dewi Ratih, di untek (catik kerongkongan) keluar  ke ubun-ubun (siwa dwara), senjatanya padma, penganggo aksaranya guwung (ra) hurupnya ing, ing, yang, ka, la, ang, ung, mang, ing, hang, yang, mang, ang eh, yanya, wanya, tapanya, sthananya (tempat sucinya) meru tingkat 10, mancawarna (lima warna), kendaraannya lembu putih, kayunya mandi raksam, burungnya perkutut, merak, yang, depak putih, maha jati, Sanghyang Naga Pramana, I Tutur Menget, Gunung Lempuyang, swa, manusia sakti, Dewi Rambut Sawi, Empu Ragarunting, Bumi tunggungan,
8a.       Dewa ngedep, di papusuh patih, Bumi tudud, siwa tunggal, Bumi patimah, ati putih, Siwa Tiga, pangkung marga luang turun ke bumi, air danau, tanah, mantaga, api, angin, air di pancuran emas, rasa manis madu, bulan matahari, bintang, galaksi, dadara-dadari (para bidadari), ayah ibu, intisari siang malam, asta kosala, sepasang siwa gotra, membuat tenung pabratan, pratanjala, raja peni, mengikat panca brahma, panca wisnu, pancaka tirta, mematikan aksara, Dewa Majapahit, pasek ibu siwa, bangun sakti di penataran, mata Sanghyang Taya sebagai pemilik hakikat kamoksan, sada siwa karma, khayangan, mata namanya. Sanggah atutu dilanjutkan kuranta bolong (berlubang), sundari gading, sundari wungu, sundari putih, telenging jagat, sundari nang, sundari ireng (hitam), Pura Bukit, Hyang Nirbana Nita, Hyang tunggal, Hyang
8b.       Licin, guru reka, nguruk gusa yogiswara, semua pandawa, dauhnya (waktunya) 8, kreta sanggarma, sang Kresna, dawuh (waktu) kala, Dewasanya luwang, menjadi kliwon, dadi, maulu, budi, keneh, Sang Hyang Tuduh, pepedan, Sang Kutila, kliwa (banci), masta Bhuta, gulem (awan), bermacam macam keluar melalui rambut, di kuasai oleh  I Mpu Nagarunting, memakan nasi warna (nasi yang diberi pewarna), garam, minyak, jeruk nipis dan buah kemiri, manusia yang mulia yang menjaga waktu yang teramat sakti yaitu 9, 10, dan menjadi 11 artinya, di 1 menjadi 3 namanya, dasa bayu namanya.
Setelah selesai di sebutkan dalam Bhuwana alit dan Bhuwana agung, inilah yang dibawah urip 22, 20, Sanghyang Parama Siwa namanya, Bhatara Guru, bhumi berlapis, saktinya Dewi Uma, di susunan hati, kemudian keluar melalui kemaluan laki dan perempuan (lingga-yoni), pertiwi (bumi, tanah) di kanan, sanjatanya konta, sastranya (hurupnya) ang, sagara, weteng, mpu kuturan di padang watek bojog, kabut yang tiada disangka keluar dari padang, kemudian dikuasai oleh Mpu Kuturan Janger, memakan nasi sliwah, pusarnya di waneni, Arya Bedaulu, menjadi raksasa, kala sor, kala naga, keluar belalang namanya.
Inilah di atas/ luhur  urip 31, 18, Sanghyang Sada Siwa namanya, Sang Hyang Widi, Bumi taya winten, saktinya Dewi Giri Nata, di tumpukan dua papusuh, keluar di dahi, menyebar ke kedua mata, menghilangkan sanggah, senjatanya komara, sastranya (hurupnya) cecek, awan, rambut, langit, usuan (ubun ubun), watek singgih, arya pasung grigis, menjadi pasung giri, kala mumik krepa namanya. Habislah semuanya.









Comments

Popular Posts